
Keesokan harinya....
Lisa sedang menemani Rafa sarapan dimeja makan, sedangkan Nanda masih bersiap-siap untuk kekantor.
"Ma, Rafa sudah kenyang" ucap Rafa lalu mendorong piringnya kearah Lisa.
"Yasudah kalau begitu, mama mau panggil papa kamu dulu ya" ucap Lisa lalu dia pergi meninggalkan Rafa dimeja makan.
Saat Lisa sampai didepan pintu kamar, dia mendengar suara Nanda sedang marah-marah ditelepon membuat Lisa khawatir.
Saat Lisa membuka pintu, tiba-tiba saja hidungnya tertabrak oleh sesuatu yang Nanda lempar dari dekat lemari pakaian.
"Aduh, mas!" ucap Lisa, dia sudah tidak kuat berdiri hingga terjatuh didepan pintu.
Nanda menoleh lalu melihat Lisa terjatuh, Nanda segera menghampirinya lalu mengangkat tubuh Lisa keatas kasur.
"Berdarah" gumam Nanda ketika melihat hidung Lis yang keluar darah.
"Mas sakit...." gumam Lisa pelan.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter" ucap Nanda lalu dia segera mengambil ponsel Lisa karena tadi ponselnya sudah hancur dilempar.
Setelah selesai menghubungi dokter, Nanda mengambil tissue dan sedikit air lalu membersihkan darah yang ada dihidung Lisa.
"Mas! Sakit! Pelan-pelan!" teriak Lisa..
"Maaf sayang, aku tidak mengerti untuk melakukan hal seperti ini" ucap Nanda gugup.
__ADS_1
"Sini!" balas Lisa sambil meraih tissue yang ada ditangan Nanda.
Nanda keluar kamarnya untuk memanggil Bi Ana dan memintanya untuk membuatkan satu mangkuk sup ayam dan juga teh hangat.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya dokter yang Nanda panggil sudah datang, dia segera memeriksa keadaan Lisa.
"Nona, anda harus beristirahat dengan maksimal, jika tidak maka besar kemungkinan anda bisa pingsan" ucap dokter itu.
"Denger! Istirahat!" ucap Nanda dari sebelah dokter.
"Lagian siapa suruh melempar ponsel kewajahku!" sindir Lisa.
"Satu lagi pak, nona tidak boleh terlalu stress dan memikirkan hal yang tidak positif" sambung dokter.
Nanda berpikir berarti bukan saatnya dia untuk menceritakan tentang penculikannya, padahal Nanda akan mengatakan jika penculiknya sudah meninggal karena kecelakaan tiga hari yang lalu, saat Lisa demam.
"Kalau begitu, saya permisi tuan" ucap Dokter lalu membungkukkan badan dan keluar dari kamar Nanda.
"Apakah masih terasa sakit?" tanya Nanda sambil duduk disebelah Lisa.
"Sini coba hidungmu kulempar dengan handphone, biar kau tidak perlu bertanya" Gerutu Lisa.
"Tidak usah marah, nanti kamu bisa pingsan" balas Nanda.
"Lagian, yang kayak gini ditanya sakit atau nggak" gumam Lisa lalu ia memeluk kaki Nanda dengan erat.
Nanda tersenyum lalu melepaskan pelukan istrinya itu, dia berbaring disamping Lisa agar Lisa bisa memeluknya, bukan kakinya.
__ADS_1
"Kamu mau tidur? Tidak kerja mas?" tanya Lisa.
"Kamu kan pengen memeluk aku" ucap Nanda lalu sekarang dia yang memeluk Lisa terlebih dulu.
Lisa membalas pelukan Nanda lalu tak lama itu dia sudah tertidur.
Ketika Lisa sudah tertidur, Nanda mulai turun dari kasurnya lalu dia mengambil ponsel Lisa untuk menghubungi Rifki.
"Halo Rifki" ucap Nanda.
"HP kamu kemana nan?" tanya Rifki heran.
"Kulempar, tolong belikan aku ponsel baru" ucap Nanda.
"Aku nitip satu" balas Rifki lalu tertawa kecil.
"Silakan, ambil saja berapapun, untuk kamu tidak apa" ucap Nanda serius lalu dia mematikan teleponnya.
"Ehem...." ucap Lisa yang ternyata dari tadi belum tertidur.
"Pulsaku kamu buat berkurang mas?" ucap Lisa sinis.
"Hanya sedikit" jawab Nanda lalu dia tersenyum.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa mampir dinovel aku yang judulnya 'Cinta yang tumbuh'
__ADS_1
Dan jangan lupa buat kasih vote sebanyak banyaknya😍