
Bayi berjenis kelamin perempuan itu begitu tenang pada dekapan ibunya. Ah, tidak. Lebih tepat dikatakan bayi perempuan itu begitu tenang pada dekapan perempuan yang pertama kali jatuh cinta dengannya.
Perempuan yang hanya akan memberi rasa hangatnya sentuhan pertama kali dan setelah itu pergi. Setelah itu, bayi itu berpindah tangan pada pria yang juga jatuh cinta pertama kali pada suaranya, bulu mata lentik, hidung mancung, dan bibir tipisnya.
Pria itu meneteskan air mata bahagia, dia tidak menyangka jika rasanya akan begitu luar biasa. Dia menyerahkan bayi itu kepada perempuan yang akan dipanggil dengan sebutan 'Mama' pada akhirnya, meski bayi itu tidak lahir dari dirinya.
Pria yang tadi menangis terharu itu menghampiri perempuan yang telah berkorban nyawa dan akan kembali berkorban pada kenyataan.
"Terima kasih," bisiknya sambil memeluk singkat perempuan yang terlihat begitu cantik setelah berhasil berjuang melahirkan bayi cantiknya itu.
Tidak ada jawaban, hanya sebuah segaris senyum tipis dari perempuan yang masih terlihat lelah setelah sadar dari tidurnya, bahkan tidak menyadari bagaimana rasa sakit ketika melahirkan itu.
"Mas, dia cantik banget, kan? Sejak kemarin aku gak bisa puas pandangi dia."
Pria tersebut menghampiri istrinya. Memperjuangkan sekali lagi bayinya sendiri. "Iya. Cantik!"
"Sadar gak, sih, alis sama hidungnya mirip kamu!"
"Dan bibirnya kamu!"
Perempuan yang baru saja melahirkan itu hanya tersenyum miris. Namun, dia tidak dapat melakukan apa-apa. Tidak ada hak untuknya terhadap bayi itu. Sama sekali.
***
"Kamu mau makan sesuatu?"
"Aku gak lapar!"
"Kita sudah memberinya nama. Nama yang cantik dan pas untuk bayi itu." Pria itu begitu senang saat mengatakannya.
Perempuan itu menatap lekat pria yang berada di sampingnya itu. Terlihat makin tampan setelah resmi menyandang status seorang ayah. "Siapa?" tanya perempuan itu begitu penasaran.
"Safira!"
Perempuan itu tersenyum tipis. "Nama yang bagus. Kapan aku boleh pulang? Besok?"
"Kamu istirahat sampai benar-benar pulih! Apalagi kamu tidak sadarkan diri karena terjatuh."
Perempuan yang sedang bersandar di atas ranjang rumah sakit itu menggeleng. "Aku harus pergi, kan, Kak? Aku gak mau lama-lama di sini. Di sekitar kalian bertiga!"
__ADS_1
Genggaman pada tangannya terlepas. Pria di sisinya itu terlihat sedih. "Sekarang Kakak bisa menalak aku!"
Tidak ada jawaban apa pun. "Kenapa?"
"Tunggu sampai kamu benar-benar pulih!"
Perempuan itu menggeleng. "Gak, Kak. Itu terlalu lama. Bahkan besok pun begitu lama rasanya!"
"Aileen, setidaknya sampai kamu benar-benar pulih jangan dulu membahas masalah itu. Apa kamu tidak mau untuk menyusui bayimu sendiri sementara waktu?"
Mereka saling tatap, tanpa ada yang bicara lagi. Perempuan itu—Aileen—lalu menggeleng. Dia membohongi dirinya sendiri dan juga pria di sampingnya.
"Buat apa? Meskipun asiku lancar pun aku gak akan mau kasih ke bayi itu, Kak!" ucap Aileen dan membuat pria yang masih menjadi suaminya itu terdiam dengan tatapan terluka.
"Bukankah sebelum ini kamu bahkan pernah berniat untuk menjadi egois? Memiliki seutuhnya bayi kita bahkan saya?" tanya Randu penuh harap.
Aileen menggeleng. "Sekarang gak lagi, Kak. Jangan buat aku jadi seperti perempuan jahat, Kak. Sejak awal perjanjian kita gak begitu. Jangan tatap aku begitu, tatapan Kakak buat aku takut!"
Aileen memaksa Randu untuk tersenyum dengan menarik kedua sudut bibir pria tersebut.
"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur. Oh, ya, besok Safira sudah bisa dibawa pulang. Amee dan Mama Sika sudah menyiapkan semua keperluannya di rumah. Kamu jangan khawatir dan hanya harus pikirkan kesembuhanmu!"
Aileen mengangguk. Dia membiarkan Randu memberi kecupan pada kening dan bibirnya. Sebagai kenangan sebelum perpisahan dan untuk menyudahi skandal antara mereka.
Aileen hanya mengangguk. Randu benar-benar pergi, setelah mengatakannya.
Setelah benar-benar hanya seorang diri di ruangan tersebut. Aileen diam beberapa saat, dia memperhatikan seluruh ruangan yang ditempatinya itu dan berakhir dengan helaan napas panjang.
Aileen mengusap perutnya, dua hari lalu perutnya masih besar, dia membawa Safira ke mana pun dirinya pergi. Namun, kemarin dia terjatuh dan tidak sadarkan diri lalu hari ini saat pertama kali dirinya sadar, semua telah berubah.
Amee dan Randu mengatakan dirinya telah melahirkan. Bahkan bayi itu menyentuh kulitnya secara langsung. Aileen menangis mengingat semua kejadian yang telah terjadi.
Tentang semua hal. Tentang dirinya yang semua menolak lalu menjadi jatuh cinta kepada bayinya sendiri. Berusaha menjadi egois dan berakhir memilih mengalah.
Aileen benar-benar menangis, bahkan siapa saja yang tidak sengaja mendengarnya akan merasakan tangisan itu begitu pilu.
Aileen benar-benar bersedih untuk merayakan perpisahan mereka.
***
__ADS_1
"Maafkan aku baru datang. Aku sudah mau pulang kemarin lusa, tapi ternyata kerjaanku gak bisa ditinggal sama sekali."
Aileen hanya mengangguk lemah. Dirinya terlihat begitu gelisah. "Kenapa?"
Aileen menatap Adis yang memperhatikan dirinya dengan heran. "Safira hari ini akan pulang. Tapi, aku gak tahu kapan," jawab Aileen sedih.
"Apa dokter atau siapa pun itu gak kasih tahu kamu kapan Safira pulangnya?"
Aileen menggeleng. "Semalam Kak Randu cuma bilang kalau hari ini Safira sudah boleh pulang. Tapi, sampai sore aku gak lihat Kak Randu ataupun Mbak Amee ke sini. Dokter masih belum kasih izin aku turun dari ranjang."
Aileen terlihat begitu putus asa. Dia menatap Adis lamat. "Aku bisa minta tolong?" Adis langsung mengangguk. "Tolong kamu lihat di kamar anak, apakah Safira ada. Aku pengin tahu!"
Adis menghela napas pelan lalu memeluk Aileen yang mulai menangis. "Kamu tenang dulu, aku akan ke sana untuk lihat Safira!"
Aileen mengangguk. "Makasih banyak!"
Adis keluar meninggalkan Aileen untuk melihat bayi sahabatnya itu. Sayang, saat dirinya bertanya kepada perawat yang sedang berjaga ternyata bayi itu sudah dibawa pulang tanpa pemberitahuan apa pun kepada Aileen.
Adis gegas menghampiri Aileen yang menanti penuh harap. "Gimana?" Adis menggeleng.
"Maaf, tapi bayi kamu sudah dibawa pulang!"
Senyum Aileen menghilang. Dia hanya mengangguk lesu dan tidak mengatakan apa-apa lagi. "Aileen, bicara dong. Kamu jangan diam saja!"
Adis benar-benar takut saat Aileen memilih diam. "Adis, Kak Randu pasti marah sama aku makanya dia sampai gak kasih tahu aku tentang kepulangan Safira!" ucap Aileen dengan bibir bergetar.
Merasa iba dengan apa yang dialami sahabatnya itu, Adis memeluknya erat. Dia membiarkan saja Aileen yang mulai menangis. "Aku menyesal. Seharusnya aku gak menolak untuk memberi asiku sama Safira. Sekarang Kak Randu marah."
"Kamu jangan berpikiran yang jauh dulu. Siapa tahu mereka lupa!"
Aileen menggeleng. "Gak, Dis. Kak Randu kasih hukuman ini buat aku!" Aileen lalu mengurai pelukannya dan menatap Adis dengan pandangan yang sedikit buram karena tangisannya. "Aku harus pulang. Bantu aku, ya!"
Aileen menggenggam tangan Adis begitu erat. Perempuan itu akhirnya mengangguk. "Kamu tenang dulu, ya. Aku akan bilang sama dokter biar kamu besok bisa pulang!"
"Hari ini saja!"
"Tapi kamu masih lemah, kejadian waktu itu buat tubuh kamu masih belum stabil."
Aileen menolak. "Aku gak peduli. Yang jelas aku mau pulang hari ini!" Aileen terus bersikeras dengan keputusannya.
__ADS_1
"Baiklah. Sekarang kamu tenangkan dirimu dulu."
"Aku gak bisa tenang, Dis. Aku cuma beberapa menit ketemu Safira, kulit kita saling bersentuhan dan sekarang Safira jauh dari aku!"