Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 76


__ADS_3

"I love you so much honey..."ucap Junior yang kini mengusap bibir bawah Alina yang sedikit basah karena pertukaran Saliva .


"Too... sayang."ucap Alina sambil mengusap puncak kepala Junior dan merapihkan tatanan rambut Junior yang sedikit berantakan karena ulah Alina tadi.


"Sayang apa? kamu bisa menerima putriku untuk menjadi putri mu."ucap Junior tiba-tiba.


"Tentu saja sayang ku."ucap Alina.


"Terimakasih babe...."ucap Junior yang kembali mengecup bibir itu, tapi kini Junior bahkan sudah mulai nakal tangan itu kini tengah berselancar di punggung Alina hendak melepaskan pengait bra, tapi Alina langsung mencegah itu.


"Jangan Jun, belum saatnya."ucap Alina yang kini berbisik di samping kuping Junior.


"Hanya periksa saja Yank,,, aku ingin lihat itu."ucap Junior yang kini tersenyum jahil.


"Nakal mana boleh."ucap Alina sambil mencubit perut kotak-kotak itu.


"Ah,,, sakit sayang."ucap Junior pura-pura mengeluh padahal tidak sakit sama sekali.


"Lagian siapa? suruh nakal begitu."ucap Alina.


"Heumm... nakal bagaimana? aku tidak nakal sayang hanya latihan untuk membuat mu bahagia."ucap Junior.


"Sayang aku marah nih tidak mau bicara lagi."ucap Alina yang kini pura-pura marah.


"Heumm... ngambek,"ucap Junior yang kini tersenyum manis kemudian mengecup bibir Alina lagi.


"Aku tidak ngambek sayang, tapi marah."ucap Alina.


"Iya,,, sayang aku minta maaf, tidak nakal lagi tapi pengen."ucap Junior yang kembali menggoda Alina.


"Pengen di cubit kan."ucap Alina lagi.


"Heumm...pelit."ucap Junior yang kini menyalakan layar kecil yang ada di hadapannya.


"Junior dengan cepat memindahkan tontonan yang sebenarnya tidak ingin dia tonton tapi karena ingin mengalihkan rasa kesalnya saat ini.saat Alina tidak memberikan apa yang dia inginkan sebagai pria dewasa.


Alina pun meraih tangan Junior yang terus mengotak-atik layar itu hingga membuat Alina terganggu hingga tiba-tiba muncul film dewasa yang menampilkan hubungan intim.


Alina langsung memalingkan wajahnya sementara Junior menatap kearah Alina, dengan tatapan yang tidak bisa di tebak.


"Yank, jadi kamu ajaib ya...kok bisa menemukan itu di sini."ucap Junior.


"Jun, matikan."ucap Alina yang masih membuang pandangannya.


"Tidak babe, aku sedang belajar."ucap Junior yang pura-pura melihat itu, padahal dirinya sendiri tidak pernah memperhatikan layar berukuran kecil itu.


"Jun aku mohon."ucap Alina.


"Tanggung sayang,,, kapan lagi bisa melihat tontonan gratis."ucap Junior semakin menggoda Alina.


"Jun!!."ucap Alina yang kini melirik ke arah Junior yang tengah menatap lekat wajahnya.


"Ada apa? sayang... kamu pikir aku suka melihat itu, bahkan tanpa belajar pun naluri ku sudah jauh lebih baik, aku sudah bisa membuat mu melayang di atas ra*nj*ng."ucap Junior yang kini kembali mencium bibir itu tanpa mematikan layar televisi kecil yang ada di belakang kursi penumpang itu.


"Heumm... sudah larut aku istirahat dulu sayang."ucap Alina.


Junior pun mengangguk sambil membenarkan posisi kursi penumpang itu menjadi bersandar.


Junior pun melakukan hal yang sama dengan kursi penumpang yang dia duduki.


Sesampainya di Indonesia, Junior tidak langsung mengantar mereka pulang ke Mension yang Arthur maksud.


Junior membawa mereka pulang ke Mension miliknya.


"Sayang... aku harus pulang ke Mension."ucap Alina.


"Istirahat dulu sayang besok baru pergi."ucap Junior.


"Tidak Yank... aku harus mengecek kondisi disana dan menyiapkan anak-anak setelah dua tahun lebih tidak pernah datang kesana."ucap Alina.


"Tapi aku lelah Yank... dan aku juga punya pekerjaan yang tidak bisa di tunda."ucap Junior.


"Tidak apa-apa sayang,,, kamu bersibuk saja dulu aku bisa kembali bersama dengan anak-anak."ucap Alina tetap kekeuh.


Junior tidak bicara lagi dia hanya meminta asisten pribadinya untuk mengantarkan mereka bersama dengan barang bawaannya.


"Ketty ikut mommy."ucap Alina pada gadis kecil itu.

__ADS_1


"Kau bukan mommy ku."ucap gadis kecil itu yang langsung membuat Alina mematung.


"Katty,,, jangan berkata tidak sopan pada mommy."ucap Junior.


"Daddy dia wanita jahat, dia pengganggu."ucap gadis sekecil itu yang baru lancar berbicara.


"Jun,,, aku pamit pulang."ucap Alina tanpa melihat kearah Junior, dia benar-benar syok dengan perkataan putri dari Junior.


"Babe... aku minta maaf atas nama dia, dia masih tidak tahu apa-apa."ucap Junior.


Alina pun tersenyum kecil pada Junior dia tidak ingin membuat Junior marah pada gadis kecil yang polos itu.


Mungkin karena ibunya mengajarkan hal yang tidak baik akhirnya dia seperti itu.


Alina pun kembali pamit pada Junior."Yank, aku pamit dulu, besok kalian bisa berkunjung ke sana jika tidak sibuk."ucap Alina.


"Tentu honey hati-hati di jalan."ucap Junior setelah itu dia mengecup bibir Alina.


"Dah sayang, kalau ingin main dengan kakak kamu bisa sering kesana."ucap Alina yang hendak mengelus puncak kepala gadis kecil itu tapi dia tepis dengan kasar.


Alina pun pergi membawa rasa sakit, yang sulit untuk diungkapkan.


Alina kini pun pergi dengan ketiga anak menggunakan dua mobil yang pertama mobil berisi barang-barang milik ketiga anaknya, sementara yang satu Alina dan anak-anaknya.


Junior yang melihat kepergian mereka pun merasa tidak enak hati kala putrinya telah menyinggung perasaan Alina.


"Babe,,, maafkan aku."ucap Junior lirih.


Sementara setelah mobil itu sudah tidak terlihat lagi, Junior menatap lekat wajah cantik yang begitu mirip dengan dirinya.


"Apa? yang dia ajarkan padamu sayang."ucap Junior yang kini masih menatap kearah putrinya itu.


"Apa? yang kamu katakan tadi pada istri daddy."ucap Junior lagi.


"Dia bukan mommy Kitty daddy dia itu pengganggu mommy bilang wanita itu sangat jahat hingga membuat daddy Arthur sakit dan pergi."ucap Kitty .


Tangan Junior pun mengepal erat, dia benar-benar terbakar emosi, bagaimana? bisa anak sekecil itu sudah diracuni dengan kebencian yang begitu besar.


Junior pun berencana membawa putrinya pada psikolog untuk menghilangkan pikiran buruk yang tertanam di pikiran putrinya itu.


"Junior yang sudah menyiapkan seorang baby sitter sebelum dia sampai untuk mengurus putrinya itu.


Saat tengah berendam di dalam bathtub-e dia teringat dengan bayangan dirinya dan Alina yang saat itu berada di dalam kamar didalam jet pribadi mereka ketika Alina membantu dirinya untuk menuntaskan hasratnya meskipun tidak dengan berhubungan badan, tapi momen itu membuat Junior merasa benar-benar berada di atas awan.


Bagaimana tidak, suara des*ha*n yang begitu terdengar memabukkan itu lolos saat Junior berpetualang di gunung kembar itu dan memainkan puncak gunung yang berwarna pink kecoklatan itu.


...**********...


Junior buru-buru menyudahi mandinya setelah menuntaskan hasratnya sendirian.


Pria itu juga langsung menghubungi sang daddy meminta dia datang di pernikahannya dengan Alina yang akan digelar secepatnya.


Junior tidak ingin menunda-nunda lagi dan terus berada di dalam kubangan dosa meskipun saat ini dia juga belum sepenuhnya menjadi mualaf.


Junior yang selama ini mengikuti keyakinan dari sang mommy dia tidak mungkin menikah dengan Alina dengan perbedaan keyakinan.


Sementara Alina tidak akan mau seperti itu, contohnya Arthur yang kini masih menjadi mualaf karena dia berpindah keyakinan saat akan menikah dengan Alina.


Sementara itu di kediaman Alina saat ini, dia sedang menemani ketiga anaknya bermain di dalam ruang bermain milik mereka dulu, semua masih tampak sama saat dua setengah tahun yang lalu saat dirinya pergi meninggalkan rumah besar itu meninggal keluarga kecilnya karena rasa bersalah yang sulit untuk di ungkapkan.


Wanita itu kini sudah kembali ke rumah yang memang sudah diberikan padanya sejak dulu kala saat mereka menikah, sebagai mahar pernikahan.


Namun Alina tidak ingin dipandang sebagai wanita serakah meskipun mantan suaminya sampai saat ini masih bergelimang harta dan kini juga masih sama.


Seseorang datang untuk mengantarkan mobil Alina yang merupakan mobil sport mewah yang Arthur hadiahkan saat dirinya berulang tahun.


Sementara di garasi yang luas itu pun ada hampir tiga puluh mobil berjajar rapi dan sangat terawat semua adalah mobil milik Arthur yang sering dia gunakan bergantian setiap harinya.


Namun sekarang mobil itu hanya dipajang dan dirawat setiap harinya karena Arthur berada di luar negeri dan sekarang mungkin akan menggunakan itu saat dia datang berkunjung saja.


"Mom,,, rasanya sepi ya, tidak seperti dulu lagi."ucap Arion.


"Heumm... sayang nanti juga akan ramai setelah kalian terbiasa."ucap Alina.


"Disini tidak anak tetangga yang bergabung mom, seperti saat kami bermain salju di taman kota."ucap Arion.


"Ada kok sayang nanti mommy ajak mereka kesini."ucap Alina.

__ADS_1


"Tidak usah mom, bagaimana? jika kita jalan-jalan saja di mall."ucap Arionan.


"Iya, sayang tapi tunggu kalian sembuh dulu."ucap Alina lembut.


"Kami tidak sakit Mom,,,kami sehat kami hanya merindukan mommy."ucap Alana yang tidak mau jauh dari sang mommy.


"Terimakasih sayang mommy sungguh sangat merindukan kalian juga, tapi mommy sakit selama berbulan-bulan jadi mommy tidak bisa menjenguk kalian."ucap Alina.


"Heumm... kami tau itu mom,,, maafkan kami tidak bisa menjenguk mommy."ucap kedua anak laki-laki Alina yang kini sudah berusia lima tahun.


"Tidak apa-apa sayang buah hati mommy.... yang penting kalian baik-baik saja."ucap Alina lembut sambil mencium ketiganya.


Mereka pun memeluk ibunya dan memejamkan matanya saat itu juga karena kerinduan terhadap ibunya yang mereka pendam selama ini membuat mereka tidak bahagia meskipun hidup dalam kemewahan.


Sampai saat mereka berangkat untuk jalan-jalan ke mall yang dulu sering mereka kunjungi , saat tiba di sana mereka bertiga begitu antusias.


Alina mengingat masa-masa dimana? Arthur mendorong stroller baby twins, sementara dirinya membawa Alana yang baru kembali pada mereka sebelum akhirnya mereka berpisah.


Kini kedua putranya menggenggam tangan adiknya yang kini berada di tengah-tengah mereka.


Alina di belakang mereka tengah memberikan pengarahan terhadap ketiganya yang kini begitu antusias dan berlarian sambil berpegang tangan, senyum dan tawa mereka persis seperti sang daddy.


Hati Alina lagi-lagi terasa perih, saat mengingat hal itu.


Keduanya ketiganya kini sudah memasuki area permainan, Alina pun menemani mereka bermain di dalam ruangan yang luas itu.


Sementara di Mension Alina Junior yang baru tiba, kini tengah berfikir bagaimana? caranya dia untuk mencari keberadaan Alina jika wanita itu masih tetap tidak ingin menggunakan ponsel pemberiannya itu.


Untuk hal itu Junior dibuat sangat kesal.


Junior duduk di ruang santai setelah itu dia pun langsung bergegas meminta asisten pribadinya untuk mencari keberadaan Alina dan meminta dia untuk kembali karena dia ingin membicarakan tentang pernikahan mereka nanti.


Junior sudah mendapatkan restu dari Alercxa saat ini untuk menikah dengan Alina setelah dia meyakinkan sang daddy bahwa Alina adalah perempuan baik-baik yang selama ini tersakiti.


Hingga saat Alercxa mengatakan bahwa ia ingin memiliki cucu yang benar-benar dia nantikan, hasil perkawinan bukan hasil inseminasi seperti Kitty, dia tidak peduli itu anak laki-laki ataupun perempuan yang jelas Alercxa yang akan mendidik anak itu kelak secara langsung untuk menjadi seorang pebisnis hebat.


Dan Junior yakin dengan begitu dia bisa memberikan apa? kebahagiaan untuk orang tuanya itu.


Karena dia tahu rahim Alina masih baik-baik saja dan tidak pernah bermasalah.


Setelah Alina kembali ke Mension bersama dengan anak-anak yang kini membawa banyak mainan yang mereka beli.


"Wah anak-anak daddy habis borong mainan ya,,,"kata Junior yang kini tersenyum manis.


"Ya daddy."ucap ketiganya yang kini tersenyum pada Junior.


"Kalian main dulu ya sayang,,, mommy ada yang ingin dibicarakan."ucap Alina.


"Heumm... sayang daddy pinjam mommy dulu oke."ucap Junior.


"Ya, daddy."ucap ketiganya.


Setelah semua pergi bersama dengan pelayan rumah, Junior langsung membawa Alina kedalam pangkuannya.


Pria itu menghujani calon istrinya dengan kecupan.


"Sayang,,, kamu tidak merindukan ku."ucap Junior yang kini terlihat sangat merindukan Alina padahal kemarin mereka hampir seharian bersama.


Alina pun tersenyum manis."Jun ini baru setengah hari sayang,,,, tidak mungkin kamu sudah merindukan ku lagi."ucap Alina.


"Memangnya jika baru setengah hari kenapa? yang ada yang salah."ucap Alina.


"Heumm... tentu tidak sayang tapi ini terdengar sangat lucu Jun."ujar Aluna.


"Lucu...!"ucap Junior yang terlihat kesal.


"Ya sayang,, kamu terlalu berlebihan, tapi tidak apa-apa aku sangat senang karena dengan begitu aku tahu jika saat ini kamu begitu mencintai ku."ucap Alina.


"Dari dulu sayangku,,, dari dulu!."ucap Junior.


"Ya,,, sayang aku tau."ucap Alina yang kini mengecup bibir Junior sekilas, namun pria itu malah menahan tengkuk Alina dan memperdalam ciuman tersebut.


"Satu minggu lagi kita akan segera menikah, daddy bilang dia ingin kita langsung punya anak."ucap Junior.


Alina langsung terdiam, dia bahkan turun dari pangkuan Junior.


"Ada apa? sayang... apa? ada masalah."tanya Junior.

__ADS_1


"Jun, sebaiknya batalkan pernikahan ini,kamu tahu sendiri kan aku punya masalah dengan itu, kamu bisa mencari wanita lain."ucap Alina yang langsung pergi.


"Babe,,, tunggu....babe!! dengarkan aku dulu dimana?."ucapan itu terhenti saat tiba-tiba Alina jatuh pingsan.


__ADS_2