Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.

Sepasang Cincin Untuk Dua Hati.
Bab 17


__ADS_3

Arthur pun tersenyum puas, setelah semuanya selesai kini Arthur mengantar Alina masuk kedalam kamar tamu.


"Apa? tidak ada permintaan mahar sesuai yang kamu inginkan."tanya Arthur.


"Tidak ada Arthur cukup dengan apa? yang kamu buktikan hari ini aku tidak ingin yang lainnya lagi, tapi aku melupakan sesuatu, sebelum kita menikah aku ingin kita bertemu dengan kedua orang tua ku terlebih dahulu."ujar Alina.


"Alina sayang soal itu sudah pasti, kamu tinggal katakan saja kapan waktunya agar aku benar-benar bisa bersiap untuk itu."ujar Arthur.


"Kedua orang tua ku sudah tiada jadi kamu tidak perlu menyiapkan apapun untuk datang kecuali membawa seuntai do'a untuk mereka yang telah tiada.


"Baiklah honey sekarang kamu bisa istirahat."ujar Arthur.


"Terimakasih."balas Alina.


"Untuk?."tanya Arthur.


"Semuanya."ucap Alina tulus.


"Aku sangat mencintaimu honey jadi jangan sungkan untuk meminta apapun."ucap Arthur.


"Aku tidak suka meminta, aku lebih suka diberi, untuk hal perhatian dan kasih sayang."kata Alina.


"Soal itu sudah pasti sayang aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan mu aku janji."ujar Arthur.


Pria itu pun pamit begitu saja tanpa ada peluk cium karena saat ini Arthur sudah tahu bahwa itu tidak boleh ia lakukan sampai mereka menikah nanti.


Sementara saat ini Arthur tidak tahu bahwa seseorang tengah merancang kehancuran untuk dirinya dan Alina.


Orang itu tidak akan pernah membiarkan mereka bisa bersama.


Pagi hari pun tiba, Alina hendak pergi ke rumah miliknya karena sampai saat ini rumah itu masih miliknya karena belum ada pembayaran sampai saat ini.


Alina pergi tanpa pamit pada Arthur karena yang dia tahu saat ini Arthur masih tertidur pulas di kamarnya.


Alina tiba di rumah nya dia membuka pintu dan langsung masuk menuju kamar nya.


disana dia mulai beres-beres rumah dari mulai kamarnya kamar kedua orang tuanya Hong ke seluruh ruangan dengan bantuan alat yang canggih yang dulu pernah Akbar belikan seperti robot pembersih lantai dan berbagai vakum cleaner, dan masih banyak yang lainnya.


saat Alina tengah membersihkan sofa tiba-tiba Arthur datang dia terlihat marah karena saat bangun pagi dia tidak bisa melihat pujaan hatinya.


"Yank,,, bisa tidak kamu minta izin dulu padaku sebelum pergi, aku ini calon suamimu dan lagi untuk apa? kamu bersih-bersih rumah sendiri ada asisten pribadi mommy bisa bantu kamu untuk menyelesaikan semuanya."ujar Arthur tanpa jeda.


"Mas, aku sedang merindukan rumah apa? salahnya aku bersih-bersih karena ini juga sudah biasa aku bersihkan sendiri."balas Alina.


"Di rumah kita sudah ada pelayan jadi tidak perlu repot-repot beres-beres sendiri."ujar Arthur.


"Itu di rumah mu Yank,,, tapi ini rumah ku yang tidak memiliki pelayan, sudah lah jangan dibesar-besarkan. tunggu disini aku akan buatkan kopi."ujar Alina.


"Ayo pulang, disana sudah siap sarapan pagi."ujar Arthur tetap kekeuh.


"Kamu duluan saja yang pekerjaan ku belum selesai, lagipula kamu harus ke kantor bukan."ujar Alina.


"Alina."ucap Arthur tegas.


Jika pria itu sudah memanggil nama saja berarti dia sudah benar-benar marah.


Alina hanya menghela nafas.


Tiba-tiba handphone Alina bergetar tanda panggilan masuk, wanita yang kini menatap handphonenya itu dia ragu untuk menerima panggilan tersebut karena ternyata Akbar yang menghubungi dirinya.


"Siapa?." tanya Arthur.


"Ah bukan siapa-siapa ayo kamu duluan kembali aku mau bersih-bersih dulu ini sudah keringetan."ucap Alina yang kembali memasukkan Handponenya kedalam sakunya itu.


"Kemarikan Handphone mu."ujar Arthur datar.


"Untuk apa? kan gak ada yang penting juga, aku mau mandi dulu."ucap Alina yang hendak pergi.


"Yank,,, kamu gak nurut juga tolong pinjam handphone mu."ujar Arthur.


Karena Handpone itu bergetar terus akhirnya wanita itu mematikan ponsel nya dan dia perlihatkan kepada Arthur bahwa ponselnya mati namun pria itu tidak percaya begitu saja Arthur langsung merampas Handphone tersebut dan mencoba menyalakannya dan benar saja baterainya habis.


Alina pun menarik nafas lega.


"Aku charger dulu biar terisi penuh oke sambil mandi."ucap Alina sambil pergi ke atas.

__ADS_1


"Jangan lama-lama aku tunggu disini."ucap Arthur yang langsung menghubungi seseorang untuk datang ke rumah Alina dan menyelesaikan bersih-bersih rumah itu.


Arthur sendiri tengah duduk dan sibuk dengan laptopnya yang asisten rumahnya bawa sekaligus membawa menu sarapan pagi untuk mereka makan di sana.


Sampai Alina selesai mandi dan berpakaian rapi dan sopan, meskipun kembali tidak menggunakan hijab karena dia masih belum benar-benar Istikomah untuk yang satu itu.


"Yank,,, kamu sudah sangat cantik, apa? hati ini ada rencana mau jalan-jalan."ujar Arthur.


"Tidak sepertinya hanya membeli keperluan dapur seperti stok sembako."ujar Alina.


"Kamu tidak tinggal disini untuk apa? belanja keperluan dapur."ujar Arthur.


"Mas, kita belum resmi menikah jadi sudah seharusnya kita tinggal terpisah."ujar Alina.


"Heumm,,, lagi-lagi kamu bahas masalah itu Yank, sudah aku putuskan kamu akan tinggal di sana."ujar Arthur.


"Terserah yang jelas aku akan tinggal di sini titik."ujar Alina tegas.


"Yank,,," ujar Arthur.


"Lebih baik kamu pikirkan dulu mas, demi kebaikan bersama. ingat disana masih ada tunangan mu."ujar gadis itu.


"Alina."kata Arthur tegas.


"Aku tidak salah bicara mas, hubungan antara kalian jauh lebih jelas daripada hubungan kita."ujar Alina.


"Jangan ngaco kamu Yank,,, kita akan segera menikah tidak perduli kamu suka atau tidak."ujar gadis itu.


"Heumm,,, baiklah terserah kamu yang jelas sebelum dan sesudah kita menikah ini tetap rumah ku, dan aku akan tinggal di sini terserah kamu mau ikut atau tidak."jelas Alina.


"Yank, kenapa? kamu jadi egois seperti ini, tidakkah kau sadar dengan ucapan mu itu."ujar Arthur tidak mau kalah.


"Aku hanya minta waktu sampai saat kita menikah tapi kamu tetap ngotot, cape tau gak mas berdebat kenapa? tidak mau mengerti perasaan ku."ujar Alina.


"Baiklah terserah kamu saja."ujar Arthur yang langsung terdiam.


Keduanya terdiam tak ada yang bicara ataupun bergerak keduanya sibuk dengan lamunannya.


"Tuan muda, nona muda sarapan paginya sudah siap sedari tadi."ujar pelayan di rumah Jenny.


"Yank,,,"


"Mas,,"


Keduanya baru sadar.


"Tunggu aku akan sarapan dulu, berdebat juga butuh tenaga."ujar Alina.


"Aku tidak pernah mengajak kamu untuk berdebat Yank, tapi kamu yang egois."ujar Arthur.


"Ya,,, aku egois."ujar Alina sambil mendelik sebal.


"Kau itu kenapa?."


...***************...


"Daddy,,, Kasandra mohon jangan biarkan Arthur menikah dengan wanita lain, aku sangat mencintai dia."kata Kasandra pada ayahnya tuan Gultom.


"Kamu tenang saja honey,,, tidak akan ada yang berani menolak putri Daddy."balas tuan Gultom.


"Jangan memanjakan putri mu terus Daddy, tidak baik."ucap sang istri.


"Kau itu cukup fokus pada ku, tidak perlu mengurusi putriku."ucap tuan Gultom dingin.


"Aku mungkin hanya ibu sambungnya tapi aku juga menyayangi dia, bagaimana pun dia sudah ku rawat sejak dia lahir. aku tidak ingin putriku terluka nantinya seperti yang kita tahu Arthur lebih mencintai wanita itu daripada putri kita meskipun dia jauh lebih dari segalanya."ujar sang istri.


"Alena, kau seharusnya mendukung kebahagiaan ku."ujar Kasandra.


"Mommy mendukung semua kebaikan untuk mu honey tapi tidak untuk kali ini karena aku tidak ingin kau menderita."ujar Alena.


"Ah,,, aku sudah tidak selera makan."ucap Kasandra yang kini langsung pergi.


"Semua gara-gara kau dasar perempuan tidak becus apa-apa!."bentak tuan Gultom.


Pria itu akan selalu mencaci maki Alena istri yang sudah 27 tahun bersama dengannya, karena Alena tidak pernah memberikan dia keturunan.

__ADS_1


Sementara istri tuan Gultom yang ketiga, saat ini hanya tersenyum puas.


Wanita itu akan sangat bahagia ketika istri kedua yang menjadi istri pertama itu dimarahi karena biar bagaimanapun dia yang sangat diuntungkan karena Alena akan dikucilkan tidak seperti dirinya yang selalu dimanjakan karena bisa memuaskan hasrat suaminya itu.


Alena, sudah berusia lima puluh tahun, sementara dirinya 37 tahun jauh lebih muda dari Alena sudah pasti masih sangat bertenaga dibandingkan dengan Alena meskipun kecantikan Alena tidak bisa dia kalahkan.


"Aku tau kau akan senang dengan kejadian ini, tapi kau harus ingat jika putri ku tak bahagia maka hidup mu juga jadi taruhannya."ujar Alena yang langsung pergi meninggalkan madunya itu.


Sementara itu di kediaman Arthur sendiri, pria itu baru saja kembali dari kantor dan hendak menemui Alina, namun dia melihat pintu gerbang rumah nya dikunci dan saat dia mengintip tidak ada mobil Alina yang biasa diparkir di depan halaman rumah.


"Kamu dimana Yank, tidak biasa kamu kunci pagar rumah mu."ujar Arthur.


Seseorang datang menghampiri.


"Tuan muda mencari nona muda.?"tanya bibi yang bekerja di rumah Arthur.


"Ya dia."


"Nona muda tadi sempat tinggalkan surat di atas nakas di kamar tuan dia bilang ada kepentingan mendadak."ujar pelayan itu.


Arthur buru-buru pergi menuju rumahnya, saat dia masuk tadi tidak memperhatikan ada sesuatu yang aneh di kamarnya.


Sesampainya di sana dia langsung menghampiri nakas tersebut setelah itu ia pun langsung bergegas menghampiri nakas tersebut.


Arthur langsung meraih surat itu dan membukanya.


"Asalamualaikum mas, maaf aku pergi tanpa izin terlebih dahulu, hari ini mendadak aku harus pergi ke luar negeri karena ibunya mas Akbar sedang sakit keras, aku pergi pun dijemput oleh asisten pribadinya dengan jet pribadi milik keluarga mas Akbar jadi tidak menggunakan paspor. mungkin disini aku akan sedikit lebih lama karena ibunya mas Akbar sedang sangat membutuhkan ku disisinya."


"Aku harap mas bisa bersabar aku janji saat hari pernikahan kita aku akan usahakan untuk pulang."Alina.


"Arthur langsung meremas surat itu, dia benar-benar merasa marah karena ternyata Alina lebih peduli pada keluarga Akbar.


"Segera siapkan keperluan saya sekarang juga saya akan menyusul istri saya."ujar Arthur.


Asisten pribadi rumah itupun langsung bersiap membereskan pakaian dan perlengkapan Arthur lainnya rencananya Arthur akan menyusul Alina.


Sementara Alina sendiri saat ini tengah menunggui mantan ibu mertuanya yang terlambat mengetahui menantu pertamanya itu.


Wanita itu merasa sangat bersalah karena tidak mengetahui pernikahan putranya dengan Alina hingga saat Akbar kembali pulang berkat bantuan Alina.


"Sayang maafkan Mama, mama tidak tahu bahwa Akbar memiliki istri sebaik dirimu, anak durhaka itu tidak pernah bicara apapun, dan sekarang dia malah sudah akan memiliki cucu dari istri keduanya."ujar wanita paruh baya itu.


"Tidak apa-apa ma, kami mungkin memang tidak berjodoh dan sekarang sebaiknya mama pikirkan kesehatan Mama, aku turut bahagia dengan pernikahan mas Akbar setidaknya dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari ku."ujar Alina.


"Kau memang selalu merendahkan diri sendiri sayang aku tak pernah berhenti untuk mencintai dirimu karena bagiku kau adalah cinta pertama ku, dan andaikan saja aku bisa kembali memiliki dirimu maka aku adalah orang yang akan paling bahagia di dunia ini."ujar Akbar.


"Jangan bicara sembarangan mas, kamu sudah mendapatkan cinta sejati mu, Almira adalah perempuan yang sangat cantik dan baik, dia sudah pasti bisa membuat mu bahagia buktinya kalian sudah memiliki anak."ujar Alina.


"Aku hanya menjalani hidup seperti yang kedua orang tua ku inginkan, tidak ada cinta diantara kami selama ini karena dia pun masih mencintai suaminya."ujar Akbar.


penjelasan itu sungguh sangat mengejutkan bagi Alina, namun wanita itu tidak ingin peduli dengan yang terjadi saat ini.


"Mas, cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, dan cinta lama akan tergantikan dengan yang baru. Alina berdoa semoga setelah anak kalian lahir nanti cinta itu akan datang bersama kehadiran bayi kalian berdua, dan untuk Mama sebaiknya mama minum obat secara teratur dan jangan terlalu banyak pikiran, ingat jangan sampai mama melewatkan cucu pertama mama."ujar Alina panjang lebar.


Sementara Akbar, pria itu sedari tadi tengah menahan diri untuk tidak memaksakan kehendak nya pada Alina.


Pria itu masih sangat mencintai Alina yang semakin kesini semakin terlihat cantik dan lebih dewasa dari usianya saat ini.


"Yank,, aku ingin bicara berdua saja dengan mu boleh."ujar gadis pria itu.


"Mas tidak ada yang harus kita bahas lagi, semua sedah berlalu aku dan kamu hanyalah masalalu dan sudah seharusnya kamu lupakan semua itu."ucap Alina.


"Owh jadi ini yang kamu bilang menjenguk mertua mu."ujar Arthur yang langsung menghampiri Alina dan mencengkeram erat pergelangan tangannya.


"Mas, sakit kamu sedang salah faham. mas Akbar baru datang."ujar Alina.


"Kau pikir aku bodoh heuhhhhh."tekan Arthur yang kini dibakar emosi.


Mungkin karena sudah pernah dikhianati pria itu jadi sulit untuk percaya terhadap orang lain.


Akbar langsung melepaskan cengkraman tangan Arthur yang kini tengah menyakiti Alina.


"Jangan pernah sakiti dia sedikitpun jika kau berani melakukan itu maka kau berhadapan dengan ku."ujar Akbar tegas.


"Kau sudah bosan hidup ya."ujar Arthur.

__ADS_1


"Yank,,, kamu apa-apaan sih jangan ."


__ADS_2