
Karin sedang duduk melamun di balkon apartemen. Aldo yang baru saja selesai mandi langsung menghampiri wanita itu. Dia tersenyum melihat apa alaminya kecantikan wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.
"Kamu sedang memikirkan apa?"tanya Aldo memeluk Karin dari belakang.
"Aku nggak mikirin apa-apa." bohong Karin.
"Jika nggak mikirin apa-apa kenapa kamu melamun kayak gitu?" tanya Aldo dengan lembut.
" Aku hanya menikmati pemandangan dari sini."jawab Karin.
"Hanya menikmati pemandangan? yakin nggak ada yang lain?" tanya Aldo.
"emang kenapa?" tanya Karin penasaran dengan pertanyaan Aldo.
"iya kurang yakin aja, kamu mau jujur atau aku gelitikin?" tanya Aldo lansung gelitikin Karin.
"ampun - ampun, geli." Karin tertawa karena geli. Ia membalikkan tubuhnya sehingga menghadap Aldo.
"Makanya ayo jujur sekarang, tadi mikirin apa?"
"Tapi nggak marah?"
"Lihat apa yang kamu pikirkan."
__ADS_1
"Ahhh kalau gitu nggak mau ah." ujar Karin tersenyum.
"Mikirin apa?"
"Kamu percaya apa yang terjadi tadi pagi di rumah?" tanya Karin dengan ragu.
"Kamu maunya aku percaya apa nggak?" tanya Aldo tersenyum.
"kok gitu?"
"Menurut kamu apakah aku percaya?"
"Ya nggak tahu, makanya aku tanya."
Aldo terdiam sesaat sambil menatap wajah wanita yang ada di depannya. Aldo berpikir apa yang ia rasakan terhadap wanita ini. Dia pernah kuatir saat wanita ini terbaring lemah di rumah sakit. Dia juga marah saat wanita itu meninggalkannya ketika hari pernikahan sudah dekat.
Tetapi Aldo kembali sadar bahwa Karin tidak pernah menghianatinya. Karin selalu setia kepadanya saat menjadi simpanannya atau setelah mereka berakhir. Wanita itu terlalu polos saat Aldo mengenalnya.
Karin menatap Aldo terdiam menatapnya. Perasaan Karin tidak nyaman saat ditatap oleh lelaki itu. Karin yakin bahwa lelaki itu tidak akan pernah mempercayainya.
"Aku percaya dengan kamu."jawaban Aldo yang membuat Karin tidak percaya.
"Kamu percaya?" tanya Karin dengan ragu.
__ADS_1
"Ya aku percaya, apa ada yang salah?"tanya Aldo menatap wanita itu dengan wajah serius.
"Kenapa?"
"Karena kamu tidak pernah bohong sama aku."
"Tapi mereka keluarga kamu."
"Aku paham bagaimana sifat tante Nila dan Rere, mereka sejak dulu memang sudah mengincar aku." jawab Aldo menatap ke arah lain. Dia memandang sangat jauh.
"Mereka bahkan dulu juga menjelek-jelekkan Kakak mu, Rere sangat terobsesi untuk menjadi istriku, sedangkan kakekku sangat mendukung Rere agar menjadi istriku karena mereka ingin kekayaan kami tidak jatuh kepada orang lain, kakek masih berpikir kulot untuk hal itu, tapi untungnya kedua orang tuaku tidak pernah memaksa aku seperti itu." cerita Aldo.
"Kenapa kamu tidak menikahi Rere?"
"Karena Rere bagiku seperti adik, hatiku tidak pernah tertarik kepadanya, jika bukan keluarga mungkin dia sudah kutendang karena sikapnya itu sangat menjijikkan terkadang." ucap Aldo tanpa di duga oleh Karin.
"Lalu Kenapa kamu marah sama saya tadi pagi?" tanya Karin agak sebal.
Aldo tersenyum melihat Karin memasang wajah sebalnya. Menurutnya wanita itu sangat imut jika sedang sebal. Sifat ini yang tidak pernah di lihatin oleh Karin sejak dulu.
"Siapa yang nggak marah jika kamu main ancam meninggalkan aku tanpa izin aku." ucap Aldo mengacak rambut Karin.
"Hey kenapa harus izin segala, toh kita juga tidak saling suka." jawab Karin makin kesel karena rambutnya berantakan.
__ADS_1
"Jadi yang ngomong cinta tadi pagi siapa di kamar?" tanya Aldo tersenyum.
Wajah Karin memerah saat tahu Aldo belum tidur saat ia mengatakan kata-kata cinta. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Sedangkan Aldo semakin senang melihat wajah kering yang memerah oleh nya.