
Alina pun mulai di periksa oleh dokter obegyn .
Pemeriksaan itu, membuat Arthur tersenyum lebar saat bisa melihat janin yang masih berbentuk segumpal darah tersebut, kini usia kehamilan Alina baru menginjak tiga bulan.
Dua kantung janin itu benar-benar telah membuat hati Arthur dipenuhi kebahagiaan yang begitu besar.
Arthur bersyukur kejadian itu tidak berpengaruh terhadap kesehatan kedua calon anaknya itu.
Arthur bahkan berulang kali mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang dia bahkan mengecup bibir Alina tanpa sadar di hadapan sang dokter dan satu orang perawat.
"Sayang malu ih."ucap Alina sambil tersenyum pada sang dokter.
"Tidak masalah nyonya, itu sudah biasa terjadi namanya juga mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda."ucap dokter cantik itu.
Mereka pun lanjut berkonsultasi dengan dokter tersebut dan menanyakan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh ibu hamil.
Dokter pun menjelaskan bahwa tidak ada pantangan untuk makanan selagi itu bergizi maka ibu hamil bisa memakan itu.
Dan untuk berhubungan pun begitu selagi tidak ada keluhan bagi ibu hamil tersebut semua bebas hanya selama trimester pertama keduanya harus benar-benar berhati-hati saat beraktivitas dan dianjurkan untuk tetap menjaga supaya tidak mengalami stres berlebihan, dan beban pikiran karena akan berpengaruh terhadap kehamilan.
Saat Alina dan Arthur tiba di Mension, mereka tidak melihat keberadaan Jenny dan Arda. mungkin mereka sudah pulang ke rumahnya.
Alina kini duduk bersama dengan Arthur di sofa yang ada di dalam kamar mereka.
Arthur kini mulai fokus dengan laptopnya sementara Alina tengah berfikir bagaimana? caranya untuk bicara tentang masalah Jenny pada Arthur.
Dia tau jika saat ini Arthur tidak akan pernah mau membahas tentang masalah itu.
Alina pun bangkit perlahan dari duduknya dan Arthur langsung melirik kearah istrinya.
"Mau kemana sayang."ucap Arthur.
"Aku mau kedapur mas, mau cari sesuatu yang mungkin enak untuk di makan."ucap Alina tidak menjelaskan bahwa saat ini dirinya ingin membuat kopi.
"Ini ambilah dan pesan apapun yang sayang ku inginkan."ucap Arthur memberikan ponsel pintarnya itu.
"Tidak sayang aku ingin buat sendiri."ucap Alina yang langsung pergi meninggalkan suaminya yang kini tengah memijat pangkal hidungnya itu.
Pria itu merasa pusing dengan semua masalah yang terjadi saat ini ditambah istrinya tidak mau menuruti kata-katanya.
Arthur berpikir, apa? mungkin semua bumil di dunia itu seperti istrinya yang tidak bisa dibantah jika sedang maunya itu.
Sudah tiga puluh menit Alina belum juga kembali setelah pelayan mengantarkan kopi buatan istrinya itu.
Arthur sesekali melirik ke arah pintu, tapi istrinya tidak kunjung datang.
Arthur langsung menghubungi seorang kepala pelayan di rumah tersebut.
"Dimana? istriku."ucap Arthur.
Pria itu langsung mematikan laptopnya saat itu juga, saat kepala pelayan berkata jika saat ini nyonya nya tengah duduk di taman belakang sambil termenung sendirian.
Arthur tidak akan membiarkan istrinya memiliki beban pikiran apapun itu, seperti kata dokter.
Saat Arthur tiba di sana, Arthur tidak langsung menemui istrinya tapi dia memperhatikan istrinya yang kini tengah menatap langit yang cerah itu sambil sesekali mengusap sudut matanya.
Arthur langsung bergegas kesana sebelum istrinya benar-benar larut dalam pikirannya itu.
"Disini ada banyak bahan makanan ternyata hingga istriku betah berlama-lama tanpa suaminya."ucap Arthur yang kini menatap lekat wajah cantik itu.
Alina pun terperanjat kaget, dia langsung mengusap kasar wajah yang kini basah oleh air mata.
"Apa? yang kamu sembunyikan dari mas."ucap Arthur menatap wajah cantik itu sangat lekat.
Arthur meminta jawaban atas pertanyaannya pada sang istri yang kini menggeleng kan kepalanya.
"Bohong, tidak mungkin kamu seperti ini jika tidak ada apa-apa."ucap Arthur.
"Tidak ada mas, hanya kemasukan debu itu saja."ucap Alina berbohong.
"Alina, bukankah berbohong itu dosa."ucap Arthur.
"Tapi aku tidak bohong mas, aku hanya sedang melihat langit yang cerah tapi tiba-tiba ada debu yang masuk ke mata."ucap Alina.
"Apa? kau merindukan dia."ucap Arthur.
"Dia siapa? mas."tanya Alina yang mengharap jika itu adalah Jenny.
"Junior."
Jedar.....
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Alina tidak menyangka jika suaminya akan menuduhnya sekejam itu.
Alina masih terdiam saat ini dia benar-benar merasa tidak percaya sampai saat Arthur kembali berkata.
"Ternyata kamu benar-benar merindukan dirinya."ucap Arthur yang langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
"Mas, tunggu aku aku tidak pernah memikirkan orang lain yang bahkan tidak ada hubungannya dengan ku.", ucap Alina.
Arthur tidak menghiraukan perkataannya.
"Baiklah mas, jika kamu menuduhku seperti itu maka aku akan mengiyakan semua tuduhan mu, ya aku rindu dengan Junior yang sangat muda dan tampan itu!!."teriak Alina yang terlanjur kesal.
Arthur langsung berbalik.
"Pergilah... jika kamu memang benar sangat merindukan pria itu."ucap Arthur.
"Baiklah."ucap Alina yang kesal dia langsung pergi meninggalkan pria yang kini tengah menatap kepergiannya tapi saat Alina tiba di bang pintu pria itu langsung berteriak.
"Alina!! jika kamu berani melangkah keluar satu langkah saja maka akan ku patahkan kakimu itu."teriak Arthur.
"Mas, bukankah kamu sendiri yang meminta ku pergi."ucap Alina.
"Aku tidak pernah mengijinkan istriku untuk pergi menemui pria lain."ucap Arthur yang kini mendekat dan membawa istrinya itu tanpa aba-aba.
"Siapkan makanan lezat untuk siang ini aku ingin menghukum istriku yang nakal ini nanti."ucap Arthur.
"Ampun mas ampun!."ucap Alina yang kini kegelian karena Arthur mencium tengkuknya.
Alina terus menggelinjang kegelian diatas ranjang itu.
"Mas ampun perut aku sakit!."ucap Alina berteriak.
Arthur kaget karena saat ini dia baru tersadar jika istrinya tengah mengandung.
"Sayang, mana yang sakit."ucap Arthur panik.
"Disini mas, sakit sekali."ucap Alina sambil menunjuk dada sebelah kirinya itu.
"Ayo kita ke dokter."ucap Arthur yang kini beranjak dari atas ranjang empuk itu.
"Tidak mas, bukan ke dokter tapi ke rumah Arda."ucap Alina yang kini membuat mata Arthur membulat sempurna.
"Apa-apaan kamu honey."ucap Arthur yang tiba-tiba berubah ekspresi wajahnya menjadi dingin.
"Aku sedih melihat nenek dari kedua anakku diperlukan seperti itu oleh mu mas, apa? salahnya jika dia menikah lagi, mommy masih muda! dan diluar sana masih banyak wanita yang lebih tua dari mommy mendapatkan berondong."ucap Alina.
"Kamu diam saja sayang karena kamu tidak akan pernah mengerti."ucap Arthur.
"Apa? Yang tidak pernah aku mengerti dan apa? aku harus diam saja saat semua itu terjadi di depan mataku."ujar Alina yang kini tidak mau mengalah.
"Aku akan mengijinkan mommy menikah dengan pria lain tapi tidak dengan bajingan itu."ucap Arthur.
"Karena dia adalah laki-laki yang sudah meniduri istriku Ririn!!."teriak Arthur.
...*************...
Seketika itu suasana sepi senyap tidak ada lagi pertanyaan atau pun jawaban dari perdebatan itu.
Alina terdiam membisu saat ini di telinga dan di otaknya terngiang-ngiang kata-kata Arthur dengan kata istriku.
Arthur pun masih terdiam, dia tengah benar-benar kesal dengan semuanya.
Karena pertanyaan dan permintaan Alina sungguh membuat kepalanya terasa nyeri.
"Jika kamu masih mencintai Ririn kenapa? kamu meninggalkan dia dan menikahi ku."ucap Alina lagi.
Kali ini suaranya begitu pelan, bahkan tatapan matanya kosong.
"Aku tidak pernah mencintainya aku menikahi dia karena perjodohan, meskipun aku aku satu tahun pertama pernikahan itu memberikan ku rasa nyaman, tapi setelah itu semua berubah dan aku benci pria itu bukan karena dia telah merebut wanita itu dari diriku. tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri istriku sedang berada di bawah kungkungan nya. dimalam aku membawa mu ke hotel dulu."ucap Arthur.
"Tapi kamu tidak akan se-marah ini mas jika kamu tidak pernah mencintai Ririn mas."ucap Alina.
"Harga diriku sebagai laki-laki terluka Alina, kamu tidak akan tau itu. dan parahnya lagi bajingan itu mengancam bahwa dia akan menghancurkan ku."ucap Arthur.
"Tapi mas dia sudah berubah, cintanya begitu besar pada mommy dan semua orang bisa berubah mas, semua orang bisa memperbaiki diri."ucap Alina.
"Tidak Alina, sekali pengkhianat tetaplah pengkhianat."ucap Arthur.
"Aku tidak setuju dengan itu mas, aku percaya semua orang bisa berubah, karena mereka bukan iblis, dan manusia juga bisa melakukan kesalahan karena mereka juga bukan malaikat yang tidak pernah berbuat kesalahan."ucap Alina.
"Bela saja dia, yang suamimu itu dia atau aku."ucap Arthur.
"Aku tidak membela siapapun mas aku berusaha netral, terserah jika kamu tidak suka."ucap Alina yang langsung berbalik pergi.
"Mau kemana? kamu sayang jangan keterlaluan begitu."tanya Arthur.
"Aku mau menemui neneknya anak-anak."ucap Alina.
"Tidak bisa Yank, aku tidak izinkan itu."ucap Arthur yang kini menghalangi jalan Alina.
"Aku mungkin akan durhaka karena tidak patuh padamu mas, tapi ingat lebih durhaka lagi membenci seorang ibu apalagi jika dia adalah wanita baik-baik seperti mommy."ucap Alina.
Pria itu langsung terdiam mendengar ucapan istrinya yang memang sangat benar, tapi hatinya masih tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh Jenny.
__ADS_1
"Kamu akan pergi bersama asisten pribadi ku honey."ucap Arthur.
"Lebih baik pergi sendiri."ucap Alina.
"Aku bilang dengan dia."ucap Arthur.
Alina tidak bisa lagi mendebat suaminya itu dia pun langsung bersiap dan pergi membawa tas miliknya.
"Kamu tidak pamit pada suamimu sayang setelah aku ijinkan pergi."ucap Arthur.
"Suami itu adalah orang yang membimbing istrinya untuk selalu berbuat kebaikan, karena semua akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat, tapi jika tidak maka dia bukan suami tapi teman hidup."sindir Alina.
Wanita itu sebenarnya merasa tidak enak hati tapi dia harus melakukan hal itu demi kebaikan.
Arthur lagi-lagi terdiam dia tidak mengatakan apapun lagi.
Sementara Alina pergi begitu saja tanpa adanya asisten pribadi Arthur karena wanita itu menolak untuk pergi bersama dengan pria itu.
"Aku ingin melihat seberapa tinggi harga dirimu itu honey."ucap Alina.
Wanita itu tetap fokus kedepan, dia membawa mobil pemberian Arthur saat dia ulang tahun.
Alina kini pergi menuju ke sebuah alamat yang dikirimkan oleh Jenny beberapa detik yang lalu, setelah ia mencoba menciptakan menghubungi Jenny lewat pesan chat.
Alina masih fokus menyetir hingga ia tiba di sebuah alamat yang merupakan tempat kediaman Arda.
Rumah mewah itu, cukup luas, lebih besar dari milik Jenny sang mertua.
Saat dia masuk melewati pagar seorang satpam rumah tersebut menyapa dirinya dengan ramah.
"Selamat siang nyonya, apa? ada yang bisa saya bantu."ucap pria itu.
"Nyonya Jenny nya ada."tanya Alina.
"Owh anda pasti nona Alina ya?."tanya satpam tersebut.
Alina pun mengangguk.
"Silahkan masuk Nona, nyonya Jenny ada di dalam bersama dengan tuan."ucap satpam itu lagi.
"Oke terimakasih banyak.*ucap Alina ramah.
Alina pun melaju dengan kecepatan sedang menuju halaman depan rumah tersebut.
Disana Jenny sudah berdiri menyambut menantu tersayangnya itu.
"Hi... sayang, bagaimana? kabar mu sore ini."ucap Jenny.
"Kabar baik Bunda, maafkan aku tadi pagi tidak sempat menyapa Bunda. Bunda pasti tau sendiri bagaimana? mas Arthur yang tidak bisa dibantah."ucap Alina.
"Tidak apa-apa sayang bunda mengerti karena bunda juga yang salah, dia berhak marah pada bunda."ucap Jenny.
"Sudah masuklah sayang mau sampai kapan kalian berdiri di sana, kasihan menantu dan cucu kita."ucap Arda lembut.
"Heumm,,, baik'lah sayang ayo masuk Bunda sampai lupa saking bahagianya bertemu dengan mu."ucap Jenny.
"Tidak apa-apa kok bunda masih kuat berdiri sampai besok juga asal bunda bahagia."ucap Alina sambil terkekeh kecil.
Mereka pun terkekeh bersama.
Arda duduk di samping Jenny pria itu mendepak istrinya itu, yang kini tengah berbincang dengan menantunya.
Alina sendiri merasa bahagia melihat perlakuan Arda pada Jenny begitu tulus tidak tampak seperti seorang yang sedang bersandiwara.
Alina yang awalnya datang untuk membuktikan kata-kata suaminya itu pun kini malah meragukan ucapan suaminya.
"Suamimu pasti sedang gundah gulana sayang karena kesayangannya datang kesini."ucap Jenny.
Arda yang sedari tadi fokus pada Jenny kini menatap lekat wajah cantik Alina.
Pria itu seakan tengah menelanjangi Alina dengan tatapannya, hingga Alina berdehem keras pura-pura kehausan karena merasa risih dengan tatapan Arda yang tiba-tiba berubah padanya.
"Ada apa? sayang minumlah."ucap Jenny yang refleks bangkit dari duduknya karena khawatir Alina kenapa-napa.
"Tidak apa-apa Bunda hanya saja tenggorokan Alina sedikit kering mungkin efek belum minum sedari tadi."ucap Alina.
"Minumlah Alina jangan sungkan anggap rumah sendiri."ucap Arda.
"Terimakasih."ucap Alina canggung.
"Jangan canggung begitu sayang, karena saat ini dia adalah ayah mertua mu."ucap Jenny.
"Iya Bunda, maklum belum terbiasa."ujar Alina.
"Karena dia lebih muda dari Bunda kamu bisa panggil dia Om."ucap Jenny.
"Sayang,,, jangan bilang begitu, kamu juga masih muda dan jangan lupa kau lebih hebat dari wanita manapun."ujar Arda.
__ADS_1
"Sayang sudah cukup kunjungannya ayo pulang."ucap Arthur yang tiba-tiba muncul.