
Karin berlari secepat mungkin agar Frans tidak bisa mengejarnya. Dia tidak ada muka untuk berdiri di hadapan Frans saat ini.
Dia sangat tau dengan dirinya. Dia tidak pernah berpikiran buat jatuh cinta kepada Frans. Tapi apakah ia tidak boleh berteman dengan Frans.
"Karin tunggu." ucap Frans berusaha untuk mengejarnya.
Karin berlari semakin kencang. Ia tidak ingin bisa dikejar oleh Frans. Karin lansung menyetop angkot yang berhenti di depannya. Karin naik dengan cepat.
Karin merasa beruntung ketika Frans hampir dekat tapi angkotnya sudah berjalan. Dia beruntung karena saat ini dia sendirian di dalam angkot tersebut.
Hatinya sangat hancur saat ini. Dia merasa hatinya bagai di sobek - sobek karena ucapan Farhan. Dia tidak menyangka bahwa hidupnya akan sehina ini.
Mobil berhenti setelah jauh dari kediaman Farhan.
"mbak ini tisu." ucap sopir angkot yang ternyata masih muda.
"Makasih mas."
"Mbak nggak apa-apa?" tanyanya melihat ke belakang merasa kuatir.
"Nggak apa-apa mas, jalan aja mas."
"Baik mbak, maaf mbak itu tadi pacar mbak?" tanyanya.
"Bukan mas, teman."
"Ohw kirain berantem sama pacarnya." ucapnya sambil tertawa.
__ADS_1
"Nggak mas, mana ada yang mau sama saya mas, saya ini hanya orang hina mas, orang yang banyak dosa, saya ini sampah masyarakat." entah kenapa itu yang keluar dari mulut Karin.
"Sehina apapun orang mbak, tapi di mata Allah sama mbak, yang penting orang tersebut bertaubat." ucapnya.
"Mbak di sini hidup sama orang tua?" tanya sopir angkot itu lagi.
"Saya hidup sebatang kara sejak kecil mas."
"Kita senasib mbak, orang tua saya meninggalkan saya sejak kecil." ucapnya dengan senduh.
"Eh kenapa saya yang bercerita, saya Niko mbak." ucap Niko sambil cengengesan sambil menyetir.
Karin tersenyum melihat sopir yang seumuran dengannya. Dia merasa bahwa hidup mereka senasib.
"Saya Karin mas."
"Kamu aja masih panggil mbak." ucap Karin sedikit tersenyum.
"Eh iya Karin."
Karin telah sampai di tempat yang ditujunya. Dia juga berterima kasih kepada Niko yang telah menghiburnya sepanjang jalan.
Karin berjalan melewati gang sempit menuju rumahnya. Dia menegur siapa saya yang duduk di pinggir jalan gang sempit itu.
"Siang neng karin cantik." ucap ibu - ibu yang duduk di pinggir jalan sambil menggosip.
"Siang juga Bu." jawab Karin dengan ramah.
__ADS_1
Karin berjalan menuju rumahnya yang sudah dekat. Dia masuk kedalam rumahnya dan lansung menutup pintu.
Ponselnya berdering sejak tadi. Ia tidak ingin menjawab telpon dari Frans. Dia lansung memblokir nomor Frans dari ponselnya. Dia tidak ingin lagi bertemu dengan lelaki itu.
Dia tau bahwa pertemanannya dengan lelaki itu hanya akan menimbulkan masalah. Apalagi mengingat bahwa lelaki itu baru bertemu dengan kakaknya.
Aldo calling.
Entah apa yang membuat lelaki itu menelponnya setelah sekian lama. Karin mencoba untuk mengangkatnya. Bagaimanapun baginya lelaki itu sangat baik dalam hidupnya.
"Halo." ucap Karin.
"Aku minta sama kamu jauhi Frans, aku tidak ingin Fina atau frans tau bahwa aku pernah berhubungan dengan kamu, bisa - bisa Fina membatalkan pernikahan kami, kamu tolong pahami aku, carilah lelaki lain." ucap lelaki itu sangat menyakiti hatinya.
"Sudah?" tanya Karin menahan air tangisnya.
"Aku akan beri kamu apa saja tapi jauhi Frans."
"Kamu tidak akan pernah bisa memberikan apa yang aku mau, jadi tutup saja telpon ini." jawab Karin merasa sakit hati.
"Kamu mau apa? akan aku kirim berapapun." ucap Aldo arogan.
"Aku tidak ingin uang kamu, tapi aku ingin kamu, bagaimana?" ucap Karin lansung mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban laki - laki itu lagi.
Dia menangis lagi sambil membenamkan kepalanya di antara bantal yang ada di ranjang. Mengingat ucapan Aldo membuatnya jijik dengan dirinya. Dirinya sangat menjijikkan di masa lalu sehingga lelaki itu masih berniat untuk membelinya dengan uangnya.
Dia merasa sangat hina sekali hari ini. Farhan benar bahwa dia adalah wanita hina yang tidak pantas berteman dengan lelaki manapun.
__ADS_1