
"Kamu harus menjauhi Frans." ucap Farhan dengan dingin.
"Berapa banyak lagi yang yang tuan keluarkan untuk saya menjauhi orang lain?" tanya Karin sambil tersenyum mengejek
"Ternyata kamu nggak berubah." jawab Farhan balik mengejek.
"Dan kamu sama." jawab Karin.
"Berapa yang kamu minta aku akan kasih." ucap Farhan.
"Jika aku nggak mau gimana?" tanya Karin.
"Saya bisa aja memecat kamu dari restoran ini."
"Saya tau bahwa tuan bisa aja melakukan apa saja terhadap saya yang miskin dan hina ini."
"Sampah memang harus di buang pada tempatnya."
__ADS_1
"Tapi anda pernah menjadi penikmat sampah seperti kami." ucap Karin menahan emosinya.
Badannya agak gemetar ketika ia menahan tangis sekaligus emosinya yang memuncak.
"Untungnya aku cepat sadar, jika masih banyak batu berlian kenapa harus memilih batu bata."
"batu bata, mungkin nanti batu bata ini yang berfungsi untuk memukul kepalamu agar otak seperti anda bisa jalan dengan betul." jawab Karin tidak mau kalah.
"Kamu tidak akan membuat saya berubah pikiran, otak kamu yang harus di benahi, bertaubat secepat mungkin, cari pekerjaan yang halal."
"Pekerjaan yang tidak halal itu juga datangnya dari anda - anda orang kaya tapi tidak mau di salahkan, hanya maunya kenikmatan." ucap Karin meninggalkan Farhan.
"Besok saya tidak mau melihat kamu berada di restoran itu lagi." ucap Farhan sambil berteriak.
Karin hanya berjalan sambil menghapus air matanya. Dia merasa tidak pernah berbuat salah kepada lelaki itu. Akan tetapi lelaki nampak sangat membencinya.
Langkahnya berhenti di sebuah taman yang sudah nampak sepi. Dia duduk di sebuah kursi yang agak panjang. Air matanya tidak bisa lagi ia bendung. Hatinya begitu sakit saat ini.
__ADS_1
Jika memang restoran itu berpindah tempat, maka ia sudah tidak punya tempat bekerja. Dia baru bekerja sekitar dua bulan. Tetapi ia harus kehilangan pekerjaannya lagi.
Dulu setelah lepas dari Aldo ia bekerja di kantor Randi teman Doni. Akan tetapi jam kerja di kantor Randi membuat dia sudah menyesuaikan dengan jam kuliahnya. Makanya dia memilih mengundurkan diri dengan baik - baik.
Karin memikirkan hidupnya selama kedepannya. Ia tidak tau harus bagaimana lagi.
"Menangis lah." ucap seseorang yang duduk di sebelah Karin.
Karin tidak ingin melihat orang di sebelahnya. Dia lansung menghapus air matanya. Akan tetapi hatinya begitu sakit. Air matanya tetap menetes dengan deras.
Ia hanya menutupnya dengan tangannya. Dia tidak ingin orang lain merasa kasihan terhadap dirinya. Dia tidak ingin di kasihani oleh siapapun saat ini.
Lelaki di sampingnya membawa kepalanya ke bahunya. Dia berusaha mengusap punggung Karin agar wanita itu tenang. Entah kenapa hatinya juga sakit melihat wanita itu menangis seperti ini.
Dia juga mendengar pembicaraan wanita itu. Sebagai lelaki hatinya ikut sakit ketika mendengar wanita di sebelahnya di hina abis - abisan. Tidak terasa air matanya juga menetes.
Karin tersadar dengan apa yang terjadi. Ia tidak ingin orang lain merendahkan dirinya lagi. Ia tidak ingin di anggap sampah yang tidak berguna lagi. Karin menegakkan kepalanya. Ia menjauhkan dirinya dari lelaki itu.
__ADS_1
Ia kaget ternyata lelaki itu bukanlah Frans. Lelaki yang di sebelahnya saat ini Aldo dengan mata yang memerah.