Setulus Cinta Karin

Setulus Cinta Karin
Rencana


__ADS_3

Ana segera memunguti plastik obat yang terjatuh. Dia tanpa salah tingkah ketika Farhan memperhatikannya.


"Obat apa itu?"tanya Farhan kepada Ana.


"Haruskah saya melaporkan kepada tuan?"tanya anak kepada Farhan.


Farhan tahu bahwa wanita ini sedang marah kepadanya. Apalagi saat itu dia sudah maki-maki wanita itu.


"Tolong jelaskan obat apa ini?"


"Saya tidak ada kewajiban untuk menjelaskan kepada anda, jadi saya mohon tolong minggir Jangan menghalangi jalan saya." Ana tubuh Farhan agar tidak menghalangi jalannya.


"Jika Saya mau tahu maka kamu berkewajiban untuk memberitahu, informasi apapun tidak penting buat saya tapi saya hanya kepo."


"Tidak usah kepo terhadap hidup orang lain."


"Baiklah, tapi bagaimana jika saya masih tetap ingin tau, Jika kamu nggak kasih tahu maka kemanapun kamu pergi saya ikut." ancam Farhan.


"Terserah, jika saya merasa kurang nyaman sebisa laporin kamu pada polisi karena mengganggu kenyamanan orang lain."


"Silakan, saya tunggu dengan senang hati."


"Awas minggir."


"Nggak mau."


"Kamu mau apa sih?"


"Mau tau itu yang di tangan kamu obat apa?"


"Ini hanya suplemen biasa dan obat sakit kepala, kalau bisa tanya dokternya, jika saya lagi pusing karena stres saya harus minum obat ini, apalagi jika kamu ada di hadapan saya itu juga membuat saya makin stres."jawaban Ana sangat penuh hati Farhan.


"Aku buat kamu stress? nggak salah? yang ada aku yang stres memikirkan kamu."


"Jika kamu stres ngapain Kamu nemenin aku? lucu kali lawakannya bang."


"Nggak mau tau, nggak mau peduli, ketemu kamu hanya kebetulan, jadi jangan besar kepala." jawab Farhan dengan ekspresi dingin.


"Baik, kalau begitu mari kita sama-sama tidak saling mengenal."jawab Ana mendorong Farhan sekali lagi.


Ana meninggalkan Farhan sendirian. sedangkan Farhan masih terpaku mendengar jawaban menohok Ana.


"Harusnya kata-kata itu keluar dari mulutku bukan dari mulutnya."gumam Farhan dengan kesal.


"Kamu pikir aku peduli apa dengan kamu, coba kalau nggak suruh mana peduli aku."gumamnya lagi.


Farhan masuk dalam mobilnya dengan kesal.Kepeduliannya tidak dianggap oleh ana membuatnya sangat tidak dihargai.


...****************...


Sedangkan di tempat lain Aldo sangat terburu-buru masuk ke dalam rumahnya.Dia tidak sabar ingin menyampaikan berita yang ia dapat kepada istrinya. Dia ingin menolong Ana melalui istrinya. Karena Aldo tahu bahwa Farhan pasti akan melakukan jika Karin yang menyuruhnya.


"Kok terburu-buru begitu?"mamanya bertanya karena merasa heran melihat anaknya.


"Biasa nggak sabar ketemu istrinya." jawab pesan kakek sambil tertawa yang duduk di sebelah mamanya.


"Kakek emang paling bisa mengerti." jawab Aldo sambil tersenyum.


Aldo kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ia membuka pintu kamar dengan pelan agar istrinya tidak kaget.Ia mendapati Karin sedang memainkan gadgetnya.

__ADS_1


"Sayang, mas ada berita penting." ucap Aldo berjalan keranjang dengan terburu-buru.


"Penting kali kayaknya, apakah aku akan dapat bonus?" tanya Karin dengan senyum.


"Tumben kamu matre, uang yang mas transfer aja kamu rusaknya dikit banget, kartu yang mas kasih nggak kamu gunakan." jawab yang merasa heran dengan istri mengenai belanjaan.


"Trus berita apa?"


"Dugaan kamu benar."


"Benar apanya? benar bahwa aku akan dapat bonus dari mas?" tanya Karin juga penasaran.


"Bukan itu, tapi mengenai Ana."


"Mas udah selidiki?" tanya Karin menelisik suaminya.


"Sudah, Jadi Ana itu saat ini sedang ada tumor di kepalanya."


Karin kaget mendengar cerita dari suaminya. Apa dia pikirkan ternyata benar apa adanya.


"Lalu apalagi?" tanya Karin kepada Aldo.


"Ini tentang masa lalu Ana dengan abangmu."


"Apa?"


Aldo menceritakan tentang ana kepada Karin. Mendengar Karin semakin merasa sedih tentang Ana. Apalagi di cerita ada menceritakan bahwa Farhan sering memarahinya ketika menyukaiku datang meminta maaf kepadanya.


Karin merasa keram sendiri dengan tingkah laku abangnya. Dia merasa sangat kesal sekali dengan sikap abangnya yang dinilainya masih belum dewasa.


"kamu harus ngomong dengan Abangmu."


"Jelas, tenang Aku tahu dengan apa yang akan aku lakukan." jawab Karin dengan tersenyum.


"Mandi dulu sana ah." tolak Karin.


"Gitu sekarang ya, nggak mau di peluk lagi pulang kerja."


"Kan demi calon bayi kita, mana tahu kamu bawa bakteri dari luar."


"Iya deh,mas mandi dulu."


Aldo melangkahkan kakinya dia juga mau mandi. Sedangkan Karin menyiapkan baju untuk suaminya.


"Yang telpon sekarang aja abangmu, agar permasalahan ini cepat selesai." ucap Aldo.


"Baik." jawab Karin.


Setelah menyiapkan baju ganti untuk suaminya dia langsung mengambil ponselnya. Dia mencari nomor abangnya di ponselnya.


"Halo dek."


"Abang bisa kesini?" tanya Karin.


"Ngapain dek?"


"Aku kangen sama Abang, mungkin ini bawaan bayi." jawab Karin.


"Bawaan bayi Mulu, jebakan Batman nggak?" tanya Farhan dengan curiga.

__ADS_1


"Jika Abang nggak percaya nggak usah datang." ucapkan langsung mematikan ponselnya.


Karin yakin bahwa ini adalah trik yang akan berhasil. Dia sangat yakin abangnya akan datang karena menyerah dia sedang ngambek.


Karin tersenyum sambil menyusun strategi yang akan ya lakukan. Saat Karin tersenyum, Aldo keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang.


"Kenapa senyum - senyum sendiri?" tanya Aldo pada istrinya.


"Ada deh." jawab Karin sambil tersenyum.


"Mikirin mesum ya." tuduh Aldo sembarangan.


"Mama ada." Karin langsung mencubit perut Aldo karena kesal.


"Awww, sakit sayang, ini tanpa penghalang loh." jawab Aldo sambil meringis.


"Biarin biar tau rasa." jawab Karin ingin berjalan menjauh dari Aldo.


Namun langkahnya terhenti karena suaminya dengan cepat memeluknya dari belakang.


"Mas, apaan nih? basah loh."


"Namanya harusnya mandi yamg jawab Aldo cara diantara keduanya.


"Mas nggak lapar ya?" tanya Karin.


"Mas lapar tapi ingin makan kamu aja." ujar Aldo membalikkan tubuhnya Karin.


Dia lansung melahap bibir manis istrinya. Keduanya saling menikmati keindahan yang terjadi di antara keduanya.


Tok tok tok


"Tuan, nona ada tuan Farhan di bawah."


Aldo lansung mengeram kesal mendengar nama itu sudah ada di bawah. Karin melepaskan ciuman mereka.


"Udah ah, ada Abang."


"Biar aja dia menunggu yang." jawab Aldo dengan kesal.


"Kan tadi kamu yang suruh dia datang mas?"


"Menyesal mas menyuruh dia datang, lagian kok dia cepat banget sampainya." keluh Aldo.


"Udah ah, nanti bisa di sambung."


"Ini sedang on sayang." ucap Aldo sambil menahan nafasnya.


"Tinggal off aja kok repot, udah." jawab Karin berjalan meninggalkan suaminya.


"Berdosa loh jika suami nggak Redho." ucap Aldo sambil tersenyum .


Mendengar ucapan suaminya Karin membalikkan badannya. Dia juga tidak ingin di anggap istri durhaka terhadap suaminya.


Aldo tertawa melihat istrinya kembali mendekatkan diri.


"Hehehe sini cepat." ucap Aldo lansung mencium kening istrinya.


"Dah duluan aja kebawah, mas pakai baju dulu bentar." ucap Aldo tersenyum sedangkan Karin bingung.

__ADS_1


"Udah cepat sebelum mas berubah pikiran."


Karin meninggalkan Aldo di kamar. Sedangkan Aldo lansung memakai bajunya dengan cepat.


__ADS_2