Setulus Cinta Karin

Setulus Cinta Karin
Salah sangka


__ADS_3

Aldo menggeram saat Karin menganggukkan kepalanya. Ia tidak menyangka bahwa Karin akan bekerja mengumpulkan uang sendirian. rasa bersalahnya semakin besar kepada Karin.


Aldo terdiam sesaat, sedangkan Karin dan Ana saling pandang melihat ke Aldo. Melihat Aldo yang diam akhirnya ana buka suara.


"Boleh nggak do?" tanya Ana.


"Boleh tapi aku harus ikut." jawabnya lansung menggandeng Karin.


"Ini acara cewek, kok lu ikut sih." Ujar Ana sebal.


"Mau izin apa nggak? jika nggak boleh ikut pergi aja sendiri." jawab Aldo.


"Masa gua jadi nyamuk." ujar Ana lagi.


"Resiko lu." jawab Aldo menggandeng tangan Karin menuju kamar.


Karin sebenarnya enggan untuk pergi. Ia juga tidak terlalu mengenal Ana. Tapi mereka berdua membuat keputusan sepihak.


"Aku malas pergi." ucap Karin ketika Aldo menutup pintu.


"Kenapa nggak dari tadi bilang?" tanya Aldo heran.


"Karena kalian tidak memberi aku kesempatan untuk bicara." jawab Karin kesal.


"Udahlah karena udah terlanjur kita pergi aja deh sekalian jalan."

__ADS_1


"Tapi...."


"Membantah suami nggak boleh loh." jawab Aldo.


Karin bergegas menuju ruangan ganti baju. Ia mengambil baju yang akan di pakai. Lalu ia masuk ke kamar mandi.


Sedangkan Aldo lansung ganti baju. Aldo malas mandi lagi karena sudah mandi pagi hari.


Karin keluar dengan stelan celana dan baju tunik bewarna grey. Aldo terdiam melihat baju yang dipakai Karin. Ia menyadari bahwa baju yang di pakai Karin itu adalah baju yang dipakai masih bersamanya.


Aldo merasa bersalah karena tidak pernah memperhatikan apa yang di kenakan Karin. Ia yakin setelah berpisah darinya Karin harus berhemat uang untuk bertahan hidup.


"Ada yang aneh?" tanya Karin penasaran saat Aldo menatapnya.


"Nggak ada, aku lagi mikir sesuatu aja." jawab Aldo.


"Nggak, aku nggak pernah malu jalan dengan siapapun."


"Buktinya dulu kita tidak pernah jalan, kita hanya bertemu di apartemen." jawab Karin sambil mencibir.


Karin menyisir rambutnya yang sebahu. Ia masih ingat bahwa mereka tidak pernah jalan berdua. so hanya mesra saat mereka di dalam apartemen. Sedangkan saat di luar rumah mereka seperti tidak saling kenal.


"Jangan ingat masa lalu lagi." jawab Aldo sambil memeriksa ponselnya.


"Mungkin saat bersamamu kenangan yang indah ku lalui selebihnya menyakitkan." ucap Karin dalam hatinya.

__ADS_1


Aldo nampak mencari sesuatu dalam ponselnya lalu ia tersenyum menemukan apa yang ia cari. Ia mencari nomor rekening Karin untuk mentransfer uang setahun yang lalu. Ia yakin bahwa Karin masih memakai rekening tersebut.


"Aku sudah transfer untuk bulanan kamu, jika kurang nanti aku transfer lagi." ucap Aldo.


"Apakah itu pertanda aku harus melayani kamu nanti malam?" tanya Karin dengan ketus.


"Terserah, jika kamu maunya begitu aku semakin senang." jawab Aldo.


"Jadi dimatanya aku ini masih pelacurnya."ucap Karin merasa sakit hati.


"Ayo berangkat, kasihan si Ana terlalu lama menunggu kita." Aldo menyatukan tapak tangannya dengan Karin.


Karin hanya ikut langkah kaki Aldo. Ana merasa pasangan itu sangat cocok. Tapi ketika melihat pakaian yang di kenakan Karin, ia sangat sangsi. Baju yang di pakai Karin bagus akan tetapi tidak cocok di pakai oleh wanita yang mendampingi seorang lelaki berjabatan wakil CEO itu.


"Mari, pakai mobilku saja." ucap Aldo.


"Baik." ucap Ana.


Mereka berjalan menuju mobil Aldo.Saat Ana membuka pintu belakang, Aldo berseru.


"Siapa yang suruh kamu duduk di sana? kamu duduk di depan atau bawa mobil." sahut Aldo membuka pintu belakang untuk Karin.


"Yang duduk di belakang itu saya dan Karin sebagai nyonya Aldo, sedangkan kamu hanya penumpang." ucap Aldo lagi.


"Aku lagi malas nyetir, suruh sopirnya aja." ujar Ana kesal.

__ADS_1


"Enak aja aku jadi sopirnya." gumam Ana makin geram.


__ADS_2