Setulus Cinta Karin

Setulus Cinta Karin
Permintaan Karin


__ADS_3

Ketika karin dan Aldo sampai di rumahnya mereka sudah melihat keluarganya telah berkumpul. Keluarganya tampak sangat antusias menyambut anak dan menantunya.


Farhan sebenarnya bingung kenapa ia di panggil oleh keluarga Aldo. Ia melihat bahwa aura semua keluarga ini sedang berbahagia.


"Untung Abang ipar udah sampai." ucap Aldo lansung menghampiri kakak iparnya itu.


Setelah berdiri di sebelah Farhan, Aldo langsung menjitak kepala Farhan.


Farhan kaget saat Aldo tiba-tiba menjitak kepalanya.


"Apa - apaan ini?"ucap Farhan tidak terima di jitak oleh sahabatnya.


"Maaf bro, sekali - kali." ujar Aldo.


"Bercanda jangan kelewatan dong." Farhan lansung marah.


"Udah - udah, kenapa Aldo melakukan itu semua ada alasannya." ucap mama Aldo.


"Ah masa Tante membela dia, jelas - jelas dia salah."


"Kamu mau jadi paman nggak?" tanya papa Aldo.


Farhan mengartikan pertanyaan dari pak Kemal. Dia berpikir sejenak, setelah beberapa detik barulah ia tersadar apa maksud papa Aldo.


"Karin hamil?" tanya Farhan bertanya.


"Iya, ayo Karin ke sini, kamu mau kakek jitak juga kepala abangmu itu?" tabya sang kakek memanggil Karin.


"Apa hubungannya Karin hamil dengan menjitak kepala aku kek?" tanya Farhan.


"Kamu itu, makanya nikah biar tau, itu artinya Karin mulai ngidam, mungkin aja selama ini dia kesal sama kamu." ucap sang nenek membawa Karin mendekat.


"Kamu ngidam apa Karin? sebut aja? Abang akan lakukan apa aja." ucap Farhan.


"Boleh nggak kita bicara berdua aja dulu?" tanya Karin.


"Kok berdua aja yang?" tanya Aldo cemberut.


"Hey dia adik aku, kenapa kamu cemburu pula."


"Udah ayo kita kedalam, kita akan makan bersama, Farhan ajak adikmu nanti ke meja makan setelah kalian bicara." ujar mama Aldo.


Mereka semua berjalan menuju meja makan.Karin dan Farhan tetap duduk di ruang tamu. Farhan bertanya - tanya dalam hati apa yang akan dibicarakan oleh adiknya itu.


"Ada apa Karin?"


"Bang aku boleh minta tolong sesuatu nggak?'" tanya Karin ragu.

__ADS_1


"Tentu boleh dong, kamu boleh meminta apa saja." ucap Farhan senang di minta tolong oleh adiknya. Adiknya satu ini memang tidak pernah meminta tolong darinya.


"Aku mau kakak selidiki kak Ana."


"Kenapa harus bahas Ana sih dek?" tanya Farhan mulai tidak suka. Ia yakin bahwa Ana mulai mempengaruhi pikiran Karin.


a


"Karena aku yakin ada terjadi sesuatu dengan kak Ana."


"Pasti dia mempengaruhi dia." tuduh Farhan.


"Abang bisa nggak berpikir positif kepada orang lain, dia tidak pernah mengurus apapun." jawab Karin membantah.


"Tapi Abang nggak bisa, Abang nggak bisa melakukannya Karin, Kenapa kamu nggak meminta suamimu aja."


"Aku sudah meminta, dan mas Aldo menyanggupi akan tetapi aku ingin tau sesayang apa abangku padaku."


"Abang sayang sama kamu, kamu lupa Abang membuat Aldo memilih kamu, Abang malah menyakiti hati Fina."


"Apakah Abang menyesal?" tanya Ana.


Farhan kaget mendengar pertanyaan Karin. Ia tidak menyangka bahwa Karin akan berpikir seperti itu.


"Bukan seperti itu maksud abang, Abang sama - sama menyayangi kalian, tapi tolong jangan paksa Abang melakukan hal itu, melihat dia aja Abang benci."


"Permintaan lain?"


"Nanti aja, saat ini hanya itu permintaan aku ke Abang, kenapa aku ingin kedua orang yang ku sayang menyelidiki agar cepat tau jawaban sebenarnya, aku yakin bahwa kalian berdua bisa di andalkan."


Karin menatap abangnya dengan penuh harapan. Lalu abangnya menganggukkan kepalanya. Karin senang lalu memeluk abangnya.


"Terima kasih ya Abang."


Farhan kaget ketika Karin memeluknya karena ia tidak pernah di peluk oleh adiknya itu.


"Sama - sama sayang." ujar Farhan.


Setelah mengurai pelukannya mereka berjalan mendekati meja makan. Karin mengambil duduk di sebelah kirinya Aldo. Sedangkan Farhan duduk di sebelah Kakan Kiri Karin.


"Ayo kita makan bersama, mama Aldo masak yang banyak." ucap sang kakek.


"Papa harus sehat selalu agar dapat melihat cicit papa." ujar papa Aldo.


"Ya Tuhan panjangkan lah umur kami berdua agar tau rasanya di buat repot oleh cicit." doa sang nenek.


"Yang ada kalian berdua merepotkan cicit kalian nanti." ujar Aldo tersenyum mengejek kepada kakek dan neneknya.

__ADS_1


"Hey anak sudah mulai kurang ajar dengan KPN neneknya." ujar sang kakek.


"Bagaimana pun cicit kalian adalah anakku, anakku ku bawa pergi jauh dari rumah ini?" tanya Aldo sambil tersenyum.


" coba aja kamu bawa, Aku tebak kamu dari kursi CEO perusahaanku, mana mau Karin jika kamu nganggur." jawab sang kakek.


"Karin tetap setia kek walaupun mas Aldo tidak jadi CEO lagi."ucapkan membuat Aldo semakin senang.


"Ah kamu Karin, sama lelaki nganggur macam dia." ujar kakek.


"Bagaimana pun mas Aldo ayah dari anak-anak ku nanti, kami akan hidup susah senang bersama."jawab Karin membuat Farhan Aldo dan semuanya tertawa senang.Mereka senang dengan jawaban karin.


Keluarga Aldo memang tau bahwa Karin hidup sederhana. Walaupun dia istri seorang CEO akan tetapi dia selalu bergaya apa adanya.


"Kakek ingin kamu menjaga Karin dengan baik, kakek nggak mau Karin kenapa-kenapa, aduin aja dia kepada kakek jika mengesalkan kamu." ujar kakek kepada Karin.


"Iya, jika dia nggak mau ngikutin ngidam kamu biar mama yang jewer dia."


"Kenapa aku yang mau punya anak tetapi semua malah ikut menyiksaku?"tanya Aldo.


"Makanya jangan buru-buru menikah." jawab Farhan.


" Menikah itu ibadah yang paling enak tau, tanya aja papaku jika kamu nggak percaya, iyakan pa?" tanya Aldo tersenyum ke arah papanya.


"Tentu dong, hati kamu akan berbahagia setiap hari, rasanya seperti nano - nano, coba aja tanya..."


Sang kakek memotong pembicaraan anaknya Kemal.


"Apa kamu mau menyusahkan papa juga yang udah tua ini sampai harus kamu suruh tanya papa?" tanya Sang kakek berdiri.


"Kemana kek?" tanya Karin.


"Ayo Karin kita kita istirahat." ajak kakek ingin beristirahat di kamarnya.


" Iya kek, Karin juga mau istirahat,dan kamu mas penuhi permintaan ketiga yaitu cari mangga muda tapi kamu harus petik dari pohonnya." ujar Karin mengingatkan Aldo.


"Aku nggak ikut campur masalah ini." ujar Farhan berdiri dari kursinya.


"Masa tega ponaannya Iler, boleh ya Rin .inta tolong bang Farhan?"


"Boleh." ucap Karin juga ingin mengerjai keduanya.


Farhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia seharusnya pulang sebelum perintah Karin keluar. Mana mungkin ia tega tidak mengabulkan permintaan adiknya sedang hamil.Papa dan Mama Aldo hanya tersenyum melihat putra dan anak angkatnya itu sedang cemberut. Mereka meninggalkan keduanya di meja makan bersamaan dengan Karin.


...****************...


Yukk follow akun author, lalu berikan like, komen dan votenya.Semua dukungan pembaca sangat berarti untuk author. Terima kasih pembaca semua, semoga sehat selalu, dan di mudahkan rejekinya.Peluk sayang dari jauh untuk semua pembaca setia. 🙏🤍💜🥰🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2