
Aileen menghampiri Randu yang menunggunya di mobil saat menemui Adis. Dia heran saat melihat raut wajah panik suaminya. Dia menghela napas lega saat melihat Safira tertidur di tempat duduk khusus bagi, di kursi belakang.
"Aku baru saja memesan tiket pesawat untuk kita bertiga. Sore ini kita akan pergi untuk temui mama!"
Aileen menatap Randu dengan lekat dan kening yang mengerut. "Mendadak banget. Memang ada apa sama mama?" tanya Aileen heran. Padahal baru beberapa hari Mira berada di antara mereka saat pernikahan walau setelah itu langsung pulang. Namun, Mira terlihat baik-baik saja dan malah banyak menghabiskan waktu dengan Safira.
Randu menghela napas pelan, mencoba untuk tenang saat akan menjawab pertanyaan istrinya. "Mama kritis. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya. Jadi ...!"
"Kita pulang sekarang, Kak. Untuk acara jalan-jalannya ditunda saja. Kita bahkan bisa lakukan di sana," putus Aileen cepat.
Randu mengangguk dan mengembuskan napas lega. "Makasih!"
"Kakak gak perlu bilang makasih. Sebagai pasangan, sudah sewajarnya kita saling mengerti."
***
Mereka sampai juga setelah melalui perjalanan yang melelahkan untuk sampai di rumah sakit tempat Mira dirawat.
Beruntungnya tidak ada kendala apa pun saat mereka memutuskan pergi ke luar negeri dengan begitu mendadak. Randu dapat dengan mudah mendapatkan tiket pesawat untuk mereka. Safira juga sudah memiliki paspor. Randu langsung membuatkan putrinya paspor setelah menikah, sehingga di saat mendesak seperti ini mereka tidak lagi bingung memikirkannya.
"Kamu datang dengan anak dan istrimu?"
Randu mengangguk. Dia mengajak Aileen yang terlihat kelelahan dan menggendong Safira masuk rumah. "Aku terpaksa bawa mereka!"
"Huh. Bilang saja sekalian mau bulan madu! Tapi bagus juga, kok. Mungkin saja dengan kehadiran mereka buat mama cepat sembuh."
Randu hanya berdeham mendengar ucapan kakaknya itu. Dia lalu mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kondisi Mira. "Sekarang bagaimana kondisi mama? Aku belum sempat ke rumah sakit. Kasihan mereka kalau langsung kubawa ke sana."
Pria yang lebih tinggi dari Randu itu menghela napas pelan lalu menepuk pundaknya. "Sama seperti yang aku bilang kemarin. Kondisi mama masih kritis. Kita saat ini hanya bisa berdoa!" Pria tersebut memperlihatkan wajah lelah Aileen dan Safira yang terbangun dan menangis. "Lebih baik kamu bawa istri dan anakmu ke kamar. Mereka butuh istirahat. Kamu juga!"
Randu memperhatikan mereka dengan iba, dia menyadari kesalahannya. Tanpa membalas kakaknya, Randu mengambil alih Safira yang kembali tertidur dan mengajak mereka ke kamar.
__ADS_1
"Kamu istirahatlah, pasti lelah setelah perjalanan panjang!"
"Iya, Kak. Kakak juga." Aileen lalu memilih merebahkan diri di samping Safira yang sudah tertidur pulas dan tidak butuh waktu lama dirinya ikut tertidur pulas karena kelelahan.
Randu tersenyum tipis memperhatikan anak dan istrinya. Tanpa pikir panjang dia memutuskan untuk membawa mereka pergi bersama. Randu tidak mau meninggalkan mereka dan tentunya begitu merasa berat untuk melakukannya.
"Terima kasih, tanpa mengeluh kamu mau menemaniku sampai ke sini!" Randu mencium kening Aileen dan juga Safira. Setelah itu dia ikut tidur bersama mereka.
***
Aileen tidak tahu, berapa lama dirinya tidur. Yang pasti saat dirinya bangun, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan waktu setempat.
Aileen memperhatikan Randu dan Safira yang masih tertidur. Dia gegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, saat keluar dari kamar mandi dia melihat keduanya masih tertidur pulas dan memilih untuk tidak membangunkan mereka.
"Aku harus buatkan makanan untuk Safira, kasihan dia kemarin cuma makan biskuit khusus bayi saja!" Dirinya lekas keluar dari rumah.
Aileen baru menyadari jika rumah mertuanya itu terlihat begitu luas. Dia juga merasa bingung mencari letak dapurnya di mana. Apalagi keadaan rumah terlihat begitu sepi.
"Sepertinya kamu sedang kebingungan. Ada yang bisa aku bantu?" Aileen berbalik dan menatap perempuan yang terlihat manis saat tersenyum kepadanya. "Kamu pasti Aileen, kan?" tanya perempuan tersebut yang sudah berada di hadapannya.
"Ah, iya. Maaf Kak aku gak tahu. Salam kenal, aku Aileen!" ucap Aileen canggung. Baru kali ini mereka bertemu setelah mengenal Randu selama lima tahun lebih.
Lisa tertawa pelan lalu mengusap lembut bahu Aileen. "Kenapa kelihatan sungkan begitu. Bersikaplah biasa saja. Oh, ya, kamu mau ke mana? Biar aku antar."
"Aku mau ke dapur. Apa aku boleh gunakan dapur? Aku mau buat makanan untuk bayiku!"
"Tentu saja. Ayo, aku tunjukkan!"
Lisa meraih tangan Aileen dan menggandengnya. Mereka berjalan bersama-sama menuju ke dapur.
"Aku semalam begitu terkejut. Saat baru pulang dari rumah sakit, suamiku bilang Randu dan keluarganya datang. Huh, suamimu memang suka sekali mendadak datangnya!"
__ADS_1
Aileen tersenyum tipis menanggapi ucapan Lisa. Mereka telah sampai di dapur yang luas. "Ini dapurnya. Aku sampai lupa kalau kalian ada anak kecil, tahu gitu kubuatkan juga makanan khusus untuknya!"
"Gakpapa, Kak. Nanti malah merepotkan!"
"Sama sekali gak. Aku malah senang melakukannya. Lagipula di rumah ini gak ada bayi lagi, adanya bayi yang sudah besar dan remaja rewel!"
Aileen tertawa pelan karena ucapan Lisa. Dia paham siapa yang Lisa sebut barusan. "Kak, makasih sudah menerimaku dengan baik. Padahal aku belum sempat mengenalkan diri dengan baik!"
"Tolonglah, jangan sungkan begitu. Kamu itu di sini bukan sekadar tamu biasa, kamu sama seperti Randu jadi bersikap layaknya keluarga."
Aileen mengangguk walau begitu tetap saja dia merasa sungkan. Dia tidak mengira jika kakak iparnya akan begitu baik kepadanya. "Aku akan bantu kamu untuk buatkan makanan bayimu!"
Lisa terlihat begitu cekatan melakukannya, bahkan Aileen mengakui kagum dengan apa yang Lisa lakukan. Dia terlihat tulus dengan semua yang dilakukannya.
"Oh, ya. Nanti kalian jangan lupa sarapan juga. Aku sudah menyiapkannya untuk kalian. Sekarang aku harus bersiap diri pergi bekerja."
"Sekali lagi makasih, Kak!"
Lisa mengangguk, bahkan perempuan itu memeluk Aileen erat. "Kamu tuh sudah aku anggap sebagai adikku sendiri, apalagi kita sama-sama menantu di rumah ini, jadi jangan pernah merasa sungkan sama aku." Setelah mengatakan itu Lisa langsung pergi meninggalkan Aileen di dapur.
"Kukira kamu ke mana? Saat bangun tidak ada kamu di kamar!"
"Kakak sudah bangun? Safira gimana?" tanya Aileen kepada Randu yang menghampirinya.
"Dia ada di kamar. Aku sengaja meninggalkannya sebentar untuk cari kamu. Takut kamu tersesat!"
Aileen tersenyum tipis lalu mengajak Randu kembali ke kamar. "Tadi ada Kak Lisa yang bantu aku. Dia baik banget, bahkan bilang kalau sudah anggap aku sebagai adiknya!"
"Kamu senang?"
"Tentu saja. Walaupun aku juga merasa penasaran apa Kak Lisa sudah tahu tentang aku dan Mbak Amee!"
__ADS_1
"Kenapa bilang begitu?"
"Cuma penasaran saja!"