
Namun kebahagiaan itu seketika menjadi kesedihan yang mendalam bagi ketiganya. begitu juga Arthur yang kini masih belum bisa melihat dengan jelas.
Alina yang kini sudah diperbolehkan pulang, karena demi kebaikan meskipun tubuhnya masih membutuhkan terapi khusus karena saat ini seluruh tubuh Alina masih terasa kaku mungkin karena pengaruh koma atau karena hal lainnya.
Alina kini masih berbaring di atas ranjang, meskipun sesekali dia akan bangun dibantu oleh Luna atau Arthur maupun perawat yang ditunjuk oleh rumah sakit untuk membantu melakukan terapi pada Alina.
Meskipun Alina tidak ingat apa-apa termasuk dengan dirinya sendiri tapi dia cukup menuruti perkataan Arthur karena suara itu yang selama ini ia sering dengar dan meminta dia untuk kembali dan bertahan hidup.
Alina pun merasa yakin bahwa apa? yang dikatakan oleh Arthur dan orang di sekelilingnya adalah sebuah kebenaran meskipun dirinya tidak mengingat satupun kejadian yang ada di masalalu nya itu.
Alina kini sering meminta Luna untuk membawakan sebuah cermin untuk melihat wajah nya.
Luna sebelumnya merasa ragu untuk memberikan itu pada Alina. karena Luna takut Alina bersedih saat melihat beberapa bekas luka goresan yang cukup dalam.
Tapi saat Alina bercermin lalu menatap wajah dari ketiga anak yang di katakan sebagai anaknya itu. Alina pun tersenyum.
Dia yakin jika bekas luka itu hilang dirinya akan benar-benar mirip dengan kedua bocah laki-laki itu, dan untuk Alana Alina melihat wajah Arthur disana.
"Mommy sedang lihat apa? apa? ada yang salah dengan kita."Tanya Arion yang mewakili pertanyaan dari kedua adiknya itu.
Alina hanya tersenyum lalu menggeleng pelan.
Arthur datang di dampingi oleh Jenny, pria itu baru selesai makan malam dan minum obat dia langsung duduk di tepi ranjang di samping sang istri.
"Sayang sudah makan."ucap Arthur lembut.
"Heumm....ya, tadi sama Luna."ucap Alina lembut.
"Mari kita istirahat, anak-anak daddy dan mommy yang baik hati dan sangat pengertian kalian bertiga mau tidur disini atau di kamar kalian heumm."ucap Arthur.
"Dikamar kami saja daddy biar mommy dan daddy istirahat dulu."ucap Alana.
"Heumm princess daddy memang sangat pengertian dan baik hati sini cium dulu mommy dan Daddy."ucap Arthur.
"Ya,,, daddy Alana dan kakak sayang kalian."ucap Alana yang mengecup bibir kedu orang tuanya. begitu juga dengan Arthur dan Alina yang memberikan kecupan di seluruh wajah ketiga anak mereka.
Alina seakan merasakan sesuatu yang sebuah kebahagiaan yang mungkin bukan baru kali ini dia rasakan.
Arthur mendekat ke arah Alina setelah itu ia mengecup bibir istrinya yang kini mematung padahal sudah beberapa kali Arthur melakukan itu.
"Istirahat lah Honey, besok kamu harus kembali menjalani terapi, setelah kamu bisa bergerak normal kembali kita akan pergi ke Eropa bersama dengan anak-anak kita."ucap Arthur sambil tersenyum manis.
Arthur juga mengecup kening Alina yang kini memejamkan mata.
Meskipun serasa asing tapi suara Arthur selalu membuat jantung Alina bergetar.
Alina pun mengangguk meskipun terlihat samar di mata Arthur kini wanita itu pun mengalungkan tangannya di leher Arthur seperti biasanya bukan untuk berciuman melainkan untuk mempermudah Arthur membantu dirinya untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Setelah Alina terbaring di ranjang, akhirnya Arthur menyusul.
Setelah itu Arthur langsung bergegas meraih selimut yang ada di ujung kakinya itu membenarkan selimut tersebut.
"Mas apa? setiap malam kita selalu tidur bersama."ucap Alina lirih.
"Tentu saja Sayang, dulu saat masih sehat dan baik-baik saja bahkan kita tidak pernah melewatkan hubungan intim."jawab Arthur.
"Heumm,,, maafkan aku mungkin untuk saat ini dan dalam waktu yang lama tidak bisa melakukan itu."ucap Alina.
"Heumm... ya kamu benar sayang, kita tidak akan melakukan hal itu untuk saat ini tapi tidak apa-apa sayang yang penting kamu baik-baik saja dan segeralah sembuh."ucap Arthur lembut sambil membelai pipi Alina.
Alina pun mengangguk pelan sambil memejamkan matanya.
Rasa kantuk keduanya kini mulai datang hingga akhirnya mereka tertidur pulas saling berpelukan.
Sementara itu di kamar lain kedua pasangan selisih 12 tahun itu kini tengah menikmati indahnya surga dunia. Jenny yang terlihat semakin seksi dengan fisik yang ramping dan padat itu pun mampu mengimbangi sang suami yang masih jauh lebih muda darinya.
Keduanya kini tengah merajut cinta diatas ranjang empuk yang merupakan tempat baru di rumah Arthur.
Arda tidak pernah memberikan kesempatan pada Jenny untuk istirahat meskipun saat ini Jenny sudah berulang kali menuju puncak.
Hingga di puncak ke lima Arda baru menyusul. sungguh pria tangguh yang perkasa Arda pun berbaring sambil memeluk tubuh istrinya yang kini tengah kelelahan itu.
__ADS_1
"Honey,,, masih mau lanjut tidak."ucap Arda berbisik dengan suara parau terdengar penuh gairah.
Jenny pun tersenyum manis."Tunggu sebentar lagi ya sayang aku masih sangat lelah."ucap Jenny.
Arda pun tersenyum manis pada istrinya lalu memberikan kecupan hangat di kening istrinya itu.
"Tidur lah sayang aku tak akan memaksa jika kamu lelah."ucap Arda.
"Yank,, kamu bisa cari istri lain untuk memuaskan mu, aku sadar aku sudah sangat tua."ucap Jenny .
"Kamu bicara apa? sayang aku memilih mu karena aku mencintaimu bukan karena aku ingin memuaskan hasrat sesaat ku. jika aku mau itu sudah sejak awal aku menikah dengan wanita lain! tapi aku ingin mencari istri yang bisa membuat ku merasa nyaman dan bisa menerima segala kekurangan ku."ucap Arda.
"Kurang apa? sayang kamu cukup kaya, dan tampan tidak lupa kamu juga sangat gagah perkasa. rasanya aku adalah wanita paling beruntung di dunia ini bisa memiliki istri tampan dan gagah seperti dirimu."ucap Jenny jujur meskipun dulu Daniel juga begitu tapi Daniel mengkhianati dirinya.
"Jangan buat aku malu sayang, suamimu terdahulu bahkan lebih sempurna dariku segalanya."ucap Arda yang tahu siapa? suami dari Jenny ayah dari Arthur yang bahkan jauh lebih sempurna darinya.
"Tapi dia pengkhianat."lirih Jenny yang terlihat kilatan luka dari mata Jenny yang terlihat menerawang.
"Sudah kita tidak usah bahas yang tidak penting, menikah dengan wanita sempurna seperti dirimu membuat ku merasa menjadi manusia yang jauh lebih baik."ucap Arda.
Arda pun memeluk erat istrinya hingga mereka tertidur pulas.
Apalagi yang akan dicari oleh Arda jika bukan kebahagiaan. karena jika terus mengikuti hawa nafsu semua itu tidak akan pernah ada habisnya karena ketidak puasan adalah sifat manusia yang alamiah.
Sekarang hidupnya sudah sangat sempurna.
...***********...
Hari demi hari Arthur lewati penuh kesabaran dan kebersamaan, bersama dengan sang istri mereka berdua berobat bersama.
Kini mata Arthur sudah kembali normal bisa melihat begitu juga dengan Alina yang kini sudah bisa bergerak bebas meskipun gerak itu masih dibatasi dokter yang merawatnya untuk menjaga kesehatan fisik Alina dokter menyarankan agar Alina melakukan semuanya perlahan-lahan.
Arthur sendiri kini sudah kembali bekerja bersama dengan asisten pribadinya.
Dia akan pergi pagi dan pulang sore hari seperti biasanya.
Alina pun akan berusaha bersikap normal seperti biasa dia menyambut Arthur saat pulang kerja dan menemani dia sarapan saat pagi hari sebelum berangkat ke kantor dan malam hari seperti biasanya.
Sementara Luna ataupun Arthur tidak pernah memberitahu bahwa ia mengenal Junior. bahkan Arthur mengganti apapun yang berkaitan dengan itu.
Saat ini Alina tengah fokus menjalani perawatan untuk menghilangkan bekas luka.
Arthur pun melakukan yang terbaik untuk istrinya itu karena dia tidak ingin Alina merasa tidak percaya diri karena hampir lima puluh persen kecantikan itu tertutup oleh bekas luka.
Meskipun Arthur tetap mencintai istrinya walaupun wajah atau tubuh Alina penuh dengan bekas luka. karena bagaimanapun Arthur mencintai istrinya sekaligus dengan kekurangan dan kelebihannya.
Arthur kini hanya ingin yang terbaik untuk istrinya itu.
Hari-hari yang dijalani untuk itu pun tidaklah mudah tapi Alina tetap melewati itu dengan semangat yang kuat yaitu untuk kebaikan dirinya dan juga kebaikan rumah tangga yang seperti baru kembali.
Arthur akan mengosongkan jadwalnya setiap kali Alina hendak melakukan perawatan.
Sampai saat dua bulan berlalu kini bekas itu telah hilang sempurna, ada yang sedang jalan operasi bagi bekas luka yang cukup dalam ada juga yang lewat laser untuk menghilangkan sel kulit mati juga perawatan kecantikan kulit lainnya.
Alina kini kembali seperti Alina yang dulu meskipun mungkin ada sedikit perubahan yang terjadi karena kecelakaan itu.
Setidaknya Luka di bagian tubuh dan wajah itu sudah selesai dikembalikan ke semula.
Alina pun kini sudah kembali pede untuk bisa bersanding dengan Arthur yang kini berambut gondrong.
Alina melihat model rambut suaminya yang dulu dan sekarang memang jauh berbeda, saat ini Arthur bahkan akan mengikat rambutnya itu seperti pria gondrong pada umumnya.
Tapi Alina mengajak suaminya untuk potong rambut sekaligus membersihkan jambang halus yang tumbuh di bagian rahangnya itu.
Arthur yang memang menantikan perhatian dari istrinya itu pun dia menyambut baik hal itu, dengan senang hati.
Alina dan Arthur pun pergi meninggalkan rumah bersama dengan ketiga anak nya, Luna dan asisten pribadinya itu.
Saat ini senyum bahagia terlihat dari semua orang yang ada di dalam mobil tersebut.
Sesampainya di sebuah salon terbesar di kota tersebut, Arthur dan Alina disambut dengan ramah begitu juga dengan anak-anak yang juga akan potong rambut.
__ADS_1
Luna pun diminta oleh Alina untuk melakukan perawatan namun gadis itu menolak dia bilang lain kali dia akan melakukan hal itu.
Luna kini pamit untuk berjalan-jalan di sekitar area salon tersebut dia memainkan handphonenya sambil terus berjalan tanpa melihat ke arah depan.
Karena jalanan lebar dan tidak ada undakan atau turunan gadis itu yakin akan berjalan dengan aman.
Tiba-tiba saja dari arah samping .
Duk...
Lengan Luna berbenturan dengan sesuatu yang sedikit keras.
"Nona kalau jalan itu lihat-lihat orang lewat kamu hadang,,, memangnya saya ini penjahat apa?."ucap pria yang sudah tidak asing suaranya di kuping Luna saat ini.
"A Anda."ucap Luna.
"Ya, ini saya,,, selamat anda mendapatkan pertemuan yang kesekian kalinya."ucap Aksan.
Luna tidak menggubris perkataan pria itu dia kembali fokus pada handphonenya sambil berjalan, tapi kemudian dia kembali melirik ke belakang saat melihat pertemuan dua sejoli yang kini tengah saling sapa dengan mesranya.
Aksan yang kini merasa di perhatikan pun melirik ke arah gadis yang bertabrakan dengannya tadi.
"Ah baik tuan, saya akan mencarikan yang anda inginkan saat ini. kalau begitu saya pamit pulang dulu."ucap Luna yang kembali ke arah belakang sambil pura-pura tengah menerima telepon dari seseorang.
Padahal jelas-jelas handphone tersebut dalam keadaan mati.
Luna pun akhirnya bisa pergi dengan lega dari kedua orang yang membuat matanya itu merasa kelilipan debu.
Sementara itu di hati Aksan ada rasa pegal yang teramat sangat saat tiba-tiba dia dicuekin oleh orang yang selama ini ia kenal dan kehadirannya di rumah sakit pun sering dia rindukan.
Entah karena Aksan kehilangan lawan bercanda atau memang karena dia memiliki hal lainnya.
Aksan pun mengirim pesan pada Luna meninta dia untuk bertemu di sebuah tempat.
Namun pesan itu bahkan tidak dilihat sama sekali.
Luna kini tengah duduk di hadapan pria yang kini tengah sibuk dengan laptopnya itu.
"Apa? tidak ada kesibukan lain."ucap pria bule asal Swiss itu yang kini sudah fasih berbahasa Indonesia.
"Tidak ada tuan aku sedang menunggu ketiganya yang kini tengah potong rambut bersama dengan tuan."jawab Luna.
"Heumm,, boleh minta tolong belikan aku kopi."ucap pria itu.
"Ya, baik'lah."ucap Luna sambil berjalan menuju kedai kopi Starbucks itu.
Tiba-tiba Luna lupa bertanya kopi apa? yang pria itu mau saat ini karena pria itu punya beberapa pilihan kopi.
Akhirnya Luna membeli dua gelas cup kopi yang berbeda.
Saat hendak kembali, tiba-tiba langkahnya dicegat oleh Aksan yang kini ingin membeli kopi.
"Kenapa? hanya beli dua untukku mana."ucap Aksan dengan sengaja.
Anda bisa pesan sendiri tidak masalah bukan, lagipula kita datang tidak bersama begitu juga beli kopi harusnya masing-masing."ucap Luna yang pergi begitu saja.
"Luna aku tau kamu sedang cemburu ya,,kan?."ujar Akan.
Tiba-tiba Luna menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan kemudian berkata."Maaf saya tidak punya waktu untuk itu."ucap Luna.
"Heumm.... benarkah?."ucap Aksan lagi.
"Heumm,,, terserah permisi kekasih saya sedang menunggu."ucap Luna dengan cueknya.
Sontak Aksan mengepalkan tangannya, jelas sudah saat ini dirinyalah yang cemburu terhadap Luna. secara yang dia tahu pria yang dipanggil dengan sebutan Aonan itu adalah pria bule yang memiliki paras tampan.
Akan langsung memesan kopi saat itu juga dia bahkan memilih kopi hitam tanpa gula. yang rasanya lebih pahit dari kenyataan bahwa wanita itu bersikap cuek padanya.
"Sepertinya dia menyukaimu."ucap pria bule itu tiba-tiba.
"Suka bercanda ia, tapi ada tapinya."ujar Luna.
__ADS_1
Pria itu pun menatap bingung meminta jawaban.