Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 31


__ADS_3

Arthur membuktikan ucapannya saat ini bahwa akan ada seseorang teman yang merupakan seorang perancang busana untuk datang karena diperintahkan oleh Arthur untuk membuat dress wanita hamil untuk istrinya itu.


Alina yang kini didampingi oleh asisten pribadinya itu kini tengah mengobrol sambil memilih model dress yang Alina inginkan, tidak hanya itu, Arthur juga meminta wanita kemayu itu untuk membuat gaun untuk pesta ulang tahun perusahaan miliknya yang akan diadakan satu minggu lagi.


Arthur sendiri saat tengah berada di sebuah tempat dimana dia tengah menyelesaikan masalah perusahaan yang lumayan besar itu.


Kini Arthur tengah menghadapi para tikus yang sudah membuat dia mengalami kerugian besar.


Arthur dibantu oleh seorang teman yang dulu pernah Arthur selamatkan.


Dia seorang putra dari ketua mafia yang ada di negara tersebut, Arthur sebenarnya tidak berniat untuk meminta bantuan darinya tapi pria itu datang menemuinya dan menawarkan bantuan padanya.


Bantuan dengan rasa persaudaraan yang dia miliki saat ini.


Sementara itu di gedung apartemen yang sama, Junior sudah berada di sana untuk mengejar wanita yang sangat ia cintai selama beberapa hari ini.


Pertemuan dirinya dengan Alina sungguh membuat dia berambisi untuk mendapatkan wanita itu.


Arthur sendiri tidak tahu itu, bahwa Junior datang demi istrinya karena yang dia tau jika Junior juga memiliki perusahaan sendiri dinegara tersebut.


Saat orang dari butik pulang tiba-tiba bel kembali berbunyi.


Alina yang baru saja hendak masuk kedalam kamar, tiba-tiba langkahnya terhenti saat seseorang masuk tanpa izin setelah asisten pribadinya membuka pintu.


"Junior, kamu juga disini."ucap Alina kaget.


"Ya, aku datang karena aku sangat merindukan mu bidadari."ucap Junior yang tiba-tiba saja memeluk Alina tanpa aba-aba.


"Junior jangan sembarangan."ucap Alina yang mendorong Junior seketika itu.


"Kenapa? honey apa? ada masalah."ucap Junior.


"Jun aku sudah bersuami, dan kau harus tau bahwa aku sudah bersuami."ucap Alina.


"Alina,,, bukankah kita teman, jadi apa? salahnya memberikan pelukan sebagai teman."ucap pria itu.


"Tidak-tidak Jun, itu jelas tidak boleh karena selain dosa itu juga akan menimbulkan fitnah dan masalah yang berkepanjangan."ucap Alina.


"Heumm baik'lah maafkan aku."ucap Junior yang kini malah merangkul pinggang Alina erat.


"Jun stop jangan sentuh oke, jika kamu masih ingin kita bertemu."ucap Alina yang kini memberikan peringatan.


"Alina, lalu apa? yang boleh aku lakukan terhadap mu."ucap Junior.


"Tidak ada, kamu hanya boleh duduk di sofa ruang tamu kita hanya bisa sebatas mengobrol no sentuhan."ucap Alina.


"Al aku ini bukan kuman seperti wanita yang tidak boleh menyentuhku."ucap Junior.


"Tuan Junior yang terhormat tapi itulah hal yang harus kamu patuhi jika ingin berteman denganku tapi jika tidak silahkan keluar."ucap Alina tegas.


"Alina, kenapa? kamu sekejam ini padaku, aku hanya ingin berbagi dengan kamu dalam hal apapun, tapi jika aku harus menjaga jarak bagaimana? caranya aku bisa membuat mu tenang jika kamu nanti menangis."ucap Junior.


"Itu tidak akan pernah terjadi untuk yang kedua kalinya aku akan pastikan itu."ucap Alina.


"Junior satu lagi, suamiku sebenarnya melarang aku menemui siapapun termasuk dirimu! tapi aku tidak mungkin sejahat itu. jika tiba-tiba aku harus mengusir dirimu jadi tolong mengertilah semua harus ada batasnya."ucap Alina.


Junior tidak bicara saat ini dia tengah menatap lekat wajah cantik yang tengah berbicara padanya.


Sementara itu di kantor, Arthur tengah marah besar karena ternyata Junior mendatangi istrinya itu.


Arthur yang baru saja selesai meeting tersebut langsung bergegas menuju apartemen dengan mobilnya sendiri tanpa asisten pribadinya itu.


Arthur terus melampiaskan kemarahannya saat dia sedang menyetir mobil.


Sementara istrinya kini tengah mengobrol dengan Junior yang seolah tak mau mengerti.


Pria itu tetap ngotot menyentuh wajah dan tangan Alina, meskipun itu dengan alasan tidak sengaja.


Alina yang berkali-kali menghindarinya pun kini sudah berada di seberang Junior.


"Alina aku bukan virus, maafkan aku jika aku selalu lupa dengan larangan itu. tapi aku hanya ingin meyakinkan apa? benar alergi yang aku alami saat bersentuhan dengan orang lain itu tidak bereaksi jika itu adalah dirimu."ucap junior.


"Jun, maaf aku! bukan dokter.... kamu tidak bisa menjadikan aku sebagai percobaan untuk penyakit langka mu itu."ucap Alina.


"Come on Alina, please sebentar saja, tolong sentuh kulit leher ku sebentar saja."ucap Junior.


"Jun... sebaiknya kamu pulang oke."ucap Alina yang kini tengah menahan marah dan takut.


Alina marah karena sikap Junior yang seolah tetap tidak perduli dengan peringatan Alina saat ini.


Sampai saat Arthur tiba, Alina terperanjat kaget, dia tidak menyangka jika suaminya akan pulang di saat dia tengah sibuk bekerja.


"Ada tamu tak diundang rupanya."ucap Arthur yang kini terlihat sangat marah.


"Mas aku akan buatkan minum."ucap Alina.


"Tidak perlu honey, duduklah."ucap Arthur.


"Ada keperluan apa? Anda datang kemari."ucap Arthur.

__ADS_1


"Tentu saja untuk calon istriku."ucap Junior.


"Apa kau tidak salah bicara?."ucap Arthur.


"Tentu saja tidak."jawab Junior enteng.


"Siapa? disini calon istr anda."ucap Arthur.


"Bidadari ku, yang ada di samping mu."ucap Junior.


"Jun jangan bicara sembarangan."ucap Alina.


"Kenapa? honey, apa? kurangnya aku."ucap Junior.


"Sebaiknya kamu pulang."ucap Alina lagi.


"Aku akan pulang tapi dengan dengan mu honey."ucap Junior sambil tersenyum manis.


Arthur langsung beranjak dari duduknya dia langsung meraih jas milik Junior yang kini membalas perlakuan Arthur.


"Stop!! jangan seperti ini, kalian sudah dewasa jangan seperti anak kecil lagipula aku sudah katakan padamu Jun, aku sudah bersuami."ucap Alina yang kini hendak memisahkan keduanya.


"Jangan panggil dia seperti itu honey, dia bukan siapa-siapa ku."ucap Arthur.


"Jangan dengarkan dia sayang."ucap Junior.


Bugk....


Bugk...


Pukulan itu mendarat di wajah dan perut Junior.


"Stop mas jangan lakukan itu.... aku mohon Stop."ucap Alina berteriak.


"Biarkan dia puas memukul ku sayang, karena setelah ini dia pun harus siap kehilangan mu."ucap Junior.


"Jangan pernah bermimpi bajingan!!! sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan mu mendapatkan istriku, dia milikku satu-satunya."


Bugk...


Lagi-lagi Arthur hilang kendali saat mendengar Junior berbicara semaunya.


"Stop! Arthur aku mohon berhenti Stop!."ucap Alina yang kini menjerit dan menangis karena tidak ingin ada yang berkelahi.


Arthur pun menghentikan itu tapi Junior malah kembali menantang dirinya.


...**************...


"Junior hentikan."ucap Alina.


"Honey masuk ke kamar mu."ucap Arthur yang kini berjalan mendekat ke arah asisten pribadi Alina dia mengambil sesuatu yang kini langsung Arthur todongkan pada Junior.


"Jika kamu benar-benar ingin mati maka tetaplah disini."ucap Arthur.


"Tidak sayang jangan lakukan itu, jangan mengotori tangan mu honey."ucap Alina yang kini menghadang Arthur agar tidak berbuat semena-mena terhadap Junior atau siapapun karena itu juga akan menimbulkan kerugian besar untuk mereka berdua.


Alina kini memeluk Arthur, perlahan dia mulai membingkai wajah suaminya yang lebih tinggi darinya itu.


"Alina jangan lakukan itu sayang, hatiku sakit jika harus menyaksikan ini."ucap Junior.


"Jun pulang sekarang juga aku mohon jangan buat semua semakin kacau."ucap Alina.


"Tidak sayang aku akan pergi setelah kamu memberikan aku kepastian tentang hubungan ini sayang."ucap Junior.


"Hentikan Junior kamu jangan pernah bicara sembarangan, kita hanya berteman dan tidak lebih, tapi jika kamu tidak menurut persahabatan ini batal."ucap Alina.


"Baik sayang baik persahabatan tetap ada aku mohon jangan batalkan itu atau kamu akan tahu akibatnya."ucap Junior.


Pria itu sungguh tidak bisa diajak kompromi lagi, saat ini Alina hanya berharap pria itu pergi sejauh mungkin.


Arthur langsung membawa Alina kedalam kamar dia memindai tubuh istrinya itu dari atas sampai kebawah.


"Tidak apa-apa sayang dia tidak melakukan kekerasan padaku."ucap Alina.


"Sekarang juga bersiaplah kita akan pindah ke Mension."ucap Arthur.


"Tapi bukankah Mension itu milik daddy mu."ujar Alina.


"Itu milikku warisan dari Omah."ucap Arthur.


"Tapi disana ada dua."ucap Alina lagi.


"Daddy di Swiss sayang, lagipula dia tidak akan peduli dengan keberadaan kita."ucap Arthur.


"Baiklah."ucap Alina.


Sementara itu di kediaman Junior saat ini dia tengah mengobati luka lebam di bagian wajahnya itu.


Dia dibantu asistennya yang kini menggunakan sarung tangan yang sudah steril.

__ADS_1


Pria itu tetap waspada pada kebersihan dirinya saat ini.


Dia tidak tahu jika saat ini, Arthur dan Alina tengah bersiap untuk pergi.


Sementara itu di Indonesia, Jenny kini tengah berada di Mension milik Arthur dia sengaja datang bersama dengan Arda untuk memberitahukan niat baiknya itu, tapi sayang saat dia sampai di sana Arthur sudah tidak ada bersama menantunya itu.


Jenny hanya mendapatkan informasi bahwa saat ini keduanya pergi ke Eropa untuk urusan bisnis.


"Sayang sudahlah ayo kita kembali lain kali saja."ucap Arda.


"Tapi Yank, sepertinya Arthur benar-benar marah dia bahkan tidak memberitahu kepergian mereka padaku."ucap Jenny sedih.


Arda tidak bisa melihat cintanya itu bersedih dia langsung memeluk istrinya itu.


"Sayang, mereka pergi untuk perjalanan bisnis bukan untuk tinggal disana selamanya. jadi jangan bersedih seperti ini oke Honey."ucap Arda.


"Semoga saja sayang, karena aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain putraku, karena setelah aku lebih tua nanti kamu pun pasti akan meninggalkan ku."ucap Jenny.


"Yank, kamu bicara apa? Jangan ngawur begitu... aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu apapun yang terjadi apalagi hanya karena urusan usia. aku juga akan akan menua dan tidak akan abadi seperti ini terus untuk selamanya."ucap Arda meyakinkan bahwa cintanya itu tulus.


Jenny pun kini memeluk erat pria yang kini tengah mengecup puncak kepalanya.


Arda pun membawa Jenny kembali bersamanya menuju kediamannya.


"Sayang aku kesepian jika kita kamu pergi bekerja."ucap Jenny.


"Lalu kamu maunya aku bagaimana? honey."tanya Arda.


"Aku ingin mengambil anak asuh apa? boleh."tanya Jenny.


"Yank, kamu ingin kita punya anak."ucap Arda.


"Heumm itu sudah tidak mungkin Ar, kecuali jika kamu menikah lagi."ucap Jenny.


"Apa? itu tidak-tidak aku tidak akan pernah mengkhianati cinta kita."ucap Arda.


"Hanya bercanda sayang ku."ucap Jenny.


"Jangan menjadikan itu sebagai candaan sayang, karena aku tidak suka, aku ingin memperbaiki diri mulai sekarang hingga aku benar-benar menjadi lebih baik dari masalalu."ucap Arda.


"Terimakasih sayang atas niat baikmu."ucap Jenny.


"Sama-sama sayang, semoga semua akan baik-baik saja sampai akhir hayat kita nanti."ucap Arda.


"Heumm,,, baik'lah sayang jika kamu kesepian kenapa? kamu tidak ikut saja ke kantor bersamaku."ucap pria itu.


"Tidak sayang aku tak ingin merepotkan mu."ucap Jenny.


"Repot kenapa? sayang."ucap Arda.


"Kamu tidak akan bisa konsentrasi dalam bekerja jika aku berada di sana."ucap Jenny sambil tersenyum penuh arti.


Arda yang tau dengan sinyal percintaan itu dia langsung membawa istrinya itu masuk kedalam kamar utama milik mereka saat ini.


Padahal mereka baru saja tiba dari rumah Arthur.


Keduanya saling berpelukan sambil bercumbu mesra tak terpisahkan satu sama lainnya.


Arda pun mulai memejamkan mata, dia tengah melepaskan satu persatu apa yang kini melekat pada tubuh istrinya itu.


Sementara Jenny pun melakukan hal yang sama, keduanya begitu terbakar gairah.


Sampai saat keduanya terlihat polos saat ini keduanya melanjutkan perjalanannya menuju alam nirwana yang begitu indah itu.


Sementara itu di Swiss tepatnya di sebuah perusahaan saat ini Daniel yang sudah beberapa bulan ini kembali mengurus perusahaan, pria itu tengah sibuk berkutat dengan laptopnya sambil memangku Kasandra diatas pangkuannya.


Daniel bahkan tidak peduli jika istrinya kini tengah berbadan dua dan kehamilan nya sudah hampir menyulitkan Kasandra untuk bergerak bebas, tapi pria itu tetap memaksakan kehendaknya.


Hingga wanita itu mengeluh kelelahan, setelah bekerja keras untuk memuaskan suaminya itu.


Akhirnya Daniel meminta Kasandra pulang ke rumah, dan wanita itu pun menurut.


Tapi saat Kasandra pergi, pria itu langsung memanggil sekertaris yang super seksi itu.


"Ya tuan ada apa ada yang bisa saya bantu?."ucap Medina.


Daniel langsung mengunci pintu ruangan itu. dia langsung membawa Medina keatas meja.


Pria tua itu langsung menarik underwer milik gadis yang kini tengah mengerang nikmat karena pria itu memainkan puncak gunung kembar milik wanita itu dengan lidahnya.


Karena memang pakaian yang kini ia kenakan begitu terbuka dan memudahkan tuan Daniel menurunkan bra dari gunung kembar yang begitu besar itu.


Sampai saat penyatuan itu terjadi dengan begitu hebatnya keduanya benar-benar menggila mereka berpindah dari atas meja keatas sofa panjang lalu keruangan pribadi milik tuan Daniel dan terakhir di kamar mandi.


Tubuh molek dan super seksi itu, kembali membuat pria itu meminta lagi dan lagi.


Gila memang tapi itulah Daniel saat ini.


Pria itu bahkan sudah benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat, sejak perpisahan nya dengan Jenny yang selama ini menjadi cinta pertamanya itu.

__ADS_1


__ADS_2