Setulus Cinta Karin

Setulus Cinta Karin
Salah paham


__ADS_3

Karin berjalan dengan sedikit malas masuk ke dalam kamar nya. Ia yakin bahwa suaminya belum di rumah saat ini. Dia membuka pintu kamar lalu kaget menemui Aldo sudah ada di dalam kamar.


"Kenapa kamu baru pulang? bukannya dari tadi aku suruh pulang." ucap Aldo berpura-pura memasang wajah dingin.


Aldo tau bahwa Karin masuk kedalam kafe bersama Ana.


"Tadi aku singgah di cafe dulu, nggak sengaja ketemu Kak Ana."jawab Karin menjelaskan kepada suaminya.


"kok tidak kabarin?"tanya Aldo lagi.


"Nggak kepikiran, kirain kamu sibuk dengan calon istri keduanya, jadi nggak enak juga untuk mengganggu."


"alasan."


"Ah terserahlah jika nggak percaya." jawab Karin dengan manyun.


Aldo enggak harus kepalanya melihat sikap istrinya. Harusnya dia yang mengambek akan tetapi malah istrinya yang mengamuk duluan.


"Kok pulang cepat? emang tadi ngapain aja sama calon istri kedua?" tanya Karin kepada Aldo.


"Sudahlah, kita akhiri aja semua, capek mas dengan semua ini."


Karin kaget mendengar ucapan suaminya. Dia tidak menyangka bahwa suaminya akan berkata seperti itu. Dia berpikir bahwa suaminya sudah mulai bosan dengannya. Apakah ini pertanda bahwa Aldo akan memilih gladys dan meninggalkan Karin?.


"Apa ini yang terbaik buat kita?"tanya Karin berdiri di hadapan Aldo.


Karin sejajar kan posisinya agar bisa menatap wajah Aldo.


"Mas pikir ini yang terbaik untuk kita semua, Mas capek harus bersandiwara." jawab Aldo.


"Capek? jadi selama ini Mas hanya bersandiwara?" tanya Karin mengulangi perkataan Aldo.


"Iya, belakangan ini Mas hanya bersandiwara, Mas ingin hari ini terakhir sandiwara Mas." jawab Aldo dengan jujur.


Aldo memang ingin mengakhiri sandiwara yang ia buat dengan Gladys. Gara - gara sandiwara tersebut ia sering tidak fokus dengan pekerjaannya. Dia tidak tahan karena tidak menemukan kecemburuan dalam diri Karin. Aldo semakin frustasi melihat Karin yang begitu saja.


Dia bahkan berpikir bahwa Karin tidak pernah mencintainya. Tapi dia bahwa cinta Karin terlalu dalam untuknya. Tapi dia heran kenapa wanita itu mau banyak berkorban demi dirinya.


"Jika mas lelah dengan sandiwara Mas kita bisa akhiri semuanya, aku rela mas tidak memilih aku, mungkin Mas sudah mulai bosan karena sampai hari ini aku......." ucapan Karin dipotong oleh Aldo.


"Mas lelah karena kamu tidak pernah cemburu sama mas." Aldo mengakui kecemburuannya.


"Mas bilang aku nggak cemburu? mas jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, hatiku sakit melihat Mas bersamaan dengan wanita itu, Mas nggak tahu gimana aku menekan rasa sakit agar Mas bahagia, tapi nggak apa-apa jika itu pilihan Mas aku hanya pasrah." jawab Karin merasakan sesak di dalam dadanya.


"Nah gitu dong, Jangan paksa Mas untuk memiliki dua istri." ucap Aldo tersenyum.

__ADS_1


Karin semakin sakit saat melihat senyuman dari Aldo. Dia tidak tahu bahwa aku akan bahagia jika melepas dirinya.


"Ternyata aku bukan pilihanmu Mas." ucap Karin dalam hatinya.


Karin berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia tidak ingin menangis di hadapan lelaki itu. Dia tidak ingin seolah di mengemis cintanya Aldo.


Sedangkan Aldo senang saat Karin memutuskan untuk tidak memaksanya menikah lagi. Dia akan membuktikan bahwa cintanya tidak bisa dibagi kepada wanita manapun selain dirinya.Aldo akan menghubungi Gladys supaya mengakhiri kontrak kerjanya.


Di dalam kamar mandi Karin hanya bisa menangis.Rumah tangganya sudah di ujung tanduk saat ini. Dia hanya bisa menangis saat ini. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk pernikahannya.


"Apa daya aku Mas Jika kamu sudah bosan dengan aku, aku hanya wanita biasa, aku tidak bisa memberikanmu kebahagiaan yang utuh, aku makan tidak bisa melahirkan anak-anak untukmu, Apakah ini karma untukku." ucapnya sambil menangis.


Hatinya tidak bisa di gambarkan dan tidak bisa dijelaskan sakitnya kepada siapapun.Apa yang kamu rasakan saat kita tulus mencintai dia tapi takdir Tuhan berkata lain?. Apakah kita sebagai manusia bisa merubah takdir Tuhan?. Apakah 2 tahun masih kurang panjang perjuangan untuk memperoleh anak?.


Bagaimana perasaan kamu setelah takdirmu memilih bahwa kamu tidak bisa melahirkan seorang anak, kamu tidak bisa merasakan menjadi seorang ibu padahal berbagai macam cara, berbagai macam obat sudah diminum namun Tuhan masih berkehendak lain. Lalu apakah ini semua salahmu? Apakah kamu wajah untuk ditinggal?. Itulah kata-kata yang bersemayam di otak Karin.


Karin menghapus air matanya agar dia bisa berpikir jernih. Jika harus berpisah maka harus dilakukan dengan cara yang baik. Dia tidak ingin hubungannya dengan Aldo berakhir tidak baik.


Ketika Karin keluar dari pintu kamar mandi dia melihat hantu sedang menelpon seseorang


Karin sekilas mendengar bahwa lelaki itu menyebut nama Gladys.


"Sesenang itukah kamu Mas sampai tidak bisa menunda untuk mengabarkan dia." gumam Karin dengan pelan.


Aldo langsung memutuskan teleponnya dengan Gladys saat melihat Karin sudah keluar dari kamar mandi. Aldo kaget saat melihat wajah Karin seperti selesai menangis.


Wajah Aldo semakin gusar melihat di ambang pintu kamar mandi. Dia berjalan mendekati istrinya. Dia ingin bertanya apa mau istri nya.


"Kamu tuh kenapa sih? bukannya senang tapi malah sedih seperti itu." tanya Aldo dengan kesal terhadap sikap istrinya.


"Kenapa harus senang? Apakah kamu maunya begitu? Jika kamu maunya begitu aku akan senang untuk kamu."jawab Karin tersenyum terpaksa.


" Senang untuk mas? mas heran Kamu sebenarnya mencintai Mas gak sih?"tanya Aldo semakin kesal.


" Nggak usah kamu tanya Sinta saat ini, nggak guna juga."jawab Karin juga sama kesalnya dengan suaminya.


"Gimana nggak kesal jika sudah berniat berpisah tapi masih menanyakan cinta. Apakah itu akan berguna jika si lelaki mencintai wanita lain"gumam Karin dalam hatinya.


Aldo semakin kesal dengan jawaban istrinya.Jika di mana-mana sang istri akan marah jika suaminya meminta izin poligami. Tetapi tidak di dalam rumah tangganya, istrinya malah marah ketika suaminya tidak mau berpoligami.


"Aneh, kamu aneh." ucap Aldo kecewa.


"Iya aku memang aneh, makanya kamu mengambil keputusan seperti ini."jawab Karin tidak mau kalah.


"Kamu maunya apa sih Karin? apa aku harus menikah dengan 3 perempuan lagi?" tanya Aldo membuat Karin bingung.

__ADS_1


"Terserah kamu mau menikah dengan 3 perempuan lagi aku tidak peduli, Jika kamu memang mau melepaskan aku silakan, mungkin wanita itu jauh lebih baik dari aku." jawab Karin dengan air mata.


Dia sudah tidak bisa lagi menahan sakit di hatinya. Dia biarkan air matanya jatuh di hadapan lelaki itu.


"Kamu ini ngomong apa sih? Aku tidak pernah melepaskan kamu, kenapa kamu berkata seperti itu? apakah karena aku tidak mau menikah lagi membuat kamu marah? aneh nggak sih."


"Ya kamu tidak mau menikah karena masih terikat dengan aku, Aku bahkan rela kamu menikah dengan dia karena mungkin kamu bisa memiliki anak dengan dia, tapi apakah dia tidak mau jadi yang kedua sehingga menuntut kamu untuk meninggalkan aku?" tanya Karin sambil menangis.


"Siapa yang berani mengatur aku sedemikian rupa? siapa yang akan meninggalkan kamu demi wanita lain, tidak ada Karin." jawab Aldo merasa sakit hati melihat istrinya menangis.


" Tadi kamu akan mengakhiri hubungan kita, kamu bilang kamu capek dengan aku, kamu bilang kamu lelah sandiwara dengan aku Mas." jawab Karin masih menangis.


"Kamu dulu nilai bahasa Indonesianya berapa sih? kok bisa menyimpulkan beda dengan apa yang harus ucapkan."


"Nggak usah pakai tanya nilai bahasa Indonesia segala."


"Masalahnya ini penting, jika ucapan orang salah ditafsirin ya begini." jawab Aldo tersenyum saat menyadari ada kesalahpahaman antara dirinya dan istrinya.


"Malah senyum lagi, senang?"


"Ya senanglah, akhirnya mas tau bahwa kamu sangat mencintai mas."


"Jelas aku mencintaimu mas."


"Ya sudah, sini dulu duduk biar mas ucapkan agar tidak salah sangka."ujar Aldo menarik tangan Karin menuju keranjang milik mereka.


Aldo duduk di tepi ranjang sedangkan ia meletakkan kalian di pangkuannya.Dia merasa lucu dengan apa yang terjadi hari ini.


"Jadi begini, mas cerita dari awal aja agar kamu paham." ujar Aldo tersenyum.


"Mas pusing saat kamu sibuk menyuruh Mas untuk menikah lagi."


"Jadi mas memutuskan memilih dia dan mencampakkan aku." jawab Karin.


"Tolong jangan potong pembicaraan Mas sebelum Mas selesai bicara, ini ceritanya panjang."ucap Aldo.


Karin menggangguk pertanda dia setuju.Lalu Aldo memulai ceritanya dari awal. Dia menceritakan semuanya. Karin kaget mendengar cerita suaminya.Bahkan yang membuat dia kaget adalah sang Abang juga ikut membantu suaminya bersandiwara.


"Jadi kamu bayar berapa itu perempuan?" tanya Karin tersenyum lega.


"lima juta sekali akting."


"Besar kali, nggak sayang duit."


"Nggak apa-apa, sekalian kasih, lagian dia adiknya Ana sahabat Mas, jadi gladys itu sudah seperti adik sendiri." jawab Aldo menjelaskan kepada istrinya.

__ADS_1


"Oh jadi dia adik kak Ana, oh iya tentang kak Ana aku juga baru ingat, aku ingin minta tolong kepada mas agar......."


"Nanti aja bahas Ana, sekarang bahas tentang kita berdua." ucap Aldo tersenyum senang.


__ADS_2