
"Kak, tumben?" Aileen menghampiri Randu yang baru saja membuka pintu kamarnya, dia lalu menghambur memeluk pria tersebut yang juga membalas pelukannya.
"Baru jam sepuluh pagi? Kakak gak sibuk?" Pria itu mengajak Aileen duduk di kasur. Mereka duduk bersampingan dengan Randu yang sedikit menyerong menghadapnya. "Kenapa?"
"Apa yang kamu lakukan selama saya tidak ke sini?"
"Apalagi? Pasti merindukan Kakak! Kakak mau minta maaf?" Aileen terkekeh lalu menangkup wajah suaminya itu. "Aku gak mau kalau Kakak cuma minta maaf saja setelah itu diulangi. Waktu kita tinggal bentar lagi, heem ...."
Aileen berpikir sejenak, Randu lalu menjauhkan tangan Aileen dari wajahnya membuat perempuan tersebut menatap heran. "Ah, aku tahu. Sebagai permintaan maaf Kakak aku mau Kakak lebih banyak waktu untukku! Bisa?"
"Maaf!" Dia menghela napas pelan lalu mengangguk.
"Apa yang Kakak bisa? Apa sekarang Kakak merasa terbebani dengan perasaanku makanya jarang ke sini?"
"Bukan itu. Jangan melantur sampai ke mana-mana!"
Aileen terdiam. "Maaf, jangan marah. Saya tidak bermaksud untuk membuatmu marah atau sedih. Saya ... selama ini menjauh hanya untuk memastikan sesuatu!"
Kening Aileen berkerut dengan tatapan penuh tanya. "Amee benar-benar berubah. Bahkan semalam saya memutuskan untuk tidur di kamarmu. Bukan hanya sekali, tetapi hampir setiap malam."
Pria itu membuang napas kasar. Terdengar menyedihkan di pendengaran Aileen. Perempuan itu dengan rasa iba mengenggam tangan suaminya. "Perasaan saya seperti sudah berubah kepadamu! Tapi, saya tidak bisa meninggalkan Amee. Bagaimanapun dia perempuan yang sampai kapan pun akan tetap saya cintai!"
"Aku akan bantu. Aku tahu, pasti Kakak bingung sekarang, kan? Kakak cinta sama Mbak Amee, tapi Kakak merasakan perasaan itu sama aku?" Pria tersebut mengangguk.
Aileen menghela napas lega. Walau menyakitkan mendengar Randu masih mencintai Amee, tetapi kenyataan jika pria tersebut memiliki ketertarikan dengannya membuatnya sejenak melupakan masalah tersebut. "Aku akan pastikan Kakak menentukan siapa yang sebenarnya Kakak cintai. Aku atau Mbak Amee!"
***
"Malam ini kita makan malam bersama. Saya akan kenalkan kamu sama mama saya. Dia orang yang baik!"
Untuk beberapa saat ucapan Randu tentang mamanya memang benar. Perempuan itu terlihat cantik di usianya yang sudah tidak lagi muda. Masih tampak segar dengan tubuh yang masih bugar. Tatapannya tajam, seperti tatapan Randu. Mereka memang terlihat memiliki banyak kemiripan.
Ini kali pertama dirinya melihat langsung perempuan yang juga mertuanya, selama proses menuju pernikahan Randu dan Amee sampai pernikahan, dia sama sekali tidak ada di antara mereka.
"Kenapa kamu diam saja?" Aileen menoleh dan tersenyum kikuk. Perempuan itu terkekeh seolah mengerti ketegangan Aileen saat berada di dekatnya. "Kamu jangan cemas, Tante sama sekali gak masalah dengan keadaanmu. Randu dan Amee sudah menceritakannya, Tante juga mendukung kalau memang bayimu kelak mereka yang urus!"
Aileen benar-benar terharu. Matanya berkaca-kaca mendengar ucapan tersebut. Hal yang ingin didengarnya dari Sika.
"Am, Randu, malam selama di sini Mama akan menginap di apartemen sama Aileen, ya. Mama mau ketemu bibi juga!"
Keduanya mengangguk setuju. Diam-diam Aileen dan Randu saling tatap, bahkan Randu tersenyum hangat seolah mengatakan semuanya sesuai yang diharapkan mereka.
__ADS_1
"Rasanya aku gak kuat dengan hubungan yang selama ini gak pernah aku inginkan. Aku pura-pura bahagia, mencintai dia. Kamu tahu alasanku menikah sama dia apa!"
Aileen terdiam di depan pintu yang sudah dibukanya sedikit. Dia tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Amee dengan seseorang di telepon.
"Aku tahu, tapi aku juga tahu kamu pasti sembuh. Kamu gak bisa menikah dengan perempuan lain, bukan karena orientasi seksual kamu, tapi karena kamu gak siap!"
Aileen buru-buru menutup pintu saat melihat Randu yang menghampirinya. Dia lalu mengetuk pintu memanggil Amee, seolah-olah tidak mendengar apa yang dibicarakan perempuan itu.
"Amee masih di dalam?"
"Iya, Kak. Mungkin Mbak Amee sudah tidur. Aku titip salam sama Mbak Amee, ya!" Aileen memilih pergi, tetapi sebelum itu Randu menarik tangannya.
"Kamu senang malam ini?"
"Tentu. Kakak benar, mama Kakak orang yang baik. Dia bahkan gak masalah kalian merawat anak ini nantinya!" Aileen berbicara dengan mata yang berbinar-binar.
"Tapi, sekarang lepaskan, Kak. Mbak Amee atau Tante Mira bisa saja lihat kita. Aku gak mau mereka curiga!" Randu mengangkat sebelah alisnya karena ucapan Aileen.
Pria tersebut mendekat dan hendak memeluknya, sebelum semua itu terjadi pintu kamar dibuka dan dengan cepat mereka menjauh.
"Mas, Aileen, kenapa di depan kamar?" tanya Amee heran. "Ah, maaf. Aku tadi di kamar mandi jadi gak dengar!"
"Kenapa cepat banget." Tatapan Amee beralih ke Randu yang sejak tadi memperhatikan Aileen saja. "Mas, gimana kalau mama dan Aileen malam ini menginap di sini?" Randu mengangguk setuju.
"Tapi ...."
"Gak ada kata tapi. Mbak mau kamu menginap di sini. Kamu sudah lama tinggal di apartemen karena mama kita dan malam ini kamu harus mau!" tegas Amee tidak ingin dibantah.
Aileen melirik Randu. Dia ingin memastikan apa reaksi pria tersebut yang ternyata setuju dengan usulan Amee.
"Iya, Mbak. Malam ini aku menginap di sini!"
"Syukurlah. Mas, aku temui mama dulu mau bilang kalau mereka tidur di rumah malam ini!"
Randu hanya mengangguk, membiarkan saja Amee pergi meninggalkan mereka.
"Kenapa Kakak setuju? Jangan bilang Kakak mau tidur di kamarku lagi malam ini!"
"Kenapa takut? Bukankah kita sudah sering melakukannya? Saya datang ke kamarmu dan kita tidur bersama sampai subuh? Lagipula saya dan Amee masih belum bisa tidur bersama. Dia ... biarkan dia memikirkan kesalahannya."
***
__ADS_1
Randu sudah bersiap keluar dari kamarnya dan pindah ke kamar Aileen. Namun, Amee menahannya. Perempuan itu menahannya, tidak seperti malam-malam sebelumnya yang membiarkan saja Randu melakukan apa pun.
"Mas, malam ini tidurlah di kamar! Aku tahu kamu masih marah sama aku. Tapi, aku gak mau mama dan Aileen curiga kalau kamu tidur di ruang kerja!"
Randu melepaskan tangan Amee yang menggenggam tangannya. Dia menatap mata istrinya lekat. "Kamu tidak perlu khawatir. Mereka tidak akan tahu. Saya akan kembali ke kamar sebelum mereka bangun!" tutupnya sambil tersenyum lembut.
"Gak, Mas. Setidaknya untuk malam ini saja!" tolak Amee.
"Jangan paksa saya."
"Kamu kenapa, sih, Mas, keras kepala banget!" bentak Amee begitu Randu membuka pintu. Pria tersebut menoleh menatap istrinya tidak percaya.
Amee yang selama ini selalu bertutur kata lembut walau sering kali keras kepala dan tidak mau menurut. "Kenapa karena aku menolak hamil, menolak berhubungan sama kamu sikap kamu jadi begini? Masih menuduh Seto dan aku selingkuh?"
Pria itu menghela napas lelah. Dia tidak menghiraukan ucapan tersebut dan memilih pergi meninggalkan Amee yang makin tersulut emosi dengan marah-marah.
Randu tidak peduli, dia memilih untuk tidak terus-menerus sabar dengan kelakukan Amee yang makin sulit untuk diberitahu. Sikapnya keras kepala, berbeda sekali dengan Aileen.
Pria tersebut memutuskan untuk tidur bersama Aileen. Namun, Mira memergokinya saat berada di depan pintu kamar Aileen yang masih tertutup.
"Kamu mau ngapain ke kamar itu? Itu kamar Aileen, kan?"
Mira menatap tajam ke arah Randu dan mengajaknya ke kamarnya.
"Jadi, yang bibi katakan benar?" Randu mengerutkan keningnya. Dia menatap Mira heran, tetapi masih saja bungkam. "Melihat tatapan kamu buat mama yakin kalau bibi gak bohong. Kamu dan Aileen ada hubungan. Benarkan?"
"Huh."
"Kamu kira Mama akan begitu saja menyetujui kalian mengasuh anak Aileen? Mama melakukannya karena perempuan itu hamil anak kamu!"
"Mama sudah tahu, baguslah!"
"Kamu gak merasa bersalah sama sekali sama Amee? Dia di sini tersakiti karena ulah kalian. Menantu Mama yang malang itu, bahkan begitu bahagia karena akan merawat anak dari suaminya dan adiknya sendiri."
Mira menghela napas pelan. Dia duduk di kasur. "Jangan dekati Aileen lagi sampai dia melahirkan. Setelah itu biarkan dia pergi agar tidak mengganggu keluarga kalian lagi. Mama gak setuju kalau kamu lebih memilih Aileen nantinya!"
Randu menatap mamanya tidak percaya. Dia kira mamanya akan tulus, tetapi ternyata memiliki maksud lain. "Mama jangan khawatir. Saya akan pastikan Aileen tidak akan menganggu keluarga kami nantinya. Lagipula yang saya lakukan selama ini kepadanya hanya untuk menebus rasa bersalah saya yang sudah membuat hidupnya berantakan!"
"Kenapa jadi urusan kamu kalau dia berantakan? Dia sejak awal memang sudah menghancurkan kehidupan keluarga mertua kamu. Apa kamu gak tahu itu?"
"Itu bukan urusan Mama. Dia perempuan yang baik," putus Randu yang langsung memilih keluar dari kamar Mira.
__ADS_1