
Karin berjalan meninggalkan meja makan. Hatinya sudah tidak sanggup menahan semua rasa yang ia dapatkan. Semua yang ia dapatkan hanyalah kepahitan belaka.
Namun langkahnya tertahan saat Aldo menyentuh tangannya. Aldo menahan Karin agar berhenti.
"Lepas." ujar Karin mencoba melepaskan tangannya dari Aldo.
"Apa maksud kamu meninggalkan saya." ucap Aldo dengan ekspresi dingin.
"Lepas, mungkin itu lebih baik." ujar Karin mencoba melepaskan tangannya.
"Minta maaf sama kakek." ujar Aldo.
"Saya tidak butuh dia meminta maaf ke saya, dia harus minta maaf sama Tante Nila dan Rere." ujar sang kakek.
"Kenapa?" ujar Aldo berjalan membawa Karin semakin mendekat ke meja makan.
"Ceritakan Nila kepada dia, agar dia tau seperti bapa istrinya itu." ujar sang kakek.
Nila tersenyum senang dalam hatinya. Akhirnya tujuan dia tinggal di rumah ini hampir tercapai. Ia yakin hari ini Aldo akan mencampakkan wanita itu. Apalagi saat ini dia tau status Aldo juga sedang mencintai wanita lain.
__ADS_1
"Jadi gini, Karin menyuruh Rere untuk menjadi simpanan lelaki kaya agar gampang mendapatkan lelaki kaya, Tante tegur dia tapi dia malah marah sama tante, dia bilang dia berhak bicara apapun di rumah ini karena dia nyonya rumah." ujar Tante Nila.
"Minta maaf Karin." ucap Aldo dengan ekspresi dingin.
"Nggak usah Aldo, mungkin karena Karin masih muda." ujar Tante Nila.
"Ya Aldo nggak usah sampai segitu kali." timpal papanya.
"Tidak pa,Karin harus belajar meminta maaf." ujar Aldo masih kesal karena ucapan Karin yang ingin meninggalkannya.
Aldo sebenarnya belum tidur sejak tadi malam. Sejak tadi malam ia mencoba memblokir dan menghapus akun - akun yang mencoba memviralkan video tentang istrinya.
"Kamu didik dia dengan benar, jangan buat malu keluarga, harusnya kamu nurut sama kakek untuk nikahi Rere yang sudah jelas asal usulnya." ucap sang kakek lagi.
"Kamu ini, jodoh siapa yang tau." ujar sang nenek yang lebih banyak diam.
"Baik kek, saya akan ajari dia dengan benar, saya permisi." ujar Aldo meninggalkan ruang makan.
Ia lelah karena kurang tidur. Pagi ini rasanya ia ingin mencari tempat tidur. Akan tetapi dia membawa Karin menuju ke arah luar rumah.
__ADS_1
Karin hanya berjalan sambil menangis. Ia tidak menyangka bahwa Aldo ternyata juga tidak mempercayainya.
"Apakah wanita sampah ini tidak bisa di percaya ucapannya?" tanya Karin dalam hatinya.
Aldo membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Karin tau bahwa lelaki ini sedang marah. Ia hanya diam menatap arah jalan lain. Air matanya masih saja meleleh.
"Hapus air matamu." ujar Aldo ketika mobil berhenti di sebuah warung bubur ayam.
Karin menghapus air matanya dengan kedua tangannya. Ia mencoba untuk tidak menangis lagi. Namun hatinya terlanjur sakit. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.
Karin malah menangis sesenggukan saat itu juga. Pertahanan dirinya runtuh juga saat itu. Melihat wanita di sebelahnya menangis membuat hati do terasa sakit. Ia mendekatkan diri ke Karin lalu membawa wanita itu kepelukannya.
Aldo mengusap punggung wanita itu agar tenang. Hatinya masih sakit saat mendengar wanita itu meninggalkannya tapi hatinya lebih sakit saat melihat wanita itu menangis.
"Sampai kapan kamu mau di pelukanku?" tanya Aldo sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Aldo, Karin lansung melepaskan pelukan lelaki itu. Namun lelaki itu tetap menahannya sambil tersenyum.
"Biarlah seperti ini sebentar lagi." ucap Aldo.
__ADS_1