Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 46


__ADS_3

Lagi-lagi aksi Arthur digagalkan oleh beberapa orang yang memang masih berada di Mension tersebut pintu kamar Arthur yang kokoh itu bisa di hancur oleh mereka.


Arthur bahkan tidak berkutik saat sebuah pistol menempel di pelipisnya.


"Lepaskan dia! tidak ada gunanya kalian menghukum dia aku masih membutuhkan suamiku yang sangat tampan dan gagah ini."ucap pria itu yang kini mengecup bibir Arthur.


Wanita itu seolah tak merasakan sakit sedikit pun, setelah Arthur mencekik leher Teresa yang kini terlihat merah.


Arthur hanya diam tak membalas itu, meskipun tidak di pungkiri bahwa Arthur begitu menikmati servis yang dia berikan tapi hatinya tetap bertahan pada istrinya Alina dan hati Arthur merasakan perih yang teramat sangat saat mengingat Alina yang memergoki dirinya tengah bercinta dengan Teresa.


Sementara itu Alina berulang kali muntah darah saat dirinya menangisi nasibnya yang selalu ditipu oleh laki-laki yang ia cintai.


Kini dia hanya lebih fokus pada kedua putranya dia sempat berkata kepada Junior jika kelak dirinya tiada lagi Alina meminta Junior untuk mengantarkan kedua putranya ke rumah Jenny.


Namun Junior lagi-lagi membantah bahwa Alina akan sembuh dan tidak akan pernah pergi kemanapun.


Hari ini adalah hari kedua Alina tidak ada di Indonesia, wanita itu tengah melakukan pengobatan di sebuah rumah sakit yang memiliki teknologi canggih.


Alina yang kini didiagnosa terkena virus yang sampai saat ini belum diketahui jenis virusnya tersebut.


Junior curiga dengan Teresa yang akan melakukan segala cara untuk membuat Arthur meninggalkan Alina, tapi jika Arthur tidak pernah dia miliki maka Alina yang akan dia singkirkan.


Junior pun berbicara pada Alercxa yang merupakan sepupunya dari istri seorang kepala mafia , untuk meminta bantuan selain perlindungan dia juga meminta sang daddy untuk meminta tim dokter yang bekerja di laboratorium milik paman Alercxa untuk menolong Alina.


Alercxa yang tidak bisa menolak permintaan putranya pun dia melakukan hal itu dan kini Alina sedang di tangani di rumah sakit tersebut.


Dua hari kemudian Alina sudah berhenti muntah darah ia bahkan sudah tidak terlalu pucat lagi, meskipun virus itu belum sepenuhnya di sembuhkan tapi ada perkembangan baru karena virus itu bisa dijinakkan dan butuh penawar agar Alina bisa bertahan hidup sampai virus tersebut benar-benar ditemukan obatnya.


Sementara Arthur saat ini, dia tengah berada di rumah Jenny rumah lama yang bertetangga dengan Alina.


Arthur ingin menemui Alina, tapi sayang pembantu rumah Jenny bilang bahwa sudah dua hari ini dia tidak melihat lagi tuan muda mereka.


Jenny yang kaget mendengar hal itu pun dia seakan merasa tercekik.


Wanita itu langsung dilarikan ke rumah sakit karena dia tiba-tiba merasa sangat sesak nafas, Jenny merasa semua di tutupi oleh Arthur.


Arthur sendiri kini terduduk lemas di depan ruang ICU karena Jenny pun belum sadarkan diri sejak tadi.


Arda terus mendampingi Jenny yang kini terlihat sangat menyedihkan.


Wajah cantik yang biasa tersenyum padanya itu kini terlihat penuh kesedihan.


"Sayang bangun kita akan pergi mencari cucu kita sampai ketemu."ucap Arthur.


Arthur sendiri kini sudah berulang kali mengusap sudut matanya karena dia tidak tau harus bagaimana lagi untuk menghadapi semua itu.


"Bangun kita harus bicara."ucap Arda.


"Tidak ada yang harus kita bicarakan."ucap Arthur tegas.


"Sikap keras kepala mu itulah yang menjadi alasan kenapa? kamu bisa bisa kehilangan istrimu."ucap Arda.


"Kau tidak berhak menilai hidupku!."ucap Arthur.


Arthur pun langsung bergegas pergi meninggalkan Arda dan Jenny yang masih tertidur.


"Karena kecerobohan mu, mengambil keputusan kau telah kehilangan putrimu, jika Alina tahu yang sebenarnya penyebab kematian putrinya adalah ayahnya sendiri apa? dia akan kembali padamu."ucap Arda pelan tapi penuh penekanan.


Arthur langsung berbalik."Diam kau bajingan dia juga putriku dan aku tidak pernah menginginkan hal itu terjadi padanya aku tidak berdaya saat itu."ucap Arthur.


Arda langsung mendekat lalu berkata."Jangan sia-siakan hidupmu pilih salah satu dari mereka karena saat bersama dengan Alina hidupmu akan menjadi arang.... begitu juga saat bersama Teresa abu adalah hal yang paling tepat untuk menggambarkan hidupmu kedepannya kau lebih pintar dan bisa menebak apa? maksudku."ucap. Arda.


Arda mungkin bukan orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain tapi Arthur kini adalah bagian dari hidupnya.


Jika Arthur menderita maka otomatis Jenny istrinya akan lebih menderita.


Arthur melanjutkan langkahnya dia pun pergi ke sebuah tempat dimana dia dan Alina pernah berduaan di sana.

__ADS_1


Ya,,, pantai.


Ditengah malam yang sepi Arthur kini berdiri menghadap ke arah ombak dengan hembusan angin pantai yang terasa menerpa seluruh bagian tubuhnya itu.


Derai air mata Arthur membasahi pipinya tapi tidak sedikit pun dia mengusap wajah itu.


Arthur menangis sesenggukan seorang diri menyesal sudah pasti tapi kini semua sudah terjadi.


jika Arda bilang dia adalah pembunuh putrinya maka itu adalah sebuah kebenaran.


Karena kata-kata Arthur pada Teresa saat itu dia sudah melenyapkan putri cantiknya yang tinggal menunggu hari kelahirannya itu.


Beruntung Alina tidak benar-benar gila karena hal itu.


"Flashback on"


"Aku tidak akan pernah menceraikan istriku sampai kapanpun itu sampai aku mati sekalipun, kau adalah sampah yang tidak pernah ada harganya dimata ku!!."teriak Arthur saat Teresa meminta Arthur untuk meninggalkan Alina setelah kejadian malam pertama mereka saat itu.


"Kau tidak bisa menolak sayang, karena diceraikan atau tidak dia akan lenyap saat ini juga.


Teresa langsung memperlihatkan detik-detik Alina akan tertabrak truk saat itu Arthur hanya mampu berteriak memanggil Alina dan dia sempat memukul dan mencekik Teresa.


"Arthur, kamu bisa melakukan apapun padaku sepuasnya dengan begitu kau juga telah membiarkan kematian itu terjadi."ucap Teresa yang langsung membuat Arthur tersadar jika saat ini istrinya tengah berjuang melawan maut.


Arthur pun bergegas pergi meninggalkan hotel tersebut, dengan meminjam kendaraan bermotor milik petugas parkir di sana.


Sampai saat dia tiba di lokasi kejadian dia melihat istrinya dan seorang pria dibawa dengan menggunakan dua mobil ambulans.


Arthur langsung bergegas mengikuti mobil ambulans tersebut hingga tiba di rumah sakit, Arthur langsung memarkir motor itu sembarangan dia berteriak-teriak memanggil istrinya yang langsung dibawa ke ruang IGD rumah sakit besar itu begitu juga pria yang belum ia ketahui bahwa pria itu adalah Junior.


Sampai Alina dilarikan ke ruang operasi Arthur tidak sempat menggenggam tangan kemah itu, karena kejadian itu cukup cepat dan karena asisten pribadi nya itu membuat surat pernyataan untuk pertolongan pertama tersebut.


...*********...


Alina masih tidak sadarkan diri setelah penguburan jenazah putri cantiknya itu selesai dilakukan oleh Arthur dan Jenny juga Arda.


Diam-diam Arda melakukan penyelidikan hingga dua tahun berlalu barulah Arda tau bahwa semua itu bukan kasus kecelakaan biasa.


Flashback off.


"Maafkan aku sayang... maafkan daddy nak daddy adalah monster yang sudah melenyapkan mu putriku."tangis pilu itu pecah.


Arthur berkali-kali berteriak frustasi, jika saja saat ini dia tidak punya tanggung jawab lainnya mungkin Arthur sudah menceburkan diri ke laut.


Seakan telah kehabisan akal sehat, Arthur berteriak keras dan memaki diri sendiri.


"Alina sayang aku adalah monster yang tidak akan pernah bisa kamu maafkan."ucap Arthur.


Pria itu pun langsung bergegas pergi dari pantai karena Arthur mulai memikirkan perkataan Arda.


Arthur mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, bahkan saat itu dia tidak perduli jika dirinya mengalami kecelakaan dan mati saat itu juga.


Arthur akan mengambil keputusan yang sangat berat, dan bahkan itu adalah yang terberat.


Arthur akan melepaskan Alina saat ini tapi bukan berarti dia juga memilih Teresa, meskipun dia masih membiarkan wanita itu berada di sisinya.


Arthur pun pergi menemui notaris dan pengacaranya secara terang-terangan tidak sedikit pun ia sembunyikan dari Teresa saat itu.


Arthur melimpahkan seluruh harta kekayaannya pada Alina kedua putranya dan istrinya Alina sebagai istri sahnya.


Sementara Teresa tidak diberikan apapun karena pernikahan mereka bukan pernikahan resmi dan wanita itu tidak memiliki anak darinya.


Setelah itu, Arthur membuat surat gugatan cerai yang dilayangkan untuk Alina.


Alina yang kini belum diketahui keberadaannya bahkan Teresa pun kehilangan jejak wanita itu dan tidak bisa menambahkan virus yang akan menggerogoti tubuh Alina secara perlahan tersebut.


Terasa yang jatuh cinta pada Arthur sejak pertama kali dia melihat Arthur bersama dengan kakanya di di sebuah hotel di negara Eropa waktu itu dia begitu marah saat tahu bahwa Arthur sudah menikah dengan Alina.

__ADS_1


Saat itu Teresa bahkan bekerja sama dengan rekan bisnis Daniel menawarkan pernikahan bisnis Antara Arthur dan Teresa yang mengatakan bahwa Arthur dan anak rekan bisnis Daniel akan menikah, dengan begitu dia menjanjikan bahwa bisnis pria itu akan lebih maju lagi.


Namun penolakan itu terjadi itulah yang membuat Teresa kembali menyusun rencana, kali ini dia secara langsung meminta bantuan sang kakak, awalnya Tony menolak untuk melakukan hal itu karena biar bagaimanapun dia sudah menjadikan Arthur sebagai saudara angkatnya dan dia juga sudah mengenal Alina dengan baik.


Tapi tekanan dari sang daddy yang mengharuskan dirinya untuk membantu sang adik, karena kalau tidak mereka akan membereskan Arthur saat itu juga.


Tony pun dengan berat hati mengikuti keinginan adik kembarnya itu.


Kini yang tersisa hanya puing-puing kenangan dari kebahagiaan yang selama ini ia dapat setelah ia menikah dengan cinta pertamanya Alina.


Tapi yang lebih menyakitkan bagi Arthur adalah dia sudah mengkhianati cinta istrinya dan dia juga sudah membunuh buah cintanya itu tanpa sengaja.


Sementara itu di kediaman Alina yang baru, tepat di rumah yang cukup besar itu Alina tinggal bertiga bersama dengan asisten pribadi Alina yang hingga saat ini setia mengikuti nya, seperti perintah Arthur waktu itu.


Luna yang selama ini menjadi pengawal sekaligus asisten pribadi Alina dia kini sudah menjadi bagian dari Alina.


Luna sekarang bertugas menjaga kedua putra Alina yang sangat tampan dan menggemaskan itu. yang kini tengah makan malam bersama dengan Junior yang selalu datang berkunjung ke rumah tersebut.


"Honey,,, apa? Tidak bosan terus berada di rumah ini."tanya Junior.


"Heumm... aku belum terbiasa dengan negara empat musim ini Jun."ucap Alina.


"Makanya biasakan sayang agar kita bisa jalan-jalan menikmati salju di luar."ucap Junior.


Mendengar kata salju membuat Air mata Alina merembes keluar dari pelupuk matanya.


Junior langsung memeluk wanita yang kini duduk di sebelahnya.


"Honey,,, salju itu bukan kenangan yang buruk, karena pengalaman yang kalian lewati adalah kenangan yang penuh kebahagiaan, dan tidak ada yang buruk dengan itu jika saat ini kamu mengalami hal yang buruk itu karena memang takdir yang mengharuskan mu melewati semua ini."ucap Junior.


"Hanya saja aku selalu merasakan sakit yang teramat sangat saat mengingat hal itu."kata Alina.


"Bersabarlah sebentar lagi kita akan segera menyelesaikan semuanya.... kamu akan segera sembuh, dan tidak lama lagi aku akan segera mengurus mereka semua."ucap junior.


"Terimakasih Jun... aku tidak tahu harus bagaimana membalasbudi baik mu aku tidak punya apapun saat ini."ucap Alina.


"Cukup dengan tetap bersama ku Honey, aku tidak ingin apapun lagi."ucap Junior.


"Junior, aku tidak akan pernah mungkin menjauhi orang yang sudah menyelamatkan hidupku berulang kali seperti dirimu."ucap Alina yang kini terlihat menatap sendu pada Junior.


Sementara itu di tempat lain, di Indonesia Arthur kini baru pulang larut malam ke rumah Jenny.


Arthur sudah tidak ingin lagi kembali ke Mension miliknya, semua itu karena dia tidak lagi bisa melihat bayangan Alina di sana.


Arthur akan bisa melihat Alina dan kedua putranya di rumah yang penuh kenangan yang kini dia lihat dari samping.


Arthur masih duduk di samping dinding kaca yang menjulang tinggi itu diatas sebuah sofa singgel ditemani segelas wine di tangannya kini.


Sesekali ia akan menyesap rokok yang ada di atas asbak dan sesekali dia akan meminum wine tersebut.


"Arion....Arionan....Alana maafkan daddy."ucap Arthur lirih.


Tetes air bening itu kini jatuh tidak tertahankan.


Alana adalah nama putrinya yang sudah tidak ada dan hanya satu-satunya.


Sampai saat Jenny datang ke kamar tersebut dan mengusap bahu sang putra.


"Janda itu kini sudah kembali menjadi janda, kamu bisa mengejar dia kembali setelah dia kembali."ucap Jenny.


"Tidak ada kesempatan kedua mommy, seperti yang Alina katakan, bahkan waktu tidak akan pernah bisa mengobati luka yang telah Arthur torehkan kecuali jika kenangan tentang pengkhianatan itu dihapuskan."lirih Arthur.


"Berdoalah nak, tuhan maha mem bolak-balikkan hati manusia.... semoga kelak dia bisa memaafkan mu, dan Teresa sadar dengan kesalahan yang telah ia lakukan."ucap Jenny yang telah mengetahui segalanya karena Arthur sudah bercerita tentang semua kesalahan dan kepedihan yang ia alami.


"Semoga saja mommy aku sangat merindukan mereka."ucap Arthur.


"Mereka pun pasti sangat merindukan mu."ucap Jenny.

__ADS_1


__ADS_2