
Arthur tidak melirik kearah siapapun yang ada di sana dia langsung pergi menggendong istrinya itu ala bridal style.
Sementara Jenny saat ini masih terlihat murung.
"Sudahlah sayang kamu tidak perlu sedih, lambat laun dia akan luluh . sekarang yang terpenting kamu bahagia seperti kata Alina."ucap Arda.
"Heumm.... terimakasih cinta."ucap Jenny sambil mengelus dada bidang suaminya.
"Heumm.... nakal kamu Yank... aku masih ada pekerjaan penting."ucap Arda.
Namun Jenny tidak mau mendengar, wanita itu justru semakin bergerak sesuka hati.
"Yank.."ucap Arda yang kini me****ah.
Arda pun tidak bisa menahan godaan istrinya itu.
Arda dan Jenny pun pergi menuju kamar mereka.
Kedua pasangan beda usia itu kini tengah memadu kasih di sore hari yang cerah.
Sementara Alina yang tiba di Mension, dia lebih banyak diam ketimbang bicara pada Arthur tentang penglihatannya tadi.
"Honey ayo makan dulu."ucap Arthur.
"Ah, ya aku juga laper."ucap Alina.
"Heumm.... ada apa? kenapa? sayangku ini melamun."ucap Arthur.
"Tidak ada mas, perasaan mas saja."ucap Alina yang meraih sendok dan garpu.
"Yank, aku harus kembali ke Norwegia, masih ada pekerjaan yang tertunda di sana."ucap Arthur.
"Pergilah aku akan disini saja."ucap Alina cuek.
"Tapi aku tidak tenang meninggalkan mu disini yang."ucap pria tampan itu.
"Aku akan baik-baik saja, bukankah ada asisten pribadiku yang akan menemani ku disini."ucap Alina.
"Rasanya sulit untuk meninggalkan mu honey."ucap Arthur
"Tuntutan pekerjaan lebih penting jangan mengabaikan apa? yang selama ini kamu bangun demi aku."ucap Alina.
"Sayang kenapa? bicara begitu sumpah bukan aku menomor satukan pekerjaan karena aku bahkan rela kehilangan semuanya asal rumah tangga kita baik-baik saja."ucap Arthur.
"Tidak semua orang mudah mengatakan itu, tapi buktinya jika itu terjadi mereka banyak yang kehilangan akal sehat."ucap Alina yang kembali fokus pada makanan yang tengah ia makan.
Suasana hening tidak ada obrolan lainnya lagi.
Antara Arthur dan Alina kini tengah menyelami perasaannya masing-masing.
Arthur pun menyudahi makan siang di sore itu dia harus segera bersiap untuk keberangkatan besok pagi.
Arthur benar-benar berat meninggalkan istrinya tapi ada sesuatu yang harus dia selesaikan saat ini.
Alina pun pergi menuju kamar, dia tidak menyiapkan apapun untuk Arthur karena dia tau semua sudah ada di sana.
Sementara Arthur kini tengah berada di ruang kerjanya.
Pria itu kini tengah menyelesaikan pekerjaan nya karena besok dia sudah tidak mengurusi kantor yang ada di Indonesia, karena sudah ada asisten pribadi yang selalu bisa diandalkan.
Sementara itu untuk urusan perusahaan terbesarnya itu tidak bisa hanya ditangani oleh oleh asisten pribadi saja tapi Arthur harus mengurusi itu semua.
Sampai saat Alina mengirimkan kopi pada Arthur, istrinya tidak berbicara hanya menyimpan itu di atas meja kerja setelah itu dia langsung pergi.
"Yank."ucap Arthur yang kini kebingungan melihat Alina yang mendadak jadi pendiam tersebut.
"Aku ada urusan lain mas."ucap Alina yang kini langsung pergi.
Alina hanya ingin menghindari Arthur, itu jauh lebih baik ketimbang terus berada di sisinya.
Rasa sakit dari ketidak pedulian Arthur padanya saat ini sudah menunjukkan bahwa pria itu tidak sepenuhnya memprioritaskan dirinya.
Arthur merasa ada yang aneh dengan istrinya itu, dia pun mengakhiri semua kegiatannya dan langsung menyusul istrinya yang entah pergi kemana.
Sementara Alina sendiri dia tengah mengemas surat-surat penting miliknya berikut identitasnya.
"Yank, kamu sedang apa? disini. dan apa? ini."ucap Arthur yang melihat Alina membuka brankas miliknya.
"Aku akan pergi ke rumah lama mungkin ada barang yang lebih dibutuhkan sayang jika tidak dimanfaatkan aku akan menyumbangkan itu ."bohong Alina.
"Itu bisa diurus asisten rumah Jenny."ucap Arthur yang langsung membuat mata Alina melotot.
"Mas dosa tau manggil orang tua seperti itu."ucap Alina.
"Dia sudah bukan orang tua ku, dia lebih muda dariku iyakan itulah kenapa dia lebih memilih bajingan itu untuk jadi suaminya."ucap Arthur.
"Sayang,,, apapun keadaannya mereka tetap orang tua kita yang harus kita hormati, terlepas dari tingkah laku mereka."ucap Alina lagi.
"Heumm..."jawab Arthur singkat.
__ADS_1
"Ya sudah mas lebih baik lanjut beraktivitas atau istirahat mungkin karena besok perjalanan itu sungguh sangat melelahkan."ucap Alina.
"Heumm... kamu benar sayang."ucap Arthur yang kembali pergi.
Alina menarik nafas panjang, dia sebenarnya akan pindah ke rumah lama jika Arthur tidak ada karena dia akan sangat kesepian tinggal di rumah besar itu.
Alina juga sudah rindu untuk menjumpai ketiga anjing tersebut.
Sementara Arthur, yang curiga dengan gelagat istrinya itu, dia kini tengah berbicara dengan asisten pribadinya untuk menempatkan pengawal bayangan saat dia tengah berada di luar negeri nanti.
Alina sudah selesai mengemas itu kedalam sebuah tas kecil, karena dia tidak pernah membawa barang apapun selain identitas diri dan barang berharga miliknya seperti perhiasan dan surat-surat berharga yang ia kemas tadi.
Alina melihat Arthur juga tidak ada, dan kini dia tengah menatap ke sekeliling ruangan kamar yang paling sering ditempati oleh mereka berdua.
Alina pun duduk di sofa yang ada di sudut ruangan tersebut, dia membuka ponselnya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah video yang dikirimkan dari nomor tak dikenal tersebut.
Video tentang sebuah pernikahan antara Arthur dengan wanita yang ia lihat di foto-foto tersebut.
Pernikahan yang diadakan di sebuah gereja dan dengan tanggal yang sama saat dirinya menerima foto tersebut.
Alina langsung syok saat ini tubuhnya menegang dan gemetaran kebohongan apalagi yang suaminya sembunyikan saat ini.
Saat video itu hampir selesai tiba-tiba ponsel tersebut melayang di udara.
Arthur langsung menatap lekat wajah cantik Alina yang kini bercucuran air mata dan tubuhnya gemetaran.
"Honey, jangan berfikir yang macam-macam kamu sedang salah faham."ucap Arthur yang kini hendak mendekapnya tapi Alina mendorong Arthur hingga dia tidak jadi mendekat.
"Kebohongan apalagi yang ingin kamu katakan padaku heuhhhhh!! kamu buat Junior benar-benar gila, kamu juga merekayasa semua tentang itu agar aku percaya padamu dan menjauhi Junior yang jelas-jelas ingin berbuat baik terhadap ku! kau tega Arthur apa? yang sebenarnya kau inginkan apa? Aku tidak punya apa-apa yang berharga untuk mu!!."Alina mengamuk.
"Yank...itu bohong, semuanya adalah hasil rekayasa si Junior bajingan tengil itu. saat itu mas didatangi oleh dia untuk meminta mas berpura-pura menikahi wanita itu, untuk setelah itu dia berjanji akan melepaskan mu."bohong Arthur.
Karena nyatanya Arthur sudah menikah dengan adik dari teman mafianya yang saat itu menawarkan semua bantuan padanya sebagai balas Budi dan kini Arthur harus segera kembali kesana untuk menemui wanita yang mengancam keselamatan istrinya itu.
Sementara yang terjadi pada Junior Arthur tidak tahu menahu.
"Kamu pikir aku anak kecil yang bisa kamu tipu, sudah cukup mulai sekarang kita berpisah."ucap Alina tegas.
*********
"Tidak...!!!."
Teriak Arthur yang kini terbangun dari tidur siangnya setelah kepergian Alina ke rumah Jenny.
Arthur berulang kali mengusap kasar wajahnya itu.
Pria itu tidak habis pikir apa? yang sebenarnya terjadi pada saat ini hingga bermimpi buruk seperti itu, dia tidak pernah berniat untuk mengkhianati istrinya sekalipun dia benar-benar dalam kondisi terdesak.
"Mas, ada apa? kenapa? diam begini apa? kamu marah."ucap Alina sambil tersenyum manis padanya.
"Ah tidak apa-apa sayang... kemarilah peluk aku aku sangat merindukanmu honey."ucap Arthur yang kini memejamkan matanya.
"Ada apa? heumm... ceritalah.*ucap Alina.
"Honey, apa? Aku tidak sedang bermimpi sekarang kan kamu benar-benar baru kembali dari rumah mommy."tanya Arthur.
"Iya mas, mommy ada di luar menunggu mu."ucap Alina.
"Owh."ucap Arthur yang masih merasa kesal tapi sedikit lega karena ternyata yang terjadi tadi adalah sebuah mimpi buruk.
Dari mulai istrinya pergi ke rumah Arda untuk menemui ibunya hingga Alina pulang mimpi itu baru selesai.
"Ar...sayang Om Arda ternyata sangat mencintai Bunda, jadi kita tidak perlu berburuk sangka lagi, apa? yang aku katakan adalah sebuah kebenaran, aku melihat sendiri bagaimana Om Arda menyelamatkan Bunda yang hampir tertabrak truk saat kami menyebrang jalan karena aku ingin es krim."ucap Alina.
"Apahhh!! mommy tertabrak truk."ucap Arthur kaget.
"Iya, sayang hampir bukan tertabrak kerena Om Arda berlari cepat menyelamatkan mommy hingga dia mengalami luka di bagian lengannya."jelas Alina.
Arthur langsung bergegas keluar untuk mencari ibunya itu dia benar-benar khawatir.
Se marah apapun Arthur pada sang Bunda, rasa sayangnya jauh lebih besar dari kemarahan tersebut.
Sesampainya di ruang keluarga, Arthur langsung berjongkok di hadapan sang Bunda.
"Mommy tidak apa-apa kan."ucapnya yang kini terlihat khawatir.
Jenny langsung menghambur memeluk putranya Isak tangis itu kini pecah.
Wanita paruh baya itu, sungguh bahagia karena ternyata putranya masih peduli padanya padahal tadi pagi dia sempat marah padanya.
"Mommy tidak apa-apa sayang, suami mommy yang menyelamatkan mommy."jawab Jenny sambil melirik ke arah Arda bersamaan dengan Arthur.
"Kamu jangan berbangga diri dulu karena saya memberikan kesempatan kamu untuk menjaga ibu saya hingga akhir hayat nanti. tapi ingat! sekali saja kamu membuat dia menangis maka nyawa kau yang akan menjadi taruhannya."ucap Arthur tegas.
"Saya tidak akan memberikan janji tapi saya akan membuktikan bahwa saya bisa menjaganya."ucap Arda.
Arthur kini tengah duduk di samping Alina yang kini tengah sibuk dengan ponselnya.
"Sayang kamu sedang apa?."tanya Arthur.
__ADS_1
"Ini sedang lihat-lihat perlengkapan bayi lucu-lucu deh mas."ucap Alina.
"Alina sayang saat ini belum saatnya untuk berbelanja perlengkapan bayi pamali kata nenek mu dulu."ucap Jenny.
"Heumm... iya mommy Bunda Alina juga selalu bilang seperti itu, dulu saat Alina menikah."ucap Alina.
"Menikah dengan siapa? sayang."tanya Arthur dengan sengaja.
"Heumm..."
"Kok heumm... aku kan tanya nikah dengan Siapa?."ucap Arthur yang kini terbakar cemburu.
"Mas, aku tidak sengaja."ucap Alina.
"Cinta pertamanya sayang."ucap Jeny dengan sengaja.
"Honey, kamu sengaja."ucap Arthur.
"Tidak mas aku tidak sengaja, sudahlah itu juga masalalu ku."ucap Alina.
Arthur langsung diam dan tidak ingin bicara apapun lagi.
"Mom, aku mau makan sesuatu... aku kedapur dulu ya."ucap Alina.
"Baiklah sayang."ucap Jenny pada Alina.
Arthur yang meminta Alina untuk memanggil Jenny dengan sebutan mommy, jadi saat di depan Arthur Alina terkadang memanggil mertuanya seperti itu.
Alina pun pergi meninggalkan Arthur yang dia tahu saat ini suaminya tengah marah.
Alina meraih sesuatu dari dalam kulkas, saat ini dia ingin membuat spaghetti bolognese.
"Siapa? cinta pertama mu honey."ucap Arthur.
"Mas, jangan bahas itu lagi tidak baik."ucap Alina yang kini menoleh pada Arthur.
"Aku hanya ingin tau."ucap Arthur.
"Tidak ada mas, tidak ada cinta pertama."ucap Alina.
"Jangan bohong kamu yang."ucap Arthur kesal.
"Terserah mas, mau percaya atau tidak."ucap Alina.
Wanita itu sibuk membuat makanan yang dia inginkan hingga selesai memasak dia langsung membawa makanan tersebut menuju meja makan, saat ini suaminya ada di sana tengah menatap lekat wajah cantik istrinya yang tidak memberikan jawaban yang memuaskan itu.
"Honey,,, jika pernikahan mu dulu tidak berakhir, apa? kamu akan menjadikan dia cinta pertama mu."ucap Arthur lagi.
"Owh ya ampun mas masih tanya itu."ucap Alina yang kini menatap lekat wajah suaminya yang terlihat sangat penasaran.
"Tunggu sebentar ya sayang, aku lupa sesuatu."ucap Alina yang kini kembali ke dapur.
Alina membuatkan kopi untuk suaminya itu.
Tidak sampai lima menit Alina sudah kembali dengan membawa nampan berisi secangkir kopi.
"Heumm,,,, kamu mau sogok ao dengan segelas kopi."ucap Arthur.
"Ya, sudah jika mas tidak mau aku berikan kepada om Arda saja."ucap Alina.
"Jangan berani-berani ya kamu yang, aku tidak akan pernah membiarkan kamu buat apapun itu untuk pria brengsek itu."ucap Arthur.
"Dia daddy baru mas, bukan si berengsek."goda Alina.
"Honey, apa? kau sudah bosan hidup bebas."ancam Arthur.
"Ampun Yank... bercanda ko."ucap Alina yang pura-pura ketakutan.
"Aku serius honey."
"Aku juga serius minta ampun."ucap Alina.
"Mas aku makan dulu oke."ucap Alina.
"Ya sayang tapi jawab dulu siapa? cinta pertama mu."ucap Arthur.
"Dia laki-laki tampan yang aku temui di depan pagar rumah saat usiaku sembilan belas tahun."ucap Alina.
Arthur tersenyum."Apa? dia pria bule."tanya Arthur.
"Heumm, setengah bule."ucap Alina.
Arthur langsung menghambur memeluk istrinya dari belakang karena dia tau jika itu dirinya.
"Tapi dia menghilang, dan saat kembali sudah menjadi suami orang."ucap Alina.
"Aku tidak punya pilihan sayang ku."ucap Arthur.
"Heumm... siapa? yang bilang itu mas Arthur ge-er ucap Alina dengan sengaja.
__ADS_1
"Jangan berdusta honey karena hanya aku yang menemui mu saat liburan musim panas."