
Farhan menyuruh asistennya mencari tau segalanya. Dia juga telah menyuruh asistennya agar bisa memberikan sampel untuk tes DNA.
Walau menunggu dua Minggu dia yakin bahwa Karin adalah adiknya. Bayangan wajah mamanya membuat ia semakin jelas.
"Keluarga pasien Karin." panggil dokter.
Aldo dan yang lainnya segera menuju ruang Karin di rawat.
"Kami dok, kenapa dok?" tanya Aldo.
"Pasien sudah sadar, sudah boleh di jenguk tapi jangan membuat pasien stres ya pak." kata dokter.
"Baik dok, terima kasih." jawab Aldo.
Karin terdiam saat melihat Frans dan Farhan masuk kedalam ruangannya.
"Karin, Alhamdulillah kamu sudah sadar." ucap Frans senang.
Farhan juga senang melihat Karin sudah membuka mata setelah 2 hari koma. Dia ingin memeluk Karin saat ini. Tapi menyadari kesalahannya di masa lalu membuatnya hanya diam.
Dia yakin bahwa Karin pasti sakit hati kepadanya. Dia sering menghina Karin. Bahkan dia pernah bilang bahwa gadis itu adalah sampah masyarakat.
Karin merasa tidak nyaman melihat tatapan Farhan. Ia yakin bahwa lelaki itu sedang tidak menyukai keberadaan Frans di sisinya.
"Bang Frans boleh pergi, aku tidak apa-apa, terima kasih telah menolong aku." ucap Karin tidak bersemangat.
Jika memilih Karin lebih memilih mati saja saat itu. Hidupnya yang tidak pernah bahagia. Dia bahkan sampai sekarang masih harus di kejar oleh Yadi.
"Ayo Frans, biar yang lain masuk." ajak Farhan mengajak adiknya keluar.
__ADS_1
Mereka berjalan meninggalkan kamar inap Karin.
"Bang kenapa nggak Abang bilang bahwa dia kemungkinan asik kita." ucap Frans.
"Nanti aja, takutnya dia kaget." jawab Farhan.
Setelah Farhan dan Frans keluarga, Aldo dan Doni masuk ke ruang inap Karin. Karin semakin kaget ketika melihat Aldo juga di sini.
"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga Rin." ucap Doni senang.
"Masih ingat teman." ucap Karin mencoba tersenyum.
"Kamu yang lupa sama aku mentang - mentang udah jadi mahasiswa." jawab Doni.
"Yang sarjana udah nggak pernah hubungi lagi." ejek Karin balik.
"Dah jangan banyak omong, kamu harus banyak istirahat."
Aldo yang merasa di kacangi segera keluar dari ruang tersebut dengan muka masam.
"Kenapa?" tanya Doni.
"Biaya di sini pasti mahal, kamu tolong jual rumah aku aja, uang tabunganku pasti tidak cukup untuk biaya, tolong urus cepat perpulangan dari sini." ujar Karin.
"Hahahaha, kamu masih mikirin biaya padahal baru saja sadar dari koma." ucapnya.
"Aku serius, aku nggak punya uang bayar rumah sakit ini.";ucapnya.
"Biaya pengobatan kamu udah di tanggung seseorang."
__ADS_1
"Seseorang siapa?" tanya Karin.
"Ngakunya keluarga kamu."
"Yadi?"
"Emang Yadi keluarga kamu?" tanya Doni tertawa.
"Jadi siapa? bagaimana kang kasep menyamar jadi keluarga saya." ucap Karin.
"Aamiin, kamu yang doa ya."
"Aku serius kamu malah bercanda."
"Bentar lagi kamu juga bakalan tau, kamu asik konglomerat."
"Konglomelarat iya." jawab Karin sambil tertawa.
"Ishhh dia nggak percaya, tunggu aja kejutannya."
Tiba-tiba om Fahri dan istrinya masuk. Om Fahri menangis melihat Karin. Sejak bertemu Karin, dia menyadari bahwa Karin sangat mirip dengan almarhumah mamanya.
"Fanya." ujar om Fahri
"Fanya? tanya Karin bingung.
"Kamu ternyata keponakan aku Fanya, nama kamu Fanya." ucap om Fahri.
"Aku nggak ngerti ." ucap Karin lagi.
__ADS_1
"Karin maafkan kesalahan saya, kamu kemungkinan adalah adik saya." ucap Farhan membuat Karin semakin bingung.