
Ana sedang menuju ke sebuah restoran untuk mencari makan siang. setelah pertemuannya dengan CEO Arkrana Group yaitu Daffin Arkarna. Tetapi perundingan mereka masih alit sehingga Pimpinan perusahaan tersebut belum menyetujui untuk bekerja sama dengannya.
Ana nampak sangat frustasi saat ini. Ia tau kemungkinan terbesar jika dia gagal bekerja sama dengan perusahaan terbesar itu. Maka perusahaan dia hanya akan tinggal nama.
Ana duduk dengan wajah yang frustasi. Ia termenung sambil menunggu pesanannya datang.Ia masih memikirkan segala cara yang menimpa dirinya.
"Apa aku gadai aja rumah kami untuk menutupi gaji karyawan bulan depan." ujarnya.
Ana masih bingung memikirkan semua. Ia masih ragu dengan menjaminkan rumahnya karena bisa membuatnya terusir dari rumah jika keuangan perusahaan masih belum stabil.
Setelah makanannya sampai ia langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya. Dia tidak ingin berlama-lama di restoran tersebut karena masih ada hal yang harus ia selesaikan.
Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang memperhatikan dia. Sepasang mata itu adalah milik Farhan Dinata. Lelaki itu agak sedikit menyerngitkan keningnya ketika melihat makan mana yang berlebihan. Ia cukup mengenal Ana sejak bangku SMA. Ana yang merupakan pacar pertamanya saat itu. Dia juga tau kebiasaan Ana. Wanita itu biasa makan sedikit.
"Banyak berubah." gumam Farhan.
__ADS_1
"Nona Ana memang berubah semenjak kehilangan kedua orang tuanya. Nona Ana sekarang lebih mandiri dan juga terkenal pekerja keras." ucap asisten Farhan.
"Saya tidak bertanya tentang dia, jangan menjelaskan jika saya tidak minta."kecup Farhan kepada asistennya.
"Baik pak." jawab sang asisten.
"Masih cinta tapi gengsi." ujar asisten dalam hatinya.
"Kamu mengumpat saya dalam hati?" tanya Farhan.
"Bayar sana, ayok kita kembali ke kantor." ucap Farhan.
Farhan berdiri lalu berjalan keluar dari restoran. Sedangkan asistennya berjalan tidak jauh darinya. Saat di pintu ia tidak sengaja bertemu dengan Ana. Mata keduanya bertemu sesaat, akan tetapi Farhan segera mengalihkan arah pandangannya.
"Farhan, apakah kita bisa bicara?" tanya Ana mencoba mengambil kesempatan.
__ADS_1
"Buat apa? maaf saya sibuk jadi tidak ada waktu." jawab Farhan nampak arogan.
"Lima menit saja."
"Lima menit saya sangat berarti, ini saya sangat menggangu saya,dan kamu Toni tolong singkirkan jika wanita ini ada di radius terdekat dengan saya, saya sangat jijik melihat wajahnya." ucap Farhan sangat menyakiti hati Ana.
"Baiklah, maaf tuan Farhan jika saya sudah menganggu waktu berharga tuan, sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya,saya permisi." ucap Ana sambil membungkukkan badannya.
Ia berjalan dengan dada yang sesak. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan lelaki itu. Apalagi jika lelaki itu mengatakan bahwa dia jijik melihatnya.
Ya dia memang menjijikkan di masa lalu. Dia paham bahwa dia tidak akan bisa meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu.
Ana masuk kedalam mobilnya. Dia menghapus air matanya ketika sudah di dalam mobil. Untuk di masa depan dia tidak akan mengemis maaf lagi kepada lelaki ini. Apalagi perjuangannya sudah 2 tahun terlewatkan tetapi lelaki itu bahkan tidak memberinya kesempatan untuk bicara.
Ketika melihat mobil Ana berjalan menjauhi restoran, Farhan hanya berdiri menatap kepergian mobil tersebut. Ada yang aneh dari hatinya melihat wanita itu pergi. Tapi sampai saat ini dia belum siap mendengarkan penjelasan wanita itu. Dia yakin bahwa itu akan jauh menyakiti hatinya.
__ADS_1