
"Jangan bela dia! Aku sudah bilang jangan pergi kemanapun saat aku tidak ada bersamamu, tapi kamu selalu melanggar peraturan yang aku buat dan itu untuk orang tak penting seperti dia ia! apa? Kau masih mencintainya."ujar Arthur.
"Mas! kamu bicara apa? Jangan pernah bicara sembarangan itu jatuhnya fitnah karena aku tidak seperti yang kamu tuduhkan."ucap Alina
"Jika itu tidak benar,,,lalu kenapa? kamu membelanya."ujar Arthur.
"Aku tidak membela siapapun, aku hanya tidak ingin mas ribut disini ada orang sakit mas kamu ngerti enggak sih."ujar Alina yang hendak pergi tapi Arthur langsung menariknya kedalam pelukannya.
"Maafkan aku Yank,,,, aku hanya tidak bisa terima kalian berduaan di sini."ucap Arthur.
"Aku datang untuk menjemput mu pulang."ucap Arthur.
"Aku tidak bawa paspor Yank bagaimana? aku pulang jika bukan naik jet pribadi."ujar Alina.
"Itu urusan yang mudah honey ayo ambil barang-barang milik mu kita pergi."ujar Arthur.
Wanita itu pun pergi untuk berpamitan dan sekaligus ingin mengambil barang-barang nya, namun dia kaget begitu Akbar berada di kamar itu dan langsung mengunci pintu.
"Mas apa-apaan kamu buka pintunya, aku harus pergi."ujar Alina.
"Aku tidak rela kamu bersama dengan orang lain Yank,,, kamu bilang kamu belum siap untuk kembali mengarungi bahtera rumah tangga, tapi apa? kamu menjalin hubungan dengan orang lain. apa? kurang ku Yank,,, apa? hanya karena kamu tahu aku sudah menikah sebelum menikahi mu kau membenciku dan menjauhi aku. tapi kenapa? dia kamu terima kenapa?."ujar Akbar yang kini terlihat sangat sendu.
"Aku terima dia karena mungkin ini jalan yang harus aku tempuh, lagipula dia sudah resmi bercerai dengan istrinya."ujar Alina.
"Ya,,, dia memang sudah bercerai tapi dia juga akan menikah dengan wanita lain apa? kau tidak tahu itu atau kamu sengaja menutup mata."ujar Akbar.
"Mas Arthur tidak mencintai dia dan dia berjanji akan membatalkan rencana pernikahan itu."ujar Alina.
"Heumm,,, kamu percaya dengan dia, tapi kenapa? kamu tidak percaya padaku kamu bahkan memberikan kesempatan padanya tapi kenapa? padaku tidak Alina, apa? aku terlalu buruk bagi mu."pertanyaan demi pertanyaan itu di lontarkan oleh Akbar yang semakin mendekat ke arah Alina.
"Mas apa? Yang ingin kamu lakukan jangan mas, nyebut."ucap Alina saat Akbar semakin mendekat dengan tali yang dia sembunyikan di dalam saku celananya.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa Alina, aku hanya ingin kembali mengenang malam pertama kita yang penuh gairah dan kebahagiaan."ujar pria tampan itu.
"Tidak mas jangan mendekat , aku mohon jangan lakukan itu, dosaku sudah cukup besar selama ini aku mohon jangan lakukan itu."ujar Alina yang tidak bisa lagi menghindar akhirnya terjerembab di atas ranjang.
Bertepatan dengan Arthur yang mendobrak pintu tersebut karena tidak kunjung mendapati Alina keluar.
"Bajingan!!."teriak Arthur saat melihat Akbar hampir saja mengungkung Alina yang terus berteriak untuk meminta Akbar menjauh.
Bug.....
Bug....
Tinju itu mengenai pipi Akbar, dan perutnya hingga akhirnya Akbar terjungkal ke belakang.
"Stop,,, hentikan."ujar Alina yang kini menahan Arthur mencoba menghalangi pria itu agar tidak ada perkelahian lagi.
Namun Arthur malah semakin membabi buta karena dia tidak suka Alina melindungi Akbar.
"Mas, tolong hentikan! aku sudah selamat ayo kita pulang."ujar Alina.
Arthur pun menoleh pada Alina pria itu langsung merangkul pinggang wanita itu, dan meraih koper Alina juga tas wanita milik calon istrinya itu.
"Mulai sekarang jangan pernah menghubungi istriku lagi sekalipun keluarga kalian tengah sekarat."ujar Arthur.
pria itu langsung pergi meninggalkan rumah besar itu.
Sepanjang perjalanan menuju bandara Alina berada di dalam dekapan Arthur, dia tidak ingin membuat pria itu marah.
Sampai mereka tiba di dalam jet pribadi milik Arthur, pria itu tidak pernah membiarkan Alina menjauh darinya.
"Besok kita akan segera menikah."ujar Arthur.
"Terserah kamu bagaimana baiknya saja mas."ujar Alina yang pasrah dan tidak mau menentang keputusan pria itu.
"Bagaimana dengan tunangan mu."ujar Alina.
"Jangan bahas orang lain, hanya ada kita tidak akan ada orang lain."ujar Arthur tegas.
Alina tidak bicara lagi, wanita hanya diam.
"Yank kamu itu kenapa? kok diam."ujar Arthur setelah hampir tiga puluh menit Arthur tidak mendengarkan suara Alina lagi.
"Aku mau bicara apa? tidak ada yang harus aku katakan karena bahas masalah kita juga tidak boleh bukan jadi untuk apa? semua itu."ujar gadis itu.
"Heumm,,, kamu marah Yank, aku hanya tidak ingin kamu banyak pikiran biarlah aku saja yang mengurus semua itu."ucap Arthur.
"ya sudah jadi tidak ada yang harus dibahas lagi bukan."ujar Alina.
__ADS_1
"Banyak Yank,,, masadepan kita dan anak-anak kita kelak."ujar Arthur.
"Masih terlalu jauh mas... aku tidak ingin berandai-andai."ucap Alina.
Arthur terdiam mendengar jawaban dari Alina.
Sampai saat mereka tiba di bandara mereka pun hanya bersentuhan tangan yang kini saling menggenggam setelah tidak ada obrolan lagi.
Sampai saat mereka tiba di rumah Alina karena Alina bersikukuh ingin tinggal di rumahnya meskipun Arthur meminta dia untuk kembali ke rumahnya.
"Yank,,, kita akan menikah dulu sebelum aku kembali ke Eropa besok."ucap Arthur.
"Tidak itu bukan solusi, kamu bisa pergi kesana tidak akan pernah ada pernikahan karena aku tidak ingin menikah sebelum semuanya jelas."ujar Alina.
"Yank,,, kamu kok berubah pikiran lagi apa? kamu tidak percaya bahwa aku sangat mencintaimu dan akan tetap memilih mu."ujar pria itu.
"Aku sedang tidak ingin ribut, mas sudah dewasa harusnya mas tau bahwa wanita hanya ingin kejelasan."ucap Alina.
"Aku juga tidak ingin semuanya seperti ini, aku ingin memperjelas keadaan."ujar Arthur.
"Sampai saat itu jelas jangan memaksakan kehendak, aku tidak mau hidup terombang-ambing dalam ketidak jelasan."kata Alina tegas.
Alina langsung pergi meninggalkan Arthur yang terus memanggilnya.
"Aku tidak mau tau Yank pokonya besok kita menikah."ujar Arthur tegas.
"Mas jangan egois."ujar Arthur.
"Egois,,, justru kamu yang egois Yank, kamu tidak menghargai rasa cinta ku yang begitu besar ini."ujar Arthur.
"Cinta yang terhalang oleh tahta sampai kapan pun tidak akan pernah bisa terwujud."ucap Alina.
"Aku bisa melepaskan segalanya Yank, tapi tolong pikirkan mommy masih ada di sana dia terancam disakiti jika aku tiba-tiba mengatakan bahwa aku membatalkan rencana pernikahan dengan dia."ucap Arthur pelan.
"Selamatkan Aunty saja dan nikahilah dia, itu jauh lebih baik lupakan semua tentang kita anggap."
"Stop!! Aku bilang stop jangan katakan itu lagi besok kita akan menikah titik."ujar Arthur yang langsung pergi meninggalkan Alina.
Amarahnya memuncak karena wanita itu tidak pernah mau mengerti.
...***************...
Alina berjalan menuju balkon kamarnya dia berpegang pada pembatas balkon tersebut Alina menatap langit gelap tanpa bintang sampai tatapan mata itu beradu.
Arthur kini tengah berada di depan jendela kaca yang menjulang tinggi memperlihatkan pemandangan rumah Alina.
Arthur berbalik dan meraih ponsel di atas nakas, dia pun menghubungi Alina.
Selang beberapa menit kemudian Alina mengangkat panggilan tersebut, buka pintu aku mauasuk."ujar Arthur yang kini sudah berada di depan pintu rumah wanita itu.
"Sudah larut, untuk apa? datang."ujar Alina.
Wanita itu langsung berlalu saat Arthur masuk kedalam rumah.
Sementara Alina pergi ke dapur, dia ingin mengambil air mineral untuk dirinya dan Arthur.
"Untuk apa? kesini bukanya kamu ingin pergi besok."tanya Alina.
"Aku sudah putuskan kita akan menikah dan setelah itu kita akan pergi kesana sekaligus berbulan madu."ujar Arthur.
"Tidak,,,"aku tidak mau."ujar Alina.
"Yank,,, kamu cintai aku atau tidak sih."ujar gadis itu.
"Apa? perlu itu dipertanyakan setelah hampir dua tahun saling mengenal."kata Alina.
Alina pun pergi meninggalkan Arthur.
"Tunggu yank."panggil Arthur.
Pria itu langsung mengejar Alina yang kini berjalan menuju kamar tamu.
"Istirahat lah di sana ini sudah hampir pagi."ujar Alina.
Namun Arthur malah menarik Alina dan membawa wanita itu keatas ranjang.
Alina tidak sadar bahwa saat ini Arthur dalam pengaruh alkohol.
Pria itu benar-benar frustasi.
__ADS_1
"Apa? Aku harus melakukan ini lebih dulu agar kamu mau menikah dengan ku."ujar Arthur yang mencoba membuka kancing kemeja piyama yang kini ia kenakan sementara Alina terus berusaha untuk memberontak namun tangannya dikunci oleh Arthur di atas kepalanya.
"Jangan aku mohon jangan."ujar Alina yang terus mencoba melepaskan diri.
Namun pria itu tidak peduli seakan dia sudah kehilangan akal sehatnya.
Arthur berhasil merenggut kehormatan yang Alina jaga setelah Akbar.
Wanita itu hanya bisa terisak dibawah Kungkungan Arthur.
Sampai pria itu berhasil menanam benih kecebong di sawah yang tidak seberapa luas itu.
Alina masih terisak di samping Arthur tepat di dalam dekapan pria itu.
"I love you so much honey,,, I'm so sorry."lirih Arthur yang kini masih dalam pengaruh alkohol itu.
"Kamu tega lakukan ini mas, apa? Aku salah jika aku ingin mendapatkan kejelasan tentang hubungan ini. tapi kamu malah tega berbuat semaunya."ujar wanita itu.
"Aku tidak tau lagi harus bagaimana honey, aku takut kehilanganmu.... menikahlah denganku."ucap Arthur.
"Tidak,,,"lirih Alina.
Namun pria itu malah semakin menjadi dia kembali melakukan hal itu, dia tidak perduli dengan Alina yang kini terus berontak.
"Aku bilang aku tidak suka penolakan,"ucap Arthur, akhirnya Alina pun tidak bisa menolak percintaan itu terjadi berulang kali hingga akhirnya pagi menjelang siang asisten pribadi nya datang membawa seorang penata rias pengantin.
Sementara akad nikah itu akan dilakukan sebentar lagi.
Alina kini tengah berendam di dalam bathtub-e sambil memejamkan matanya, Air mata itu terus berlanjut saat mengingat dosa yang telah ia lakukan tadi.
Wanita itu pun hanya bisa pasrah dengan apa? yang akan terjadi kedepannya nanti karena semua itu adalah sebuah pertanggung jawaban.
Alina masih berada di dalam kamar mandi sampai saat Arthur datang mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
"Honey ayolah jangan seperti ini, ayo keluar kita akan mempertanggung jawabkan semuanya."ujar gadis itu.
Alina sudah keluar, meskipun sudah menjadi dan sudah jauh lebih fresh namun wajah cantik itu terlihat sembab dan tidak baik-baik saja.
"Pergilah,,, tidak usah melakukan hal itu, aku sudah memutuskan untuk tetap menyendiri."ucap Alina.
"Tidak Alina! Aku tidak akan pernah melepaskan mu."ujar Arthur dengan nada tinggi.
"Mas kamu sadar perbuatan dosa itu tidak akan pernah hilang meskipun kita melangsungkan pernikahan."ucap Alina.
"Semua aku yang akan menanggung itu sayang sekarang kamu lebih baik bersiap penghulu sudah menunggu kita."ujar Arthur tidak bisa ditolak.
Alina tidak mendengarkan kata-kata Arthur dia memang pergi ke walk-in closed namun Alina tidak menggunakan kebaya itu dia malah menggunakan daster rumahan.
Saat wanita itu keluar hendak ke arah meja rias, Arthur menatap tajam kearahnya.
Brak...
Pecahan kaca itu berserakan seketika, Alina langsung melihat ke arah pria yang kini tengah menatap tajam kearahnya.
"Baiklah Alina tetap dengan keras kepalamu karena dengan begitu berarti kamu pun menginginkan kematian ku."ujar Arthur yang kini meraih pecahan kaca itu.
"Mas kamu apa-apaan lepas aku mohon jangan lakukan ini."ujar Alina yang kini melihat Arthur hendak memotong urat nadinya.
"Tidak Alina, lebih baik aku mati saja. sebagai seorang pria aku benar-benar tidak berguna aku tidak mau hidup lagi jika kamu pun memutuskan hubungan ini."ucap pria itu.
"Baiklah-baiklah, aku akan bersiap oke tolong lepaskan itu."ujar Alina yang kini berusaha untuk menggenggam tangan Arthur yang hendak dia lukai.
Arthur pun melepaskan pecahan kaca itu. Alina pun menurut untuk bersiap hingga dia menggunakan kebaya modern yang kini terlihat sangat cantik semakin menyempurnakan kecantikan wanita itu.
Alina pun di papah oleh kedua orang MUA itu berjalan menuju lantai bawah yang sudah di sulap dengan cantiknya oleh petugas wedding organizer yang entah kapan mereka mengerjakan itu dengan sangat singkat.
Dekorasi yang simpel namun mampu memberikan kesan elegan dan berkelas.
Meskipun hanya sebagian kecil ruangan itu disulap dengan sangat cantik.
Alina kini didudukkan di samping Arthur Arthur pun mulai di tuntun oleh penghulu untuk membaca do'a terlebih dahulu setelah itu dia pun mulai membacakan ikrar pernikahan yang disebut dengan ijab kabul dengan satu tarikan nafas dia berhasil mempersunting Alina yang sangat ia cintai itu.
Alina pun kini sah menjadi istri Arthur dan cincin pernikahan itu sudah melingkar di jari Allah manis Alina.
Arthur memberikan mas kawin sebuah rumah megah dan juga seluruh isinya termasuk mobil-mobil mewah yang ada di sana.
Wanita itu kini tengah duduk bersama dengan Arthur menikmati sarapan pagi yang sudah terlewat.
"Sayang,,, bersiaplah hari ini juga kita akan pindah ke rumah kita."ujar Arthur.
__ADS_1
"Aku mohon jangan hari ini."ujar Alina.