
Aldo baru saja kembali dari rumah Farhan. Sejak turun naik mobil iya sengaja memasang wajah seolah-olah dia sangat bahagia setelah pulang jalan dengan Gladys.
Melihat Aldo pulang dengan wajah sumringah membuat hati kecil Karin terluka. Ia tidak menyangka bahwa seperti ini sakitnya saat suami jalan dengan wanita lain. Lalu bagaimana jika dia menginap di rumah perempuan lain. Karin merinding mengingat itu semua.
"Udah selesai jalannya?" tanya Karin dengan lembut.
"Sudah, ternyata Gladys gadis yang riang, ini membuat suasana hati bagus, kayaknya kita akan bahagia jika wanita riang masuk kedalam rumah tangga kita, mas malah tidak sabar ingin punya anak dengan dia, karena anak kami pasti akan lahir dengan sifat riang seperti Gladys, berbeda dengan kamu yang lebih sering tertutup." kejujuran Aldo semakin membuat hati Karin semakin sakit.
"Kamu bahagia?" tanya Karin mencoba menekan rasa sakitnya.
"Bahagia dong sayang, makasih ya sudah memberi Mas kesempatan untuk mengenal Gladys, pengorbanan kamu akan mas ingat selalu." ucap Aldo menatap Karin.
"Jika mas bahagia aku juga bahagia." jawaban Karin membuat Aldo kecewa.
Aldo sengaja berkata manis tentang Gladys agar Karin cemburu dengan perkataannya. Jika Karin cemburu maka dia akan melarang Aldo untuk melakukan poligami.
"Syukurlah jika kamu senang jadi Mas tidak harus menyakiti hati kamu."jawab Aldo berlalu menuju kamar mandi.
Karin merasa ada yang aneh dengan sifat Aldo. lelaki itu tampak seperti agak kecewa. Tapi Karin tidak tahu apa membuat lelaki itu kecewa.
Karin berjalan keluar dari kamarnya menuju menuju meja makan. Perutnya terasa lapar karena belum diisi sejak tadi.
Karin membuka tempat penyimpanan makanan. Dia melihat ada beberapa lauk yang sudah di masak oleh pelayan. Karin mengambil nasi dan lauk lalu membawanya duduk di meja makan. Karin menyantap makan siang dengan lahap.
"Lahap nampaknya." suara Aldo mengangetkan Karin yang sedang makan.
__ADS_1
"Amboi makan sendiri nggak ajak-ajak Mas."ucap Aldo duduk di sebelah kanan Karin.
"Mas belum makan?" tanya Karin.
Aldo menggelengkan kepalanya pertanda ia belum makan. Karin kaget saat melihat suaminya menggelengkan kepalanya.
"Maaf kirain tadi dari luar udah makan." jawab Karin.
"Udah tapi tadi sebelum nonton, eh lapar lagi." jawab Aldo.
"Aku ambilkan nasi dulu mas."
"Nggak usah, mas mau di suapin aja." ujar Aldo.
Karin menyuapkan Aldo dengan penuh kasih sayang. Setelah menyuapkan Aldo ia menyuap untuk dirinya sendiri.
"Tuan Aldo sangat bucin nggak sih sama nona Karin." bisik salah satu pelayan.
"Iya, tapi sayang mereka masih belum di kasih keturunan."
"Eh baru aja dua tahun, mungkin aja Tuhan memberi mereka waktu untuk pacaran dulu."
"Coba aku secantik nona Karin pasti dapat suami kayak tuan Aldo." ucap pelayan yang masih muda dengan pelan.
"Hahaha dia memang keturunan cantik - cantik dan gagah - gagah, tapi menurutku memang nona Karin yang paling cantik, cantiknya alami, jika nona Karin bergaya memakai baju - baju agak bergaya mungkin artis - artis tanah air lewat."
__ADS_1
"Jelas lewat, gayanya biasa aja udah cantik kayak gitu, artis mah banyak yang operasi plastik." jawab pelayan.
"Iya juga, nona Karin aja jarang perawatan udah cantik kayak gitu, nggak perawatan mahal kayak artis, tau nggak dia di batasi berpakaian sama tuan Aldo."
"Di batasi kenapa?"
"Ia katanya agar kecantikan nona Karin hanya dia yang menikmati, bahkan tuan Aldo sengaja membelikan Karin baju yang tidak menampakkan lekuk tubuhnya nona Karin."
"Hahahah ada - ada saja, bagusnya di pakaikan ninja aja Nina Karin agar tidak bisa di liat orang lain, atau di kurung dalam kamar aja."
Mereka tidak menyadari bahwa obrolan mereka semakin lama semakin kencang suaranya. Obrolan mereka terdengar sampai ke telinga tuan dan nona nya. Karin agak malu mendengar obrolan para pelayannya. Dia menilai bahwa pelayannya berlebihan dalam menilainya.
Sedangkan Aldo merasa apa yang diucapkan para pelayan itu benar adanya. Dia memang selalu membelikan kain baju yang tidak terlalu mencolok. Bukan bukan berarti baju yang dipakai Karin baju murah. Hanya saja baju yang dipakai tidak modis seperti yang dipakai wanita kebanyakan.
"Ide kalian saya terima, udah ngobrolnya? bukannya ambilkan tuannya nasi malah ngerumpi tuan dan nonanya, giliran nonanya di puji setinggi langit eh pas tuannya di jelekin aja." ucap Aldo.
"Udah lah mas, aku bisa ambil sendiri, toh ini sudah makan." jawab Karin membela mereka.
Hati para pelayan semakin berbunga-bunga jika nonanya sudah membela mereka. Mereka tau jika tuannya akan kalah dengan nonanya jika masalah berdebat.
"Jika begitu kalian tolong cuci piring ini." ucap Aldo.
"Mas, ini cuma satu, aku bisa sendiri, ini juga pahala buat aku mas." jawab Karin.
"Ada cara lain mencari pahala, ayo ikut mas." ucap Aldo menarik tangan Karin setelah cuci tangan.
__ADS_1
Para pelayan tertawa melihat mereka berdua.Mereka memang salut dengan nona Karin. Nona Karin selalu saja mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan. Terkadang para pelayan sudah melarangnya. Tapi jawaban nona Karin adalah sudah biasa melakukannya.
Jika banyak orang miskin ketika baru kaya dengan gaya sengak. Berbeda dengan Karin, wanita itu tetap rendah hati. Dia selalu hidup dengan sederhana. Padahal ibu mertuanya sering menasehatinya agar jangan terlalu sederhana karena bisa membuat malu keluarga besar. Ibu mertuanya takut di nilai keluarga mereka pelit dengan Karin. Namun Karin tetaplah begitu. Baginya kebahagiaan itu bukan lewat harta.