
Karin merasakan tubuhnya tidak enak belakangan ini. Entah apa yang terjadi Dia selalu merasa kelelahan. Karin malas melakukan aktifitas apa - apa termasuk kuliah.
Karin hanya ingin tidur di kamar tanpa ada yang mengganggunya. Dia merasa sangat lelah sehingga sangat cocok beristirahat dengan berbaring di kasur.
Aldo juga heran dengan istrinya. Beberapa hari ini istrinya hanya berbaring saja di kasur. Bahkan untuk makan ia juga menyuruh pelayan mengantarkan. Yang membuatnya geleng-geleng kepala adalah Karin sangat malas untuk mandi.
Beberapa hari ini, Karin sudah tidak mandi sudah beberapa hari. Banyak alasan yang diberikan ketika wanita itu di tanyakan oleh Aldo.
"Nggak mandi aja kamu masih betah memelukku, sudahlah aku sedang malas."
Also tiba-tiba mengingat sesuatu di pikirannya. Lalu ia tersenyum senang mengetahui fakta itu.
"Sayang apa kamu hamil? soalnya mas dalam bulan ini full dengan kamu." ucap Aldo mengingat bahwa ia tidak pernah absen menyentuh wanita itu.
"Ah mungkin terlambat saja, urusan begitu kamu cepat ingat." jawab Karin dengan malas berharap.
Ia sudah sering berharap namun akhirnya harapannya mengecewakan. Dia tidak ingin lagi berharap seperti yang lalu - lalu.
" Ayo kita periksa dokter baca Aldo dengan antusias.
"Malas ah, paling juga terlambat datang bulan." jawab Karin.
"Coba aja dulu, soalnya kamu itu akhir - akhir ini aneh.
"Apa? kamu bilang aku aneh? hik hik hik." Aldo kaget ketika istrinya lansung menangis ketika dia bilang aneh.
"Kok malah nangis sih, bukan gitu maksud mas, maaf jika mas salah ucap." jawab Aldo panik.
Aldo heran mengapa istrinya terlalu sensitif. Dia tidak tahu bagaimana harus membujuk istrinya. Saat ini istrinya seperti anak kecil yang direbut mainannya.
"Maafkan mas sayang, tapi mas bukan begitu maksudnya, kamu mau apa biar mas belikan." ujar Aldo membujuk.
"Aku punya tiga permintaan."
"Banyak kali yang."
"Jika nggak mau, ya udah." jawab Karin merajuk.
"Ya sudah, mas akan penuhi apa aja keinginan kamu, coba sebutkan, tapi syaratnya kita harus ke dokter siang ini juga." ujar Aldo mencoba bernegosiasi dengan istrinya.
"baik." ucap Karin tersenyum.
Aldo merasakan ada hawa yang tidak enak ketika melihat senyum Karin. Dia yakin bahwa wanita ini akan mengerjainya.
__ADS_1
"Baik, aku akan sebutkan tiga permintaanku, 1. kamu harus mau menjitak kepala bang Farhan."
"Stop, kamu mau membunuhku? gila aja harus mencetak kepala Farhan, bisa-bisa Aku dibunuhnya sayang."ucap Aldo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah jika nggak mau." ucap Karin.
"Oke, oke lanjut ke permintaan seterusnya."
"Permintaan kedua adalah kamu harus cariin aku mangga muda, tapi harus panjat dipohon."
"Mas yakin kamu pasti sedang hamil pakai pingin mangga muda segala."WhatsApp Aldo sambil tersenyum senang.
"Jangan senang dulu belum tahu pun."jawab Karin.
"Lanjut permintaan ketiga."ucap Aldo dengan senang karena dia yakin kali ini Karin beneran hamil.
"Permintaan ketiga adalah Aku ingin kamu menyelidiki tentang kak Ana."
"Kenapa harus ikut campur masalah Ana sih?"
"Aku yakin ada yang disembunyikan oleh kak Ana, aku sangat yakin bahwa ada yang masalah mengenai kesehatan kak Ana."
"Kenapa Kamu berpikir seperti itu?" tanya Aldo dengan penasaran.
"Baik, ketiga permintaan kamu benar-benar membuat aku bisa dibunuh oleh abangmu, apalagi jika Abang mau tahu jika aku mencari tahu tentang Ana."
"Emang kenapa jika dia tahu? emang Jika dia bermusuhan dengan mantannya terus kita harus ikut-ikutan gitu."
"Ya begitulah abangmu, egonya tinggi, dia tidak terbiasa di khianati." jawab Aldo menatap istrinya.
"Sekarang mari kita dokter dulu baru Setelah itu kita langsung ke rumah abang mu." ucap Aldo lansung mengajak istrinya kerumah sakit.
"Tapi kamu selidiki kak Ana dulu, takutnya Jika kamu tahu aku nggak hamil batalin lagi." ucap Karin tidak mau beranjak dari duduknya.
"Nanti aja, tinggal hubungi asisten mas."
"Nggak mau, hubungi sekarang baru kita berangkat."
Aldo menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
Dia merasa seperti bernegosiasi dengan anak kecil. Aldo lansung mengambil ponselnya di atas nakas sebelah ranjangnya.
"Halo, Tolong kamu selidiki tentang Ana, apapun tentang kesehatannya maupun perusahaannya, dan aku tunggu infonya secepatnya." perintah Aldo.
__ADS_1
Aldo menutup teleponnya sebelum yang di seberang sana menjawab perintahnya. Dia ingin cepat-cepat membawa istrinya kerumah sakit.
"Oke baik,karena kamu sudah mau memenuhi permintaan ketiga maka aku bersiap-siap dulu, Aku mandi dulu ya." ucap Karin berjalan menuju ke kamar mandi.
Selagi istrinya mandi di kamar mandi maka Aldo menyiapkan baju yang akan dipakai oleh istrinya berobat di rumah sakit. Dia memilih baju yang tidak terlalu mencolok .
Setelah selesai mandi Karin tersenyum melihat suaminya yang telah menyiapkan bajunya. Dia memang selalu di manjakan oleh suaminya. Dia bersyukur menikah dengan Aldo yang selalu perhatian dengannya.
"Udah siap?"tanya Aldo tiba - tiba muncul dari belakang.
"Tinggal sisir rambut sama bedak."
"Sini mas sisir." ucap Aldo berjalan mengambil sisir rambut di atas nakas makeup.
Aldo menyisir rambut Karin dengan hati-hati. Dia tidak mau wanita itu merasakan sakit. Karin semakin senang dengan perhatian - perhatian kecil yang diberikan oleh lelaki yang berstatus suami nya.
Setelah selesai Aldo juga membantu Karin mengambil tas kecil yang akan dipakaikan oleh istrinya. Dia memilih yang biasa digunakan Karin bisa pergi ke rumah sakit.
"Terima kasih mas." ucap Karin sambil tersenyum.
"Sama - sama sayang." jawab Aldo mencium kening istrinya.
Mereka keluar dari kamar hendak berangkat menuju rumah sakit. Ketika di lantai bawah mereka berpapasan dengan papa dan mama Aldo.
"Mau kemana kalian?" tanya mama dengan senyum.
"Mau kerumah sakit ma, semoga kali ini Karin benar hamil ma." jawab Aldo.
"Aamiin, memang ada tanda-tandanya?"tanya papanya.
"Karin bulan ini belum datang bulan, lalu dia ingin makan mangga." ucap Aldo bersemangat.
"Jadi jika Papa makan mangga berarti hamil dong." ucap papanya sambil tersenyum.
"Itulah pa, mas Aldo terlalu berlebihan." jawab Karin.
"Tapi Mama rasa Aldo ada benarnya, soalnya kamu akhir-akhir ini lesu dan bawaannya malas saja, itu juga tanda-tanda ibu hamil." ucap sang mama membuat Aldo semakin sumringah.
"Aamiin, semoga semua benar, jika tidak kita akan usaha lagi mumpung masih mudah." ucap Aldo juga tidak ingin membuat kedua orang tuanya dan Karin kecewa.
"Semoga kali ini benar, kakek sudah nggak sabar ingin cicit, biar lengkap kebahagiaan kakek di waktu tua, hahahaha." ucap sang kakek baru saja keluar dari kamarnya.
"Aamiin." ucap semuanya.
__ADS_1
Aldo dan Karin berangkat dengan penuh harapan. Walaupun pernikahan mereka dua tahun lebih tapi mereka berharap punya momongan.