
"Bagaimana bisa?" tanya Nanda.
"Ibuku kecelakaan, sampai sekarang tidak terbangun dari komanya." jawab Raisa masih sambil menundukkan kepalanya.
"Apakah ibumu hamil???" tanya Nanda yang sangat penasaran.
"Tentu saja tidak, Bodoh!" jawab Raisa lalu dia menatap kearah Lisa.
"Istrimu juga koma?" tanya Raisa.
"Iya, sudah lebih satu minggu, padahal anak kami dirumah sedang menunggunya" jawab Nanda.
"Pak! Bagaimana jika aku bekerja dirumahmu? Aku akan mengurus anak-anakmu juga, tapi izinkan aku membawa anakku kesana!" ucap Raisa dengan sangat bersemangat.
"Memangnya dimana suamimu?" tanya Nanda heran.
"Kami bercerai, dan dia masih selalu saja menggangguku seperti setan!" Ucap Raisa.
"Baiklah! Tapi jangan terlalu dekat dengan anakku, aku tidak mau mereka menganggapmu sebagai ibunya" ucap Nanda lalu dia mengambil kunci mobil yang tadi ditaruhnya diatas meja kecil.
"Ayo! Kita jemput anakmu lalu pulang kerumahku" ucap Nanda.
Raisa mengangguk dengan senang lalu menunjukkan kamar rawat ibunya karena anaknya ada disana.
********
Sudah beberapa minggu berlalu, namun belum ada kabar baik dari dokter yang menangani Lisa.
"Masih belum ada kabar Pak?" tanya Raisa sambil memberikan Nanda piring saat sarapan.
"Belum" jawab Nanda dengan singkat.
Nanda sama sekali tidak merasa risih dengan Raisa karena sikapnya tidak centil dan juga rajin bekerja disana walaupun dia juga memiliki satu orang anak.
"Semoga dia cepat sadar dari komanya" uca Raisa lalu pergi kekamarnya untuk memberu makanan pada Rani, anak tunggalnya yang umurnya sama seperti Rafa.
__ADS_1
"Kurasa nama suami Raisa itu Doni, makanya anaknya bernama Rani, singkatan dari Raisa dan Doni" gumam Nanda lalu dia tertawa dengan keras, Tertawa yang tidak pernah dimunculkannya sejak Lisa dirumah sakit.
Saat sore hari tiba, Nanda duduk ditaman belakang bersama dengan Rafa, Bella, Rani, dan Raisa.
"Bella sangat cantik" ucap Raisa sambil membelai pipi Bella.
"Tentu saja, kau lihat saja nanti bagaimana wajah Lisa jika dia tidak sepucat saat ini" ucap Nanda menyombongkan.
Raisa hanya tersenyum lalu menghampiri Rafa dan Rani yang saat itu sedang bermai dengan permainan mereka.
"Raisa, biar aku yang menemani mereka, kamu bantu menyiapkan makan malam saja!" teriak Nanda karena jaraknya cukup jauh dengan Raisa.
Raisa pun menghampiri Nanda lalu memberikan Bella pada Nanda.
********
Keesokan harinya, itu adalah minggu ke delapan Lisa terbaring dirumah sakit. Seperti biasa, setiap awal minggu dokter selalu menghubungi Nanda untuk memberitahu keadaan Lisa.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Nanda pada Dokter yang sedang menelponnya.
"Ya sudah" balas Nanda lalu dia mematikan sambungan teleponnya.
Nanda duduk di sofa, ia kembali teringat tentang kata-kata Wahyu beberapa hari yang lalu karena dia bertemu dengan Wahyu dan mengatakan jika Lisa akan tertidur diwaktu yang lama, Wahyu juga bilang jika Nanda tidak usah menunggu Lisa lagi.
Namun, Nanda masih bersikeras untuk menunggu Lisa hingga kapan pun itu. Hanya saja yang dia takutkan adalah Rafa dan Bella jadi tidak dekat lagi dengan Lisa.
"Pak!" panggil Raisa.
"Pak!!!" panggil Raisa sekali lagi lalu Nanda menoleh kearahnya dengan tatapan kosong.
"Ada apa?" jawab Nanda.
"Sarapan sudah siap" ucap Raisa lalu dia keluar dari kamar Nanda.
"Raisa! Tunggu dulu!" panggil Nanda.
__ADS_1
"Apa lagi?" ucap Raisa merasa jengkel.
"Menurutmu apa aku harus mencari pengganti Lisa?" tanya Nanda lalu menarik Raisa agar duduk disebelahnya.
"Pak! Jangan gila! Nona Lisa pasti akan sadar sebentar lagi, tunggulah dia saja!" teriak Raisa karena dia pernah merasakan menjadi posisi Lisa.
"Tapi bagaimana dengan Rafa dan Bella?" tanya Nanda lagi.
"Biar aku saja yang mengurusnya! Nanti ketika Lisa kembali pasti mereka akan sangat senang" ucap Raisa.
"Memangnya Nona Lisa tidak memiliki teman dekatnya? Mungkin saja mereka bisa membuat Rafa dan Bella menjadi senang" saran Raisa.
Nanda melotot kearahnya, bagaimana tidak. Semua teman dekat Lisa adalah musuhnya. Mulai dari Rosa, Bunga, dan juga Aldo.
"Tidak! Aku tidak menyukai temannya" tukas Nanda.
"Tapi anakmu menyukainya!" bantah Raisa.
"Tapi aku tidak!" teriak Nanda lalu berdiri.
"Tapi mereka suka!" balas Raisa lalu dia berdiri dan hendak keluar dari kamar Nanda.
Tapi saat berdiri, tiba-tiba saja kakinya terpeleset lalu jatuh dan segera ditangkap oleh Nanda.
Beberapa detik mereka bertatapan kemudian Raisa tersenyum dan tertawa melihat wajah Nanda sangat dekat.
"Lepaskan aku Pak!" teriak Raisa lalu tertawa kecil.
Nanda segera melepaskannya dengan kasar lalu memalingkan mukanya.
"Tenang saja! Aku tidak sejenis dengan pelakor diluar sana!" ucap Raisa lalu dia meninggalkan Nanda didalam kamarnya.
Mendengar ucapan Raisa, entah kenapa Nanda merasa senang kemudian dia tersenyum sendiri sambil menatap Raisa yang sudah jauh dari depan kamarnya.
"Baru kali ini ada orang yang tinggal serumah denganku tapi tidak berniat untuk menjadi orang ketiga dalam rumah tanggaku" gumam Nanda kemudian dia tersenyum lagi dengan sangat girang jika mengingat kata-kata Raisa tadi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=