
Alercxa masih mematung di tempatnya, saat ini kakinya terasa sangat kaku dan terkunci disana bagaimana? bisa dia sekejam itu selama hampir tiga puluh tahun hidup bersama dengan istri pertama yang merupakan jodoh pemberian sang mommy.
Alercxa mungkin dulu tidak pernah mengenal atau mencintai Leony karena dirinya masih memiliki hubungan dengan wanita lain yaitu Olivia. wanita yang dijadikan sebagai istri kedua Alercxa itu mungkin di akui oleh keluarga besarnya karena Olivia lebih dulu hadir di keluarga tersebut sebagai kekasih Alercxa.
Tapi bukan berarti Alercxa tidak mengenalkan Leony sebagai istrinya itu, namun pernikahan Leony dengan Alercxa memang dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Olivia atau keluarga lainnya, tapi setelah Junior lahir Alercxa pun baru mengenalkan Leony pada mereka yang mereka anggap sebagai perusak hubungan antara Alercxa dan Olivia itulah kenapa? Leony tidak pernah mau bergabung dengan mereka meskipun mereka tidak pernah menunjukkan kebencian mereka terhadap Leony tapi Leony cukup tau saja dan tidak ingin membalas itu.
Alercxa sendiri bukan tidak mencintai Leony. karena nyatanya setelah ia menikah dengan Leony dan malam pertama itu terjadi Alercxa sudah jatuh cinta pada wanita yang menjadi ibu dari Putra sematawayangnya itu.
Namun selama ini Alercxa tidak pernah menunjukkan hal itu hingga Leony pun menganggap Alercxa hanya mengasihani dirinya.
Alercxa pun mengusap wajah tampan itu dengan sangat kasar lalu dia bergegas menghampiri istrinya yang kini masih menyeka darah yang keluar dari bibirnya itu.
"Aku mungkin tak pernah menunjukkan rasa cinta ku padamu Leony tapi apa? Aku sekejam itu hingga kamu bahkan menganggap ku sebagai musuh mu."ucap pria yang kini meraih tubuh ramping itu dan menggendongnya membawa dia keluar dari dalam kamar diikuti oleh Leon adik iparnya yang kini membawa obat milik Leony.
"Aku sudah menelpon dokter dia sudah menyiapkan semuanya hari ini kakak akan transfusi darah dan suntikan Anti inflamasi seperti biasanya."ucap Leon sambil berjalan cepat mengikuti Alercxa.
"Aku akan mengurus semuanya kau tetap disini agar semua aman takutnya Junior mencari ku dan jangan beritahu putraku untuk saat ini, biarkan dia pergi berbulan madu."ucap Alercxa.
Alercxa pun pergi meninggalkan hotel tersebut.
Sementara itu di Indonesia, Arthur kini tengah menangis sesenggukan karena ketiga anaknya nyatanya tidak baik-baik saja setelah dia membawa mereka bertiga melihat ibunya yang yang kini terbaring tak berdaya bahkan tidak bergerak seakan seperti robot.
Jenny yang sedari tadi mencoba menenangkan ketiganya dan disana Arda juga membantu menenangkan mereka bertiga.
"Sayang, bangunlah, aku memaafkan semua kesalahan mu.! Aku menerima semua itu sebagai balasan atas perbuatan ku dulu,,, aku tidak akan pernah membenci mu bangun sayang bangun.! lihat mereka setidaknya jika kamu sudah tidak mencintai ku lagi bertahanlah demi mereka."ucap Arthur yang kini menggenggam jemari tangan Alina.
Namun seberapa kuat pun Arthur mencoba membangunkan Alina, wanita itu tidak kunjung membuka mata.
Alina bahkan tidak merespon perkataan Arthur sama sekali.
Arthur pun menangis hingga dia tertidur dengan posisi duduk dan kepala bertumpu di tepi ranjang.
Sementara ketiga anak mereka kini tengah dibawa jalan-jalan oleh Jenny dan Arda meskipun mereka tidak seceria biasanya tapi setidaknya mereka bisa sedikit terhibur.
Arthur Luna yang melihat itu merasa iba pada kedua majikannya itu.
"Semoga nyonya kembali sadar dan berumur panjang,,, aku tidak tega melihat keluarga ini kembali hancur apalagi ketiga anak tuan dan nyonya masih sangat membutuhkan kalian berdua."lirih Luna.
Wanita itu pun menghampiri Arthur karena saat ini sudah sangat siang Arthur belum makan siang dan posisi tidur Arthur juga bisa menggangu kesehatan pria itu.
"Tuan."lirih Luna.
Arthur langsung terjaga saat itu juga.
"Ada apa? Luna dimana anak-anak."ucap Arthur yang masih menguap.
"Anak-anak dibawa pergi oleh Nyonya besar dan tuan Arda."ucap Luna .
Arthur pun mengangguk. lalu kembali bertanya."Jam berapa ini."ucap Arthur yang memang tidak menggunakan jam tangan saat ini.
"Pukul 13;30 tuan, anda belum makan siang... sebaiknya Anda makan dulu saya sudah siapkan semuanya di sana."tunjuk Luna pada Meja yang ada di depan sofa.
"Ah ya, terimakasih."ucap Arthur yang kini memasuki ruangan khusus untuk keluarga yang berjaga di sana hanya terhalang dinding kaca dari ruangan super steril tersebut.
"Tuan sebaiknya pulang ke rumah dan beristirahatlah,,, biar saya yang menjaga nyonya setiap hari, dan tuan bisa fokus pada anak-anak."ucap Luna.
"Itu tidak mungkin bisa kulakukan Luna kamu tahu sendiri aku sangat mencintai istri ku jadi aku tidak mungkin meninggalkan dia selain untuk pekerjaan yang sangat mendesak."ucap Arthur.
"Tuan benar, tapi kesehatan tuan juga harus diperhatikan nyonya pasti sedih saat melihat tuan tidak baik-baik saja seperti dulu saya sering melihat nyonya menangis diam-diam di balkon kamarnya saat tahu bahwa tuan mengalami kecelakaan dan mengalami kelumpuhan."ucap Luna yang menceritakan tentang Alina saat itu.
__ADS_1
"Dia menangis bukan karena aku sakit Luna, tapi karena kesalahan dan dosa yang telah aku perbuat."ucap Arthur.
"Tidak tuan, saya berani bersumpah, mungkin nyonya terluka karena hal itu salah satu penyebabnya tapi dia lebih hancur lagi karena saat itu melihat keadaan tuan."ucap Luna.
Arthur yang mendengar kata-kata itu, dia melirik ke arah istrinya yang terbaring di atas ranjang tersebut.
"Maafkan aku yang hanya bisa memberikan luka padamu...kelak aku berjanji akan terus berusaha membuat mu bahagia cepat lah bangun aku akan membantu mu menyembuhkan luka yang dulu pernah ada."ucap Arthur.
Arthur pun mengecup kening Alina yang kini terbalut perban.
Arthur langsung keluar diikuti oleh Luna yang juga meninggalkan ruang rawat dan ruang tunggu tersebut.
"Tuan saya pamit dulu mau menyusul anak-anak, jika tuan butuh bantuan saya tuan bisa hubungi saya."ucap Luna.
"Ya, Luna terimakasih dan aku titip anak-anak."ucap Arthur.
"Tentu saja tuan."lirih Luna.
Sepeninggal Luna, Arthur pun langsung menyantap makanan tersebut meskipun rasanya sulit untuk menelan makanan tersebut apalagi matanya terus tertuju pada Alina.
"Sayang segeralah bangun, aku akan menyuapi mu makan setiap waktu makan tiba."ucap Arthur.
Arthur pun kembali melanjutkan suapannya itu hingga selesai makan pria itu pergi ke toilet yang ada di sana untuk buang air.
Sampai saat kembali dari toilet, dirinya kembali duduk di ruangan tunggu dengan laptop di pangkuannya.
Itu adalah rutinitas Arthur disaat dia menunggu istrinya di sana.
Arthur pun meminta dokter dan pihak rumah sakit untuk bisa memindahkan istrinya ke rumah jika Alina masih tidak kunjung sadar dalam waktu satu bulan, disaat kondisi tubuhnya itu membaik nanti.
Namun dokter tidak mengizinkan itu, pihak rumah sakit bahkan akan memfasilitasi semua yang dibutuhkan oleh Arthur termasuk tempat untuk Arthur istirahat tapi tidak mengijinkan Alina untuk dibawa pulang karena dokter tidak bisa mengabaikan keselamatan pasien.
Hari demi hari Arthur lalu dengan hati yang tak menentu bahkan pria itu sudah tidak lagi memperhatikan penampilan nya yang kini berambut gondrong dan bulu halus di rahang itu dibiarkan tumbuh begitu saja.
Pria itu seakan kehilangan semangat hidup setelah hampir enam bulan Alina tidak kunjung bangun juga.
Bisa dibayangkan seberapa hancur hati dan jiwa Arthur selama ini.
Meskipun kondisi fisik Alina sudah mulai membaik bahkan seluruh luka itu sudah hampir hilang dan hanya tinggal bekasnya saja.
Karena perawatan yang dilakukan oleh dokter dan juga Arthur selama ini.
Alina pun sudah tidak lagi menggunakan perban lagi kini kondisinya sudah seperti putri tidur dalam cerita dongeng.
Alina sudah menggunakan pakaian seperti biasanya meskipun peralatan medis itu masih menopang kehidupannya.
Dokter pun awalnya menyarankan Arthur untuk melepaskan semua itu dari Alina dan meminta Arthur untuk mengikhlaskan kepergiannya.
Namun Arthur tidak pernah mau melakukan itu, dia percaya bahwa istrinya masih bertahan hidup demi mereka, buktinya luka di tubuh Alina mulai membaik dan sembuh.
Hari ini adalah hari ulang tahun istri tercintanya itu, Alina kini genap berusia 27 tahun. Arthur datang membawa bunga yang lebih istimewa dari biasanya, bahkan cake ulang tahun pun iya bawa.
Tepat di malam yang sunyi sepi dan hanya suara dari detak jantung Alina yang tersambung ke peralatan medis itu terdengar nyaring.
Di ruangan itu, Arthur duduk memberikan bunga dan membacakan do'a untuk sang istri lalu kemudian dia berkata.
"Selamat ulang tahun honey, semoga panjang umur dan bahagia selalu.! maafkan aku yang belum bisa memberikan mu bahagia. segeralah bangun lihat cake ulang tahun mu begitu indah dan lilin ini menunggu mu untuk menyelamatkan mereka dari api yang membakarnya."ucap Arthur lembut.
Arthur menatap Alina dengan cucuran air mata, hingga lilin itu habis terbakar Arthur tidak mampu berkata apa-apa.
__ADS_1
Alina tetap sama seperti biasanya tidak merespon perkataannya sedikitpun.
"Tuhan jika dia benar-benar tidak bisa lagi bertahan disisi ku aku ikhlas, asalkan dia hidup dan tetap baik-baik saja demi anak kami."ucap Arthur yang kini bercucuran air mata.
Tiba-tiba saja ia melihat Air mata yang keluar dari sudut mata Alina.
"Sayang aku sangat mencintaimu dan aku berharap semoga kamu segera sadar, aku tau kamu bisa mendengar suara ku tolong kembalilah setidaknya jika bukan untukku kembalilah demi anak-anak kita."ucap Arthur yang kini menangis sesenggukan sambil memeluk istrinya itu.
Lagi-lagi Air mata itu keluar dari sudut mata Alina.
Arthur masih terus mengajak Alina berbicara dengan tangisan Arthur yang tidak kunjung berhenti.
Arthur pun memencet tombol emergency room saat itu juga.
Dia ingin dokter memeriksa istrinya saat ini.
Sampai dokter datang dan tersenyum ramah pada Arthur, dia juga kembali berinteraksi dengan Alina yang tadi merespon Arthur dengan air mata.
"Nyonya Alina,,, selamat ulang tahun, semoga anda bisa mendengar suara saya...saya Dokter yang ditunjuk oleh rumah sakit dan suami Anda yang sungguh sangat mencintai anda setiap hari setiap malam dia tidak pernah absen untuk menemani anda. dan lihat cake ulang tahun dan bunga terindah yang pernah saya lihat selama saya hidup ini anda sungguh beruntung memiliki suami yang benar-benar mencintai dan menyayangi anda sepenuh hati, saya pun berharap semoga tuhan mengabulkan doa-doa tuan Arthur, dan satu lagi yang harus anda tahu lihatlah demi menjaga dan merawat Anda dia bahkan tidak lagi memperhatikan penampilannya yang super keren itu. jadi bangun dan tunjukkan rasa cinta anda padanya."ucap sang dokter.
"Satu lagi jika Anda tidak bangun saya pastikan Anda akan menyesal karena dia pasti akan direbut oleh orang lain."ucap dokter pria itu.
Arthur pun mengusap wajahnya, sambil memaksakan untuk tersenyum.
"Tuan sepertinya Nyonya Alina sudah mulai menunjukkan perkembangan yang semakin bagus ini adalah sebuah keajaiban karena saya sendiri kemarin sudah hampir menyerah dengan ini tapi semangat itu kembali ada jika seperti ini berarti anda masih punya harapan untuk kesembuhan nyonya Alina."ucap Dokter.
"Sejak awal saya tidak pernah putus asa karena saya yakin istri saya masih sangat mencintai kami semua."ucap Arthur.
"Bangun sayang aku janji akan memberikan bunga terindah itu lagi saat kamu sembuh nanti."ujar Arthur.
Arthur pun langsung bergegas mengecup kening Alina.
"Anak-anak sudah sangat merindukan mu sayang bangunlah."ucap Arthur.
Arthur pun kembali menggenggam tangan istrinya setelah dia memberikan cake tersebut tapi sebelum itu mereka berfoto bersama untuk mengabadikan momen tersebut jika Alina terbangun nanti.
Luna yang melihat semua itu dia hanya menangis sesenggukan di luar, karena bagaimanapun Luna sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri.
Luna juga sangat menyayangi Alina yang sudah seperti kakaknya sendiri, meskipun Alina adalah majikannya tapi Alina tidak pernah memperlakukan dia semena-mena Alina bahkan pernah bilang bahwa jika nanti Luna menikah Alina akan membiayai pesta pernikahan Luna.
Gadis itu masih sesenggukan hingga saat seseorang Dokter yang tidak tega melihat itu dia mengusap bahu Luna namun seketika itu Luna memelintir tangan pria tampan itu.
"Ah!!."Luna yang memiliki kewaspadaan diri tingkat tinggi itu sudah membuat dokter itu terhuyung kesakitan.
"Ah...m- maaf kan saya dokter saya tidak tahu jika itu dokter habis anda tidak menyapa saya terlebih dahulu."ucap Luna.
"Saya hanya iba melihat anda menangis sendirian nyonya."ucap Dokter yang kini dibantu oleh Luna untuk berdiri, tapi saat mendengar kata nyonya matanya langsung membulat dan refleks mendorong Dokter tersebut ke lantai.
"Anda pikir wajah saya sudah tua ia begitu."ucap Luna yang tiba-tiba merespon keras ucapan pria itu entah kenapa? Luna yang biasanya cuek saat ini dia begitu sensitif.
"Saya tidak bilang anda tua tapi saya sering melihat Anda dengan ketiga anak Anda berkunjung kemari."ucap dokter itu.
Sejenak Luna mematung kala ingat dengan ketiga bocah itu.
"Ah ya... mereka anak saya, anak dari majikan saya yang ada di dalam sana."ucap Luna yang kini menunjuk ke arah belakang.
"Terus bagaimana? ini tangan saya sakit ini juga Anda sudah melakukan kekerasan dalam rumah sakit."ucap Dokter itu yang kini terlihat serius.
"Heumm... ternyata Anda Cemen sekali begini saja gampang."ujar Luna sambil menarik tangan pria itu dengan gerakan cepat dia mengembalikan keadaan.
__ADS_1
Dokter itu terkagum-kagum dalam hati dengan skill yang dimiliki oleh wanita cantik itu.