
Esok harinya Karin semakin bete dengan suaminya. Aldo benar-benar pergi menemui wanita itu. Aldo bahkan bergaya lebih keren hari ini. Aldo Makai parfum lebih banyak dari biasanya.
Karin semakin kesal melihat tingkah laku Aldo yang mengesalkan baginya. Ia tidak menyangka bahwa Aldo akan dengan cepat menyetujui permintaannya.
Padahal sejak awal Aldo menolak keinginan Karin, tetapi saat bertemu gladys lelaki itu langsung menyetujui permintaannya. Karin merasa bahwa cinta Aldo mulai berkurang untuknya.
"Kamu benar mau bertemu dengan dia?" tanya Karin kesal.
"Iya, kamu kenapa? bukannya ingin cepat punya anak." jawab Aldo sambil tersenyum.
"Jika kamu menikah lagi kira-kira kamu masih sayang nggak sama aku?"tanya Karin dengan berhati-hati.
"Tentu dong sayang, cintaku tidak akan berkurang untukmu sedikitpun." jawab Aldo memegang pipi Karin.
"Kamu janji?"
"Iya sayang, udah dulu ya, mas ingin pergi dulu, nanti mas terlambat." jawab Aldo merapikan bajunya lagi.
Aldo berjalan keluar dari kamarnya dengan senyum.Dia bergegas meninggalkan rumahnya menuju mobil.Karin ingin mengikuti kemana langkah kaki suaminya itu.Akan tetapi hatinya sedang tidak mau bekerja sama. Ia sedang malas untuk pergi ke mana-mana. Dia merasa ini semua salahnya karena dialah yang meminta suaminya untuk menikah lagi.
Di saat Karin membaringkan tubuhnya di atas ranjang sedangkan Aldo membawa mobilnya menuju ke rumah Farhan.Dia memang sengaja ingin membuat kain kesal karena tingkahnya.
Ini semua dilakukan Aldo agar Karin bisa membuka matanya.Agar Karin bisa mengerti bagaimana sakitnya di madu.
Aldo turun dari mobilnya yang sudah diparkir di depan rumah Farhan. Dia tersenyum melihat Farhan sudah menunggu kedatangannya di pintu rumah.
"Begitu kangennya sama adik ipar sampai ditunggu segala, aku jadi nggak enak nih." ujar Aldo sambil nyengir.
"Jangan banyak gaya lo, awas aja adik gue lu sakiti, gua hajar lo."
"Wow galak." ujar Aldo masuk kedalam rumah mengikuti langkah kaki tuan rumah.
__ADS_1
"Ada Gladys juga?" tanya Aldo menyadari ada Gladys di rumah itu.
"Biar bisa susun rencana dengan baik, maklum kakak ipar Abang agak seram soalnya." jawab Gladys.
"Seram - seram bisa di jinakkan loh." jawab Aldo.
"Emang aku binatang pakai di jinakkan segala." protes Farhan.
"Jadi gimana tadi dengan Karin?" tanya Gladys.
"Wajahnya cemberut tadi tapi yang membuatku kecewa adalah ketika dia tidak mengikuti aku." jawab Aldo agak kecewa.
"Dia benaran masih niat mencarikan kamu istri kedua?" tanya Farhan tidak percaya dengan isi kepala adiknya itu.
"Masih, bahkan keinginannya belum berubah walaupun hatinya sedang dilema." jawab Aldo agak sedih mengingat ia telah melukai hati istrinya meskipun bersandiwara.
"Segitu cintanya Karin sama Abang sehingga dia nggak peduli tidak bahagia asalkan Abang bahagia." ujar Gladys terharu dengan cerita Aldo.
"Nah itu dia, mungkin Karin begitu karena sudah terbiasa sejak kecil disakiti, kasihan adikku Fanya tidak pernah bahagia, entah kapan Tuhan akan memberikannya kebahagiaan." ucap Farhan berlinang air mata ketika mengingat penderitaan sang adik.
"Kok Fanya?" tanya Gladys tidak paham.
"Itu nama kecil Karin saat masih kecil, tapi ketika dia diculik namanya sudah berganti, dan dia tidak terbiasa dengan panggilan Fanya makanya kami belum memanggilnya dengan nama itu.
"Nama yang cantik, tapi bagaimana jika Karin benar - benar ingin kita benar-benar menikah?" tanya Gladys.
"Aku tidak bisa jika dia bener-bener ingin aku menikahi wanita lain, aku akan marah jika itu yang paling pinta." jawab Aldo juga kaget dengan pertanyaan Gladys.
Begitu juga dengan Farhan bukan tidak mungkin Karin tetap ingin melanjutkan rencana pernikahan Aldo dengan wanita lain.Mengingat wanita itu rela mengorbankan apa saja demi cintanya kepada suaminya.
"Lanjutkan aja aktingnya, itu lebih baik daripada kita berhenti, panggil penghulu bayaran yang akan menikahkan Karin dan Aldo." jawab Farhan.
__ADS_1
"Hey jangan gila, bagaimana kelanjutannya" tanya Aldo tidak terima dengan ide kakak iparnya yang termasuk gila baginya.
"Ajak Gladys tinggal di rumah yang berbeda." jawab Farhan.
"Lalu gimana dengan kehamilan?" tanya Aldo.
"Kita bisa siapkan kehamilan palsu dan kita cari seseorang dokter palsu, lalu setelah 9 bulan kita akan adopsi bayi yang memang baru lahir, kita akan bilang bahwa itu adalah anak dari Aldo, dengan begitu dia bahkan akan percaya dan akan menyayangi anak itu, lalu di situlah Gladys meninggalkan Aldo." jawab Farhan.
"Bagaimana dengan nasib aku? masa aku statusnya janda tapi perawan" ucap Gladys dengan polos.
"Hey kenapa kamu memikirkan nasib kamu? kamu siap di bayar berati siap dengan segala konsekwensinya." ujar Farhan.
"Suruh Farhan aja tangung jawab, selesai." jawab Aldo tertawa melihat keduanya.
Aldo kadang merasa lucu melihat mereka berdua. Ketika yang satunya genit lalu yang lelakinya sibuk nak marah - marah saja.
"Takut dapat suami kayak dia, bahkan kak Ana aja nggak di maafkan sampai sekarang." ujar Gladys.
"Jangan sebut nama wanita itu di sini." ujar Farhan .
"Hey itu sudah bertahun-tahun, kenapa masih tidak memaafkan." ujar Gladys tidak terima jika lelaki itu masih membenci kakaknya.
"Sedangkan kamu aja sudah kaya masih aja menerima tawaran kerja sama dengan kami, apa kata Ana jika tau kamu di bayar mantan pacarnya." ujar Aldo tertawa.
"Ini demi uang saku, habis kak Ana banyak ngatur sekarang, apa - apa sudah tidak boleh, semenjak papa dan mam meninggal kak Ana banyak mengatur semuanya." jawab Gladys dengan manyun.
"Bagus, jika perlu kamu di buat kere aja sekalian. jawab Farhan.
"Cie secara lansung memuji kak Ana."
"Diam." ujar Farhan meninggalkan Aldo dan Gladys di ruang tamu.
__ADS_1