Setulus Cinta Karin

Setulus Cinta Karin
Bertemu Rara


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju pusat pembelanjaan, Ana hanya merengut. Karena ia melihat Aldo sibuk memeluk Karin di belakang.


Ana juga heran dengan perubahan lelaki itu. Baru beberapa hari yang lalu ia menyakiti Karin. Akan tetapi hari ini bersikap seolah pasangan yang romantis. Aldo yang ia lihat nampak seperti seseorang yang bucin.


Aldo menyandarkan kepalanya di bahu Karin. Dia tampak seperti tidak ingin jauh sedikitpun dari Karin.


"Kamu besok berhenti aja kerja dari restoran itu." bisik Aldo di telinga karin.


"Sudah di pecat karena di anggap pelakor." jawab Karin dengan wajah datar.


"Siapa yang memecat kamu? apa kamu mau aku hancurkan restoran itu, beraninya dia memecat kamu." ucap Aldo.


"Nggak usah sok jadi pahlawan deh." ujar Ana dari depan.


"Eh lu nggak usah ikut campur, ini urusan gua dan istri gua." ujar Aldo tidak terima Ana ikut campur.


"Mana tau Karin pengen gua ikut campur." jawab Ana lagi.


"Untung aja lu teman jika nggak gua usir dari sini."


"Emang kita teman?"


"Eh harusnya sudah nggak deng, jangan bilang kamu dekatin Karin ada maksud tertentu." ujar Aldo.


Karin kaget mendengar ucapan Aldo. Ia tidak tau akan di manfaatkan oleh wanita yang baru di kenalnya.

__ADS_1


"Hati - hati jika ngomong, gua tulus dengan Karin."


Jika Ana tulus dengannya maka wanita itu hanya kasihan dengannya. Karin yakin bahwa wanita itu hanya merasa kasihan dengan dirinya.


"Hati - hati dengan Dia Ayin, dia pasti pengen dekatin kamu agar Abangmu bisa menerima dia lagi." ujar Aldo.


"Mulut lu bisa diam nggak?" tanya Ana.


"Jadi dia ini siapanya bang Farhan?" tanya Karin mulai bersuara.


Sebenarnya dia juga malas dengan urusan Farhan. Ia juga tidak peduli siapa wanita ini bagi Farhan.Akan tetapi dia hanya tidak ingin menjadi pendengar di sini.


"Dia itu sahabat kami waktu kuliah, tapi dia juga sebagai mantan pacar Farhan, tapi sekarang Farhan tidak pernah menganggap dia ada." jawab Aldo.


"Kamu mau tau nggak kenapa Farhan jadi penjahat wanita? itu karena Ana ini yang mengkhianati dia."


"Lu bisa diam nggak, nggak usah di dengar Karin." ujar Ana.


Mereka telah sampai di pusat pembelanjaan. Saat berjalan masuk, Aldo menggandeng tangan Karin. Ana terpaksa berjalan di depan mereka. Jika tidak ia akan di anggap asisten mereka oleh pengunjung lainnya.


"Ana tolong pilihkan baju untuk Karin, berapapun nggak jadi masalah." ucap Aldo seolah memerintah asistennya.


"Nggak usah." jawab Karin.


"Kamu nggak percaya dengan seleranya? ya sudah kamu pilih aja sendiri."

__ADS_1


"Bukan begitu, aku merasa tidak perlu."


"Jangan pikirkan uang dia habis, itu gunanya dia kerja untuk kamu, lebih baik kamu habiskan uang dia daripada di habiskan pelakor." ujar Ana memprovokasi Karin.


"Kamu pilih aja ya, ini kartu untuk kamu shoping." ucap Aldo memberikan kartu unlimited.


"Wah kita bisa belanja sepuasnya dengan kartu ini." ujar Ana.


"Jangan seperti pengemis, harta kamu tidak akan habis jika kamu gunakan belanja." ujar Aldo.


Entah kenapa Karin yang notabenenya jarang mempunyai teman, masih merasa kurang nyaman dengan Ana. Dia lebih memilih berjalan dengan Aldo menemaninya untuk memilih baju.


"Ini kayaknya cantik untuk kamu." ujar Aldo memilihkan satu stelan.


"Wow wow wow pasangan langgeng, katanya sudah berhenti ternyata masih simpanan Aldo." ucap Wanita di belakang mereka.


Karin hanya terdiam sedangkan Aldo geram dengan ucapan wanita itu. Dia adalah Rara.


"Dia istri aku." ujar Aldo.


"Istri? jadi ternyata kamu tertarik dengan simpanan kamu?" Rara mengejek mereka.


"Terserah aku, aku punya hak untuk itu." jawab Aldo menarik Karin untuk meninggalkan Rara.


"Dasar wanita sok suci, lu pakai pelet apa buat menggaet lelaki macam Aldo." ucap Rara di dengar oleh pengunjung yang lainnya .

__ADS_1


__ADS_2