Serumit Inikah Cinta?

Serumit Inikah Cinta?
Kota Paris


__ADS_3

Saat sampai dimobil, Lisa melihat mobil Nansa sudah tidak ada orang lagi, ia mencari-cari keberadaan Nanda dan Anaknya namun tak menemukan.


"Lebih baik aku menunggu disini" ucap Lisa lalu duduk dibangku yg berada didekat mobil Nanda.


"Apa benar jika aku berubah menjadi jahat" gumam Lisa lalu mengacak rambutnya sendiri.


"Tapi masalahku dengan Nazwa belum selesai!!!" teriak Lisa lalu ia berdiri dari duduknya.


"Mama!" teriak Rafa dari kejauhan.


Lisa menoleh kearahnya, "Kalian darimana?"


"Tadi kami hanya membeli beberapa botol minuman" jawab Nanda.


"Ayo pulang mas, aku lelah" ucap Lisa lalu berjalan menuju mobil Nanda.


********


Saat didalam perjalanan....


"Mas, kita ke Paris hari ini aja, biar besok kita bisa pulang" ucap Lisa.


"Kenapa? apa tidak terlalu cepat?" tanya Nanda lalu membelokkan setirnya kehalaman Hotel.


"Tidak, aku tidak ingin berlama-lama disini" ucap Lisa lalu membawa Bella turun dari mobil.


Nanda mengerti apa yg membuat istrinya begitu sedih hingga tidak tahan jika haru berlama-lama di Negara ini.


Setelah mereka masuk kedalam kamar, Lisa segera menyiapkan keperluan untuk dibawa pergi ke Paris.


"Jika sempat nanti aku ingin berkunjung kerumah temanku di Paris" ucap Nanda.


"Iya mas" jawab Lisa lalu ia selesai menyiapkan keperluan mereka.


Didalam perjalanan, Lisa mencoba untuk menelpon Aldo.


"Bagaimana dengan Tiara?" tanya Lisa.


"Entahlah, Juna yang mengurusnya tadi, dia bilang ingin mengurusnya sendiri" jawab Aldo.


"Baiklah" balas Lisa lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Mas, stasiunnya masih jauh?" tanya Lisa.


"Tidak, sebentar lagi akan sampai, aku memesan tiket yang hanya dua kali berganti kereta" ucap Nanda.


Lisa hanya mengangguk lalu menoleh kebelakang tempat Rafa yang daritadi diam tidak berbicara.


"Rafa nanti kalo mau beli sesuatu bilang aja ya sayang" ucap Lisa lalu kembali menatap kedepan.


"Iya ma" jawab Rafa.


Setelah beberapa menit, mereka sampai distasiun lalu masuk kesana dengan segera karena kerete mereka akan berangkat tujuh menit lagi.


"Mas, yang ini keretanya?" tanya Lisa sambil menunjuk salah satu kereta.

__ADS_1


"Mungkin, kita berikan saja tiketnya" kata Nanda lalu ia memberikan tiket mereka kepada penjaga disana.


Setelah itu mereka segera menaiki kereta lalu mencari tempat duduk untuk mereka.


"Duduklah, aku akan memesankan kalian minuman" ucap Nanda lalu pergi.


"Mama, Rafa takut" ucap Rafa lalu memeluk tangan Lisa.


"Kenapa harus takut? Disini tidak ada hantu" jawab Lisa lalu tersenyum menatap Rafa.


"Disini sangat ramai dan semua orangnya sangat tinggi" ucap Rafa lalu mengambil handphonenya dari tas Lisa.


Lisa tertawa mendengar ucapan anaknya itu, padahal ia tidak menyadari jika tinggi Lisa hampir menyaingi orang yang dimaksud oleh Rafa.


Tak lama itu Nanda kembali dengan membawa beberapa minuman beserta cemian lainnya.


"Nanti kita juga akan pergi ke Museum Louvre" ucap Nanda lalu meminum minumannya.


"Kita ke Menara Eiffel juga kan mas?" tanya Lisa.


"Tentu saja" jawab Nanda.


*****


Setelah beberapa jam perjalanan, mereka sampai di Paris dan kini sedang dalam perjalanan menuju ke Museum Louvre.


"Jika lelah istirahat dulu" ucap Nanda.


"Mana mungkin bisa lelah ditempat indah seperti ini" ucap Lisa lalu memutar badannya dengan sembarang arah hingga menabrak seseorang.


"Maaf!" ucap mereka bersamaan.


Saat mereka sampai di Museum Louvre, beberapa orang menatap mereka dengan senyuman, tentu saja para penjual disana, mereka sudah kenal sekali dengan Lisa karena anak itu memang sering kesana waktu masa kuliahnya dulu.


"Mas, kita duduk disana" ucap Lisa sambil menunjuk salah satu bangku.


Rafa sibuk bermain dengan Bella yang berada distroller disamping mereka.


"Mas, apa aku terlalu jahat?" ucap Lisa lalu duduk menghadap Nanda.


"Tentu tidak, hal jahat apa yg pernah kamu lakukan sayang" ujar Nanda lalu mencubit pipi Lisa yang menggemaskan itu.


"Aku pernah dendam kepada Dian, kepada Nazwa, kepada Rafly, Kepada Bunga, dan Tiara" ucap Lisa dengan lesu.


"Nazwa?" ucap Nanda dengan bingung.


Lisa baru ingat jika Nanda tidak mengetahui kalau Nazwa orang yang menyebar berita itu.


"Iya, Nazwa Shil, dia perusahaan yang bersaing kuat dengan perusahaanku" jawab Lisa.


"Siapa yang bilang kalau kamu jahat?" tanya Nanda.


"Tidak ada, hanya saja, Aldo bilang aku tidak sebaik dulu lagi" kata Lisa lalu menatap Rafa yang masih bermain dengan Bella.


"Kalau begitu ubahlah sifatmu menjadi Lisa yang dulu" ucap Nanda lalu pergi meninggalkan Lisa menuju kedepan Museun Louvre.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita kesana" ajak Lisa pada Rafa lalu mendorong Stroller Bella mendekati Nanda.


Setelah mereka bosan disana, mereka pergi menuju ke Menara Eiffel, disana sangatlah ramai saat itu.


"Mas, kita disana saja!" ajak Lisa sambil menunjuk suatu tempat yang dulu sering ia gunakan untuk melihat Indahnya kota Paris, disitu sangat sepi.


"Baiklah" jawab Nanda lalu berjalan menuju tempat yang dimaksud oleh Lisa.


Setelah sampai disana, memang sedikit orang yang ada disitu, berkisar sejumlah lima sampai tujuh orang.


"Duduk disini" ucap Lisa lalu ia mendudukkan tubuhnya dibangku yang menghadap ke Menara Eiffel.


"Disini sangat indah!" ucap Rafa kagum.


"Tentu saja!" jawab Lisa dengan semangat.


Saat Rafa sibuk melihat tanaman disana, Nanda mendekati Lisa.


"Kenapa?" ucap Lisa.


Nanda memegang kedua tangan Lisa, "Aku harap cinta kita kekal abadi" ucap Nanda lalu memeluk Lisa yang masih diam.


"Jangan berkata seperti itu, Tentu saja cinta akan kekal" ucap Lisa lalu ia tersenyum.


Ia teringat kata kata Arjan yang diberikan olehnya untuk Lisa saat satu hari sebelum ia meninggal.


"Berjanjilah untuk setia" ucap Nanda lalu melepaskan pelukannya dengan perlahan.


"Aku akan berjanji" balas Lisa, lalu ia menoleh kearah Rafa yang dari tadi tertawa melihat mereka.


"Malu diliat Rafa!" ucap Lisa sambil menepuk bahu Nanda.


Lisa segera menghampiri Rafa lalu mengajaknya untuk duduk bersama menikmati indahnya kota Paris.


"Mama sama Papa gak mau punya adik lagi ya" ucap Rafa.


Nanda dan Lisa saling bertatapan, Nanda tersenyum sedangkan Lisa tampak wajahnya yang merah karena malu.


"Tidak usah dipikirkan" ucap Lisa pada Rafa lalu kembali menatap Menara Eiffel yang lampunya mulai menyala.


"Kenapa kita tidak pindah kesini ma?" tanya Rafa.


"Tentu saja tidak, Indonesia itu negara kelahiran mama dan papa, kamu juga" ucap Lisa.


"Berarti kita tidak boleh pindah ya ma" ucap Rafa lagi.


"Anak papa, sekarang lihatlah itu, sangat indah kan? nikmatilah keindahan ini sekarang" ucap Nanda lalu tersenyum kearah Rafa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai guys jangan lupa mampir diNovelku ya :


1.Dijodohkan Dengan CEO Dingin.


2.LIMA SEKAWAN.

__ADS_1


3.Nae Taeyang.


Jangan Lupa buat Like dan Vote juga, makasihh🙏🏻🖤


__ADS_2