
"Baik Bu guru."jawabannya sopan.
Alina merasa sangat prihatin dengan jawaban dari gadis kecil itu.
Dia yang tengah berjuang melawan rasa sakit yang sampai saat ini belum ada obatnya karena tidak ditemukan penyebab sakitnya itu.
Tasya berusaha bangkit namun Alina tidak mengijinkan nya.
"Tetap lah seperti itu sayang senyamannya saja, ibu bisa membantumu belajar."ujar wanita itu.
"Terimakasih bu guru."ujar Tasya.
"Sama-sama sayang, Owh iya Tasya belajarnya sudah sampai mana kalau ibu boleh tau.?"tanya Alina.
Alina pun mulai mengajar Tasya dengan sangat hati-hati dan juga penuh kelembutan.
Hingga saat tuan Bagas datang.
Alina pun selesai mengajar.
"Bagaimana.... apa? sudah anda pertimbangkan."ujar tuan Bagas.
"Heumm saya akan coba.... tapi tuan kalau boleh tau Tasya sakit apa?."ujar Alina .
"Entahlah sampai saat ini belum ada yang bisa mendeteksi penyakit putri ku."ujar pria itu.
"Sudah berapa lama kalau boleh tau."ujar Alina lagi.
"Sejak kepergian ibunya, sejak hari itu dia terlihat lemas seakan tak punya tenaga kemudian dia pun dilarikan ke rumah sakit tapi sayang dokter tidak menemukan penyakit apapun."ujar pria itu.
"Yang sabar tuan semoga Tasya cepat sembuh."ujar Alina.
"Semoga saja."ujar seseorang yang datang dari arah pintu.
"Sayang kamu sudah kembali."ujar tuan Bagas yang langsung menyambut nya dengan pelukan.
Sementara Alina menangkap gelagat tidak beres pada Tasya.
Gadis kecil itu terlihat ketakutan dan tubuhnya itu bergetar hebat saat melihat wanita itu.
Sampai akhirnya Tasya pun menjerit.
Alina langsung memburu gadis kecil itu.
"Apa? yang terjadi."ujar Alina pada Bagas yang berlari memeluk gadis kecil itu.
"Papah tolong usir dia, dia jahat papah dia bunuh mamah dia jahat."ujar gadis itu tapi pria itu tidak melakukan apa-apa hanya menganggap itu sebuah halusinasi gadis yang mengalami sakit selama beberapa tahun ini.
"Sayang tenang ya Mama Anggeline itu baik, tidak ada yang jahat."ujar pria itu.
"Bu guru tolong Tasya dia selalu meminta Tasya untuk meminum racun yang di berikan pada Mama!."teriak Tasya.
Sementara Anggeline hanya tersenyum manis sambil mendekat dan mencoba menyentuh gadis kecil itu yang kini menarik selang infus untuk dijadikan pukul kan pada Anggeline.
"Tasya sayang jangan Mama Anggeline tidak jahat dia yang selama ini mengurus Tasya kalau papah tidak ada."ujar Bagas yang tidak percaya dengan ucapan putrinya itu.
"Stop,,, tuan sebaiknya anda bahwa pergi Nyonya Bagas apa? Anda tidak melihat dia begitu tersiksa."ujar Alina yang tiba-tiba merebut gadis kecil itu.
"Siapa? kamu berani ikut campur dengan urusan kami."ujar wanita itu tiba-tiba marah.
"Saya guru Tasya dan sedikit banyak saya tau mana yang halusinasi dan mana yang sebuah kejujuran."ujar Alina tegas.
"Apa? maksud anda Nona Alina.
"Saya percaya dengan Tasya, jika dia bilang seperti itu, itu artinya dia tahu sesuatu tentang sebuah rahasia anda boleh percaya pada istri Anda, tapi jangan pernah abaikan kata hati dari malaikat kecil ini sebelum penyesalan itu datang."ujar Alina dengan tegas.
"Lancang kau Nona istriku tidak mungkin melakukan hal itu."ujar tuan Bagas.
"Jika Anda tau kebenaran setelah kehilangan aku rasa semua percuma saja."ujar Alina.
"Apa? maksud mu, apa? kamu menuduh ku seperti Tasya."ujar gadis itu.
"Heumm,,, saya tidak menuduh tapi semua bukti ada di hadapan." ujar Alina.
"Tenanglah sayang bu guru tidak akan membiarkan mu disakiti lagi. sekarang berbicaralah."ujar Alina yang menghidupkan rekaman di ponselnya.
__ADS_1
"Dulu, saat Mama masih hidup dia sering memaksa Mama untuk minum susu buatannya yang sudah dimasukkan serbuk yang entah apa? lalu jika Mama tidak minum, dia akan memaksa Mama Tasya selalu diam-diam mengikuti dia ke kamar Mama setelah dari dapur. dia bilang jika Mama tidak minum maka papah ada dalam bahaya."ujar Tasya.
"Apa? mas percaya itu."ujar Anggeline.
"Tidak Nona Alina putriku memiliki imaginasi tinggi jadi dia akan mengarang cerita setelah melihat film.
"Tunggu tuan, lanjutkan sayang."ujar Alina.
"Stop Nona kau terlalu ikut campur aku ibunya tidak mungkin aku menyakiti dia."ujar Anggeline.
"Apa? Anda tidak pernah lihat berita kejahatan di televisi, bahwasanya orang terdekat lah yang lebih banyak melakukan terhadap keluarga atau kerabat atau teman, apa? Anda bisa katakan hal lain lagi untuk membela diri. aku rasa Anda tidak perlu takut jika memang anda tidak bersalah."ujar Alina.
"Mama meninggal bukan karena kecelakaan, dia yang memperparah kondisi mama dengan dua bungkus racun yang sudah membunuh kucing ku saat itu."
"Pah kucing ku mati setelah menjilat gelas bekas susu Mama, dia penjahatnya mama meninggal bukan karena kecelakaan dia sudah lemah sejak pertama kali minum susu itu."
"Dan setelah itu mama ingin menyelamatkan papa saat wanita itu bilang bahwa papa akan mati saat dalam perjalanan ke kantor karena mobil papa sudah disabotase. "
"Mama yang lemah tak berdaya itu berusaha untuk menghentikan papa tapi dia malah jatuh berguling-guling di tangga dan di sempat menginjak dada Mama dengan pura-pura tidak melihat akhirnya Mama mati. "
"Kembalikan mamaku, atau kau akan menderita seumur hidup mu, kau akan mati lebih mengerikan dari kami karena Tuhan tidak pernah tidur, kau penjahat."ujar gadis itu.
"Mas, jangan percaya dia kamu tahu kan setiap ada orang baru dia akan mengatakan itu, mas dia hanya ingin mencari perhatian pada orang baru sejak kita menikah dia tidak pernah menyukai aku sebagai pengganti ibunya."ujar Anggeline.
"Aku percaya dia Nona, mungkin kejahatan itu tidak akan terdeteksi saat ini tapi benar kata Tasya, bawa tuhan tidak pernah tidur."ujar Alina.
"Nona Alina saya akan mengurus semuanya, tolong berikan putri saya pada saya anda bisa pergi dan besok tidak usah datang lagi saya akan membayar pekerjaan anda untuk saat ini."ujar tuan Bagas, seakan tak setuju dengan pernyataan orang luar.
"Saya mungkin orang luar, tapi saya tidak akan pernah membiarkan ketidak adilan berlaku pada siapapun termasuk anak kecil seperti Tasya, jika anda tidak melaporkan dia, maka saya akan melaporkan masalah ini."ujar Alina.
"Cukup Nona tolong jangan ikut campur urusan keluarga kami."ujar pria itu yang hendak meraih putrinya yang kini memeluk erat Alina.
"Maafkan saya tuan, saya akan membawa putri anda silahkan jika anda ingin melaporkan saya pada polisi saya tidak takut daripada saya lebih takut melihat Tasya mati sia-sia ."ujar Alina.
"Hentikan Nona atau semua ini akan kamu sesali."ujar wanita itu.
...**************...
Suasana semakin tegang saat seseorang datang menodongkan pistol ke arah Alina.
"Kau tidak bisa pergi Nona, lepaskan Nona kecil kami."ujar beberapa orang bodyguard tersebut.
Tiba-tiba saja di belakang mereka sudah ada banyak polisi yang kini meminta mereka melepaskan senjata api mereka.
"Siapa? yang berani mengubungi polisi."ujar wanita itu sementara Bagas seakan tak tahu menahu.
"Kalian semua diharapkan untuk tetap di tempat kami akan melakukan penggeledahan di setiap sudut rumah sakit ini."ujar ketua polisi yang terlihat sangat gagah berani itu.
Wanita itu bersikap tenang seolah tak melakukan kesalahan apapun.
Sampai saat Tasya menunjukkan sebuah gelas bekas susu dan juga bukti foto yang diam-diam dia ambil dan rekaman suara yang dia tangkap selama ini dia mungkin lemah dan tidak punya harapan hidup tapi setidaknya dia harus melakukan penyelamatan pada papahnya.
Polisi langsung menangkap Anggeline, dan membawa barang bukti kejahatannya itu.
"Tasya sayang maafkan papah karena papah sudah dibutakan oleh cinta selama ini."ujar tuan Bagas yang kini terlihat menyesal.
Tasya tiba-tiba saja mengalami sakit kepala yang hebat dia kejang-kejang dokter pun berlarian untuk menangani gadis kecil itu.
"Tasya!!.. Tasya bangun sayang kamu tidak sendiri ada bu guru disini."ujar Alina yang kini terlihat sangat terpukul dan menangis sesenggukan menyaksikan hal itu siapa yang akan tega.
"Alina."ujar seseorang yang suaranya sudah tidak asing di telinga Alina.
"Arthur."lirih Alina yang malah tak bergeming sedikitpun.
"Tasya sayang maafkan papah nak maafkan papah."ujar tuan Bagas yang kini meronta-ronta.
Tasya akhirnya tidak sadarkan diri.
"Sayang apa? yang terjadi kenapa? kamu menangis."ujar Arthur yang hendak memeluk Alina.
"Stop disitu jangan mendekat."ujar Alina.
"Yank kita harus bicara."ujar Arthur.
Wanita itu langsung keluar dari ruangan tersebut, dan menjauh dari Arthur yang mendekati dirinya.
__ADS_1
"Alina, aku akan jelaskan semuanya."ujar Arthur tegas.
"Tuan muda Arthur yang terhormat saya tidak memerlukan penjelasan apapun dari anda sejak awal kita memang bukan siapa-siapa jadi anda tidak punya kewajiban untuk menjelaskan semuanya pada saya."ujar Alina.
"Alina."ucap Arthur lagi.
"Sudah cukup tuan anda boleh pergi."ujar Alina.
"Aku bisa menyembuhkan anak itu."ujar Arthur.
"Bagaimana caranya."tanya Alina.
"Aku akan memberikan penawar racun yang gadis kecil itu minum tapi dengan satu syarat."ujar Arthur.
"Tidak perlu lakukan hal itu, jika memang anda tidak ikhlas, tuhan tau mana yang terbaik bagi seluruh umatnya."ujar Alina yang kini beranjak pergi.
"Apa? kau yakin tidak menyesal, karena yang aku tau racun semacam itu akan menyebar secara perlahan dan mungkin saja sudah merusak seluruh syaraf.*ujar Arthur yang langsung menghentikan langkah Alina.
"Apa? syarat yang kau ajukan tadi."tanya Alina.
"Menikah dengan ku malam ini juga atau kamu pilih dia tiada."ujar Arthur.
"Baiklah tapi ada tiga syarat yang harus kamu penuhi"ucap Alina.
"Apa? syaratnya."tanya Arthur.
"Pertama kau harus menjadi mualaf dulu kedua kau boleh menikahi ku tapi tidak boleh menyentuh ku, dan ketiga akui aku sebagai istrimu seperti pemberitaan dirimu di seluruh media online aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku adalah istrimu sama halnya dengan istrimu Nona Kasandra Gultom. bagaimana? apa? kau bisa memenuhi ketiga syarat ku."ujar Alina.
"Honey,,, kamu tidak bisa lakukan hal ini aku tidak keberatan dengan dua syarat tadi tapi yang kedua, aku tidak akan bisa memenuhi itu. bisa kamu ganti please.
Alina pun menggeleng.
"Silahkan pergi tuan Arthur yang terhormat, akan lebih baik jika anda memilih satu wanita daripada dua akan menyiksa dan akan selalu menuntut Anda untuk berdusta. pernikahan dipenuhi dusta itu tidak akan berakhir baik. aku mungkin akan menyesal karena tidak bisa menyelamatkan Tasya, tapi akan lebih menyesal lagi menikahi pengkhianat seperti Anda."ujar Alina tegas.
Arthur langsung mengepalkan tangannya saat itu juga, ternyata benar apa? yang dikatakan oleh sang Bunda wanita itu begitu memiliki prinsip yang kuat.
Alina pun kembali memasuki ruangan khusus pemilik rumah sakit tersebut.
"Tuan boleh saya tau apa? golongan darah putri anda."ujar Alina.
"O negatif."ujar Bagas.
"Owh tuhan apa? ini benar-benar sebuah kebetulan."ujar Alina.
"Boleh saya bicara dengan dokter yang merawat putri anda."ujar Alina.
"Tentu."ujar pria yang kini terlihat lemah tersebut.
Alina pun memutuskan untuk berbicara dengan dokter tersebut.
Diskusi itu terjadi hampir satu jam lamanya yaitu Alina meminta dokter mencoba untuk mentranfusi darah miliknya kedalam tubuh gadis itu setelah gadis itu melakukan cuci darah karena hanya itu satu-satunya cara untuk menolong kecil itu setidaknya sampai dia benar-benar mendapatkan serum anti racun yang menyebar di dalam tubuh tanpa terdeteksi oleh alat medis tersebut.
Dokter pun akhirnya mengambil tindakan medis tersebut dengan ide dari Alina setelah di bahas terlebih dahulu dalam meeting penting para dokter spesialis yang akan menangani gadis kecil itu.
Kini Alina pulang terlebih dahulu, sementara Tasya dijaga dengan sangat ketat oleh dokter dan juga para bodyguard yang selama ini bekerja pada Bagas.
Sementara itu di kediaman Alina, dia kedatangan tamu tidak diundang.
Arthur sepertinya tidak akan pernah menyerah begitu saja.
"Sampai kapan anda akan berpura-pura tuli dan tidak peduli dengan harga diri yang selama ini di junjung tinggi oleh keluarga anda tuan."ujar Alina.
"Hanya demi cinta aku bahkan rela kehilangan seluruh harga diri ku."ujar Arthur tegas.
"Owh begitu rupanya tapi maaf anda datang pada orang yang salah."ujar Alina tegas .
Sampai dia masuk kedalam rumah dan hendak menutup pintu.
Namun Arthur lebih dulu masuk.dan berkata.
"Besok atau lusa akan datang dokter spesialis yang akan menangani gadis kecil itu. setidaknya berikan aku kesempatan satu kali saja cinta untuk membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu."ujar Arthur.
"Apa? kau tahu mas Akbar dia begitu mencintaiku dan aku juga sempat mencintainya tapi aku melepaskan dia setelah aku tau ada orang lain sebelum aku, karena setelah ataupun sebelsebelum semuanya sama saja, karena dua cincin hanya untuk dua hati. bukan untuk tiga hati
tidak pernah ada Cincin pernikahan dengan tiga cincin."ujar Alina.
__ADS_1
Alina pun pergi meninggalkan pria yang kini tengah mematung di tempatnya.
Prinsip hidup Alina sungguh sangat kuat.