
"Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk melindungi dirinya."ucap Arthur.
"Tapi mana? buktinya."ucap Junior.
Arthur terdiam karena benar apa? yang dikatakan oleh Junior saat ini.
"Aku akan membawa dia pergi jauh, untuk melakukan pengobatan terbaik untuknya."ucap Junior lagi.
"Negara mana yang kamu tuju."ucap Arthur.
"Negara mana itu tidak penting tapi yang jelas nanti setelah dia sembuh baru aku akan memberikan kabar pada anak-anak."ucap Junior.
"Baiklah, kamu bisa katakan berapa dana yang kamu butuhkan agar ibu dari anak-anakku bisa kembali pulih."ucap Arthur.
"Kau tidak perlu memikirkan itu, karena sudah menjadi tanggung jawab ku."ucap Junior.
"Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kami, aku tidak akan pernah membiarkan dia hidup sengsara seperti ini."ucap Arthur.
"Tapi dia tidak akan pernah bahagia dan tidak akan pernah baik-baik saja jika terus bersama dengan mu,,,kau ingat ancaman yang sedang kalian hadapi tidak akan pernah bisa dihentikan begitu saja, nyawa kalian adalah taruhannya. dan hanya aku yang bisa melindunginya sekarang kamu harus fokus menjaga anak-anak kalian."ucap Junior.
"Dengan sangat sulit, aku serahkan kesembuhan Alina padamu. Aku titip dia semoga semua sesuai dengan harapan kita."ucap Arthur.
"Kau bisa percayakan dia padaku, dan soal hubungan diantara kita bertiga nanti biarlah Alina yang memutuskan aku juga tidak akan memaksakan kehendak ku padanya jika dia tidak bisa bersama dengan ku... yang kuinginkan sekarang adalah menyelamatkan dia."ucap Junior.
"Junior aku harap siapapun yang dia pilih nanti semua harus berlapang dada."ucap Arthur.
"Ya, aku mengerti. setelah dia siuman aku akan langsung membawa dia pergi kau bisa menghubungi ku, jika suatu saat nanti anak-anak bertanya dimana? ibunya."ucap Junior.
Akhirnya Arthur pun meminta waktu untuk bisa bersama dengan Alina sebentar.
"Alina sayang... maafkan aku jika selama ini aku hanya bisa memberikan mu rasa sakit, dan aku tidak bisa melindungi mu sayang aku sungguh sangat mencintaimu dan aku berharap kita bisa kembali bersama demi anak-anak kita nanti, tapi sekarang bukanya aku tega membiarkan mu bersama orang lain. tapi semua itu demi kesembuhan mu... maafkan aku."ucap Arthur.
Jika saja dengan harta yang dia miliki dia bisa memiliki kekuatan yang lebih besar dari pada musuh yang selama ini berkeliaran di luar mungkin saat ini semuanya akan baik-baik saja. tapi nyatanya tidak seperti dalam cerita dongeng, yang memiliki harta yang berkuasa.
Buktinya Arthur tidak bisa melindungi keluarga kecilnya dari gangguan orang-orang jahat itu karena segala sesuatunya akan ada sebab dan akibat.
Jika Arthur membunuh orang demi melindungi keluarganya bukankah semua itu sama saja dengan bunuh diri, karena perbuatan itu sudah pasti melanggar hukum.... dan sebanyak apapun uangnya, keadilan itu akan tetap ditegakkan.
Dan jika Arthur masuk bui siapa? yang akan mengurus perusahaan, karena itu juga bisa memperburuk keadaan perusahaan.
Mungkin itu yang selama ini terjadi pada Arthur, sehingga berulang kali hidupnya di uji.
Sampai saat ini Arthur hanya bisa mencintai tanpa bisa melindungi.
Seperti hidupnya dulu dia tidak bisa memilih atau membuat keputusan apapun itu, dia hanya harus patuh pada peraturan.
Arthur pun kembali setelah Jenny mengabarkan bahwa ketiga anaknya tengah rewel menanyakan Alina.
Namun saat itu Arthur pun melakukan video call memperlihatkan Alina yang tengah berada di rumah sakit dan sedang beristirahat itulah alasan kenapa? mereka belum bisa menemui ibunya.
Junior pun langsung berangkat menuju negara dimana sebuah rumah milik sang mommy berada.
Junior tidak membawa Alina ke rumah sakit melainkan membawa dia ke rumah ibunya, disana dia sudah menyediakan peralatan medis dan juga dokter ahli jiwa dan ahli terapi kejiwaan.
Bukan dia tidak ingin Alina dirawat di rumah sakit secara langsung tapi dia berfikir semua hanya akan membahayakan keselamatan Alina karena bukan tidak mungkin orang-orang yang diperintahkan untuk membunuh Alina akan menyelinap masuk kedalam rumah sakit tersebut.
Setelah tiba di rumah tersebut, Junior tidak langsung membawa Alina kedalam kamar yang akan digunakan untuk perawatan wanita itu, tapi dia membawa Alina berkeliling rumah karena rumah itu begitu nyaman dan terasa sangat menenangkan.
"Babe,, sekarang kita akan tinggal disini, dan disini sangat aman kamu tidak perlu takut disini tidak akan ada yang menyakiti mu lagi."ucap Junior.
"Jun..."ucap Alina.
"Ya sayang."ucap Jun lembut.
"Jun.... siapa? Jun."ucap Alina yang kini terlihat kebingungan.
"Aku Jun, sayang... tidak apa? jika kamu lupa tidak apa-apa aku bisa mengingatkan mu sejuta kali lagi."ucap Junior yang kini membingkai wajah cantik yang terlihat tidak berseri seperti dulu.
__ADS_1
"Aku ingin buang air."ucap Alina tiba-tiba dia melihat kesana kemari mencari toilet.
"Baiklah sayang tunggu sebentar."ucap Junior yang langsung bergegas menggendong Alina menuju toilet.
"Aku tunggu di luar akan ada suster yang membantu mu."ucap Junior pada wanita yang kini malah terdiam seakan tengah berfikir keras.
Junior hanya bisa menahan rasa sakit dari pertama kali melihat keadaan Alina yang sudah hilang akal karena depresi berat yang dia alami selama ini.
"Tuhan tolong sembuhkan dia dan lindungi dia selama hidupnya."ucap Junior lirih.
Suster yang masuk langsung di usir oleh Alina karena dia bilang dia bisa sendiri.
Junior yang melihat suster keluar dari dalam kamar mandi. dia langsung bertanya-tanya bagaimana? dengan Alina.
Tapi suster itu bilang Alina tidak mau dibantu olehnya, Alina ingin sendiri.
"Baiklah tunggu di luar kamar, aku yang akan mengurusnya."ucap Junior.
Pria itu langsung masuk kedalam kamar mandi, dan betapa kagetnya Junior saat melihat, Alina kini sudah bertelanjang tapa sehelai benang pun dan berdiri di bawah guyuran air shower sambil mengusap-usap aset berharga di bagian atas.
Dia mengoleskan banyak sabun ke tubuhnya dan masih anteng membersihkan set tubuhnya dengan sabun tersebut.
Dia tidak terlihat seperti orang yang berada di dalam gangguan jiwa.
Saat Alina menatap kearah Junior, dia hanya tersenyum kecil tanpa peduli dengan keadaannya saat ini, meskipun Junior sudah tahu seluruh lekuk tubuh Alina tapi jika terus seperti ini iman Junior yang begitu tipis setipis tissue kering itupun akan rapuh juga.
Junior masih berdiri di tempatnya sambil bersandar pada dinding dan memejamkan matanya.
Tanpa dia sadari sebuah tangan kini tengah membuka kancing kemeja milik Junior.
Junior pun terperanjat kaget dan menahan Alina, tapi tangan itu tidak bisa dihentikan, Alina pun menyambar bibir Junior.
...**********...
Hampir saja Junior kehilangan akal sehatnya karena godaan dari Alina yang hampir tidak bisa dihentikan tersebut.
Kini dia sudah selesai membantu Alina berpakaian dan mengeringkan rambutnya.
Dengan begitu Alina baru bisa dihentikan. Junior langsung bergegas menuju kamar mandi karena hasratnya tidak bisa dipadamkan terpaksa dia harus bermain arisan.
Sampai di puncak menara Eiffel, barulah dia membersihkan diri dan mandi sekalian karena tidak mungkin tubuhnya yang sudah basah kuyup itu dibiarkan begitu saja.
Junior keluar dari dalam kamar mandi tersebut menggunakan bathrobe, dia melihat Alina kini tengah membaca buku dalam keadaan terbalik.
Junior mendekat ke arah Alina namun saat itu dia baru tau jika saat ini wanita itu tengah tertidur.
"Babe, maafkan aku... bukan aku tak ingin menyentuh mu, tapi saat ini belum saatnya."ucap Junior yang kini membenarkan posisi tidur Alina, dan mendaratkan kecupan di pipi wanita itu.
"Junior,,,
Suara itu tiba-tiba membuat Junior menghentikan langkahnya, dia tidak menyangka jika Alina mengingat namanya meskipun berada di dalam mimpi.
"Alina sayang terimakasih."ucap Junior.
Sementara itu di kediaman Arthur saat ini, Arthur Arda dan Jenny tengah membahas masalah tentang Alina yang kini sudah berada di luar negeri.
"Begini Ar, bukan aku ingin ikut campur dengan semua ini... tapi satu-satunya jalan untuk menyelamatkan anak keturunan mu dan juga Alina adalah dengan menikahi wanita lain yang memiliki keluarga yang sama-sama memiliki power untuk melawan para penjahat itu."ucap Arda.
"Daddy mu benar Ar, kamu juga tidak mungkin terus menerus menunggu Alina... bukan mommy melupakan wanita malang itu, biar bagaimanapun dia adalah ibu dari ketiga cucuku. tapi mereka butuh sosok ibu di samping mereka meskipun mommy masih ada tapi tidak ada ibu di sampingnya tetap berpengaruh terhadap perkembangannya nanti."ucap Jenny.
"Junior tengah berusaha mom,,, aku akan menunggu Alina kembali."ucap Arthur.
"Apa? kau yakin sayang ingat Alina masih membutuhkan pengobatan yang sangat panjang, ketiga anak mu tak mungkin bisa menunggu lagi, dan satu hal lagi... ini demi keselamatan ketiganya dan keluarga kita."ucap Jenny.
"Wanita mana yang memiliki power lebih baik dari istriku Alina mom,,, aku rasa tidak ada."ucap Arthur.
"Katrina."ucap Arda.
__ADS_1
"Tidak, dia tidak mungkin mau menerima ku dengan ketiga anak ku."ucap Arthur.
"Aku bersedia Ar, kita bisa sama-sama menjaga putra-putri kita."ucap wanita yang ternyata sudah berada di kediaman Arthur.
"Dengan semua masalalu ku?."ucap Arthur.
"Semua Ar, yang aku fikirkan saat ini bukan hanya tentang cinta, tapi mau dibawa kemana? hidup ini jika terus menunggu sesuatu hal yang tak pasti."ucap Katrina.
"Katrina aku akan memastikan bahwa kamu benar-benar bisa menerima ku."ucap Arthur.
Katrina hanya mengangguk, dirinya pun tidak bisa memilih laki-laki mana yang akan dia nikahi karena Junior sendiri masih bisa membuat dia alergi dan hingga saat ini kedua masih menggunakan sarung tangan untuk berinteraksi lebih dekat meskipun hanya sekedar berpegang tangan.
Katrina juga menemukan orang yang tepat bisa menghilangkan alergi terhadap sesama manusia yang dimiliki oleh Katrina.
Seakan sudah ditakdirkan kedua manusia yang memiliki kelainan tersebut mendapatkan obat dari sepasang pria dan wanita yang jelas-jelas memiliki hubungan.
Akhirnya setelah memutuskan untuk kembali membina tangga karena sebuah pertimbangan demi kebaikan keduanya mereka pun menggelar pernikahan.
Dan dihari yang sama tiba-tiba Alina mengingat semua yang terjadi padanya selama ini, seperti sebuah keajaiban dunia.
Namun ada satu hal yang membuat Alina sakit hati adalah, disaat ini Arthur pun benar-benar telah melupakan dirinya.
Lagipula siapa? yang akan mau menerima wanita dengan gangguan jiwa seperti dirinya. itu pikir Alina saat ini.
Alina pun hanya bisa menyimpan rasa sakit itu untuk dirinya sendiri.
Disaat yang sama dia mengingat ketiga anaknya, Alina pun hanya bisa menahan rasa rindunya itu, karena dia tidak ingin terjadi sesuatu saat dirinya berada di dekat anak-anaknya.
Dia hanya bisa menjerit dan memohon semoga ketiganya baik-baik saja.
Sementara Junior yang melihat itu pun langsung bergegas menghampiri Alina dan bertanya.
"Babe,,, apa? yang terjadi."ucap Junior saat melihat ponsel miliknya masih menyala dan disana terlihat wajah Luna yang kini tengah menghadiri pesta pernikahan Arthur dan Katrina mantan istrinya.
"Kenapa? tidak bilang jika kamu mendapatkan telfon heumm."ucap Junior yang belum mengetahui apa? yang terjadi pada dirinya saat ini.
Alina pun hanya tersenyum kecut saat ini.
Dia sudah bahagia dengan pilihannya, sekarang aku hanya akan kembali fokus pada kesembuhan ku, setidaknya aku tidak akan membuat ketiga anak ku malu karena telah terlahir dari penghuni rumah sakit jiwa seperti ku."ucap Alina.
"Babe,,, kamu."ucap Junior kaget.
"Ya,,, Jun aku sudah ingat dengan semua yang terjadi padaku selama ini, maafkan aku hanya bisa menjadi beban untukmu."ucap Alina.
"Sayang,,,ini beneran kamu kan, aku tidak mimpi."ucap Junior.
"Ya, Jun, aku Alina pasien rumah sakit jiwa, dan pasien dari dokter gadungan yang selama ini selalu memberikan ku obat-obatan anti depresi.mungkin Dokter yang pertama kali aku berkonsultasi adalah dokter yang asli, tapi sekarang aku sudah menginat orang yang kedua kalinya aku temui dan sampai saat aku hampir kehilangan nyawa."ucap Alina.
"Teresa."ucap Junior.
"Ya, kamu benar Jun."ucap Alina yang kini kembali diserang sakit kepala.
"Ah... sakit."ucap Alina
"Babe... kamu kenapa?."ucap Junior yang panik pun memanggil dokter.
Junior terus bolak-balik seperti setrika panas, saat ini hatinya benar-benar tidak tenang, hingga saat dokter keluar dari dalam kamar.
"Bagaimana? keadaannya."ucap Junior yang benar-benar tidak sabar.
"Dia masih belum sadarkan diri, tapi tuan tidak usah khawatir, karena nyonya Alina sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. saat ini nyonya Alina hanya sedang syok karena berita pernikahan itu."ucap sang dokter.
"Heumm,,, pastikan dia akan baik-baik saja, karena jika tidak nyawa kalian yang akan menjadi taruhannya."ucap Junior.
Junior pun pergi meninggalkan kamar itu menuju ruang baca, yang tidak jauh dari tempat tersebut.
Sesampainya di sana, Junior kini tengah merenung tentang semua hal yang selama ini terjadi pada dirinya dan seluruh keluarganya.
__ADS_1
Junior tidak pernah sebahagia saat dirinya bersama dengan ibunya dan juga Alina, kedua wanita itu sangat berarti baginya.
Sejak kecil ia sudah mengasingkan diri dari orang-orang di sekelilingnya kecuali kedua orang tuanya, dan Alina.