Setulus Cinta Karin

Setulus Cinta Karin
BAB 6 Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Karin agak pendiam semenjak kejadian panasnya dengan Farhan. Ia selalu menghindar dari Farhan semenjak itu.


Apakah Karin benar – benar menjauhi Aldo. Nyatanya tidak. Karin masih menjadi pacar gelapnya Aldo sampai saat ini. Dia mulai membatasi pergaulan semenjak kejadian itu.


Ia hanya sibuk dengan sekolahnya yang hamper lulus. Sudah 9 bulan Karin dan Aldo menjalain hubungan gelap. Karin semakin hari mulai terperangkap dengan perangkapnya sendiri. Ia mulai menyukai Aldo.


Semakin hari rasa sukanya ke Aldo semakin membesar. Apalagi Aldo 6 bulan terakhir ini lebih sering pulang keapartemen. Ia lebih sering menginap di apartemen dari pada pulang kerumahnya.


Mereka sudah seperti pasangan istri pada umumnya. Malam ini hujan turun. Karin gelisah menunggu kedatangan Aldo.Jam sudah menujukkan pukul 11.00 malam tapi tidak ada tanda – tanda kedatangan Aldo.


Karin ingin sekali menghubunginya tapi sampai sekarang Karin tidak punya nomor Aldo. Hampir setahun menjalin hubungan namun Karin tidak tau nomor Aldo. Karin hanya tau nomor yang khusus Aldo pakai menghubunginya namun hp itu tinggal diapartemen.


Hatinya gelisah karena tadi pagi Aldo sudah berjanji bakalan pulang ke apartemen. Karin terduduk lemas di kursi sofa berwarna abu abu. Jam 11.15 malam tiba – tiba pintu apartemen Aldo terbuka. Aldo juga kaget melihat Karin menunggunya sampai jam segini.


“ Kenapa belum tidur?” tanya Aldo lansung duduk disebelah Karin.



“ Nungguin kamu aja, tumben malam sekali pulangnya.”



“ Ohw tadi ada urusan, mumpung belum tidur gua mau ngomong sesuatu yang penting.” Aldo mengarahkan pandangan kearah Karin.


"Silahkan." Karin merasakan suasana yang tidak mengenakan.


“Gua mau hubungan kita cukup sampai disini saja karena gua sudah menemukan tambatan hati gue." Hati Karin begitu hancur mendengar apa yang dibicarakan Aldo.


__ADS_1


“ Mak..sud..nya?” Karin agak terbata – bata.



“ Iya, gua rasa gua sudah menemukan cinta gua, gue ingin jadi laki – laki yang baik, dan mulai saat ini gua sudah bertekat untuk mendapatkannya makanya gua harus memperbaiki diri gua dulu, Dia gadis yang baik, cantik, pintar dan keturunan baik – baik, loe tidak usah kuatir gua akan bayar loe 200 juta sebagai kompensasi karena loe sudah memuaskan gua dengan baik."


Hati Karin makin hancur mendengar apa yang keluar dari mulut Aldo. Matanya mulai berlinang namun ia coba tahan agar tidak menangis.


Hatinya perih mendengar perkataan Aldo yang melakukannya sebagai sampah. Namun ia sadar diri bahwa dirinya memanglah sampah masyarakat. Pekerjaannya sebagai wanita murahan memang pantas dbuang seperti sampah.


“ Loe nggak bisa bilang keberatan, gua juga seharusnya nggak perlu cerita ini."



“ Aku memang punya pilihan disini? baiklah tapi aku mohon berilah saya waktu untuk pindah, mungin sehari atau dua hari.” Karin mencoba memberikan senyuman palsunya.




“Terima kasih saran anda tuan, tapi jika saya masih ingin hidup mewah bagaimana dong, apa masih boleh minta uang sama Tuan?” Karin mencoba tersenyum lagi sambil bercanda.



“ Emang gua bapak loe, mantan suami aja yang nggak punya anak nggak ada tanggung jawab sama mantannya, lah kita nih apa…”



“ Mantan suami wajib bagi harta gonogini hehehe.” Karin mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1



“ Eh loe masih aja matre ya, jika lo kesusahan nanti loe masih boleh hubungi gua tapi permintaan hanya satu kali dan nggak aneh – aneh.” Aldo juga tertawa dengan candaan Karin.



“ Nyumbang ma anak yatim berkah loh.” Karin masih mencoba tersenyum.



“ Lah jika anak yatimnya sholehah iya berkah, loe apaan."


Hati Karin makin hancur mendengar Kata – kata Aldo yang terakhir. Dia baru sadar bahwa ia memang jauh dari Tuhan. Ia manusia yang paling menjijikan didunia ini.


"Emang gua apaan?" tanya Karin masih tersenyum menahan tangis.


“ Ya udah aku kekamar mandi dulu, ngantuk.” ucap Aldo berjalan menuju kamar.


Karin berlari kekamar mandi karena air matanya sudah tidak bisa lagi ditahannya. Sesampai dikamar mandi ia hidupkan air kran lalu menangis mengingat nasib yang ia alami.


Yang membuatnya makin menangis bahwa ia disadarkan akan pilihan yang diambilnya kala dahulu makin membuatnya hancur tanpa bersisa.


“ Aku memang wanita hina, nggak mungkin kamu mau denganku” tangisan Karin makin menjadi – jadi.



“ Aku yang tidak tau diri bisa suka sama kamu, dah jelas aku ini pelacur, siapa yang mau dengan aku sampah ini” hati Karin tidaklah baik malam ini karena cintanya bertepuk sebelah tangan.


Sudah puas dia menangis lalu Karin masuk kekamarnya. Ia melihat Aldo yang sudah tertidur. Karinpun merebahkan tubuhnya disebelah Aldo. Lalu memandang wajah Aldo dan berkata:

__ADS_1


“ Semoga engkau bahagia, I Love You” Karin mencium kening Aldo lalu membalikkan badannya dan memejamkan matanya berharap esok akan lebih baik dari hari ini.


__ADS_2