
Farhan duduk melamun di kursi yang terletak di koridor rumah sakit. Pikirannya masih memikirkan ucapan Karin. Adiknya yang malang, adiknya hanya merasakan penderitaan sepanjang hidupnya.
Farhan telah mendapat laporan dari Nak buahnya. Mereka menemukan data bahwa Karin bukan hanya dapat penderitaan dari paman dan bibi palsunya saja. Dia juga kerap di bully di sekolah karena tidak punya uang jajan dan lainnya seperti anak pada umumnya.
Farhan juga tau penyebab Karin memulai pekerjaannya. Aldo orang pertama baginya. Dan setelah Aldo, Karin mencari pekerjaan yang halal.
"Ngapain di sini?" tanya Aldo mengagetkan Farhan.
"Karin menolak untuk di akui sebagai adik." jawab Farhan.
"Wajar, mungkin karena dia malu, apalagi kamu sering menghinanya." ucap Aldo.
"Ya aku akui aku memang salah, aku nggak tau bagaimana cara minta maaf."
"Tinggal minta maaf aja pun."
"Ngomong gampang, dia minta syarat jika aku memaksanya ikut pulang."
"Kan nggak harus tinggal di rumah kamu kan? tinggal pantau aja."
"Nggak, dia harus tinggal bareng aku, aku nggak mau dia hidup susah."
"Tinggal kasih duit aja kok."
"Kamu pikir dia akan mau menerima?"
"Maulah, bukannya dia matre?"
__ADS_1
"Hey sekarang dia adikku, jangan......"
"Jadi mentang-mentang adikmu penilaianmu berubah?"
"Udahlah aku pusing, dia nggak mau di akui sebagai adik."
"Emang apa syaratnya?"
"Katanya jika tinggal bareng kami maka siap - siap kamu di rebut dari Dinas."
"Hahahahaha, emang aku barang pakai rebut - rebut segala." jawab Aldo tertawa.
"Kamu ini, aku pusing kamu malah tertawa." ucap Farhan kesal.
"Hati aku sama Fina, mohon maaf aku dan dia sejak dulu tidak ada perasaan apa-apa."
"Tapi kemaren kamu nampak peduli."
"Jadi kamu yakin bahwa dia tidak akan mempengaruhi pernikahan kalian?" tanya Farhan menyakinkan diri.
"Iya, tenang aja, sedikitpun dia tidak akan berhasil, mohon maaf jika ada yang lebih baik kenapa memilih yang tidak jelas." ucap Aldo.
"Kamu nggak pernah jatuh cinta sama dia?" tanya Farhan.
"Sama seperti kamu, apakah kamu pernah jatuh cinta sama ****** kamu?" tanya Aldo.
"Karin bukan ******." ucap Farhan emosi.
__ADS_1
"Tapi faktanya itu yang terjadi." jawab Aldo.
"Tolong jangan kamu ungkit masa lalu lagi, kita sama - sama bejatpun "
"Jadi gimana solusinya?"
"Jika kamu memang tidak ada rasa lagi, ya sudah." jawab Farhan.
"Aku mohon tolong tutupi tentang masa laluku dengan dia." ucap Aldo meminta tolong.
"Baiklah, aku juga tidak mau aib dia terbongkar, dan aku juga tidak mau Fina tersakiti." ucap Farhan.
"bang Farhan, Bang Aldo Karin dimana?" tanya Frans yang tiba-tiba datang dengan panik.
"Ada di kamarnya, kayaknya lagi tidur."
"Mana ada, aku sudah ke sana tapi tidak ada siapapun." jawab Frans.
" Di kamar mandi?" tanya Aldo.
" Juga tidak ada." jawab Frans.
Farhan dan Aldo langsung kaget mendengar jawaban Karin. Mereka lansung berjalan menuju kamar Karin.
Sesampainya di sana mereka menemukan kamar Karin sudah kosong. Tidak ada siapapun di sana. Farhan berjalan menuju sisi ranjang. Ia menemukan sepucuk surat denah sebuah sertifikat rumah.
(Ini ada sertifikat rumah yang saya beli dari uang yang kamu berikan untuk meninggalkan Aldo saat dulu, ini uang kamu bukan milikku, aku kembalikan, jangan cari aku lagi karena aku tidak akan pulang walaupun kamu memberikan segepok uang atau emas berlian, Jika kita tidak sengaja bertemu maka berpura-pura tidak saling kenal saja."
__ADS_1
Farhan terdiam saat membaca surat dari Karin. Entah kenapa dia kesal terhadap orang yang membantunya. Dia tidak yakin jika Karin bisa melakukan sendiri di saat baru saja terbangun dari koma.
"Doni." ucapnya dengan geram sambil menggerakkan kepala tinjunya.