
Karin hanya diam ketika mobil Aldo meleset membawanya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak tau apa maksud lelaki ini membawanya.
"Aldo turunkan aku." ucap Karin.
"Jangan harap, jangan coba-coba mengacaukan pernikahan aku." ucapnya dengan dingin.
"Aku tidak mengacaukan, aku pergi agar pernikahan kamu lancar."
"Jangan banyak omong, kehadiran kamu membuat hidupku berantakan." jawab Aldo sinis.
"Jika aku membuat berantakan maka bebaskan aku."
"Jangan harap, kamu pikir kamu bisa hidup dengan tenang ketika kamu sudah kacaukan hidup aku."
"Mau apa kamu?" tanya Karin merasa tertekan.
"Aku akan membuat hidup kamu jauh lebih kacau." ucap Aldo dengan wajah merah menahan marah.
"Apalah daya aku yang memang tidak akan mampu melawan orang seperti kamu, bahkan jika nyawapun yang kamu minta mungkin aku hanya bisa menyerahkan dengan pasrah." jawab Karin juga dengan ekspresi dingin.
"Bagus jika kamu sadar diri." jawab Aldo hanya fokus menyetir.
__ADS_1
Karin hanya pasrah dengan hidupnya saat ini. Ia tau bahwa bahwa keluarga Aldo cukup berpengaruh di negaranya. Bahkan ketika ia melarikan diri kesudut negara ini akan tetap di temukan oleh Aldo atau Farhan.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi membuat Karin hanya menahan nafasnya. Ia sudah pasrah apa yang terjadi dengan hidupnya. Karin harus berusaha menahan sakit hatinya mulai saat ini.
Mereka telah sampai di sebuah hotel. Karin yakin bahwa Farhan sangat ingin kehadirannya di pesta salah satu saudaranya.
Aldo menarik tangan Karin menuju salah satu ballroom buang sudah di sewa untuk pernikahan mewah Aldo. Karin hanya diam berjalan di sebelahnya Aldo.
Aldo membawa Karin ke salah satu kamar yang ada di hotel itu. Tangan Karin merasa sakit karena kuatnya cengkraman tangan Aldo.
"Kamu tunggu di sini." ucap Aldo mendorong Karin ke atas ranjang.
Karin terjerembab di atas ranjang. Walaupun tubuhnya jatuh di atas ranjang akan tetapi dia juga merasakan kesakitan. Hatinya yang sakit saat ini karena di perlakukan seperti sampah.
Bahkan saat ini Karin tidak mempunyai uang yang banyak. Sisa uang yang di berikan Aldo juga sudah habis membayar perawatannya di rumah sakit. Sedangkan rumah sudah dia berikan kepada Farhan saat pergi dari rumah sakit itu. Semua tinggal kepahitan.
Ceklek.
Tiba-tiba pintu terbuka. Seseorang perempuan berumur sekitar kurang lebih 40 tahun masuk. Ia tersenyum berjalan menuju ranjang.
"Ayo nona saya dandani." ucapnya.
__ADS_1
Karin dengan cepat menghapus air matanya. Ia tidak ingin orang lain memandangnya merasa kasihan.
"Saya rasa saya tidak usah di dandani." jawab Karin merasa berlebihan.
"Jangan seperti itu nanti bisa membuat malu tuan Aldo atau tuan Farhan." jawab wanita itu sambil tersenyum.
"berlebihan, sejelek itukah aku sehingga harus malu tanpa di dandani." ucap Karin dalam hatinya.
Karin hanya diam saat di dandani. Setelah satu jam barulah ia selesai di makeup. Karin semakin bingung ketika penata rias menyuruh memakai gaun pengantin.
"Apa begini baju orang kaya? masa baju keluarganya saja sama mewahnya dengan baju pengantin." ucapnya lagi dalam hati.
Karin telah selesai memakai gaun pengantin.
"Wow cantiknya, wajar saja pengantin pria terpikat." ucap wanita itu dengan spontan.
"Anda salah, bukan saya pengantinnya." jawab Karin.
"Tapi..."
"Ayo keluar." potong Tante Mirna sudah di ambang pintu.
__ADS_1
Karin berjalan keluar kamar dengan patuh. Walaupun Tante Mirna baik tapi ia tidak bisa menerima semua anggota keluarga ini.