Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 8


__ADS_3

"Sayangnya nya kamu bukan dia jadi perceraian pun terpaksa dilakukan."ujar Arthur.


"Kamu bicara tentang siapa?."ujar Alina.


"Heumm,,, tentang masalah teman ku."ujar Arthur yang belum bisa jujur.


"Kupikir masalah mu ternyata masalah orang lain ."ujar Alina.


"Jika itu masalah ku apa? kamu akan membantuku."ujar Arthur.


"Heumm,,, paling juga bantu do'a."ujar Alina.


"Oya,,, di kantor Mommy sedang ada lowongan kerja apa? kamu ada minat."ujar Arthur.


"Aku tidak kuliah di bidang itu jadi tidak mungkin mampu mengerjakan semua itu."ujar Alina.


"Heumm,,, tapi kamu bisa belajar menjadi asisten pribadi ku untuk urusan kantor."ujar Arthur.


Tanpa sadar mereka sudah tiba di depan rumah milik Alina.


"Sudah tiba tunggu sebentar."ujar Arthur yang langsung membuka seat belt dan membuka pintu.


Arthur langsung membuka pintu belakang jok penumpang untuk mengambil kursi roda milik Alina.


Setelah kursi roda siap Arthur langsung meraih pintu mobil dan membantu Alina, dengan membawa Alina ala bridal style.


Sampai saat Alina duduk kembali di kursi roda tersebut.


"Aku tidak lumpuh Arthur aku bisa berjalan."ujar Alina.


"Ingat luka itu belum benar-benar sembuh jadi kamu harus berjaga-jaga dan pastikan bekas luka itu benar-benar di rawat agar tidak menimbulkan bekas."ujar Arthur.


Arthur pun langsung mendorong kursi roda tersebut setelah memastikan Alina duduk dengan nyaman.


Sampai saat di depan tangga pria itu pun kembali mengangkat tubuh Alina dengan hati-hati dan dibawa ke lantai dua untuk menuju kamar Alina karena disana tidak ada lift.


Satu hal yang pasti Alina rasakan saat ini adalah kenyamanan atas perlakuan Arthur padanya mereka sudah tidak lagi se canggung kemarin.


"Terimakasih Arthur,,, aku tidak tau jika tidak ada pria sebaik dirimu."ujar Alina lirih.


"Sama-sama anggap saja sebagai awal dari sebuah hubungan. aku tidak tau kedepannya akan seperti apa? yang jelas berteman atau pun pacaran itu semua waktu yang akan menentukan."ujar Arthur.


"Heumm,,, kamu benar kita bisa menjadi teman."ujar Alina.


"Tapi tidak didepan Mommy kau harus berperan sebagai seorang kekasih."ujar Arthur.


"Jangan memaksakan sesuatu yang tidak kamu kehendaki,,, karena semua itu tidak akan berakhir baik."ujar gadis itu.


"Heumm,,, kamu benar lagipula proses perceraian ku juga belum selesai."ujar Arthur.


"Apa? cerai."ujar Alina.


"Heumm,,, karena sesuatu yang sulit untuk di perbaiki pada akhirnya jalan itu yang harus diambil."ujar Arthur.


"Jadi tadi?."ujar Alina.


"Dia istriku,,, dia datang dengan Daddy ku kesini untuk menyusul ku kemari karena dia berbohong kepada keluarga ku tentang penyebab perpisahan kami. hingga Daddy percaya padanya dan mencari tahu keberadaan ku. namun sifatnya yang sudah mendarah daging membuat dia tidak bisa membuang kebiasaan buruknya itu."ujar Arthur.


"Maaf Arthur aku sudah mengungkit hal pribadi kamu tidak perlu bercerita jika kamu tidak ingin."potong wanita itu.


"Heumm,,, aku bisa cerita sedikit siapa? tau saja semua ada solusi."ujar Arthur.


Namun Alina menggeleng.


"Tidak baik mengumbar aib pasangan kita sekalipun semua itu adalah hal yang paling kecil sekalipun."ujar Alina.


"Heumm oke baiklah jika seperti ini sekarang kamu bisa istirahat aku mau pulang ini sudah hampir pagi."ujar Arthur sambil beranjak dari sofa.


"Pulanglah Aunty pasti sangat mencemaskan dirimu."ujar Arthur.


"Cium dulu."ujar Arthur sambil tersenyum menggoda Alina.


"Sini dicium sendal mau."ujar Alina serius.


"Heumm,,, galaknya aku takut."ujar Arthur sambil tertawa kecil.


"Kau itu ternyata nyebelin juga."ujar Alina.


"Tidak apa? tapi naksir kan biar pun duda masih keren."ujar Arthur sambil terkekeh geli.


"Hahaha ketan air yang ada."ujar Alina.


"Ah,,, gagal pendekatan tapi tak apa? aku tinggal bilang Mommy wanita pilihan dia galak dan tidak mau cium putranya yang tampan ini."ujar Arthur lagi.


Sementara Alina kini bersemu merah.


"Jadi pulang tidak aku ngantuk."ujar Alina.


Wanita itu pura-pura menguap.


"Ah aku juga di usianya Mommy."ujar Arthur yang langsung berlagak sedih sambil berlalu pergi. tapi hanya beberapa detik saat Alina berbalik.

__ADS_1


"Good night babe."ujar Arthur sambil tersenyum manis.


"Night Arthur."ujar Alina kali ini Arthur pun langsung pergi setelah menitipkan Alina pada kedua pelayan itu.


Arthur merasa jika saat ini hidup nya sedikit berwarna, saat ia bertemu dengan sang Bunda dan juga Alina.


Arthur langsung berangkat dengan mobilnya tersebut menuju rumah nya yang hanya berbeda langkah saja dari rumah Alina.


"Heumm,,, ngapalin janda sampai pulang selarut ini besok Mommy langsung buat pesta pernikahan saja karena bahaya jika dibiarkan terus begini."ujar Jenny yang sedari tadi menunggu kepulangan putra semata wayangnya itu.


"Bukan hanya janda sebelah Mom, tapi ada calon janda lainnya."ujar Arthur.


"Kau buat seseorang jadi janda aduh anak tampan Mommy kamu apakan wanita itu hingga menjadi calon janda."ujar Jenny.


"Bukan aku Mom,,, tapi mantan menantu Mommy yang buat,,, dia sudah menikmati suaminya dan Arthur hanya menunjukkan kebejatan pria dan wanita itu di hotel milik pria itu sendiri."ujar Arthur.


"Apahhh,,,, istrimu berbuat seperti itu di negara ini."ujar Jenny.


"Yupz,,, wanita sialan itu bahkan menggoda pria beristri itu."kata Arthur.


"Tapi Mommy juga tau wanita mana yang dihancurkan itu."ujar Arthur.


Arthur langsung bergegas pergi meninggalkan Jenny yang kini terlihat kebingungan.


"Nak,,, wanita yang mana yang kamu maksud."ujar Jenny.


"Heumm,,, anak itu."ujar Jenny.


Hingga keesokan paginya Arthur sudah membawa tiga anak asuh Alina.


Dia berlarian bersama ketiga anjing yang super besar dan lucu itu.


Arthur sengaja joging bersama dengan mereka meskipun hanya taman belakang rumah Alina.


Wanita itu pun ikut bergabung setelah dibantu untuk berjalan mengucapkan kursi roda saat diluar sementara saat di dalam rumah dia berjalan pelan-pelan.


"Anak-anak apa? kalian tidak merindukan ku sayang ." panggil Alina.


Sontak anjing itu berlari dan ketiganya berebut untuk memeluk Alina.


Mereka semua memang sudah terlatih.


"Kau belum sembuh total jadi tidak perlu melakukan itu."ujar Arthur.


"Dengarkan kata calon suamimu sayang."ujar Jenny.


"Ah dia menolak untuk mencium ku semalam Mommy sungguh calon istri yang pelit."ujar Arthur sambil cengengesan.


"Arthur."ujar Jenny yang terlihat geregetan.


"Ampun Mommy hanya bercanda."ujar Arthur sambil berlari kembali.


"Dasar kau ya."Jenny pun berbalik pada Alina lalu dia tersenyum.


"Bagaimana? keadaan mu sayang."tanya Jenny.


"Sudah jauh lebih baik Aunty."jawab Alina.


...************...


Sementara itu di kediaman Almira, wanita cantik berhijab itu masih mengurung diri di dalam kamar nya.


Setelah kembali dari rumah sakit dia bahkan tidak menyentuh sarapan paginya sama sekali, hanya ada tetes air mata yang mewakili rasa sakit yang teramat sangat setelah dikhianati oleh Arda suaminya itu.


Selama ini Almira selalu berusaha untuk terus percaya pada suaminya meskipun dulu dia pernah melakukan kesalahan.


Kesalahan yang yang pernah ia lakukan dulu masih seputar itu hanya saja Almira tau dari ciri-cirinya saja tidak seperti yang dia lihat saat kemarin malam.


Jiwa dan raganya langsung hancur berkeping-keping harga dirinya sebagai seorang istri hancur belum lagi dia harus ikut mempertanggung jawabkan nya di akhirat.


"Al makan dulu barang sedikit, kamu harus punya tenaga untuk menghadapi semua ini. lihat Alif masih sangat kecil dia masih sangat membutuhkan dirimu."ujar Nara istri dari Arman.


Almira kini sudah berada di rumah lama peninggalan kedua orang tuanya bersama dengan Arman.


Arman juga hanya sesekali tinggal di sana karena dia tinggal di Australia dengan istrinya itu.


"Kak,,, aku tidak tau harus bagaimana menghadapi ini semua mas Arda sungguh tega padaku aku tidak pernah menyangka dia bisa berkhianat padaku."lirih Almira yang kini merasakan sakit kepala.


"Kakak sudah bilang kamu harus makan."ujar Arman yang kini kembali membawakan bubur buatannya sendiri.


Arman adalah sosok kakak yang sangat penyayang .


"Alif dimana kak?."tanya Almira.


"Dia ada di bawah bersama dengan kakaknya."jawab Arman.


"Pria yang semalam seakan terbiasa dengan hal itu. dia bahkan hanya memaki istrinya begitu saja jika itu kakak sudah kakak hajar wanita itu habis-habisan."ujar Arman.


"Amit-amit yang jangan sampai deh kurang apa? coba suamiku sudah tampan baik pula jika karena alasan kurang puas mungkin sampai kapan pun tidak akan pernah merasa puas karena itu adalah bagian dari hawa nafsu."ujar Nara.


"Istriku ini memang sangat pintar dan baik hati terkasih sayang ku."ujar Arman.

__ADS_1


"Sama-sama sayang."balas Nara.


Sampai Almira menghabiskan bubur itu dan minum obat yang dokter berikan agar Almira bisa istirahat dengan tenang .


Ririn sendiri saat ini tengah berada di pesawat dia diminta segera kembali oleh kedua orang tua nya.


Setelah mereka mendengar kabar bahwa Ririn telah membuat masalah dia pun di telpon untuk segera menemui keluarganya.


Sementara tuan Daniel sendiri saat ini masih berada di hotel tersebut untuk berkemas karena dia akan pindah ke rumah Jenny istrinya.


Daniel tidak perduli lagi Jenny mau menerima dia atau tidak yang jelas Daniel tidak akan pernah pergi lagi untuk meninggalkan wanita itu.


Karena kini kedua orang tua Daniel sudah tidak ada, dan yang ada di sana hanya adik iparnya yang sampai saat ini tidak menikah lagi setelah kepergian adik tuan Daniel.


Dan untuk masalah perusahaan milik keluarganya sudah pasti Arthur yang akan mengurus semuanya itu, seperti kemarin.


Tuan Daniel tiba di rumah Jenny dengan menggunakan taksi.


Sesampainya di sana dia melihat ada seorang wanita cantik dan mungkin usianya jauh di bawah Arthur. wanita itu sedang duduk di sofa ruang keluarga bersama dengan putranya itu.


"Arthur dimana Mommy mu?."tanya pria paruh baya itu.


"Mommy sedang masak di dapur."jawab Arthur cuek.


"Tolong panggilkan Daddy tidak tahu dimana letak dapur dirumah ini."ujar Daniel.


"Heumm..."balas Arthur yang langsung beranjak dari duduknya dan pergi mencari sang Bunda.


Sesampainya di dapur, Arthur mengendap-endap sampai tiba di belakang Jenny yang kini tengah mencuci sayuran dia langsung mengagetkan Bundanya itu.


"Mommy."ujar Arthur.


Jenny yang kaget langsung refleks menjatuhkan sayuran tersebut.


"Arthur! sayang kamu lihat kan sayuran nya kotor lagi kebiasaan deh kamu tuh nak,,, nak."ujar Jenny yang kini mengusap dadanya.


"Habis mommy anteng banget. kemari Arthur bantu tuh,,, kekasih Mommy datang kali ini dia sepertinya mau pindahan kesini."ujar Arthur.


"Kamu saja yang urus dia, Mommy malas."ujar wanita cantik itu.


"Heumm,,, sudah pada dewasa juga masih ngambek,,,, bagaimana Arthur nanti."ujar Arthur dengan sengaja.


"Putra Bunda yang paling tampan sedunia,,, kamu harus jalani hidupmu dengan baik.*ujar Jenny.


"Ah, tentu saja Bunda dengan dua istri sekaligus sepertinya jauh lebih baik."ujar Arthur.


"Jangan coba-coba ingat kamu akan kesulitan mengatur waktu mu sendiri."ujar wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik itu.


"Heumm oke Mommy tuh segera urus pria tua itu."ujar Arthur sementara dirinya meminta pelayan yang lain untuk membagi tugas.


Yang satu Arthur minta untuk memasak satu lagi buat minum untuk Alina dan Daddynya.


Sampai semua orang berkumpul di ruang keluarga.


Jenny pun meminta Arthur dan Alina untuk pindah tempat, karena mereka akan mengobrol dengan serius.


Arthur pun pergi membawa Alina ke lantai atas menuju ruang santai yang merupakan tempat kerjanya selama berada di Indonesia.


Mengenai perusahaan milik nya yang ada di Eropa sana diapun mempercayakan itu kepada asisten pribadinya yang selama ini selalu membantu mengatasi semua itu.


Arthur hanya akan mengerjakan sebagian tugas yang bisa asisten kirimkan lewat email.


Dan untuk urusan meeting pun dia meeting penting secara online bersama dengan para staf yang berada di perusahaan tersebut.


"Apa? Eropa itu sangat jauh."ujar Alina saat melihat bola dunia yang ada di sana.


"Heumm,,, tentu apa? kau belum pernah pergi ke benua Eropa, misalnya Swiss atau yang lainnya." tanya Arthur.


"Heumm,,, sepertinya itu hanya akan ada di dalam mimpi. bahkan ke negara tetangga pun aku belum pernah melakukan hal itu."ujar Arthur.


"Heumm,,, lain kali aku akan mengajak mu kesana."ujar Arthur.


"Kapan? kamu kembali ke sana."ujar Alina yang sebenarnya tidak rela jika Arthur pergi. karena hidupnya akan kembali sepi.


"Secepatnya karena aku juga harus segera mengurus perceraian dan juga urusan pekerjaan."ujar Arthur.


"Heumm,,, apa? kamu akan kembali menetap di sana."ujar Alina.


"Sepertinya begitu, jika Daddy ku tak mau kembali."ujar Arthur.


Alina langsung terdiam sampai beberapa menit dia sibuk memandangi jendela kaca yang menjulang tinggi itu.


"Alina sudah berapa lama kamu berpisah dengan nya."kata Arthur tiba-tiba.


"Untuk apa? tanyakan hal itu."tanya Alina.


"Hanya ingin tahu saja."jawab Arthur.


"Sejak mereka bertiga masih bayi dan itu artinya sudah lebih dari satu tahun."ujar Alina.


"Apa? tidak ada rencana untuk menikah lagi."tanya Arthur lagi.

__ADS_1


__ADS_2