
Aldo agak kesal karena Karin tidak menerima pemberiannya. Dia tau bahwa Karin jika perutnya kram akan meminum air hangat gula aren.
Aldo membuangnya kedalam tong sampah dengan kesal. Dia memesan itu padahal secata diam - diam.
Ketika dia kembali, dia melihat ada Frans juga duduk di antara Fina dan lainnya. Aldo mulai paham kenapa Frans sangat dekat dengan Karin.
"Kamu kerja di sini Frans?" tanya Aldo yang baru bergabung di mejanya.
"Iya, baru saja beberapa Minggu."
"Dulu dia kerja di kafe xx, nggak taunya udah di sini, pasti karena Karin kerja di sini ya." ucap Fina membuat Aldo dan Farhan kurang senang.
Ketidaksenangan mereka berdua sama yaitu tidak suka melihat Frans terlalu dekat dengan Karin.
"Kamu bisa kok Frans minta dirikan kafe sama Abang kamu." ucap Wina wanita sebagai pacar Farhan.
"Aku sudah nyaman di sini." jawab Frans.
"Baik aku akan belikan restoran ini untuk kamu." ucap Farhan.
"Abang serius?" tanya Frans.
__ADS_1
"Iya, besok pagi restoran ini sudah pindah tangan atas nama kamu." jawab Farhan.
"Terima kasih bang." ucap Frans.
Karin melihat kebahagiaan mereka dari jauh. Hatinya sangat miris. Sejak kecil dia tidak pernah merasakan kebahagiaan. Sejak kecil dia di besarkan oleh paman dan bibinya.
Setiap hari dia merasakan kena pukul. Baik dari bibinya baik pamannya. Sejak kecil dia tidak tau bagaimana rasanya di sayang. Yang ada hanya air mata.
Ketika pamannya pulang dengan mabuk, dia sering di pukul. Bahkan dia hampir diperkosa boleh pamannya suatu kali.
Sedangkan bibinya memukulnya jika dia tidak mengerjakan sesuai dengan apa yang dia mau. Apalagi jika Karin tidak membawa uang pulang kerumah. Semasa sekolah Karin sudah bekerja menjual makanan punya orang lain.
Tidak terasa air mata Karin menetes. Ia dengan cepat mengelap air matanya. Ia berpikir kebahagiaan hanya milik orang kaya. Ia berjalan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Iya." jawab Karin tanpa menoleh kepada Karin.
"Aku punya kabar bahagia, restoran ini akan jadi milik kamu, nanti kamu akan saya angkat menjadi manager restoran ini, kamu senang nggak?" tanya Frans kepada Karin.
"Kamu mimpi?" tanya Karin berpura-pura.
Dia tau jika Farhan mampu saja membeli restoran ini dengan kekayaan.
__ADS_1
"Kamu nggak percaya?" tanya Frans.
"Percaya, jangankan restoran ini, aku saja mampu di beli abangmu." jawab Karin dalam hatinya.
"Karin, kamu kenapa sih kayak kurang senang gitu.?" tanya Frans.
"Jika itu terjadi tentu saja aku senang." jawab Karin sambil tersenyum.
"dan tentu juga aku di tendang dari sini." lanjut Karin dalam hatinya.
"Kita harus merayakan kesuksesan ini besok, aku traktir kamu di kampus."
"Nanti dia cemburu liat aku sama kamu." jawab Karin seadanya.
"Nggak, dia tau jika kamu udah aku anggap seperti adik."
"Ohw senangnya dapat Abang kamu." ucap Karin mencoba tersenyum.
Dia ingin tersenyum tapi rasanya susah. Jika Frans bicara seperti itu saat belum tau asik Farhan mungkin Karin akan tersenyum bahagia. Tapi ketika dia tau bahwa lelaki di sampingnya ini adik Farhan sahabatnya Aldo membuatnya merasa hina sekali.
Setelah selesai bersih - bersih mereka sudah siap mau pulang. Karin berjalan meninggalkan restoran.
__ADS_1
Saat dia pulang langkah kakinya kaget melihat Farhan berdiri di depannya.