Setulus Cinta Karin

Setulus Cinta Karin
Karin berulah


__ADS_3

ketika Karin turun dari lantai 2 menuju ruang tamu, dia melihat abangnya yang sedang duduk di kursi tamu. Iapun menghampiri abangnya dengan duduk di sebelahnya.


Farhan tampak senang melihat adiknya yang sehat-sehat saja. Walaupun wanita ini sedang hamil tapi dia tidak nampak sedang mabuk karena kehamilannya.


"Kamu sehat?"tanya Farhat kepada adiknya.


"Sehat bang, Abang gimana?"tanya Karin ke abangnya.


"Abang juga sehat, ada apa menyuruh Abang ke sini?" tanya Farhan dengan waspada.


"Sebelum aku selesai bercerita, maka jangan membantah ataupun menjawab terlebih dahulu, cukup dengarkan Aku." ucapkan kepada Farhan.


Karin lalu memulai ceritanya. Ia menceritakan apa yang terjadi kepada anak saat ini. Dia juga menceritakan semua cerita Aldo mulai dari A sampai Z tanpa terlewati sedikitpun.


Farhan sudah tahu ke mana arah pembicaraan adiknya tapi tetap diam. Melihat Farhan yang tidak kaget sama sekali membuat Karin patah semangat.


Aldo juga begitu, dari kejauhan dia memperhatikan reaksi sahabatnya itu. Dia berpikir bahwa sahabatnya itu sudah tidak peduli dengan Ana. Dia yakin apapun yang terjadi dengan Ana, lelaki itu akan bersikap biasa aja.


"Jadi aku minta kakak bahagiakan kak Ana." ucap Karin.


"Bahagiakan Ana? apa kamu yakin? emang apa bisa kakak lakukan agar dia bahagia?"tanya Farhan kepada adiknya.


"Kakak lamar kak Ana untuk aku." jawab Karin dengan tegas.


"Kamu jangan minta yang aneh-aneh."


"Sama halnya ketika Abang meminta Aldo menikahi aku, abang berkata kepada suamiku " NIKAHI DIA DEMI AKU." ucap anak kepada sang Abang.


"Tapi abang nggak bisa sama sekali, tolong Jangan paksa Abang kali ini."


"Apakah tidak ada cinta yang tersisa di hati abang?"tanya Karin kepada Farhan.


"Cinta itu sudah mati ketika dia meninggalkan Abang, Abang nggak bisa dek."jawab Farhan menjelaskan kepada adiknya.


"Apa yang membuat Abang tidak bisa?" tanya Karin kepada sang Abang.


"Karena dia sudah dipakai oleh laki-laki lain, Abang nggak bisa." jawab Farhan dengan jujur.


Karin agak kaget mendengar pernyataan dari abangnya. Dia tidak menyangka bahwa abangnya sampai segitunya pemikirannya.


Begitu juga dengan Aldo, Dia berjalan menuju di mana Karin dan Farhan duduk.


"Apa yang kamu bicarakan sob? dia memang pernah menikah, dia bukan berzina." ujar Aldo kepada sahabatnya.


"Nah itu, Aku tidak akan pernah bisa membayangkan ketika dia sudah di jamah oleh lelaki lain, aku tidak bisa " jawab Farhan berterus terang.


"Lalu apa bedanya dengan Abang? bukannya Abang malah bermain banyak wanita?" tanya Karin tidak terima dengan alasan abangnya.


"Kamu tidak akan tahu perbedaan perasaan lelaki dan wanita, lelaki manapun tidak akan sanggup membayangkan bahwa istrinya nanti sudah pernah sama oleh orang lain, Abang tidak tahu dengan pemikiran lelaki lain bisa menerima itu, tapi tidak dengan Abang." jawab Farhan lagi.


"Jika itu terjadi sama kak Fina apa yang akan Abang lakukan?"tanya Karin kepada Farhan.

__ADS_1


"Kata adalah doa Karin, emang berharap kamu jangan berkata seperti itu lagi, apalagi perumpamaan yang jelek untuk kakak kamu." tegur Farhan tidak suka adiknya membuat perumpamaan seperti itu.


"Kenapa Abang marah? apakah Abang marah jika kak Fina seperti itu? lalu kenapa abang nggak mau membantu." ucap Karin.


"Kenapa kamu membuat perumpamaan seperti itu kepada kakak kamu? Apakah kamu masih marah sama dia sehingga kamu tega berdoa agar hidupnya seperti itu, Abang akan melindungi semua adik-adik Abang dari apapun itu."jawaban dari Farhan dengan ketus.


"Kenapa abang marah?"


"Kenapa Abang marah? betul lah seorang Abang akan marah apabila ada orang apalagi itu adiknya sendiri mendoakan kakaknya yang jelek-jelek."


"Aku tidak pernah mendoakan yang jelek untuk."


"Itu tadi apa?" tanya Farhan.


Melihat Kakak Adik itu beradu mulut membuat Aldo semakin bingung. Apalagi istrinya nampak agak emosi.


"Udah Karin, Abang kamu benar, kata adalah doa, kamu tidak boleh berkata seperti itu."tegur Aldo kepada istrinya.


"Baik, ternyata kamu juga belum move on dia, baik Aku cukup paham di sini, silakan kamu lanjutkan perasaan kamu dia." ucap Karin menatap Aldo dengan marah.


"Dan kamu, aku dan kamu sejak awal memang orang asing yang dipertemukan, tapi dari sini aku sadar, aku bukan Fanya adik kamu, aku tetap Karin seorang gadis miskin yang kamu hina, sedangkan adik kamu yang satu lagi adalah wanita yang terhormat, jadi aku cukup mengerti." ucap Karin berdiri dari duduknya.


"Karin kamu bicara apa? cepat minta maaf sama Abang kamu." tegur Aldo kepada sang istri.


Karin tetap tidak peduli dengan teguran suaminya. Dia melangkahkan kakinya meninggalkan Kedua lelaki itu.


"Karin berhenti!" ucap Aldo.


"Biarkan saja do, mungkin dia sedang sensitif, jangan terlalu keras padanya."nasihat Farhan kepada adik iparnya.


Aldo menghembuskan nafasnya yang terasa agak sesak. Dia tidak percaya bahwa ini akan terjadi pada diri Karin.Dia sedikit agak kecewa dengan sikap Karin yang kekanak-kanakan.


"Sudah, nanti pasti baik sendiri, ohya jika begitu aku pulang dulu." ucap Farhan ngin berpamitan.


"Kamu juga harus pikirkan permintaan Karin kepada kamu, karena jika tidak aku yakin wanita itu akan ngambek sepanjang hari, apalagi kondisi ana memang sedang tidak baik, jika memang kamu tidak ada hati lagi kepadanya maka cukup berpura-pura saja untuk sampai dia sembuh." ujar Aldo memberikan saran kepada Farhan.


"Baik nanti akan aku coba pikirkan."jawab Farhan lalu melenggang meninggalkan rumah Aldo.


Baru beberapa langkah dia membalikkan badannya lagi.


"Ingat dia sedang sensitif, kamu jangan bentak dia, untuk saat ini mungkin menuruti keinginannya ada baiknya, agar kandungannya baik-baik saja." ujar Farhan kepada Aldo yang sedang duduk.


"Baiklah, saran di terima."jawab Aldo sambil tersenyum.


"Aku pulang."


Farhan berjalan meninggalkan rumah Aldo sedangkan sahabatnya itu berjalan menuju anak langkah. Aldo masuk ke dalam kamarnya dan melihat Karin sedang meringkuk sambil menangis.


Aldo tidak tega melihat istrinya nangis seperti itu. Dia menghampiri istrinya karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap kehamilan nya.


"Udah jangan nangis lagi, Mas minta maaf jika ucapan Mas salah." ujar Aldo mengusap punggung Karin.

__ADS_1


"Jika kamu memang cinta sama kak Fina silahkan, aku nggak akan ganggu hubungan kalian kok, silahkan suruh dia pulang ke sini." ucap Karin ngambek.


"Ya nggak mungkinlah, saat ini hanya kamu wanita yang mengisi hati Mas."


"Bohong."


"Kok bohong, orang faktanya seperti itu." jawab Aldo.


"Mau aku belah dada kamu agar aku tau kamu bohong apa tidak?" langsung duduk dan menatap Aldo dengan tajam.


aduh kaget mendengar ucapan sang istri yang menurutnya ekstrem. Jika dia beranggapan itu candaan, akan tetapi wajah wanita ini tampak sangat serius.


Karin turun dari ranjangnya menuju meja belajar. disana dia mengambil sebuah pisau yang memang sudah ada di atas piring karena tadi mengupas apel.


Melihat Karin membawa pisau dengan serius, membuat Aldo semakin takut.


"Apakah istriku kemasukan dedemit atau sedang stres akibat hamil, tuhan tolong aku."doanya di dalam hati.


Melihat wajah Aldo yang ketakutan membuat Karin tertawa terbahak-bahak.


"Hebatkan akting aku?" tanya Karin sambil menaikan alisnya di depan suaminya sambil tersenyum.


"Kamu?"tanya Aldo masih dengan syok.


Karin kembali meletakkan pisau itu di tempat semula sambil tertawa terbahak-bahak.


"Hebatkan akting aku, aku yakin bang Farhan tidak akan bisa menolak keinginan kita lagi."ucapnya menjelaskan kepada Aldo.


"Maksudnya gimana sih?" Aldo masih saja tidak paham.


"Tadi aku hanya akting agar bang Farhan mengira aku beneran ngambek, dan aku juga akting marah dengan kamu karena masih membela Kak Fina, aku yakin bahwa kamu tidak mungkin lagi mencintai kak Fina karena hati kamu sudah ada." ucap Karin mendekat ke arah Aldo.


"Jadi tadi cuman akting sayang?" tanya Aldo masih kurang yakin.


"Iya mas." jawab Karin menyakinkan suaminya.


Aldo langsung senang mendengar jawaban istrinya. Dia tersenyum karena tahu bahwa ini hanya akting. Dia langsung menjewer telinga istrinya karena sudah membuatnya kalang kabut.


"Kamu ya, kamu tau nggak mas tadi sudah hampir jantungan di bawah melihat kalian berantem." ucap Aldo dengan tangannya di telinga Karin.


"Sakit mas."ucapkan sambil tertawa.


"Mana sakit, orang mah cuman tempelin tangan aja di telinga kamu."jawab Aldo tidak terima dengan ucapan Karin.


"Benaran sakit loh."jawab Karin.


"Lebai."


"Biarin yang penting kamu sayang." jawab Karin tersenyum.


Aldo tersenyum senang lalu memeluk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2