Setulus Cinta Karin

Setulus Cinta Karin
Di salahkan


__ADS_3

Gladys merasa agak bersedih setelah Aldo baru saja menghubunginya. Yang membuat dia sedih adalah ketika ATM berjalannya berhenti. Dia nggak bisa lagi untuk berfoya-foya.


Dia yakin untuk meminta duit kepada kakaknya akan susah sekali. Meskipun kakaknya itu kaya raya, dia merasa kakaknya itu sangatlah pelit kepadanya.


Gladys memutar otaknya agar ia tidak kekurangan duit untuk bersenang-senang. Dia tidak bisa hanya mengandalkan uang dari kakaknya saja. Seketika dia pusing memikirkan semuanya.


Gladys berjalan menuju ruang ke ruang tengah di lantai bawah. Saat menuruni tangga ia melihat kakaknya baru saja pulang. Gladys mempercepat langkah kakinya agar ia bisa berbicara kepada kakaknya.


"Kak bagi uang dong." ucapnya ketika sudah dekat dengan kakaknya.


"Kan sudah kakak bagi uang bulanan, kenapa baru 2 minggu kamu sudah minta lagi?" tanya sama Kakak berak dengan pola belanja adiknya.


"Kak itu itu nggak cukup untuk kebutuhan aku sebulan, segitu malahan seminggu udah habis." jawab Gladys.


"Seminggu sudah habis, kamu dewasalah lagi, pandai-pandai mengatur keuangan."


"Kakak aja yang pelit, duit segitu mana cukup untuk sebulan."


"Nggak cukup jika kamu clubbing tiap malam, nggak cukup jika kamu belanja nggak jelas."


"Semua itu kebutuhan aku, Aku ini masih muda Kak, aku wajib menyenangkan diriku selalu mudah."Gladys menjawab.


"Ya sudah silakan kamu bekerja, jika susah rasanya silakan kamu bekerja di perusahaan kita, biar kamu tahu rasanya cari duit." ucap Ana berjalan meninggalkan adiknya.


Dia cukup sakit hati dengan perkataan adiknya. Di saat dirinya kesulitan mengatur keuangan agar perusahaannya tidak pailit akan tetapi adiknya mengatakan dia pelit. Dia memang sengaja tidak memberitahu adiknya tentang semua kesusahan yang ia rasakan. Dia kita ingin adiknya merasakan apa yang ia rasakan.


Akan tetapi ternyata adiknya masih belum bisa menerima semua itu. Padahal untuk ukuran anak kuliah uang 10 juta sebulan sudahlah besar.


Ana berpikir keras di dalam kamar. Dia memikirkan apa yang ia lakukan untuk adiknya. Dia ingin adiknya bisa hidupnya mandiri tanpa dirinya suatu saat nanti.

__ADS_1


Ana berjalan keluar dari kamarnya.Ia harus menjelaskan kondisi keuangan perusahaannya kepada Gladys.


Ana tidak menemukan keberadaan adiknya. Ia mencari adiknya ke kamar nya. Ana membuka pintu kamar Gladys dengan perlahan. Dia melihat adiknya sedang main tiktok.


"Dis bisa kita bicara sebentar?" tanya Ana kepada adiknya.


"Kenapa?" tanya Gladys menghentikan aktivitasnya.


Ana duduk di tepi ranjang milik gladis. Gladys mengikuti kakaknya dengan duduk di sebelah kakaknya.


"Kakak mau bicara sejujur-jujurnya, kakak mau bicara tentang keadaan perusahaan kita saat ini."


"Silahkan."


"Perusahaan kita mengalami kerugian besar saat proyek beberapa bulan yang lalu gagal, saat ini keuangan perusahaan tidaklah stabil, Kakak berharap kamu bisa berhemat karena jika tidak kita tidak akan mampu melewati ini semua, berubahlah ke arah yang lebih positif."


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"


"Karena mustahil perusahaan kita yang sudah berdiri lama mengalami krisis keuangan."


"Jadi kamu bilang kakak berbohong?"


"Tentu, saya tahu apa tujuan kakak, Kakak juga pernah muda, juga pernah berfoya-foya seperti aku, jadi aku mohon hentikan sandiwara kakak."


"Terserah Jika kamu berpikir seperti itu, Jika kamu berpikir bahwa itu perusahaan keluarga, Kamu berpikir bahwa menikmati hasilnya, silakan kamu juga ikut mengurus semua kekacauan yang ada di perusahaan." ucap Ana merasakan sakit teramat sakit.


"Kenapa Kakak menarik untuk bekerja di sana? Aku ini masih muda belum siap untuk terjun bekerja, aku sudah bilang masih ingin menikmati kesenangan di masa muda."


"Lalu terima saja uang bulanan kamu." ucap Ana emosi.

__ADS_1


"Kak jika perusahaan mengalami krisis keuangan itu semua salah Kakak." jawab Gladys tanpa memikirkan perasaan kakaknya.


"Salah kakak? Kenapa ini jadi salah Kakak? " tanya Ana emosi di salahkan.


"Karena Kakak nggak becus kerja, ini semua pasti karena kakak terlalu sibuk mengejar bang Farhan, sehingga Kakak melalaikan pekerjaan kakak."


"Tutup mulut kamu Jika kamu tidak tahu apa-apa." jawab Ana berdiri mengingatkan adiknya.


"Kenapa? apa tidak ada lelaki lain sehingga kakak harus mengejar mau Farhan segitunya, wajar jika bang Farhan jijik dengan kakak karena wanita terlalu merendahkan dirinya demi lelaki, udahlah berkhianat eh malah nggak tau malu muncul di hadapannya." ujar Gladys kesal kepada kakaknya.


Plakkkkkk


Gladys memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Ana. Ia tidak menyangka bahwa kakaknya akan sampai hati menamparnya.


"Saya menyekolahkan kamu agar mulut kamu bisa bicara yang baik - baik."


"Tampar aja terus, berbuatlah sesuka kakak, jangan mentang-mentang kakak yang mengurus kakak lalu kakak berusaha untuk mengatur aku semuanya, urus diri kakak dengan benar baru urus orang lain." jawab Gladys berteriak.


Ana sedih melihat tingkah laku adiknya. Ia berjalan keluar dari kamar adiknya. Dadanya sesak mendengar ucapan adiknya. Ucapan Gladys begitu menancap dalam hatinya.


Ana masuk kedalam kamarnya. Dia membaringkan tubuhnya di kasur miliknya. Dia menangis menahan semua yang terasa sakit. Dia memegang kepalanya karena tiba - tiba merasa sakit. Ana mengambil obat yang ada di lacinya. Ia meminumnya dengan cepat.


Setelah selesai meminum obat, dia kembali membaringkan tubuhnya. Dia ingin melupakan segalanya dengan berisitirahat.


Sedangkan di kamar Gladys dia merasa sakit hati ketika kakaknya menamparnya. Dia mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari rumah. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Tidak tau kemana dia harus pergi. Dia merasa tidak ada tempat untuknya saat ini. Akhirnya Gladys memilih untuk pergi kerumah Farhan. Ia yakin hanya Farhan yang bisa ia minta tolong.


Akan tetapi dia tidak jadi turun di mobilnya ketika melihat Aldo dan Karin ada di sana. Ia meninggalkan rumah Farhan.

__ADS_1


__ADS_2