
Mereka selalu menyelesaikan masalah dengan bercinta barulah setelah itu mereka akan kembali berbicara dengan baik.
Arthur pun sudah kembali membaik saat ini dia tidak ingin melibatkan istrinya untuk urusan pribadinya bersama dengan Arda.
Saat Jenny tiba di halaman Mension tepatnya di lobby Mension tersebut Arda menghentikan mobilnya.
Saat itu bertepatan dengan kedatangan Arthur, dan betapa terkejutnya Arda saat melihat Arthur ada di sana menyambut Jenny.
"Darimana saja mom."ucap pria itu datar.
"Eum itu anu Bunda baru habis pergi bersama teman."tunjuk Jenny pada Arda.
"Teman."ucap Arthur dengan tatapan mengintimidasi keduanya.
"Ar, bunda bisa jelaskan."ucap Jenny.
"Harus."ucap Arthur.
"Termasuk kau juga."ucap Arthur lagi.
"Sayang jangan seperti itu tidak sopan, dia Calon suami Bunda."ucap Jenny yang langsung membuat mata Arthur membuat.
"Tidak!! Arthur tidak setuju dengan itu, mommy tidak akan menikah dengan pria manapun juga."ucap Arthur .
"Sayang dengarkan mommy dulu nak."
"Tidak mommy sekali Arthur bilang tidak ya tidak, dan kau pergi sekarang juga dan jangan pernah temui mommy ku lagi jika tidak kau akan tau akibatnya."ancam Arthur.
"Arthur, jangan bersikap tidak sopan seperti ini, mommy tidak akan pernah berpisah dengan dia."ucap Jenny.
"Arthur mungkin kita butuh bicara empat mata saat ini."ucap Arda.
"Jangan bersikap seolah kau adalah orang bijak bajingan! asal mommy tau dia adalah orang yang sudah meniduri Ririn saat di hotel."ucap Arthur yang langsung membuat Jenny begitu kaget.
"Jangan bicara sembarangan Arthur itu tidak mungkin! ucap Jenny.
"Tanyakan pada dirinya dan jika dia tidak bisa berkata jujur aku akan berikan bukti itu."ucap Arthur yang kini terbakar emosi.
"Tuan Arthur saat itu aku yang dipaksa untuk melakukan hal itu dengan mantan istrimu dan aku punya bukti untuk itu."bela Arda.
"Apapun itu kau adalah manusia menjijikkan!."ucap Arthur.
"Cukup Arthur! mommy tidak peduli dengan masalalu dia yang paling penting saat ini dia adalah laki-laki yang sudah berubah menjadi lebih baik."ucap Jenny.
"Tidak mommy sekali pengkhianat dia akan tetap menjadi pengkhianat karena suatu hari kelak sifat aslinya akan kembali."ucap Arthur.
"Aku sudah berubah Arthur aku benar-benar tidak berbohong jika kamu tidak percaya kamu boleh mencari tau tentang semua, dan aku akui aku memang bukan orang baik tapi aku juga bukan setan yang akan tetap berada dalam kesalahan yang sama."ucap Arda membela diri.
"Mommy lihat bukan, dimana-mana juga orang yang munafik akan berkata seperti ini."ucap Arthur.
"Cukup na sudah cukup jangan salahkan orang lain, baiklah jika kamu memang tidak pernah menginginkan Bunda bahagia bunda ikhlas jika harus menyendiri seumur hidup Bunda seperti dua puluh tahun yang lalu."ucap Jenny yang kini hendak pergi.
"Bukan seperti itu mom jangan salah faham, Arthur hanya ingin yang terbaik, untuk mommy saat ini jika mommy ingin menikah baik'lah tapi tidak dengan pria ini."ucap Arthur.
"Tidak Arthur, jika bukan dia....maka mommy akan terus menyendiri."ucap Jenny.
"Ada apa? ini ribut-ribut mas, masuk dulu kita bisa bicara baik-baik bukan."ucap Alina lembut.
"Masuk kamu yank..jangan ikut campur."ucap Arthur.
"Tapi mas... bund."
"Cukup aku bilang masuk!."ucap Arthur dengan nada tinggi.
Alina yang kini kaget pun hanya bisa mematung, dia tidak bisa mengenali suaminya lagi saat Arthur sedang marah.
"Ar maafkan putra ku, tolong jangan diambil hati, maafkan aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini."ucap Jenny yang langsung pergi begitu saja sambil menahan air mata rasanya terlalu menyakitkan jika kembali harus berpisah dengan orang yang sudah mengisi hati dan pikiran.
"Sayang jangan pergi aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu sampai kapanpun."ucap Arda.
Sementara Arthur hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Arda itu.
"Kau pikir kau siapa? berfikir ingin mengalahkan ku."ucap Arthur.
"Kau sudah salah faham tuan Arthur, aku mungkin bukan pria baik tapi rasa cinta ku tulus untuk ibu mu.... dan satu lagi masalah perkataan ku dulu aku tidak pernah berniat melakukan itu apalagi dengan memanfaatkan ibu mu, Jenny adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku."ucap Arda.
__ADS_1
"Terserah,,, yang jelas aku tidak akan pernah mengijinkan mu untuk bertemu lagi dengan ibuku."ucap Arthur.
"Kita lihat saja."ucap Arda.
Pria itu pun bergegas menuju mobilnya dan langsung tancap gas.
Sementara Alina masih berada di belakangnya, Arthur yang kini berbalik badan dia melihat istrinya yang kini menatap lekat wajah Arthur yang tiba-tiba saja pergi meninggalkan Alina tanpa sepatah katapun.
Alina yang diperlukan seperti itu pun kini hanya bisa berderai air mata, apa? ini pernikahan yang katanya akan penuh dengan kebahagiaan, sementara saat ini dia sendiri tidak mengenal sifat asli dari suaminya itu.
Alina pun pergi ke luar bahkan tanpa membawa apapun dia bahkan tidak menggunakan alas kaki di cuaca yang tiba-tiba saja berubah mendung Alina berjalan sambil sesekali menengadah ke atas dia ingin menghentikan tangisnya tapi tidak kunjung berhenti, sampai sebuah klakson mobil mengejutkan dirinya.
"Hi,, aunty kalau ingin bunuh diri jangan disini sana di jalan raya."ucap seorang pemuda tampan yang kini terlihat memperhatikan Alina yang tidak menggunakan alas kaki.
Saat itu juga pria itu turun dari mobil yang dia parkir di pinggir jalan.
"Tidak panas."ucap pria yang tiba-tiba saja menyentuh kening Alina.
Alina yang tidak sempat menghindar pun hanya terbengong saat melihat kelakuan pria muda itu.
"Tunggu di sini."ucapnya lagi.
Pria itu langsung mengambil sesuatu dari mobil miliknya itu dan disembunyikan di belakang punggungnya.
"Aunty yang manis, kakimu sudah lecet kenapa? masih maksa untuk berjalan keluar tanpa sandal ini gunakanlah."ucap pria tampan itu.
Tidak hanya itu dia juga berjongkok di hadapan Alina dan memasangkan sandal yang terlihat kebesaran di kaki Alina.
"Sudah aman, sekarang kamu bisa jalan lagi, tapi harus ingat jalan pulang, dan satu lagi jangan menangis di jalanan karena tidak ada satu orang pun yang akan bisa membuat mu terlepas dari masalah hati kecuali dirimu sendiri."ucap pria yang kini mengusap air mata Alina dengan jari tangannya yang lembut tersebut.
Sementara Alina masih di posisinya, dia tidak bergerak sama sekali seperti sedang terkena hipnotis.
Pria muda yang tampan rupawan dengan tubuh tinggi tegap itupun mengusap puncak kepala Alina.
"Pulanglah, cuaca mendung nanti aunty kena hujan kasihan wajah cantik itu."ucap pria itu.
"Alina!!."teriak Arthur yang baru saja datang dengan mobilnya.
"Alina, nama yang sangat cantik, aku harap suatu saat nanti bisa mendapatkan jodoh seperti dirimu."ucap pria itu santai dan berjalan santai seakan tak punya salah apapun.
...**************...
Sudah hampir tiga puluh menit, dia duduk di dalam mobil setelah membawa istrinya masuk kedalam mobilnya.
Tapi Alina tetap diam seribu bahasa.
"Alina, aku tau aku salah tapi kamu juga salah kamu bertemu seseorang di belakang ku bahkan dia berani bersikap kurang ajar dan kau diam saja... apa? kau suka diperlukan seperti itu."ucap Arthur.
Alina masih terdiam hingga Arthur melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Alina masih tetap tidak bergeming dari diamnya itu.
Sampai saat Arthur berulang kali memukul stir mobilnya itu.
Alina masih terdiam saat berada di dalam gendongan Arthur, pria itu membawa Alina ke sebuah hotel berbintang dia ingin menyelesaikan masalah mereka di hotel tersebut.
Setibanya di dalam kamar hotel, pria itu mendudukkan istrinya itu di tepi ranjang empuk itu.
Arthur pun berjongkok di hadapan Alina lalu dia meraih dan menggenggam tangan Alina dengan lembut.
"Maafkan aku jika aku sudah membuat mu sakit hati tadi jujur aku tak pernah berniat untuk membentak mu di hadapan orang lain, aku sangat mencintaimu dan aku juga sangat menyayangi dirimu. tapi apa? yang terjadi antara aku dan mommy aku harap kamu tidak ikut campur honey bukan aku tak menganggap mu sebagai bagian dari diriku. tapi aku justru menghindari hal seperti ini terjadi mengertilah aku terkadang tidak bisa mengendalikan emosiku itulah kenapa aku tidak ingin kamu ikut campur."ucap Arthur.
Alina tidak menjawab sepatah katapun.
"Yank,,,, kamu bisa hukum aku jika kamu mau atas kesalahan ku tadi tapi aku mohon bicaralah aku tidak bisa melihat mu seperti ini."ucap Arthur.
Namun tetap saja Alina tidak bergeming sedikitpun.
Arthur yang sudah tidak tahan lagi pun mengguncang bahu Alina sambil terus berbicara.
"Alina sayang please jangan seperti ini."ucap Arthur.
Arthur pun memeluk erat istrinya itu hingga terdengar isakan lirih dari Alina wanita itu tidak kuat menahan kesedihannya itu.
Arthur pun semakin mengeratkan pelukannya itu, hingga Alina membalas pelukan itu.
__ADS_1
"Aku takut aku mohon jangan pernah membentak ku lagi."ucap Alina lirih.
"Maaf kan aku honey.... maafkan aku."Arthur pun membawa Alina berbaring,di atas ranjang tersebut.
Kali ini mereka tidak melakukan rutinitas hariannya, Arthur hanya memeluk istrinya yang kini tengah terlelap, mungkin karena lelah hingga seseorang mengetuk pintu kamar hotel itu.
Arthur langsung bergegas membuka pintu tersebut, dia melihat asisten pribadinya itu.
"Ini laporannya tuan, dan ini ada beberapa berkas yang harus Anda tandatangani."ucap asisten pribadi Arthur.
"Cari tahu siapa? Pria ini aku ingin sebelum istriku bangun laporan itu sudah sampai disini."ucap Arthur.
"Siap Mr."ucap pria itu.
Arthur pun kembali dengan membawa laptopnya dan juga beberapa berkas di tangannya yang baru saja diberikan oleh asisten pribadinya itu.
Hari ini seharusnya Arthur masuk kerja tapi berhubung ada masalah akhirnya Arthur pun mengurungkan niatnya itu.
Kini dia tengah sibuk mengurus pekerjaannya itu, Arthur tidak bisa mengabaikan itu meskipun dia sedang bersama dengan sang istri.
Sementara itu di Mension tersebut Jenny kini tengah merenung di dalam kamar, bayangan kebersamaan dirinya dengan Arda membuat air matanya mengalir deras.
Jenny yang mendengar penuturan putranya itu merasa tidak percaya bahwa pria sebaik dan setampan Arda pernah melakukan hal itu, dan seolah dia menutup mata dengan itu. toh semua orang punya masalalu meskipun masalalu seseorang itu berbeda-beda dan tidak semuanya kelam.
Tapi yang membuat Jenny sedih adalah dia harus ribut dengan putra semata wayangnya itu hanya demi cinta yang baru tumbuh beberapa bulan itu.
Sementara hubungan baik antara dirinya dengan sang putra yang sudah terjalin sejak dia hadir di dalam rahimnya itu harus menegang demi rasa cinta yang mungkin sepele bagi mereka yang tidak pernah mengalami hal itu.
Saat Jenny akan memejamkan matanya tiba-tiba dering ponsel milik Jenny membuat mata Jenny terjaga.
"Ya Ar,"ucap Jenny.
^^^"Kamu jangan bersedih Yank... Aku janji akan mengurus semuanya, setelah itu kita akan segera menikah. kamu percaya aku kan Yank,,, aku benar-benar sangat mencintaimu."ucap Arda.^^^
"Heumm aku percaya padamu Ar, maafkan putraku."ucap Jenny lirih.
^^^"Dia tidak salah karena disini aku yang salah."ucap Arda.^^^
"Aku tau kamu sudah berubah, dan semoga semua itu tidak akan pernah terulang lagi."ucap Jenny.
^^^"Tentu, aku akan buktikan padamu Yank aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang lalu."ucap Arda.^^^
"Aku percaya itu honey tunggu sampai putraku benar-benar siap menerima hubungan kita."ucap Jenny.
^^^"Apa? perlu aku buat kamu hamil lebih dulu Honey, agar dia tidak bisa menentang cinta kita."Arda.^^^
Jenny pun terkekeh kecil, karena menurut dia itu adalah hal yang mustahil karena Jenny sudah terlalu tua untuk itu.
"Kenapa? apa? kamu tidak percaya semua itu bisa terjadi sayang asal kita berusaha dengan keras."ucap Arda sambil tersenyum manis.
Sementara Jenny pun ikut tersenyum mereka sudah tidak lagi terlihat bersedih karena obrolan Arda yang memang ingin menghibur kekasihnya itu.
Sementara itu di hotel, Arthur baru selesai mengerjakan pekerjaannya saat Alina terbangun.
Padahal dia baru ingin membuka hasil laporan penyelidikan tentang Arda dan pria yang sudah membuat dirinya merasa cemburu dengan tingkah lakunya yang ajaib itu.
Namun sayang Alina sudah terbangun, Arthur pun langsung bergegas menyambut istrinya yang masih menggosok matanya itu.
"Malam sayang bobonya nyenyak sekali, hingga kamu hampir melewatkan makan malam mu. tapi tidak apa? kita bisa turun kebawah setelah kita mandi bersama."ucap Arthur yang kini menggendong istrinya dibawanya kedalam kamar mandi yang ada di hotel tersebut.
Alina hanya menurut saat Arthur mendudukkan dirinya di samping bathtub-e dan Arthur mengisi air kedalamnya.
Hingga akhirnya mereka pun selesai mandi dan berganti pakaian, Alina sendiri tidak tau kapan Arthur menyiapkan semua itu.
"Kita akan tinggal di sini untuk beberapa waktu kedepan."ucap Arthur.
"Kasihan mommy, dia sendirian di sana."ucap Alina.
"Sudah jangan pikirkan hal itu, saat ini yang penting adalah kebahagiaan kita."ucap Arthur.
Alina pun mengangguk pelan.
Arthur saat ini membantu istrinya menyisir rambut panjang itu.
Arthur pun selesai bersiap, rencananya dia akan turun menuju lantai bawah dimana restaurant hotel itu berada.
__ADS_1