Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 72


__ADS_3

Junior tengah duduk di depan pantry melihat Alina yang kini tengah masak.


"Sayang kamu mau masak apa?."ucap Junior.


"Makanan kampung Jun, aku juga tidak tau apa kamu suka atau tidak."ucap Alina.


"Heumm... sayang aku akan menyukai apapun yang kamu berikan."ucap Junior sambil menyeruput kopi tersebut.


"Eum...babe kopinya sungguh sangat enak."ucap Junior.


"Itu kopi biasa Jun, semua orang juga bisa buat itu sayang."ucap Alina.


Junior pun kembali menyeruput kopi itu, lalu kembali berkata."Honey tidak semua sama honey ”ucap Junior yang kini mendekat dan memeluk Alina dari belakang.


"Sayang aku sedang masak ini nanti kalau gosong bagai mana."ucap Alina.


"Aku hanya peluk sayang tidak menghalangi mu."ucap Junior yang kini meninggalkan kecupan di pundak Alina yang membuat Alina mematung sejenak karena ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan.


"Sayang boleh."ucap Junior yang juga tengah menahan sesuatu yang sangat bergejolak seperti saat ini.


"Tidak sayang,,, aku ingin setelah ada pernikahan."ucap Alina.


"Heumm.... baik'lah sayang."ucap Junior.


Alina pun melanjutkan masakannya hingga selesai setelah itu dia langsung menghidangkan makanan tersebut di atas meja.


Sementara itu Junior sedari tadi terus memperhatikan gerak-gerik Alina sambil sesekali tersenyum karena merasa sangat bahagia bisa merasa dicintai.


Alina pun menyajikan makanan tersebut di piring milik Junior.


"Honey bagaimana? caranya makan ini."ucap Junior yang belum pernah makan udang yang masih ada cangkangnya.


"Tunggu sayang aku kupas dulu."ucap Alina yang kini mengupas udang untuk Junior.


"Sayang kenapa? kamu tidak kupas sedari awal sebelum dimasak."ucap Junior.


"Junior sayang, ini jenis udang air asin kamu tau lobster kan jadi tidak mungkin dikupas sebelum dimasak karena dagingnya benar-benar menempel dan lebih sulit untuk dikupas."ucap Alina yang kini tengah mengupas lobster dan memberikan daging lobster tersebut pada Junior.


Junior, pun mencoba mengupas udang besar itu dengan cara yang sama dengan Alina.


Setelah berhasil dia langsung mencocol daging lobster itu ke saus yang terlihat sangat menggoda itu lalu menyuapi Alina dengan tangannya sendiri.


Alina pun menerima itu dengan senang hati, dia merasa Junior benar-benar sangat mencintai dirinya.


Alina pun melakukan hal yang sama dengan Junior, mereka terlihat begitu mesra dan seakan tak pernah memiliki beban pikiran.


"Jun kamu tinggal di hotel atau di Mension."ucap Alina.


"Heumm... ya sayang,,, aku tinggal di Mension."jawab Junior.


Mereka pun lanjut makan malam hingga semua makan yang terhidang tadi benar-benar habis karena Junior ketagihan dengan menu yang dibuat oleh Alina.


Sampai saat selesai makan Junior meminta semua anak buahnya pulang bersama dengan asisten pribadinya, dia masih ingin tinggal bersama kekasihnya itu karena dirinya benar-benar sangat merindukan Alina.


Pria yang bertubuh tinggi dan tegap itu begitu tampan di usianya yang ke 27 tahun itu.


Junior menggendong Alina menuju ruang santai, mereka pun mengobrol panjang lebar membahas rencana pernikahan mereka.


Alina pun hanya bisa mengikuti apa? yang Junior, katakan karena dia tidak punya pilihan untuk membantah pria itu.


Alina seolah seperti anak gadis polos yang harus mengikuti perkataan Junior entah kenapa? dia juga tidak bisa membantah apa pun yang dikatakan oleh Junior yang kini tengah memangku dirinya.


"Jun,,, sayang kamu tidak apa-apa menikah dengan janda beranak tiga seperti ku yang bahkan sudah melalui banyak kepahitan dalam hidup ku, aku takut kamu akan menyesal dan tidak akan mencari wanita lain."ucap Alina jujur.


"Heumm... sayang ku, jangan pernah berfikir yang tidak-tidak karena aku tidak akan pernah menduakan mu."ucap Junior.

__ADS_1


"Ya, sayang bagaimanapun kamu itu masih sangat muda dan aku sudah tua."ucap Alina.


"Alina sayang ku, usia kita hanya beda dua tahun dan kamu juga masih muda."ucap Junior sambil mencolek hidung mancung calon istrinya itu.


"Yank... kamu bisa pulang, aku mau istirahat besok pagi aku harus bangun pagi-pagi sekali karena jarak rumah dan sekolah tempat aku mengajar."ucap Alina.


"Tidak ada bekerja sayang atau aku tutup sekolah itu."ucap junior tegas.


Alina pun langsung menatap pria yang kini tengah menatap lekat wajahnya.


"Iya Jun,,, iya, tapi aku belum membatalkan itu karena harus datang langsung, aku tidak punya handphone sayang jadi sulit untuk menghubungi mereka."ucap Alina.


"Tunggu sebentar."ucap Junior yang kini berjalan menuju ruang tamu tadi dia mengambil satu koper yang dia bawa tadi menghampiri Alina.


"Sayang ini oleh-oleh untuk mu, disana ada barang yang kamu butuhkan kamu bisa menelfon mereka sekarang juga."ucap Junior.


"Heumm... apa? ini barang seserahan sayang."ucap Alina.


"Heumm... terserah kamu mau bilang apa? tapi barang seserahan pernikahan kita, nanti akan datang sebelum kita menikah."ucap Junior sambil tersenyum manis.


"Sayang kamu beli oleh-oleh sebanyak ini untuk siapa?."ucap Alina.


"Aku bawa itu tentunya untuk mu babe, lagipula jika bukan untuk mu, untuk siapa? lagi."ucap Junior.


Junior pun mulai memejamkan mata saat Alina sibuk membuka berbagai macam oleh-oleh yang menghabiskan uang miliaran itu, disana ada tiga tas baru limited edition dan harganya Alina tau sangat mahal.


Ada dua set perhiasan bertahtakan berlian, Alina ada beberapa beberapa dress dan gaun malam, tidak hanya itu adalah lingerie yang sungguh sangat seksi dan cantik.


Ada high heels dan sneaker. juga ponsel pintar yang benar-benar berharga di atas satu Milyar rupiah.


Alina menoleh pada Junior ingin protes tapi Junior sudah terlelap di sofa, entah benar-benar tidur atau menghindar dari protes Alina yang tidak akan pernah membiarkan hal itu.


Akhirnya Alina pun merapihkan kembali semua itu kedalam koper, dia merasa seperti wanita materialistis jika diperlukan seperti itu! karena semua terasa begitu berlebihan meskipun Junior begitu mencintai dirinya.


"Alina pun mengunci koper itu kembali. tanpa banyak berkata dia langsung pergi kedalam kamarnya tidak peduli dengan apa? yang akan dikatakan pria itu nanti.


Junior tidak melihat siapapun di dalam kamar, jadi dia berjalan menuju kedalam kamar mandi, tapi tidak ada Alina di sana.


Sampai saat ia melihat pintu walk in closed itu sedikit terbuka akhirnya Junior pun masuk kedalam sana, dia menyalakan lampu untuk melihat apa? ada seseorang di dalam.


Junior melihat pemandangan yang sungguh tidak ingin dia lihat, disana terdapat banyak stelan jas dan aksesoris yang masih tersimpan rapi milik Arthur dan baju-baju yang tersusun rapi juga di tengah Adi etalase yang memajang aksesoris milik Arthur.


...**********...


"Babe,,, apa? setelah berkali-kali ia menyakiti mu. kamu masih sangat mencintai dia."ucap Junior.


"Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana? dengan semua barang-barang itu Jun jangan salah faham."ucap Alina yang kini menangkap raut wajah kecewa dari Junior.


"Aku salah faham,,, bagaimana? Aku tidak salah faham Alina, setelah dua tahun lebih kalian berpisah kenapa? barang-barang itu masih kamu simpan."ucap Junior.


"Sayang aku bingung Arthur bilang biarkan itu tetap berada di tempatnya sampai dia datang untuk mengambil itu. jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa."ucap Alina.


"Kamu tau bagaimana dengan sifat dia yang plin-plan itu! dia sengaja ingin menggunakan itu untuk kembali padamu."ucap Junior.


"Kamu tidak percaya padaku Jun, lalu untuk apa? hubungan ini akan berakhir begitu saja."ucap Alina yang kini menatap lekat wajah tampan dengan guratan kecewa itu.


"Jangan bicara sembarangan Alina, aku tidak akan pernah mengakhiri hubungan kita sampai mati pun!."ujar Junior.


"Kamu bisa minta dia untuk mengambil semua ini langsung karena jika aku yang bicara,,, dia tidak akan pernah mau mengerti."ucap Alina.


"Tidak usah bicara tentang itu, dia punya rumah di sebelah dan jaraknya tidak terlalu jauh kenapa? rumah seluas itu tidak bisa menampung baju yang hanya akan menghabiskan satu ruangan saja."ucap Junior.


Junior pun menghubungi seseorang untuk menyuruh asisten pribadinya datang dengan beberapa orang pelayan untuk mengosongkan rumah itu dari barang-barang yang Arthur miliki.


"Jun, kita bisa urus itu besok pagi bukan karena aku sudah sangat mengantuk."ucap Alina.

__ADS_1


Tidak ada alasan babe,, jangan buat aku benar-benar marah karena aku tidak punya stok sabar jika berhubungan dengan orang lain."ucap Junior.


"Terserah kamu saja, urus saja semuanya termasuk koper yang kamu bawa tadi."ucap Alina tanpa menoleh lagi ke arahnya.


"Sayang apa? maksud mu."ucap Junior yang kini meraih tangan Alina yang kini berjalan cepat.


"Jun, sepertinya kita juga tidak cocok,,, karena kamu pun sama tidak pernah mengerti dengan perasaan ku,"ucap Alina tegas.


"Kamu bicara apa? babe jangan pernah berkata tentang semua itu lagi, aku tidak akan pernah menerima semua itu."ucap


"Junior jangan egois, aku tidak suka kamu menghamburkan uang untuk semua itu, aku tau aku tidak mampu membeli semua itu! tapi aku juga tidak suka memanfaatkan siapapun jika kamu tidak terima dengan penampilan ku yang apa? adanya kini sebaiknya kamu fikirkan dulu baik-baik untuk memilihku menjadi istri mu."ucap Alina yang kini melepaskan genggaman tangan Junior.


"Sayang,, aku tidak akan pernah melakukan itu lagi aku janji itu yang terakhir kalinya nanti aku hanya akan memberikan mu uang."ucap Junior.


"Kita belum menikah Jun, jadi simpan uang mu itu dan barang-barang itu aku sudah putuskan untuk bekerja sebelum kita benar-benar menikah nanti."ucap Alina yang tidak bisa di ganggu gugat.


"Aku membuat tempat itu gulung tikar jika kamu tetap bekerja Al."ucap Junior yang tidak kalah tegasnya.


Alina langsung terdiam dia juga tidak punya pilihan lain selain diam.


Junior langsung bergegas pergi meninggalkan Alina begitu saja, membuat wanita itu kebingungan.


Akhirnya Alina pun pergi menuju kamar kedua orang tua nya.


Sesampainya di sana dia berbaring di atas ranjang yang sudah lama tidak ia tempati itu dia pun menutup tubuhnya itu dengan selimut yang dia gunakan.


Sampai saat pagi datang menjelma menampakkan sinar matahari pagi yang sampai saat ini terlihat masuk ke celah gordeng kamarnya.


Sampai dia selesai mandi dan berganti pakaian akhirnya Alina pun pergi meninggalkan kamar milik kedua orang tuanya dan sudah rapi menggunakan dress selutut putih floral tersebut milik almarhum ibunya saat masih muda dulu.


Baju yang masih tersimpan rapi dan sudah puluhan tahun lamanya tapi masih tetap bagus dan tidak ada cacat sedikitpun.


Alina bahkan sudah menyanggul rambut itu seperti sanggul pramugari dia juga menggunakan kacamata lawas milik ibunya berwarna hitam tersebut yang semakin menambah kesan dewasa dan elegan pada Alina dengan lipstik berwarna merah marun yang benar-benar menggoda siapapun yang melihatnya.


Wanita itu berjalan hanya memegang handbag yang menyerupai dompet lawas itu dengan menggunakan seneker miliknya ia pun akhirnya pergi ke luar menuju garasi mobil setelah mengunci pintu.


Namun saat akan sampai di pintu garasi mobil, tiba-tiba sebuah mobil sport menghampirinya dan hampir membuat dia kaget.


"Jun."ucap Alia yang melihat pria itu berjalan menghampiri dirinya.


"Mau kemana? ucap Junior yang kini merangkul pinggang Alina dan mendaratkan kecupan di bibir yang sangat menggoda itu.


'Jun,,, jangan sampai lipstik itu menempel di bibir mu."ucap Alina yang kini menatap kearah Junior.


"Heumm... aku tidak peduli babe lagipula siapa? yang akan meminta mu menggunakan lipstik yang begitu menor ini."ucap Junior yang malah sengaja mencium bibir Alina luar dan dalam mengabsen rongga mulut Alina yang tidak bisa mengelak lagi.


Sampai saat dia puas dan melepaskan itu, akhirnya Alina harus merapihkan penampilan itu kembali, beruntung membawa tissue basah dan kering sampai saat Alina di larang menggunakan lipstik itu lagi dan akhirnya dia menggunakan lipstik yang natural.


"Jujur mau kemana? kamu sepagi ini."tanya Junior.


"Heumm... pergi sarapan pagi dan mencari pria."ucap Alina cuek.


"Berani kamu melakukan hal itu akan aku patahkan kaki mu."ucap Junior.


"Aku adalah seorang janda Jun, jadi sudah sepantasnya aku mencari kehidupan baru di luar sana."ucap Alina.


"Lalu apa? artinya aku bagimu honey apa!."tanya Junior dengan nada tinggi.


"Kamu sudah tahu alasannya Jun jadi tidak perlu buang-buang waktu lagi."ucap Alina yang hendak membuka pintu garasi namun pergerakan itu Junior hentikan.


Pria itu langsung membawa masuk Alina yang kini berteriak-teriak minta dilepaskan tapi jangan harap Junior mau melepaskan Alina.


Sampai saat wanita itu tiba di dalam mobil Junior yang langsung terkunci otomatis. Alina tidak bisa bergerak sedikit pun saat Junior mengungkung Alina di jok mobil itu.


"Aku akan menanam benih lebih banyak agar kita bisa langsung punya anak dan setelah itu kamu pun tidak akan pernah bisa pergi lagi."ucap Junior.

__ADS_1


"Jangan main-main Jun, jangan lagi mau berbuat dosa."ucap Alina.


"Aku tidak peduli dengan itu, saat wanita yang sangat aku cintai berniat pergi dariku."ucap Junior.


__ADS_2