
"Mas, kamu marah?" tanya Lisa yang merasa diacuhkan selama perjalanan.
"Betapa bodohnya dirimu itu membiarkan orang seperti itu akan mengulangi kesalahannya dilain waktu" Jawab Nanda dengan raut wajah yang kesal.
"Hei, aku tidak sebodoh yang kamu kira" ucap Lisa.
Nanda menoleh kearahnya menunggu kelanjutan dari ucapan Lisa.
"Aku akan mengawasinya selama disana, akan kupastikan dia tidak bisa pergi dari kota ini tanpa izin dariku" sambung Lisa dengan ketus.
Nanda tersenyum mendengar ucapan Lisa barusan.
"Kenapa aku tidak menyadarinya" ucap Nanda lirih.
"Karena kamu 'Sangat pintar' lebih dariku" balas Lisa.
Nanda tak mengubris ucapan Lisa, ia melajukan mobilnya lebih cepat menuju rumahnya.
***********
Saat sampai dirumah, Lisa segera masuk kekamar untuk mengurus Bella.
Sedangkan Nanda, ia masih sibuk dengan telponnya dengan Rifki.
"Jadi, maksudmu kau ingin aku mendekatkanmu dengan Rosa? Begitu?" ucap Nanda.
"Bagus, sepertinya kau sudah mengerti, terima kasih sahabatku" balas Rifki lalu mematikan telponnya.
"Dasar teman brengsek, mana mungkin aku harus bicara pada Rosa jika Rifki menyukainya" gumam Nanda lalu pergi kedalam kamar.
"Sayang, ayo makan siang" ucap Nanda.
"Sebentar lagi selesai mas" jawab Lisa.
setelah beberapa menit, Lisa dan Nanda pergi ke meja makan, ia melihat sebagian Nasi dan juga lauk pauk sudah dimakan.
"Bi, apakah Rafa sudah makan?" tanya Lisa dengan lesu.
"Iya nona, sekarang tuan Rafa sedang tidur dikamarnya" jawab Bi Ara.
"Baiklah, terima kasih" balas Lisa lalu duduk dikursinya.
"Makan yang banyak, kamu ingat kan apa yang diucapkan dokter tadi?" ucap Nanda lalu mengambil piring yang ada didepan Lisa.
"Iya" ujar Lisa.
"Cepatlah makan" ucap Nanda sembari menyuapkan Lisa.
__ADS_1
"Tidak, aku kenyang" Tukas Lisa menyingkirkan sendok yang ada didepan mulutnya.
"Kamu mau tau tidak, aku punya rahasia tentang sahabat kamu, Rosa" ucap Nanda menggoda istrinya.
"Apa? cepat katakan mas" jawab Lisa bersemangat.
"Makan dulu, setelah itu baru kuberu tahu" ucap Nanda lalu menyuapkan Lisa lagi.
"Iya deh" keluh Lisa lalu ia membuka mulutnya.
"Mas, aku bisa makan sendiri" Tukas Lisa setelah mengunyah nasinya yang kesekian kali.
"Aku bisa menyuapimu" balas Nanda lalu kembali menyuapi Lisa.
Setelah Nasinya habis, Nanda segera menikmati makanannya.
"Mas ada rahasia apa?" tanya Lisa penasaran.
"Katakan pada Rosa, Rifki ingin mendekatinya" jawab Nanda dengan nada dingin.
"Mas? kamu serius?" ucap Lisa menahan tawanya.
"Kenapa? ada yang aneh dariku?" ucap Nanda sembari melihat sekujur tubuhnya.
"Seorang CEO terkenal mau disuruh oleh sekretarisnya" ucap Lisa lalu menertawakan Nanda.
"Dia memaksaku" Ketus Nanda.
Lisa mencoba menelpon Rosa, setelah dua kali panggilan, akhirnya panggilan Lisa diterima oleh Rosa.
"Ada apa? aku tadi sedang sibuk" ucap Rosa.
"Rosa, kamu belum punya pacar kan?" tanya Lisa mencoba menahan tawanya.
Nanda melihatnya hanya mencoba bersabar karena dirinya sudah ditertawakan oleh orang lain.
"Belum, kenapa? kau ingin memberi suamimu padaku?" goda Rosa lalu ia tertawa.
"Kata mas Nanda, Rifki menyukaimu, akan kukirim nomor mu pada dia" ucap Lisa lalu mematikan teleponnya.
"Enak sekali ingin mengambil suamiku" gumam Lisa.
"Bagaimana? dia mau kan?" tanya Nanda.
"Tentu, aku akan mengirim nomornya pada Rifki" ucap Lisa lalu mengotak atik ponselnya.
"Syukurlah, jika tidak akan habis aku diterror oleh pria itu" ucap Nanda merasa lega.
__ADS_1
"Mas, sebaiknya ku pekerjakan dibagian apa Dian?" tanya Lisa mengubah topik.
"Office girl" jawah Nanda singkat.
"Tidak, terlalu mudah baginya" jawab Lisa masih terus berpikir.
"Samakan saja dengan karyawan lain, tapi berikan waktu yang padat untuknya" jawab Nanda dengan bersemangat.
"Baiklah, itu masih tak seberapa dengan sikap dia padaku dari awal bertemu" balas Lisa sambil tersenyum.
"Ini baru wanita yang cocok menjadi istriku" ucap Nanda.
"Selama ini aku apa? teman satu atap?" ucap Lisa lalu meninggalkan Nanda dimeja makan.
"Dasar wanita" ucap Nanda lalu pergi menyusul Lisa.
"Baiklah, berikan dia tugas dari sekarang, jangan berikan celah untuknya pergi dari kota ini" ucap Lisa pada Roni saat ditelepon.
"Baik Nona, segera saya laksanakan" jawab Roni.
"Baik" ucap Lisa lalu mematikan ponselnya.
"Siapa?" tanya Nanda yang sudah muncul di ambang pintu.
"Seorang pria yang dekat denganku" jawab Lisa ketus.
"Kalau begitu aku juga akan menelpon seorang wanita yang sangat dekat denganku" ucap Nanda lalu mengotak atik ponselnya.
"Coba saja! memangnya ada wanita lain yang berani mendekatimu" ucap Lisa, dia sangat kesal dengan Nanda yang selalu berusaha menggodanya.
Tak lama itu, Ponsel Lisa berbunyi.
"Kenapa menelponku" ucap Lisa dengan ketus.
"Karena kamu adalah wanita yang sangat dekat denganku" ucap Nanda lalu melangkah mendekatinya.
"Jangan buat aku marah hanya karena pria lain yang mendekatimu" ucap Nanda sembari memeluk Lisa.
"Dia itu Roni, tentu saja dia dekat denganku" balas Lisa dengan ketus.
"Aku tidak perduli" ucap Nanda sembari melepaskan pelukannya.
"Aku hanya mencintaimu" ujar Nanda.
"Sama dong" balas Lisa lalu tersenyum kearah Nanda.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Buat para readers, Makasih ya udah mau nungguin novel ini Update setiap harinya, kalau kalian merasa kecewa karena cerita ini begitu singkat atau tidak seru, kalian boleh mengatakannya karena itu memang hak kalian.
Tapi, setiap author punya cara masing masing untuk memperkembangkan Novelnya, jadi ikuti terus cerita ini ya, terima kasih:)