Setulus Cinta Karin

Setulus Cinta Karin
Gladys anak nakal


__ADS_3

Karin dan Aldo sudah sampai di rumahnya setelah beberapa menit berkendaraan. Mereka lansung masuk kedalam rumah. Saat masuk ke dalam rumah mereka melihat ada Gladys yang berkunjung kerumah.


Karin masih merasa kurang nyaman dengan wanita ini. Aldo melihat semua dengan matanya bahwa istrinya terlihat tidak nyaman saat ini.


"Ngapain kamu ke sini dis?"tanya Aldo tho the point.


"Biasa mengunjungi calon suami, apakah calon istri keduaku ini masih boleh berkunjung ke sini?" tanya Gladys dengan nada bercanda.


Sang kakek langsung melihat ekspresi Karin. Sedangkan mama Aldo hanya tersenyum karena sudah mengenal watak dari Gladys sejak dulu.


"Hey hati - hati dengan bicaramu, cucu menantuku sedang hamil jika dia stres bagaimana? Apakah kamu mau bertanggung jawab?"ucapkan kakek dengan marah.


Karin kaget saat melihat kemarahan sang kakek. Semenjak hamil sang kakek memang selalu memanjakannya.


"Dia hanya bercanda ayah." bela sang mama di hadapan kakek.


"Bercanda juga ada aturannya, nggak pernah di ajari adab ya." ucapkan kakek membuat Aldo menggaruk kepala yang tidak gatal.


Aldo sangat paham dengan karakter kakeknya. Kakek Aldo memang terkenal pemarah sejak muda. Beliau terkenal dengan CEO pada masanya. Sang kakek akan banyak bicara dengan keluarganya saja.


" Kek maafkan dia, nanti Karin takut sama kakek loh suka marah-marah terus." ucap Aldo.


"Maafkan kakek Karin, kakek akan kurangi marah - marahnya." ucap sang kakek dengan cepat.

__ADS_1


Karin merasa lucu seketika. Kakek suaminya ini terkadang seperti kembali menjadi anak kecil.


"Nggak apa-apa kek, tapi aku capek banget mau istirahat." ucap Karin.


"Ya udah yuk istirahat." ajak Aldo.


"Kak aku mau bicara dengan kamu."ucap Gladys terburu-buru.


"Tapi Karin sangat lelah, jika ini rasanya tidak penting mungkin ada baiknya besok saja." jawab Aldo.


"Aku ingin bertanya tentang perusahaan, beberapa Minggu yang lalu kak Ana bilang kondisi keuangan saat ini sedang tidak stabil, apakah itu benar?" tanya Gladys.


"Jika itu kakak kamu bilang seperti itu berarti memang itu yang terjadi, kenapa kamu masih bertanya ke sana sini?" tanya Aldo dengan agak kesal.


"Kamu pikir Kakak kamu adalah wanita yang pembohong gitu? kamu harus banyak belajar dari kakak kamu, dan yang terpenting saat ini kamu juga harus mulai memikirkan untuk bergabung di perusahaan keluargamu agar perusahaan itu tidak bangkrut dalam waktu dekat." ujar Aldo mengingatkan Gladys.


"Ada baiknya kasih dia arahan mas agar bisa berpikir lebih jernih, aku nggak yakin jika dia bisa menyerap apa yang kamu ucapkan dengan baik." ucap Karin kepada Aldo.


"Iya benar kak, aku ini hanya wanita yang bodoh dibandingkan kakakku ana, kakak harus menjelaskan lebih detail karena benar aku ini tak akan bisa menyerap perkataan kamu dengan benar."jawab Gladys membenarkan ucapan sang istri dari sahabat kakaknya itu.


"Makanya otak di perbanyak kasih nutrisi, Jangan hanya kulit dikasih nutrisi sana-sini."Jawab aja membuat karir tersenyum sendiri.


"Nutrisi kulit juga perlu kali Kak agar bisa menarik perhatian lelaki kaya, benarkan kakak ipar." jawabnya menatap Karin agar dapat pembelaan dari Karin.

__ADS_1


"Dia bukan kakak ipar mu, sejak kapan pula dia jadi istri kakakmu, Karin juga tidak pernah sibuk merawat kulitnya seperti kamu, dia sudah cantik dari lahir." jawab Aldo.


"Jadi menurut Kakak aku jelek sejak lahir?" Tanya Gladys pura - pura bersedih.


"Iya." jawab Aldo.


Semua orang tertawa di ruangan itu termasuk sang kakek.


"Kakak tega ngomong seperti itu, bukankah merawat pemberian Tuhan itu adalah Sunnah kak."


"Syukur merawat kakak takutnya udah permak sana - sini." jawab Aldo.


Karin hanya tersenyum mendengar ucapan Aldo. Karin yakin bahwa hubungan keduanya sudah seperti ini saja makanya terlihat akrab. Saat ini tidak ada kecemburuan dalam hatinya lagi.


"Jadi aku harus bekerja kak?" tanya Aldo.


"Ada baiknya kamu ikut membantu kakak kamu dis soalnya ketika Tante bertemu dengan Ana berakhir kali, dia tampak kurang sehat." ucap mama Aldo yang berbicara kali ini.


"Baiklah, terima kasih atas nasihat semuanya, aku adalah Gladys wanita sukses di masa depan, aku pamit dulu Tante, kakak, dan kak Karin." ujar Gladys tersenyum.


Lalu dia berjalan ke arah sang kakek sambil tersenyum.


"Pamit dulu kakek ganteng, aku tau pasti kakek waktu muda adalah CEO kejam, tapi jika kakek ingin panjang umur agar bisa melihat cicit kakek maka kakek harus banyak senyum melihat aku." ujar Gladys tersenyum manis di depan kakek.

__ADS_1


"Anak nakal." ujar kakek.


Gladys lansung berlari keluar rumah. Sedangkan. Aldo, Karin dan mamanya tertawa melihat semuanya.


__ADS_2