
Arthur langsung menghampiri Almira saat itu juga.
"Maafkan saya mengganggu anda nyonya, saya hanya ingin memperingatkan anda. sebaiknya anda berhati-hati dengan suami Anda dan ada baiknya Anda menyelidiki suami anda. bukan saya ingin menakuti tapi saya hanya memberi tahu untuk detilnya malam ini hotel xx tepat tengah malam sebaiknya anda datang dan pastikan sendiri di kamar no xx."ujar Arthur.
"Apa? maksud anda tuan ada apa? dengan suami saya dan bagaimana anda tau suami saya."ujar Almira kebingungan.
"Datang saja jangan lupa minta ditemani oleh keluarga atau saudara anda karena semua sedikit berbahaya."ujar Arthur.
"Saya tidak mengerti kenapa? tidak langsung katakan jangan bikin saya bingung."ujar Almira yang terlihat sangat cemas.
"Itu kunci cadangan nya jangan mengetuk pintu karena target akan lepas."ujar Arthur malah memberikan kunci cadangan yang ia dapatkan dengan susah payah dari pihak hotel dengan alasan bahwa Ririn adalah adiknya.
"Sampai saat tiba di sana langsung saja masuk dengan kunci itu ingat ini adalah penggerebekan siapkan pendamping untuk anda."ujar Arthur.
"Arthur masih lama pdkt nya nak."ujar nyonya Jenny dengan sengaja.
"Bentar Mommy ku sayang belum selesai,,, atau mommy mau pulang duluan silahkan."ujar Arthur gemas.
"Bunda tidak mau menunggu lagi jika sudah dapat yang cocok harus disegerakan."ujar Jenny yang langsung pergi meninggalkan putranya sambil terkekeh.
"Maafkan tadi ada iklan sebentar, maklum yang sudah dikhianati suami dan juga mantunya tengah gencar mencari menantu baru."ujar Arthur sambil tersenyum kecil.
"Tidak apa."ujar wanita cantik itu.
"Bukan hanya anda yang akan datang saya juga akan datang tapi saya mungkin datang belakangan."ujar Arthur.
"Boleh saya tahu yang sebenarnya."ujar Arthur.
"Tentu saja tapi setelah nanti malam."ujar Almira.
"Jangan main-main tuan."ujar wanita itu.
"Saya tidak main-main anda bisa cek sendiri nanti jika anda tidak percaya tidak apa-apa tapi yang jelas ini semua untuk masadepan rumah tangga anda."ujar pria itu.
Arthur langsung pergi meninggalkan Almira yang kini tengah kebingungan.
Wanita itu pun bergegas pergi menuju rumah, karena putranya juga sudah tertidur setelah dia makan siang tadi.
Almira terus bertanya-tanya bahkan sepanjang perjalanan dia mengingat wajah pria yang tadi menolong putranya itu.
"Dia tidak terlihat seperti orang jahat. dia juga sudah membuktikan itu tadi pagi tidak mungkin ini adalah unsur kesengajaan, dan lagi untuk mendapatkan kunci duplikat kamar hotel yang bisa dibawa ke luar. siapa? dia apa? dia seseorang yang ah,,, sudah lah semoga semua baik-baik saja."ujar wanita itu.
Sementara Arthur sendiri saat ini dia tengah duduk di sofa kamar nya setelah mengantar Alina pulang ke rumah nya dan meminta dua pelayan rumah untuk menjaganya di rumah pribadinya itu.
Jam pun terus bergulir tidak terasa ini adalah jam makan malam, sementara itu di bawah lagi-lagi tuan Daniel datang meminta untuk bicara dengan Jenny.
Arthur ingin memastikan bahwa saat ini Jenny bisa diajak berdamai.
"Arthur duduklah sayang kita bisa bicara bertiga."ujar Jenny.
"Sepertinya Arthur akan makan malam diluar saja Mom."ujar pria itu.
"Baiklah nak,,, ingat pulang jangan terlalu larut dan segera jenguk calon istri mu, ingat hanya Alina tidak ditambah dengan istri orang."ujar Jenny sambil tersenyum.
"Jangan main-main kalian, Arthur tau dimana istrinya saat ini."ujar Daniel.
"Jika Daddynya bisa main-main kenapa? anaknya tidak."ujar Jenny tegas.
"Aku tidak pernah main-main dengan perasaan,,, cinta ini masih murni untuk mu."ujar tuan Daniel.
"Cinta,,, ahh aku bahkan sudah lupa dengan semuanya itu.
" Nyonya Daniel Andersen,,, aku tidak pernah menggantikan posisi mu disini untuk selamanya."ujar tuan Daniel.
"Tidak terlihat bukan dan itu tidak ada bukti dan satu lagi faktanya kau lebih menikmati sentuhan nya di ranjang dan aku tidak yakin setelah tempat itu terganti tidak ada rasa cinta didalamnya karena orang bodoh pun bisa merasakan semua itu dimulai dari semua itu."ucap Jenny tegas.
Meskipun begitu Jenny masih menghidangkan makan malam mereka justru dengan itu kesempatan bagi Jenny untuk menghindar dari pembicaraan mereka.
Sementara itu Arthur kini tengah makan malam di rumah tetangga cantik nya itu.
Dia sengaja menghindar dari sang Daddy hanya untuk mencari ketenangan dia tidak ingin berdebat.
Sementara di rumah Alina yang cukup nyaman itu Arthur duduk berhadapan dengan wanita yang baru saja bisa bergerak bebas setelah operasi yang dia jalani saat ini.
"Mommy bilang bahwa kamu jago masak."ujar Arthur.
"Tidak jago hanya buat telur dadar anak TK juga bisa."ujar Alina.
"Heumm,,, tapi Mommy bilang semua."ujar Arthur.
__ADS_1
"Arthur Aunty sepertinya sengaja mengatakan itu agar kamu mengobrol dengan ku."ujar Alina.
"Heumm,,, tapi aku tidak percaya Mommy berbohong."ujar Arthur.
"Terserah."ujar Alina mengangkat bahunya.
"Alina,,, mau temani aku jalan-jalan."ujar Arthur.
"Jalan kemana?."tanya Alina.
"Kemana? saja boleh sampai tengah malam setelah itu aku akan mengantar mu pulang."ujar Arthur.
"Heumm,,, terserah saja."ujar Alina.
"Tapi kamu tidak boleh mengatakan apapun pada Mommy."ujar Arthur.
"Aku bukan anak kecil."ujar Alina lirih.
"Heumm,,,, maafkan aku lupa jika kamu sudah dewasa."ujar Arthur.
"Heumm,,, sepertinya wanita yang tadi sangat cantik."kata Alina.
"Kamu juga cantik."balas Arthur.
"Tapi dia lebih cantik."ujar Alina.
"Semua ada porsinya, kamu pun cantik dengan porsi mu."ujar Arthur.
"Heumm,,, aku baru dengar orang cantik ada porsinya."ujar Alina.
Arthur tersenyum, "Kau tau bahasa Indonesia ku buruk tapi ya begini saja sudah lebih baik."ujar Arthur yang jauh lebih baik.
Sementara itu di tempat lain, seseorang kini tengah kebingungan saat ini sekaligus gundah antara pergi atau tidak karena saat ini suaminya pun sudah pergi dengan mobilnya menuju hotel tersebut dengan alasan lembur.
Almira duduk termenung sementara waktu terus berjalan dia pun memberanikan diri untuk meminta bantuan dari kakak kandung nya yang kini baru kembali dari luar negeri.
Kakak dari Almira bekerja di luar negeri, dia akan pulang satu tahun sekali, dengan keluarga kecilnya yang diboyong ke sana kebetulan bulan ini adalah hari liburnya dia di sana.
Almira pun berhasil meminta bantuan kakak nya untuk menemani dia pergi ke hotel saat itu juga karena hati Almira benar-benar sedang gundah dan perasaan tidak enak malam kemarin kembali terulang.
Sementara itu di kamar hotel kedua manusia yang tadi siang sudah membuat janji, kini keduanya tengah menikmati kopi sambil berbincang.
Tepat pukul sebelas malam, kedua sejoli itu sudah memulai aksi tunggang menunggang kuda berpacu dengan waktu yang semakin cepat.
Suara ******* telah diperdengarkan bahkan saking nikmatnya rasa pisang super yang kini tengah wanita itu nikmati waktu itu hampir berteriak karena ternyata pisang itu begitu keras saat masuk kedalam mulutnya menghantam bibir mungil itu.
"Apa? yang akan kita lakukan disini."ujar Arman kakak dari Almira.
"Jangankan kakak aku juga sangat penasaran."jawab wanita berhijab itu sambil membuka pintu kamar tersebut.
Saat pintu dibuka suara laknat itu terdengar begitu nyaring dan saat itu juga Almira hampir terhuyung karena ternyata suara itu berasal dari orang yang sangat ia cintai selama ini,,, wanita itu berjalan dengan cepat bersama kakaknya dan langsung berteriak.
"Mas,,,, jadi ini yang kamu bilang masalah dan ini!!"jerit Almira saat melihat suaminya tengah menunggangi kuda betina itu yang kini langsung menarik selimut arah lain.
Saat itu juga bogem keras mendarat di pipi pria itu.
"Anjing lo bangsat gue bunuh lo sekarang juga."
Bug....
Bug....
Bug...
Tinju itu mendarat di wajah pria itu dan juga ulu hati, pria itu tidak bisa berkutik.
"Almira,,, m mas b bisa jelaskan."ujarnya sambil menahan sakit.
Prok....
Prok....
Suara tepuk tangan yang cukup nyaring saat seseorang datang menghampiri mereka berempat.
"Kau bilang kau hamil oleh ku istriku tercinta,,, lalu apa? semua ini!!! apa!! bisa kau jelaskan."ujar Arthur yang kini diikuti oleh sang Daddy yang ternyata sudah mengikuti Arthur sedari tadi.
"Ini yang kamu bilang setia mas! ini."suara Almira tercekat di tenggorokan wanita itu bahkan sudah tidak lagi sanggup untuk berdiri .
Bug....
__ADS_1
Wanita itu jatuh tak sadarkan diri.
"Almira!!!."teriak Arman yang tengah menghajar pria itu.
"Aku tidak menyangka semua ini Ririn kurang apa? putra ku selama ini padamu. kau bahkan mendapatkan pasilitas yang tidak pernah orang lain dapatkan, bahkan putra ku masih menafkahi mu hingga saat ini tapi ini balasan dari kebaikan kami."ujar tuan Daniel yang sedari tadi mengepalkan pergelangan tangannya.
"Daddy ini tidak seperti yang Daddy lihat aku dijebak Daddy aku tidak pernah mengenal pria itu."ujar Ririn .
"Hahaha.... dijebak ucap mu."ujar Arthur yang kini menendang pria yang masih berusaha menggunakan pakaian nya itu.
Tiba-tiba layar televisi yang ada di kamar itu menyala bertepatan dengan kesadaran Almira yang kini baru kembali.
"Apa-apaan ini,,, matikan aku bilang matikan teriak Ririn dan pria itu.
Namun Arthur menatap tajam kearah keduanya.
"Apakah kau bisa mencegah semuanya saat ini disaat seluruh layar monitor di hotel ini tengah mempertontonkan adegan ranjang kalian berdua."ujar Arthur.
"Kau yang ada di balik semua ini."ujar pria itu.
"Kau yang sudah bermain api dan saat kau terbakar kau menyalahkan orang lain.hahaha ini sungguh sangat lucu tuan kau tidak tau sedang bermain dengan siapa, bahkan jika aku mau aku akan meratakan hotel ini dengan tanah."ujar Arthur.
"Tega kamu mas tega,,,, mulai saat ini aku mengharamkan diriku untuk kau sentuh,, dan aku akan menggugat cerai dirimu mulai saat ini."ujar Almira yang kini tengah dipapah oleh Arman.
Wanita itu sudah tidak kuat lagi untuk berjalan dan kini dia kembali tak sadarkan diri.
Arthur mengikuti langkah pria yang kini tengah menggendong Almira.
"Maafkan aku aku yang tidak bisa menahan diri untuk membiarkan semua ketidak adilan ini, kamu bisa menuntut ku jika kamu mau tapi aku lakukan ini demi kebaikan kita bersama semoga nyonya Almira akan baik-baik saja."ujar Arthur.
Arman tiba-tiba berbalik lalu berkata.
"Justru aku sangat berterimakasih padamu tanpa bantuan mu mungkin kami tidak akan pernah tau kebobrokan pria bajingan itu.
"Almira tunggu Al! aku bersalah aku mohon maaf kan aku Almira! aku dijebak oleh wanita itu."ujar wanita itu sambil terus berteriak meminta Almira untuk memaafkan dirinya.
Sementara Almira sendiri jangankan bicara bahkan dia tidak ingat dengan dirinya sendiri saat ini.
"Pergi kau bajingan ternyata almarhum papah benar kau bukan pria yang baik, kau sudah membuka kebusukan mu sendiri mulai sekarang menjauh dari adik dan keponakan ku karena aku tidak akan membiarkan Alif didekati anjing seperti dirimu."kemarahan Arman semakin memuncak.
Arthur yang masih merasa sesak di dada dia pun memberikan bogem mentah pada pria itu hingga para pegawai di sana membantu memapah dia.
Kehebohan itu terus berlanjut karena tayangan Vidio itu terus bergulir.
"Kau akan mendapatkan balasan nya anjing."ujar pria itu.
"Ahhh aku lupa aku tunggu semua itu."ujar Arthur.
Sementara tuan Daniel langsung menelpon sahabat karibnya menyerahkan urusan Ririn yang kini tengah terus memohon di kaki tuan Daniel.
"Ririn mohon Daddy Ririn mohon jangan beritahu Daddy tentang ini, dia bisa tamat."ujar Ririn.
"Kau yang patut disalahkan untuk semua yang telah terjadi jika pun dia mati mendadak semua karena perbuatan mu."ujar pria paruh baya itu.
"Arthur aku janji akan melepaskan Arthur tapi aku mohon Daddy jangan beritahu keluarga ku."ujar Ririn sambil bersujud.
Namun tuan Daniel tidak memberikan kesempatan saat itu juga dia memberikan semua bukti pada keluarga Ririn.
Sementara Arthur setelah membantu Arman membawa Almira ke rumah sakit, dia langsung bergegas pulang bersama dengan Alina yang sedari tadi terdiam karena dia tidak mengerti tantang keributan yang terjadi di hotel tersebut.
Yang dia tahu adalah situs video porno telah masuk keseluruh kamar mereka. yang membicarakan itu karena Alina tidak berada di kamar namun dia berada di restaurant hotel tersebut sambil menikmati deseret yang cukup menggugah selera.
Sampai Arthur datang menjemput dia yang kini duduk di kursi roda itu.
Kebetulan suasana tengah malam dan hanya ada beberapa orang yang ada di area restaurant tersebut.
Arthur yang sedari tadi mencoba menahan amarahnya. kini dia merasa tidak tega saat melihat wanita itu terdiam.
"Alin,,, boleh aku tau kenapa? kau memilih berpisah dengan suamimu semeantara kau tidak merebut pria itu dari istri pertamanya."ujar Arthur.
"Heumm,,,maaf Arthur itu adalah ranah pribadi.jadi maafkan aku tidak bisa menjawabnya."ujar Alina.
"Heumm,,, tidak apa-apa, tapi boleh aku tanya sesuatu tentang wanita?."tanya Arthur lagi.
"Apa? itu."tanya Alina.
"Apa? Yang akan kamu lakukan saat mendapat seorang suami yang kaya raya dengan segala kesibukan nya."ujar Arthur.
"Mungkin aku akan sangat bersyukur dengan anugerah itu dan akan mensufort dia dari belakang."
__ADS_1