Setulus Cinta Karin

Setulus Cinta Karin
Murung


__ADS_3

Setelah turun dari mobil Aldo, Karin berdiri dengan hati yang sakit. Ia menyadari lemahnya dirinya saat ini padahal suaminya belum menikah sama sekali. Dia sudah mulai sakit hati dan cemburu melihat kebersamaan Aldo dengan perempuan lain.


Karin masih saja berdiri tanpa memperhatikan taksi yang lewat. Dia berjalan menuju kafe yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Tanpa sengaja ia melihat Ana yang juga berjalan sambil menunduk. Ketika melihat Ana dia seperti melihat dia saat ini.


Ia agak heran karena posisi Ana adalah baru saja keluar dari rumah sakit. Rumah sakit dan kafe tersebut terletak bersebrangan jalan. Ana tampak berjalan ke jalan raya tanpa menggunakan mobil.


Ana nampak sedang menyebrangi jalan raya.Dia sepertinya sama seperti Karin sedang menuju kafe ini. Kafe dengan merek "Kafe pengobat hati" memang sangat ramai di kunjungi para remaja dan wanita seumur mereka.


"Kak Ana." panggil Karin.


Ana menoleh ke arah Karin. Karin tau bahwa Ana nampak kaget bertemu dengannya. Wajah Ana tampak tegang ketika melihat Karin. Dia juga dengan cepat menghapus air mata yang meleleh di pipinya.


"Karin."


Baru kali ini Karin melihat Anna serapuh ini. Karin tahu bahwa wanita yang dilihatnya saat ini selalu nampak tegar dan riang. Wanita ini juga nampak pekerja keras. Karin merasa bahwa lelaki yang menjadi calon suami wanita ini akan merasa bangga.


"Kak Ana udah lama kita nggak jumpa, ayo kita ngopi dulu di sana." ucap Karin merangkul Ana ketika mereka sudah dekat.


Karin tahu bahwa ia saat ini sedang banyak masalah. Akan tetapi melihat wanita ini lebih banyak masalah. Wanita ini seperti tertekan saat ini.


"Kak Ana nggak keberatan kan jika ngopi bareng Karin?"tanya Karin dengan nada yang lembut.


"Tentu tidak, kenapa harus keberatan? toh Kamu kurus gini kok berat." canda Ana.


"Bukan keberatan badan kakak." tawa Karin.


Karin takjub dengan perubahan ekskresi kak Ana. Wanita itu yang tadinya nampak sedang murung dan bersedih tapi saat ini dia kembali riang seperti tidak ada masalah apa-apa.Karin merasa bahwa anak wanita yang bisa menyembunyikan perasaannya jauh di lubuk hatinya.


Ia yakin wanita ini akan melewati masa sulitnya sendiri. Dia tidak mau berbagi kesulitannya kepada orang lain.


Mereka berjalan bergandengan tangan menuju sebuah cafe. Saat mereka masuk ke dalam kafe ternyata Aldo dan Gladys melihat itu Gladys bahkan tidak tahu bahwa kakaknya sangat akrab dengan Karin.


"Ya sudah kamu cari taksi di sini aja, Kakak mau balik kekantor." ucap Aldo.


"Habis manis sepah dibuang, Malang betul nasibku ini." Gladys mengejek Aldo.


"Mau naik taksi apa taksi online?"

__ADS_1


"Udah, aku naik taksi lewat aja." Gladys memilih turun dari mobil Aldo.


"Kamu jangan sekali-sekali mengikuti Ana ataupun karin,bahaya jika Karin tahu bahwa kamu adalah adik Ana."


"Iya ini aku mau pergi ketemu Yuni." ujar Gladys.


Saat Gladys keluar dari mobil Aldo, dia lansung mendapatkan taksi. Dia segera mungkin meninggalkan lokasi tersebut. Begitu juga dengan Aldo yang langsung tancap gas. Dia ingin kembali ke kantor menyelesaikan pekerjaannya yang terbengkalai sejak tadi pagi.


Sedangkan di dalam cafe Ana dan Karin tanpa asik mengobrol. Mereka bercerita keseharian mereka belakangan ini. Karin juga menceritakan sedikit tentang Farhan kepada Ana.


"Kenapa kak Ana akhir - akhir ini jarang muncul? padahal dulu kita sering juga keluar berdua." ujar Karin.


"Maaf kakak sibuk saat ini, pekerjaan Kakan semakin hari semakin banyak." ujar Ana dengan lembut.


"Kapan kita susun rencana kak, kayaknya Karin kangen hangout bareng kakak."


"Aman, atur aja waktu yang tepat."


"Kakak tadi ke rumah sakit ngapain?"tanya Karin kepada Ana.


Anang sedikit kaget saat Karin menanyakannya. Akan tetapi dia pandai menyembunyikan kekagetannya.


"Kakak tadi sedang jenguk teman di sana, Kakak agak sedih melihat dia yang sakit."jawab Ana sambil tersenyum.


"Ya nggak lah Karin, kakak sehat aja kok." jawab Ana.


"Benar kak? kakak nggak berbohongkan?" tanya Karin.


"Ya nggaklah." jawab Ana.


"Hubungan Kakak dengan bang Farhan gimana?"


"Hubungan apa Rin? kamu nggak ada hubungan apa-apa." jawab Ana.


Ana tidak ingin menceritakan apa yang terjadi dengannya dengan Farhan. Dia bukan wanita cengeng yang mengadu ke adiknya Farhan untuk belas kasihan.


Apalagi jika iya menceritakan masa lalunya yang memalukan. Ia tidak ingin orang lain mengasihinya.


Karin menatap anak yang terdiam tampak sedang berpikir. Dia tau banyak cerita yang disimpan oleh wanita itu. Dia paham bahwa wanita itu tidak ingin membagikan cerita apa-apa.

__ADS_1


Pesanan mereka datang diantar oleh pelayan dengan ramah.Karin minum coklat yang ia pesan agar otaknya lebih fresh. Begitu juga dengan Ana, dia meminum coklat panas juga.


"Semoga meminum coklat ini otak sedikit refresh."Ucap Karin.


"Hahaha coklat hanya merefresh tapi mungkin mendekatkan diri kepada Tuhan agar hati kita plong." ujar Ana tersenyum.


Ana menyadari bahwa dirinya selama ini sangat jauh dari Tuhan. Dia hanya menjalani salat lima waktu ala kadarnya. Dia bahkan sering meninggalkan ibadahnya demi mengerjakan pekerjaannya. Dia juga sering menunda shalat ketika sedang sibuk.


"Iya sih kak, Karin juga masih jauh dari Allah, mungkin itu penyebab Allah belum kasih keturunan." jawab Karin.


"Mungkin kamu bisa hamil jika kakak juga hamil." ucap Ana bercanda.


"Jika begitu maka kakak wajib cari pasangan mulai saat ini." ujar Karin serius.


"Hahahaha Kakak hanya bercanda, dan itupun kamu percaya."jawab Ana sambil tertawa senang.


"Nggak lucu loh Kak."ujar Karin pura-pura ngambek.


"Eh jangan ngambek, nanti Kakak jadi sasaran kemarahan suami kamu." jawab Ana.


"Baik para hadirin selamat siang semua, semoga yang latah hati di sini terobati sakit hatinya, semoga yang punya masalah hari ini terselesaikan masalah, dan semoga yang sedang sakit juga di berikan kesehatan selalu." terdengar suara MC dari atas panggung.


"Aamiin." jawab Ana dan Karin berbarengan.


"Baik jika ada yang mau menyumbangkan lagu di persilahkan tulis nama dan antarkan ke panggung." ujar MC.


Karin mengambil secarik kertas di dalam tasnya. Dia menulis nama Ana dalam kertas tersebut. Ana tidak menyadari bahwa namanya ditulis oleh Karin. Dia berpikir bahwa Karin menulis namanya sendiri.


Karin berjalan ke atas panggung untuk memberikan kertas tersebut kepada sang MC. Dia berbarengan dengan pengunjung yang lainnya.


MC memanggil nama yang menyumbangkan lagu untuk dibawakan di atas pentas. Nama anak belum juga dipanggil oleh MC. Karin dan Anna sangat menikmati musik yang dibawakan oleh pengunjung yang menyumbangkan suara emasnya.


Karin tidak sabar dalam hatinya menunggu nama Ana dipanggil. Dia bahkan tertawa dalam hatinya jika nama Ana dipanggil. Dia tidak bisa membayangkan betapa kagetnya Ana nanti.


Penyumbang lagu pertama sudah menyelesaikan nyanyiannya. MC kembali naik ke atas panggung untuk memanggil nama berikutnya.


"Baiklah, kita panggil penyumbang lagu kedua yaitu dari seorang wanita di meja sana bernama Ana." ucap sang MC dengan lantang.


Ana begitu terkejut saat namanya dipanggil oleh MC di atas panggung. Semua mata tertuju kepadanya. Dia melihat ekspresi Karin yang sedang tertawa terpingkal-pingkal. Ana tahu bahwa dirinya dikerjain oleh wanita yang duduk di depannya.

__ADS_1


"Awas kamu Karin." ucapnya kepada Karin.


"Ayo naik panggung kak Ana, semangat ya kak, aku yakin kakak pasti bisa." ucap Karin memberi semangat sambil mengangkat tangan kanannya.


__ADS_2