
Ana berjalan menuju panggung dengan gontai. Banyak tepuk tangan mengiringi langkah kakinya menuju panggung. Dia tersenyum sumringah menuju panggung.
Karin pernah mendengar tentang ana sedikit dari Aldo. Aldo pernah bercerita bahwa Ana mempunyai hobi menyanyi. Akan tetapi hobinya tidak bisa disalurkan karena orang tuanya tidak suka jika dia menjadi penyanyi.
Karin juga tahu bahwa Ana akhirnya meninggalkan cita-citanya menjadi penyanyi semenjak meninggalnya orang tuanya. Ana terpaksa banting stir menjalani usaha orang tuanya di bidang konstruksi.
Pada awalnya Ana agak kesulitan bekerja di luar bidangnya. Akan tetapi karena kegigihannya Ana berhasil melewati semuanya.
"Selamat siang semua, semoga yang sedang patah hati segera disembuhkan, yang saat ini sedang berjuang mendapatkan cintanya semoga dilancarkan, dan untuk yang kurang sehat atau sakit semoga disembuhkan, semoga semua yang ada di sini diberikan rezeki baik berupa nafas, keturunan dan keuangan yang melimpah ruah seperti air zam-zam yang mengalir yang tidak pernah habis." ucap Ana.
"Aamiin." ucap para pengunjung berbarengan.
"Baiklah siang ini saya akan membawakan lagu "Sampai menutup mata."
Embun di pagi buta
Menebarkan bau basah
Detik demi detik kuhitung
Inikah saatku pergi?
Oh Tuhan, kucinta dia
Berikanlah aku hidup
Takkan kusakiti dia
Hukum aku bila terjadi
Karin terpana mendengar suara lembut yang dimiliki oleh Ana. Dia melihat betapa menjiwainya perempuan itu. Dia juga melihat bahwa banyak pengunjung yang memperhatikannya saat bernyanyi.
Aku tak mudah untuk mencintai
Aku tak mudah mengaku ku cinta
Aku tak mudah mengatakan
Aku jatuh cinta
Senandungku hanya untuk cinta
Tirakatku hanya untuk engkau
Tiada dusta, sumpah kucinta
Sampai ku menutup mata
Cintaku
Sampai ku menutup mata
Oh Tuhan, kucinta dia
Berikanlah aku hidup
Takkan kusakiti dia
__ADS_1
Hukum aku bila terjadi
Aku tak mudah untuk mencintai
Aku tak mudah mengaku ku cinta
Aku tak mudah mengatakan
Aku jatuh cinta
Senandungku hanya untuk cinta
Tirakatku hanya untuk engkau
Tiada dusta, sumpah kucinta
Sampai ku menutup mata
Cintaku
Sampai ku menutup mata
Suara tepuk tangan sangat gemuruh saat musik dan Ana berhenti bernyanyi.Para pengunjung sangat menyukai suara Ana. Mereka seperti terhipnotis saat mendengar suara wanita itu.
"Lagi, lagi, lagi." ucap Karin.
"Lagi, lagi, lagi." ucap para pengunjung juga mengikuti ucapan Karin.
"Wow gila keren abis, kayaknya penonton mau nambah lagi nih." ucap MC.
"Baik saya akan nyanyikan satu lagu lagi " Cinta di ujung nafas."
Dan kau duduklah disampingku
Ku ingin katakan kau cinta terakhir
Ku sampai hembuskan nafasku
Dalam dadaku pasti ada kamu
Di suaraku ini harapanku
Ku harap kau yang ada di samping
Saat nanti ku tutup usia
Dan kau yang terakhir ku lihat
Sebelum ku menutup mata
Dan ku harap kau yang jadi cinta di ujung nafasku
Sehidup, semati, seduka bahagia
Setangis, setawa, berdua
Ku harap kau yang ada di samping
__ADS_1
Saat nanti ku tutup usia
Dan kau yang terakhir ku lihat
Sebelum ku menutup mata
Dan ku harap kau yang jadi cinta di ujung nafasku
Dalam dadaku pasti ada kamu
Di suaraku ini harapanku
Ku harap kau yang ada di samping
Saat nanti ku tutup usia
Dan kau yang terakhir ku lihat
Sebelum ku menutup mata, ooh
O-oh
(Dan ku harap kau yang jadi) O-oh
Cinta di ujung nafasku
Karin merasa semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan Ana. Dia yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan wanita itu. Apalagi saat melihat Ana meneteskan air mata saat menyanyikan lagu tersebut.
Suara tepuk tangan sangat meriah saat Ana selesai bernyanyi. Dia memberikan mik kembali kepada MC.
"Wow ternyata suara Ana begitu cantik secantik orangnya, aku penasaran apakah jangan - jangan dia artis." ujar sang MC.
"Saya hanya pegawai biasa." jawab Ana sambil tersenyum.
"Baik, sering - seringlah berkunjung ke sini Ana, dan lebih sering untuk menyumbangkan lagu lagi."
"Jika lain kali saya menyanyi di sini maka saya akan meminta bayaran." ucap Ana tersenyum sambil bercanda.
"Wah bisa di pertimbangkan pak bos pemilik kafe." ucap MC sambil tersenyum.
Ana turun dari panggung dengan sumringah. Dia disambut oleh Karin bangga. Sebagai teman cari merasa bangga dengan suara emas Ana.
"Kamu senang ya ngerjain kakak seperti ini." sambil mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Hahahah sorry kak, tapi kakak benaran keren loh, kalah suara artis pendatang baru."
"Kirain kalahin suara Agnes Mo." ucap Ana tertawa.
"Suara Agnes lewat kak."
"Iya lewat di telinga, nah suara kakak entahlah."
"Bagus kok kak." jawab Karin tersenyum.
"Pulang yuk, Kakak capek mau istirahat."
"Ayuk."
__ADS_1
Setelah membayar makanan mereka pergi meninggalkan kafe tersebut. Ana menelpon sopirnya untuk menjemputnya. Akhir - akhir ini Ana memang selalu menggunakan sopir kemanapun.