Setulus Cinta Karin

Setulus Cinta Karin
Hasutan


__ADS_3

BUNG.


Karin kaget saat mendengar suara pintu dibanting. Ia melihat Aldo masuk dengan wajah yang memerah. Karin tidak tahu apa penyebab lelaki ini tampak marah.


Aldo langsung menampar Karin dengan keras. Karin kaget ketika ia ditampar tanpa sebab. iya mengelus pipinya yang sakit.


"Kamu jangan kurang ajar ya jadi istri." ucap Aldo dengan emosi.


Karin hanya diam memikirkan apa penyebab lelaki ini memukulnya. Melihat Karin yang diam membuat Aldo semakin marah.


"Kamu di sini hanya orang baru tapi sudah berani kurang ajar terhadap tante Nila, lain kali jika kamu kurang ajar sama dia saya robek mulutmu." marah.


Karin sudah tahu penyebab lelaki itu memarahinya.Ia tidak terima ketika dia ditampar begitu saja.


"Saya tidak pernah kurang ajar terhadap tante Nila." jawab Karin melakukan pembelaan.


"Jangan berani menjawab, tidak mungkin tante Nila berbohong kepada saya."


"Saya juga tidak berbohong tapi terserah anda percaya dengan siapa." jawab Karin berjalan menuju kamar mandi dengan marah.


"Saya belum selesai bicara."


langkah kaki kering terhenti ketika mendengar Aldo.Ia memutar tubuhnya agar bisa menetap Aldo kembali.


"Kamu jangan macam-macam saya bisa hancurkan saat ini juga" ucap Aldo.


"Silahkan, saya tau anda adalah orang berkuasa, saya ini hanya bagai semut bagi anda, nyawa saya dalam genggaman anda, silahkan bunuh saya." ucap Karin juga emosi.


"Kamu......" ucap Aldo berjalan mendekati Karin lalu mencekik Karin.


"Silakan Anda bunuh saya, Anda bunuh saja saya, bunuh." ucap Karin mengeluarkan air matanya.


Ia mulai lelah mengahadapi penderitaan hidupnya. Sebelumnya dia juga sering di siksa. Tamparan Aldo bukan apa-apa bagi Karin. Ia pernah hampir mati di buat oleh Yadi yang mengaku sebagai pamannya.


Melihat air mata Karin membuat Aldo melepaskan tangannya. Melihat matahari yang begitu rapuh membuat Aldo menjadi kasihan.


"Ayo bunuh aku, ayo...." ucap Karin memaksa Aldo mencekiknya.


Aldo mencoba menepis tangan Karin yang membawa tangannya ke lehernya. Aldo meninggalkan Karin agar emosinya tidak memuncak.


Saat Aldo meninggalkan kamar, Karin hanya terduduk di lantai sambil menangis. Hatinya merasa sakit saat diperlakukan seperti ini. Ia hanya menangis sama seperti dulu kala. Ia tidak bisa melakukan perlawanan apapun terhadap orang yang menindasnya.


Karin tidak turun untuk makan malam. Bekas tamparan Aldo masih jelas. Ia bahkan tidak bisa menutupinya dengan bedak.

__ADS_1


tok tok tok


"Nona di tunggu makan malam." ucap pelayan dari balik pintu.


Karin sengaja tidak menjawabnya agar di kira sedang tidur.


Tok tok tok


Terdengar bunyi pintu di ketuk lagi.


"Nona makan malam sudah tersedia."


Karin masih diam.


Tidak lama kemudian Karin tidak mendengar pintu di ketuk lagi.


Pelayan berjalan menuju meja makan.


"Mana Karin bi?" tanya mama Aldo.


"Nona sepertinya sudah tidur buk." jawab Pelayan.


"Ya sudah, biarkan saja dia istirahat." jawab mama Aldo.


"Nggak sopan bang, masa makan malam di tungguin sama mertuanya." Tante Nila mencoba membuat keruh suasana.


"Biasalah anak muda, kadang udah kenyang liat tugas." jawab papa Aldo.


"Mana ada seperti itu om, Rere juga kuliah, memang dianya nggak tau adab." jawab Rere tidak mau kalah.


"Nggaklah, Karin anak yang baik kok, aku sangat paham kakaknya." jawab mama Aldo.


"Nah itu bedanya, Farhan di besarkan oleh kalian, sedangkan kakak - kakak Karin di besarkan oleh pamannya, dan Karin ini besar sama orang yang tidak jelas, dia menjual dirinya, itu sudah menunjukkan betapa jeleknya prilaku dia mbak, dia itu wanita nakal." ucap Tante Nila membumbuinya.


"Udah ah, kita lagi makan masa gibahin keluarga sendiri." ucap papa Aldo tidak ingin berpikir terlalu negatif terhadap membantunya.


...****************...


Aldo pulang jam 1 malam. Ketika emosi dia menemui Fina di kafe. Setelah mengantarkan Fina pulang di jam 10 malam, dia tidak lansung pulang.


Aldo melihat Karin sedang tertidur sambil mendengarkan musik di ponselnya menggunakan headset. Aldo melihat masih ada bekas air mata di pipinya. Aldo juga melihat bekas tamparan tangannya tadi.


Aldo berjalan menuju kotak P3K. Dia mengambil salep untuk mengobati bekas tamparan di pipi wanita itu.

__ADS_1


Setelah mengobati bekas tamparan di pipi Karin, ia berjalan menuju dapur untuk mengambil es batu. Ia ingin mengompres bekas tamparan tersebut.


"Tuan mau saya panasi makanan?" tanya salah satu pelayan.


"Nggak bi, kok bibi belum tidur?" tanya Aldo.


"Saya sengaja belum tidur tuan karena menunggu nona Karin bangun, saya takutnya dia lapar dan ingin makan malam." jawab pelayan itu.


"Memang dia belum makan bi?" tanya Aldo kaget.


"Tadi saat makan malam nona Karin sudah tidur tuan." jawab pelayan.


"Ya udah tolong ambilkan sepiring aja bi ke kamar, untuk saya." ucap Aldo.


Ia yakin bahwa Karin belum makan. Saat jam makan malam ia yakin wanita itu hanya pura - pura tidur.


Aldo membawa es batu dan sepiring nasi ke kamarnya di lantai dua. Walau bagaimanapun ia harus membangunkan Karin agar juga bisa mengompres bekas tamparannya.


"Karin, Karin." panggil Aldo membangunkan Karin.


"Hmmmmm." jawab Karin dengan suara serak.


"Makan dulu, ini kompres pipimu." ucap Aldo meletakkan sepiring nasi di atas nakas.


"Aku kenyang." jawab Karin malas membuka matanya.


"Kenyang darimana, makan aja belum."


"Aku sudah makan tadi ketika pulang kuliah." jawabnya masih dalam memejamkan matanya.


"Makan Karin, jangan banyak alasan." ucap Aldo kesal.


Mendengar suara Aldo yang kesal, Karin akhirnya bangun dari tidurnya. Ia segera mengambil piring di atas nakas. Karin lansung memakan nasi tersebut.


"Bagaimanapun aku harus makan banyak agat kuat menghadapi kenyataan." ucapnya dalam hati.


"Ini sambil aku kompres, aku nggak mau besok mama dan papa melihat bekasnya." ucap Aldo mulai mengompres pipi Karin.


"Duh perih." rintih Karin.


"Ini sebentar aja perihnya, tahan bentar ya." ucap Aldo sambil meniup dengan pelan - pelan.


Karin merasa deg degan saat Aldo sedekat itu dengan wajahnya. Nafas Aldo terasa segar di hidungnya. Karin teringat kembali masa-masa indah mereka saat bersama. Walaupun pernah sebagai simpanan Aldo, tapi lelaki itu memperlakukan dia sangat lembut ketika malam hari.

__ADS_1


__ADS_2