
Karin membuka matanya dengan perlahan. yang tidak menemukan sosok Aldo di sekitarnya. Karin bangun dengan bermalas-malasan menuju kamar mandi.Karin ingin membersihkan tubuhnya secepat mungkin agar bisa turun tepat waktu untuk sarapan pagi.
setelah selesai mandi Karin masih tidak menemukan sosok Aldo. Dia segera menggunakan baju lengkap. Setelah merias diri barulah akhirnya dia turun ke lantai bawah.
Dia tidak melihat siapa-siapa di ruang makan. Karin membantu pelayan merapikan makanan yang ada di meja.
"Eh nggak usah dipegang-pegang, nanti makanan ini terkontaminasi semua."ujar Rere yang baru sampai di meja makan.
"Iya nanti kami bisa keracunan memakan makanan yang kamu pegang." ujar mamanya Rere yaitu tante Nila.
Karin tahu apa maksud dan tujuan omongan dua beranak itu. Karin langsung duduk dan diam diri. tetapi melihat Karin yang tidak berbuat apa-apa membuat tante Nila dan Rere semakin kesal.
"Ternyata meskipun mandi berkali-kali dan dinikahi orang kaya, namanya sampah tak bau juga ya mah." ucap Rere menutup hidungnya.
"Bener yang namanya sampah mau disimpan di mana aja pasti akan bau." jawab Tante Nila.
"Kasihan sepertinya malaikat sedang menyiksa orang tuanya." ucap Karin.
Mendengar nama orang tuanya disebut Karin tidak terima. Karin rela dirinya di hina tetapi tidak dengan orang tuanya yang tidak bersalah.
"Bisa bicara nggak nyakitin hati orang nggak?"tanya Karin dengan ekspresi dingin.
"Jika nggak bisa emang lo mau ngapain?" tanya Rere tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Sekolahin dulu mulut baru berlagak sok benar." ucap Karin.
"emang emang jika gua nggak sopan sama lo ngomong kasar sama lo Lo mau ngapain, emang lu bisa apa ha!"
"Mau di ulekin mulut kamu." ujar Karin dengan nada tinggi sambil berdiri.
"Apa-apaan ini?" ujar seseorang dari belakang Karin.
Karin menoleh kebelakang, di sana menemui seorang kakek, nenek dan kedua mertuanya. Karin tidak mengenal kedua sesepuh itu.
"Jadi ini menantu yang kamu pilih untuk anakmu Kamal." ucap si kakek sambil duduk di meja paling ujung.
"Karin beri salam kakek dan nenek." ucap mama mertuanya kepada Karin.
"Karin tidak seperti itu, ini pasti salah paham." ujar Kamal papa Aldo.
"Bela terus menantu kurang ajarmu itu, apa yang dia lakukan Nila?" tanya si kakek kepada tante Nila.
"Dia kesal karena keberadaan kami di sini om, padahal kami di sini tidak ada menyusahkan dia, saya juga menegur etika dia di luar karena kemaren video tentang dia viral di mana - mana, dia bilang kami cemburu dan ingin menawarkan Rere untuk mengikuti jejaknya agar menjadi orang kaya." jawab Tante Nila dengan aktingnya.
"Mengikuti jejaknya?" tanya si kakek.
"Iya Om masak Karin suruh Rere jadi pelacur akan dapatin laki-laki kaya, jadinya saya tegur eh dianya marah-marah, begitu kan re?" aktingnya Tante Nila membuat Karin marah.
__ADS_1
"Bohong, Tante bohong." ujar Karin berdiri karena sudah tidak bisa menahan marah.
"Saya belum suruh kamu bicara, bisa sopan nggak? dasar anak tidak tau aturan, apa nggak pernah kamu diajarin sopan santun sama orang tua mu?" ucap si kakek.
"Kakek benar saya memang tidak pernah diajarin sopan santun oleh orang tua saya, karena saya bahkan tidak pernah bertemu dengan orang tua saya, Saya bahkan tidak tahu bagaimana wajah orang tua saya,bahkan nggak tahu rasanya apa itu kasih sayang orang tua, karena itu tidak usah saya jelaskan kek, karena bagi kalian orang kaya saya ini hanyalah sampah yang hina yang tak patut dihargai." ucap Karin berdiri dari tempat duduknya.
Hatinya sangat hancur kali ini. Sejak tadi malam ia sudah tidak bisa menahan semua rasa sakit. Air matanya menetes dengan deras. Ia menghapus air matanya dengan cepat. Ibu mertuanya yang berdiri di belakangnya mengusap punggungnya dengan lembut.
"Duduk kamu saya belum selesai bicara." ucap sang kakek.
Mertua Karin hanya diam melihat kakek Aldo marah. Mama mertuanya hanya kasih kode ke Karin agar tetap tenang.
"Udahlah kek, ini mau sarapan kok marah - marah." ucap sang nenek.
"Dia yang membuat saya emosi, Kenapa Kamal kamu kawinkan anakmu dengan dia wanita murahan, tak tahu adab." ucap sang kakek marah.
"Pa, Karin itu jodohnya Aldo, jangan di bahas lagi, itu sudah kesepakatan kamu."
"Tidak ada kesepakatan, pilih menantu harus tahu bibit bobotnya." jawab sang kakek tidak ingin di bantah.
"Jadi sekarang kakek mau apa apa kakek mau saya meninggalkan Aldo?" tanya Karin tersenyum sambil menangis.
Aldo yang mendengar ucapan Karin terdiam terpaku tidak jauh dari meja makan.
__ADS_1