Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 39


__ADS_3

Arthur masih terdiam sampai saat Alina kembali berkata.


"Aku akan pergi dengan kedua anak kita dari rumah mu."ucap Alina lagi.


"Alina, kamu bicara apa? heeuh... siapa? yang akan membiarkan mu pergi apalagi dengan anak-anak jangan pernah bermimpi!."bentak Arthur.


Alina kini menatap wajah wajah laki-laki yang sudah membentaknya.


"Lalu untuk apa? Aku disini, untuk apa? Aku ada di rumah ini... untuk apa? Ar aku lelah dengan sikap mu aku lelah mengabaikan pengkhianatan yang kamu lakukan di belakang sana, jika dulu aku bisa memutuskan semuanya itu dengan mudahnya itu karena aku tidak punya anak dari mas Akbar. tapi sekarang berada demi mereka aku bahkan sudah mengabaikan perasaan ku sendiri Ar! demi mereka aku sedang berusaha untuk memperbaiki diri sendiri karena aku berharap kamu akan kembali tapi aku salah, aku sudah lelah dengan semua ini aku lelah berpura-pura seolah aku baik-baik saja sekarang aku menyerah."ucap Alina.


"Duduk Alina, kita sedang bicara hargai aku sebagai kepala keluarga di rumah ini."ucap Arthur.


"Aku menghargai mu bahkan lebih dari itu, tapi kamu bahkan sudah merusak semua rasa hormat ku, kamu sudah menghancurkan semua... aku sudah bilang pada mu dari sejak awal kita berkomitmen bahwa aku hanya wanita yang terlalu banyak kekurangan, aku terlalu banyak kekurangan dan sekarang semua sudah terbukti aku memang wanita yang tidak berguna ceraikan aku Ar, sudah cukup semua ini terlalu menyakitkan."ucap Alina.


"Aku bilang duduk Alina, tidak naik bicara sambil berdiri."ucap Arthur.


Dia ingin menarik istrinya untuk duduk tapi Alina menepis tangan itu.


"Duduk aku akan jelaskan semuanya... semuanya Alina."ucap Arthur.


"Tidak! semua sudah terlambat Ar, semua sudah terlambat! kebohongan apalagi yang ingin kamu katakan semua sudah tidak ada gunanya lagi."ucap Alina yang kini berlalu pergi dari hadapan Arthur.


"Kamu hanya ingin kita bercinta bukan, masalahnya hanya itu saja jadi tidak perlu dibesar-besarkan."ucap Arthur.


Alina pun berbalik dan kembali menatap wajah Arthur.


"Masalah nya tidak sesederhana itu, jika aku mau aku bisa melakukan hal itu dengan siapapun ."


"Diam Alina!! Jangan pernah berkata seperti itu."bentak Arthur.


"Kenapa? jika kamu bisa kenapa? aku tidak, kamu adalah cermin pribadi ku, dan aku bisa membalas mu lebih dari itu."ucap Alina.


"Lakukanlah balas aku jika memang itu benar."ucap Arthur.


"Aku tidak akan pernah menjadi wanita murahan untuk membalas dendam atas pengkhianatan mu."ucap Alina.


"Lalu bagaimana mana caramu membalas ku."tanya Arthur.


"Aku akan pergi dari hidupmu untuk selamanya."ucap Alina.


"Hanya karena aku menolak untuk berhubungan dengan mu, kamu lakukan semua itu."ucap Arthur.


"Seorang suami mengabaikan keberadaan istrinya berbulan-bulan lamanya kamu bilang hanya! ternyata memang benar pengkhianatan itu bisa merubah segalanya."ucap Alina.


Wanita itu tersenyum kecut.


"Ayo kita bercinta sepuas hati mu."ucap Arthur.


"Aku bukan dia."ucap Alina yang kembali pergi.


"Alina! jangan sampai aku mengucapkan kata yang akan membuat mu menyesal cepat kembali atau aku tidak peduli lagi dengan keberadaan mereka."ucap Arthur.


"Lakukanlah agar semua lebih jelas, mereka adalah putra ku, dan setelah itu kamu bahkan tidak punya hak untuk bertemu mereka."tantang Alina.


Arthur langsung pergi mengejar Alina yang kini meraih kedua putranya yang tengah berada di dalam gendongan pengasuh karena Jenny telah pulang saat ini.


Alina langsung bergegas membawa putranya itu pergi menuju pintu lift untuk turun kebawah tapi Arthur langsung menghadang langkah Alina.


"Apa? jika aku mengakui kesalahan ku kamu akan berubah pikiran."ucap Arthur yang kini menatap sendu.


"Sekarang semua sudah terlambat, kamu bebas untuk bersama dengannya dan anak kalian. anggap kami tidak pernah hadir dalam hidup mu."ucap Alina.


"Yank... aku tidak ingin ini terjadi sumpah semua adalah sebuah kecelakaan, dan aku menahan diri untuk tidak menyentuh mu itu karena aku selalu merasa bersalah padamu sampai saat bukti itu ada nanti aku mohon bertahan lah."ucap Arthur.


"Berarti benar selama ini dugaan ku."ucap Alina yang melewati Arthur begitu saja.


"Yank... please dengarkan aku babe, aku sedang mabuk saat itu aku pikir hanya mimpi, tapi saat aku bangun bukti itu ada di samping ku."ucap Arthur menjelaskan.


Alina seolah menutup telinga, hatinya teramat perih dan menjerit dia mengeratkan pelukannya pada kedua putranya yang kini berada di dalam dekapannya.


Alina tiba di depan lobi kebetulan saat itu Jenny datang kembali ke Mension diantar oleh Arda.


"Bunda, aku pamit."ucap Alina yang kini langsung membawa kedua putranya kearah mobil.


"Alina tunggu sayang apa? sebenarnya yang terjadi, ingat jangan berpikir sempit nak, mereka masih sangat kecil."ucap Jeny yang kini menghadang langkah Alina.


"Aku justru ingin menyelamatkan mereka dari semua kehancuran ini, aku pulang Bunda."ucap Alina yang kini masuk kedalam mobil tanpa membawa apapun hanya mobil yang kini dikendarai oleh asisten pribadi Alina yang selama ini selalu setia berada di sisi Alina.

__ADS_1


"Kamu bisa mengantar ku pulang setelah itu kamu bisa kembali."ucap Alina.


Arthur yang kini mengejar Alina sudah terlambat, Alina sudah pergi meninggalkan Mension.


Arthur tidak tahu istrinya akan pergi kemana? bahkan dia tidak membawa apapun hanya tas yang sempat di bawa tapi itupun hanya dompet kosong dan Handphone lama milik Alina dan kartu identitas yang pernah ia bawa sementara rumah peninggalan orang tuanya kini tengah di sewakan.


Arthur langsung bergegas pergi dia tidak menghiraukan murka Jenny saat ini yang ada di benaknya hanya keluarga kecil yang telah ia hancurkan.


Sampai saat Alina tiba di sebuah rumah sakit, Alina langsung meminta asisten pribadinya itu untuk kembali ke Mension.


Alina datang ke rumah sakit tersebut untuk menemui temannya yang selama beberapa bulan ini ia kenal.


Wanita itu adalah seorang dokter, Alina ingin meminta bantuan kepada wanita yang kebetulan bertemu di loby rumah sakit tersebut.


"Hi... Alina."ucap wanita cantik itu.


"Hi... ucap Alina yang kini masih menggendong kedua putranya itu.


"Hi... junior ayo sini ikut Aunty."ucap dokter cantik itu.


"Arion tersenyum karena sudah kenal dengan wanita itu dan sudah terbiasa di gendong jika mereka bertemu.


"Boleh aku tinggal di rumah mu untuk sementara waktu dokter."ucap Alina.


"Ah, aku senang malahan ada teman jangan sungkan ayo kita cabut."ucap dokter tersebut.


Dokter itu sudah tau masalah yang terjadi pada Alina meskipun Alina tidak pernah bercerita detail apa? yang terjadi padanya saat ini.


...*************...


Arthur sudah mencari Alina ke rumah lama tapi tidak ada, yang menempati rumah tersebut bilang bahwa tidak pernah ada yang datang.


Sementara Alina kini sudah berada di rumah sahabatnya itu.


Rumah mewah milik sang dokter.


"Putra mu minum asi."tanya Vera.


"Ya, itulah kenapa? Tidak perlu repot-repot bepergian dengan semua keperluan bayi, tapi mereka butuh pakai dan popok saat ini."ucap Alina.


"Tenang jika hanya itu aku bisa belanja online."ucap Vera.


"Itu tidak perlu Alina, lagipula aku belum kekurangan itu."ucap Vera.


Alina pun mengangguk pelan.


Arion dan Arionan kini tengah tertidur pulas di kamar tamu tempat Alina berada.


Mereka sudah berganti pakaian, setelah dokter itu membelanjakan mereka.


Tanpa Alina tahu jika seseorang yang sudah lama menghilang kini berada di belakang Vera.


Alina yang kini tengah menatap kedua putranya itu sambil berderai air mata, dia tidak tahu jika saat ini seseorang tengah mengawasi dirinya.


Orang itu masih mendambakan wanita cantik yang bahkan kini sudah memiliki anak tersebut.


"Honey, kamu masih sangat menggoda seperti dulu."ucap pria itu.


Sementara itu Arthur yang kini tengah menyesali perbuatannya, dia tengah berada di sebuah tempat terakhir Alina tuju.


Rumah sakit.


Pria itu bahkan merasa ada yang Alina sembunyikan tentang kesehatannya, kenapa? wanita itu pergi ke rumah sakit jika dia tidak sakit, atau salah satu anak mereka yang sakit entahlah pikiran Arthur terus bercabang kemana-mana.


"Sayang, maafkan aku, aku seharusnya tidak mengatakan semuanya itu."ucap Arthur.


Pria itu benar-benar takut kehilangan istrinya tapi semua perbuatannya itu membuat dia benar-benar merasa bersalah pada Alina.


Sehingga dia tidak bisa menyentuh istrinya itu, sebenarnya jiwanya merasa benar-benar tersiksa, dia berharap bisa menemukan bukti pengkhianatan itu, tapi Cctv di rumah besar itu semua tengah dalam keadaan mati.


Tapi bukti mimpi itu, dan keberadaan Ririn di sisinya saat dia terbangun membuat dirinya tidak berdaya.


Bahkan satu bulan setelah kejadian itu, Ririn mengatakan jika dirinya hamil dan Arthur sudah berjanji akan bertanggung jawab, semua itu dia lakukan untuk membuat Ririn bungkam sambil dia mencari bukti tentang semua itu.


Ditambah saat Alina meminta haknya, dia tak bisa menyentuh Alina karena dirinya merasa kotor, dan entah bagaimana caranya agar Arthur bisa kembali seperti dulu.


Disini adalah salah satu kelemahan Arthur.

__ADS_1


Jenny sendiri kini tidak tinggal diam, wanita itu terus mencari keberadaan menantunya ditemani oleh Arda.


Sampai melibatkan seorang detektif swasta yang bahkan bayarnya sangat tinggi.


Jenny tau Alina tengah marah pada Arthur, tapi tidak dengan dirinya.


Jenny berencana untuk membawa pulang anak cucunya ke rumah miliknya.


Sampai seseorang mengabarkan kepada Arda bahwa saat ini Alina berada di sebuah rumah di mana seorang dokter berada.


Jenny langsung meluncur kesana bersama dengan Arda untuk membawa menantunya pulang.


Sesampainya di sana, Jenny disambut baik oleh Vera dan Alina.


Jenny pun membujuk Alina untuk ikut pulang bersama dengan dirinya dan dia berjanji tidak akan pernah membiarkan Arthur menemui Alina kecuali jika Alina mengijinkan itu.


Akhirnya Alina pun mau pulang bersama dengan Jenny dan kedua putranya itu.


Arthur pun di beri kabar lewat pesan singkat jika saat ini Alina sudah ditentukan dia dibawa ke rumah lama.


Arthur pun merasa sedikit lega, setidaknya istrinya tidak terlunta-lunta di jalanan, karena dia selalu meninggalkan apa saja yang diberikan oleh Arthur jika dia pergi seperti saat ini.


Arthur tidak menemui Alina bukan dia tidak rindu atau tidak berniat untuk minta maaf, tapi dia ingin Alina menenangkan pikiran terlebih dahulu.


Arthur masih mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk mencari bukti tentang semua yang menyangkut dirinya dan Ririn waktu itu.


Ririn memang benar-benar hamil tapi Arthur masih meragukan bahwa anak yang dikandung oleh Ririn adalah anak kandungnya.


Sementara Alina di rumah Jenny bersama dengan Jenny dan juga Arda tengah bercengkrama dengan kedua bayi laki-laki yang sangat menggemaskan tersebut.


Arion, selalu ingin digendong oleh Arda.


Dan Arda pun menerima itu dengan senang hati, dia merindukan putra laki-lakinya yang kini sudah berusia lima tahun.


Jenny sebenarnya menyarankan Arda untuk membawa Alif bersamanya tapi Arda berkata bahwa ia tidak ingin memisahkan Alif dari ibunya biar dia yang datang mengunjungi putranya di rumah Almira.


Almira pun kini sudah memiliki putra lainnya dari Akbar yang tidak kalah tampan, jadi putranya ada teman untuk bermain.


"Opah tampan belum ngantuk."ucap Jenny.


"Belum Omah cantik."ucap Arda.


"Heumm...baiklah kalau begitu."ucap Jenny yang kini tengah bersandar di dada bidang suaminya.


Arda mendekap istrinya itu dengan sayang.


"Apa? tidak masalah jika kita tinggal di sini untuk sementara waktu Yank, karena aku harus mendampingi cucu dan menantuku."ucap Jenny.


"Tidak apa-apa sayang dimanapun itu demi kebaikan bersama aku siap, mungkin hanya butuh sedikit waktu untuk bolak-balik kantor dan kita tidak bisa makan siang bersama lagi."ucap Arda.


"Tidak apa-apa Yank, aku akan membuat bekal makanan favorit mu setiap harinya."ucap Jenny.


"Heumm istriku memang sungguh sangat pengertian, kenapa? tidak sejak dua puluh tahun lalu kita bertemu."ucap Arda .


"Kau masih anak bau kencur sayang."ucap Jenny.


"Usia aku dua puluh enam tahun saat aku menikah dengan dia."ucap Arda.


"Heumm,,, pasti lebih tampan dari sekarang."ucap Jenny sambil terkekeh.


"Kamu bisa saja Honey, kalau kita bertemu sembilan tahun yang lalu mungkin Alif akan terlahir darimu."ucap Arda.


"Sayang kamu masih bisa memiliki anak."ucap Jenny.


"Bisa saja, tapi aku kasihan sama kamu sayang, kamu akan repot."ucap Jenny.


"Bukan dariku Honey, tapi dari wanita lain."ucap Jenny.


"Tidak... aku tidak mau lagi ada yang lainnya."ucap Arda.


"Tidak apa-apa, aku rela kamu menikah lagi jika memang kamu benar-benar ingin punya anak lagi."ucap Jenny.


"Tidak sayang, satu saja aku tidak mampu memberikan contoh yang baik padanya, apa lagi dua."ucap Arda.


"Suatu hari nanti putra kita pasti akan mengerti, jangan terlalu dipikirkan, sebaiknya tunjukkan bahwa kamu benar-benar menyyangi dia sepenuh jiwa raga."ucap Arthur.


"Kamu benar sayang, kamu memang sangat pengertian."ucap Arda.

__ADS_1


Alina sendiri kini tengah tidur bersama dengan kedua putranya di kamar Arthur.


Alina sedang sangat merindukan pria itu, tapi rasa sakit itu lebih besar dari rasa rindunya Alina khawatir jika Arthur tidak hidup dengan baik tanpa dirinya.


__ADS_2