Skandal Termanis

Skandal Termanis
Ngaku, Nih?


__ADS_3

"Jadi kamu kerja di showroom Mas Randu?"


Aileen mengangguk malas. Dia sebenarnya enggan membahas tentang dirinya yang bekerja dengan Randu. Lebih tepatnya karena paksaan. Namun, dia juga tidak tega mengabaikan Amee yang terlihat antusias menanyakannya.


"Mbak senang banget, akhirnya kamu nurut juga. Mbak gak masalah sama sekali kalau kamu kerja sama Mas Randu!" Amee mendekatkan wajahnya di samping Aileen sambil berbisik, "Sekalian kamu bisa awasi Mas Randu, siapa tahu ada yang genit sama dia. Kamu bisa lapor ke Mbak nantinya." Amee terkekeh setelah mengatakannya.


Berbeda dengan Amee, Aileen merasa takut dan cemas. Amee sama saja meminta dirinya untuk menjaga Randu dari perempuan yang bisa saja menggodanya. Padahal saat ini dirinya dan Randu tengah menjalin hubungan rahasia.


"Kamu kenapa pucat, sih? Ada yang sakit!" tanya Amee cemas. Amee menyentuh kening Aileen untuk memeriksa. Keningnya berkerut. "Gak panas!"


"Aku gakpapa, Mbak. Cuma agak pusing saja tiba-tiba!" jawab Aileen agar Amee tidak khawatir.


"Kamu beneran? Apa kita ke rumah sakit? Mbak gak mau kamu kenapa-kenapa!" Aileen menggeleng. Dia meyakinkan Amee jika dirinya dalam keadaan baik.


"Aku cuma butuh istirahat saja kok!" Amee mengangguk paham. Dia langsung pamit keluar dari kamar Aileen dan tidak lupa membawa gelas kotor yang isinya sudah tandas.


Aileen benar-benar merasa bersalah. Dia sudah menghancurkan kepercayaan Amee dan hal itu tidak disadari oleh kakaknya sendiri. Aileen tidak tahu harus melakukan apa, di saat dirinya saat ini merasa nyaman berada di dekat Randu.


"Maafin aku, Mbak!" Aileen mencoba memejamkan matanya. Menghindari kegelisahannya.


***


"Ada apa? Kenapa kamu kelihatan cemas, Sayang?" tanya Randu saat Amee masuk ke kamar sambil menghela napas kasar. Randu menarik lembut tangan Amee agar duduk di sampingnya. "Ada masalah dengan pekerjaan atau yang lain?"


"Aku cuma merasa cemas sama Aileen saja, Mas. Kayaknya dia ada masalah deh!" Alis Randu terangkat. "Tadi, tiba-tiba wajah Aileen pucat, padahal aku cuma becanda saja!"


"Tentang apa?"


Amee menggeleng yang malah membuat Randu bingung. "Saya tidak tahu apa yang sedang kalian bahas tadi, tapi mungkin saja Aileen kelelahan karena baru pertama kali bekerja. Mulai besok saya janji agar pekerjaan dia tidak terlalu berat!"


"Makasih, ya, Mas! Mungkin saja benar. Kasihan dia, selama ini dia gak pernah merasakan bekerja. Tapi, saat hamil dia malah harus mengalaminya. Pasti berat banget, kan?" Randu berdeham rendah. Dia lantas mengajak Amee untuk tidur, meski pikirannya berkelana tentang Aileen.


Randu pun diam-diam merasa cemas dengan keadaan Aileen. Apalagi saat siang tadi dia melihat Aileen mendadak berubah murung setelah bertemu dengan seorang pria muda.


"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Amee saat Randu membuka pintu. Padahal Randu sudah memastikan Amee tertidur. Namun, ternyata Amee masih belum nyenyak dalam tidurnya.

__ADS_1


"Kamu tidurlah dulu, saya mau ke ruang kerja sebentar ada yang harus diurus," kilah Randu. Dia membohongi Amee agar istrinya itu tidak curiga.


Amee menolak, dia tidak mau ditinggal sendiri oleh Randu. Dia terus merengek agar Randu mau menemaninya tidur. Namun, saat mendapat pesan dan membacanya, Amee berubah pikiran. "Beri aku kecupan selamat malam dulu!" Randu mengangguk lantas mengecup mesra kening Amee tanpa rasa curiga sama sekali. "Makasih, Mas! Ingat, jangan lama-lama!"


"Iya. Kamu tidurlah."


Randu gegas keluar dari kamar. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan Amee yang sudah sibuk dengan ponselnya, sebelum dirinya keluar tadi.


Randu memilih untuk menemui Aileen dan memastikan keadaan perempuan hamil itu. Saat dia berasa di undakan terakhir, dia melihat Aileen yang akan kembali ke kamarnya.


Randu melangkah lebar mengejar Aileen. Dia menarik pergelangan tangan Aileen sampai membuat perempuan itu terkejut.


"Kak!" Aileen membisu saat Randu yang langsung memeluknya. Dia melirik ke lantas atas untuk memastikan Amee tidak melihat tindakan Randu kepadanya. "Kak, ada apa?"


Randu melepas pelukannya. Dia memegang kedua pundak Aileen dan menatap lekat mata Aileen yang bening itu. "Saya hanya khawatir saja denganmu. Kamu baik-baik saja?" Aileen mengangguk. Tangannya terangkat untuk menyentuh wajah Randu.


"Kakak lihat sendiri, kan, aku baik-baik saja, kenapa tanya?" Randu tidak menjawab, dia malah mengajak Aileen masuk ke kamarnya.


Randu mengunci pintu kamar Aileen dan menyuruh Aileen berbaring. "Malam ini saya akan menemani kamu tidur!" Randu terdiam saat tiba-tiba saja Aileen menyentuhkan telapak tangan pada keningnya.


"Amee mengatakan wajahmu pucat setelah dia mengatakan sesuatu. Apa yang dia katakan?"


Aileen menggeleng. Dia kira Amee percaya dengan alasan sakit kepalanya, ternyata Amee cukup jeli dan paham dengan perubahan raut wajahnya yang kentara cepat sekali.


Dia memilih menghindari tatapan Randu yang menunggu jawabannya dengan menunduk.


"Kamu tidak mau cerita?" Randu mengangkat dagu Aileen dengan telunjuknya agar istrinya itu menatap matanya.


Aileen menjauhkan tangan Randu di dagunya dan menghela napas pelan. "Mbak Amee minta aku jaga Kakak agar gak ada perempuan yang akan rayu, Kakak. Padahal tanpa dia sadari, sudah ada perempuan yang rebut suaminya dan itu ... aku, adiknya sendiri!"


Randu membuang napas kasar. Dia memeluk Aileen. "Maafkan saya. Kamu harus mengalami hal sulit seperti ini karena saya!"


Aileen menggeleng. "Aku yang salah, Kak. Kalau saja waktu itu aku gak rayu Kakak, gak mung–" Randu melepaskan pelukannya. Dia menghentikan ucapan Aileen dengan telunjuknya.


"Saat itu kita sama-sama dalam pengaruh minuman. Saya tahu awalnya saya selalu menyalahkan kamu, padahal bukan kamu penyebabnya!"

__ADS_1


Aileen menghela napas pelan. "Kak, aku merasa benar-benar bersalah sama Mbak Amee. Aku takut kalau dia tahu statusku saat ini, dia pasti akan benci aku. Padahal di dunia ini, dia orang yang paling tulus sayang sama aku!"


"Saya akan jamin dia tidak akan tahu. Kalau pun akhirnya dia tahu, saya tidak akan membiarkan kamu menderita sendiri." Randu meyakinkan Aileen agar perempuan itu merasa tenang.


"Jangan buat Mbak Amee sedih, Kak. Kalau misal ketahuan, aku berharap Mbak Amee akan memaafkan Kakak!"


"Sudahlah jangan bahas hal itu. Sekarang katakan siapa pria yang tadi siang?" Aileen mengerutkan keningnya. Menatap bingung Randu yang menuntut penjelasan.


"Pria? Yang mana?"


"Kamu lupa tau pura-pura lupa?" tanya Randu gemas.


Aileen menggaruk tengkuknya. Dia merasa bingung kenapa Randu tiba-tiba menanyakan seorang pria kepadanya. Padahal tadi saat di showroom ada banyak pria di sekelilingnya. Lalu ingatannya tertuju kepada pria yang dia hindari.


"Astaga, maksud Kakak pria yang rambut keriting itu?" tebak Aileen dan langsung diangguki oleh Randu. "Kenapa Kakak mau tahu?"


"Karena dia sudah buat kamu berubah murung. Bahkan sampai tadi kita pulang!"


Aileen mengembuskan napas kasar. Dia sebenarnya malas untuk membahas pria tersebut, tetapi Randu pasti tidak akan tinggal diam dan akan selalu menanyakannya.


"Dia mantanku!"


Randu terkejut. "Kamu pernah pacaran? Saya kira saat kamu bohong dengan Sika itu hanya kebohongan!"


Aileen mengangguk. "Iya, cuma tiga bulan. Dia selingkuh sama teman adiknya. Kita putus!" jawab Aileen dengan sedikit emosi.


"Masih mencintainya?" Aileen menggeleng. Dia menatap lekat mata Randu. "Bagus. Jangan pernah jatuh cinta kepada pria yang mudah mendua."


Aileen terkekeh pelan. "Tapi, sayangnya aku merasakan hal itu sama pria beristri!" Aileen lalu mengusap wajah Randu. Wajah cerianya seketika berubah menjadi sedih.


"Tapi, tenang saja. Aku yakin perasaan itu hanya semu saja, kok!" Aileen memalingkan wajahnya karena tidak sanggup terus mendapat tatapan dari Randu yang menurutnya seakan sedang menghakimi. "Kakak keluar saja dari kamarku. Aku sudah ngantuk sekarang!"


"Saya temani!" Aileen langsung menolaknya.


"Aku gak suka sama bau parfum Kakak!" bohong Aileen. Padahal dia mau menghindari Randu malam itu karena perkataannya yang pastinya sudah membuat Randu butuh jawaban.

__ADS_1


"Baiklah. Kamu tidurlah, saya akan kembali ke kamar!"


__ADS_2