Skandal Termanis

Skandal Termanis
Mengalahkan Ego


__ADS_3

"Kenapa mendadak? Apa karena aku?" tanya perempuan yang tubuhnya makin kurus. Wajahnya yang selalu dihiasi senyum kini tidak ada lagi. Dia terlihat tidak bahagia, setelah semua yang terjadi.


"Bukan!"


"Bukan?" tanya perempuan itu yang mendapat pria di hadapannya dengan tatapan bingung. "Lalu apa? Gak mungkin kamu pergi tanpa alasan, kan? Apa kamu terima permintaan orang tuamu?"


Pria itu mengangguk ragu. "Kenapa? Apa aku memang gak pantas buatmu? Apa karena aku pernah menikah?"


"Am, kendalikan dirimu! Maaf, tapi keputusan sudah diambil. Selama ini aku hanya mengulur waktu untuk bicara!"


"Sejak kapan?"


Pria tersebut menghela napas pelan lalu berkata, "Sejak aku datang ke rumahmu, seharusnya aku mengatakannya biar kejadian itu gak akan kejadian." Pria tersebut mendongak saat perempuan yang sedang diajaknya bicara berdiri. "Mau ke mana, Amee?"


Ya, mereka tidak lain Amee dan Seto. Keduanya sedang makan siang bersama di cafe tempat biasa mereka datangi. Setelah kejadian dirinya memilih untuk mengakhiri hidup, Kemabli ada Seto yang menemani. Namun, sekarang pria itu memilih kembali pergi.


"Ke mana lagi? Aku mau pulang. Semua sudah kelar dan aku tetap saja kalah!"


"Jangan begini. Kamu baru saja membaik!"


Amee menepis tangan Seto. "Jangan khawatir. Aku gak akan melakukan hal yang macam-macam." Amee menatap Seto yang terlihat sekali merasa khawatir lalu tersenyum untuk menenangkan pria tersebut. "Aku gak akan halangi kamu lagi. Sekarang aku sadar, kamu berhak memilih siapa pun dan aku senang akhirnya kamu kembali menjadi pria normal!"


Seto mendesah pelan lalu mengangguk. "Boleh aku peluk kamu? Sebagai perpisahan?"


"Tentu!" Amee tidak menyiakan kesempatan. Dia memeluk Seto erat. Mengabaikan tatapan siapa saja yang melihat tindakannya itu.


"Makasih! Setengah hari ini aku serahkan toko sama kamu dulu! Boleh?" Seto mengangguk. Amee hanya sesaat memandang wajah pria yang dicintainya itu, sayangnya tidak bisa dia miliki lebih.


Amee memilih melangkah pergi meninggalkan cafe dan Seto yang memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Amee tidak benar-benar pulang. Dia memilih pergi ke apartemen Aileen. Ingin kembali bertemu dengan adiknya itu dan memperbaiki semua yang telah dia rusak.


Percakapannya dengan Randu sedikit membuatnya tersadar jika dirinya terlalu egois. Dia sadar, selama ini dirinya ingin memiliki semua orang di sisinya dan merasa tersakiti jika mereka pergi.


Amee tidak mau hidup sendiri, tetapi saat ini ketakutannya menjadi kenyataan dan semua karena kesalahannya.


"Mbak Amee ...." Aileen terkejut melihat kehadiran Amee dan perempuan itu menyadarinya.


"Aku boleh masuk?" Aileen mengangguk meski dirinya terlihat ragu, dia menggeser tubuhnya untuk mempermudah Amee masuk.

__ADS_1


Aileen memperhatikan Amee yang sedang memperhatikan sekeliling apartemen yang tidak ada perubahan. Dia merasa Canggu saat Amee tersenyum kepadanya.


"Mbak ayo duduk!"


"Makasih!" Amee duduk dan memperjuangkan Aileen yang memilih berdiri. "Duduk di sini!"


"Mbak apa kabar? Untuk kejadian waktu itu aku minta maaf, tapi aku gak bisa begitu saja menyerah, Mbak!" Amee mengusap rambut Aileen. "Mbak ...."


"Bukankah seharusnya begini? Aku yang harusnya minta maaf. Semua terjadi karena aku yang terlalu egois dan kekanakan!"


Aileen menggeleng. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. "Mbak jangan bilang begitu, dong. Ah, mataku rasanya panas deh!" Aileen terkekeh pelan sambil mengipas sekitar matanya dengan tangan.


"Mau memulai semua dari awal?"


Aileen tanpa ragu mengangguk. Dia begitu senang sampai memeluk Amee erat. "Aku senang banget, selama ini selalu berharap kita akan kembali begini. Walau aku bukan adik kandung, tapi Mbak Amee selalu sayang sama aku!"


Aileen mengurai pelukannya. Dia menyeka air mata Amee dan mencium sayang kening kakaknya itu. "Makasih! Mbak terlalu malu untuk mengakuinya. Kita sama-sama salah, tapi sebenarnya yang banyak melakukan kesalahan itu Mbak, Aileen. Mbak egois, kan, karena gak mau kehilangan salah satu dari mereka!"


Aileen mengangguk. "Mbak memang egois. Tapi, aku gak peduli asal Mbak Ameeku yang dulu sudah kembali!"


"Ah, ternyata begini melegakan, ya?"


Amee tersenyum masam lalu menghela napas pelan. Saat dia ingin bercerita tentang percakapannya tadi dengan Seto, terdengar suara tangis Safira. "Mbak, maaf. Safira bangun!"


Aileen meninggalkan Amee sendiri dan pergi ke kamarnya.


"Dia makin menggemaskan, ya?" Aileen menoleh dan mengangguk setuju dengan yang dikatakan Amee. "Sekarang dia meminum asimu?"


"Iya, Mbak! Aku gak mau Safira sampai gak merasakan asiku. Kasihan selama beberapa waktu harus mengonsumsi susu formula!"


Amee tersenyum masam. Dia yang telah memisahkan ibu dan anak itu. Namun, nyatanya dia salah. Mereka kembali bersatu. "Mbak boleh temani kamu?"


"Tentu!"


***


"Kamu benar-benar hebat. Meminta maaf? Kamu lupa kalau perempuan itu yang buat hidupmu berantakan begini?"


Amee mendengkus kesal, dia menatap Sika dengan tatapan tidak suka. "Dia adikku, Ma. Bukan perempuan lain. Terlepas dia bukan anak Mama, tapi dia tetap adikku. Kami satu papa!"

__ADS_1


"Terserah kamu, Am. Mama capek kamu itu terlalu egois!"


"Aku begini juga karena Mama! Mama yang ajari aku untuk egois, lupa?"


Sika hendak menimpali ucapan Amee, tetapi urung dilakukan dan memilih merapatkan bibirnya dan pergi meninggalkan Amee begitu saja.


"Mama selalu begitu. Bahkan gak peduli dengan apa yang aku dan Aileen rasakan. Yang mama pikirkan hanya diri sendiri!" Amee menghela napas pelan. Dia juga memilih untuk kembali ke kamar.


Kali ini bukan kamar yang selama beberapa tahun dia dan Randu tempati, kamarnya sekarang merupakan kamar yang beberapa hari Safira tempati. Dia merasa nyaman berada di kamar tersebut ditemani dengan ranjang Safira dan juga beberapa barang milik Safira.


"Aileen?" Tanpa menunggu lama Amee menerima panggilan dari adiknya itu. Dia menyapa Aileen dengan senyum ramah yang selama ini selalu dia tampilkan.


"Mbak sudah mau tidur?"


Amee memilih duduk di sofa, memperlihatkan ranjang tidur Safira daripada wajahnya sendiri. "Tebak Mbak di mana?"


"Kamar Safira?"


"Iya. Sekarang Mbak tidur di kamar ini!"


"Mbak, siang tadi percakapan kita terputus. Masih mau ngobrol?"


Amee langsung mengganti layar menghadapnya agar Aileen dapat melihat wajahnya. "Kalau besok gimana? Sekarang Mbak cuma mau kita ngobrol santai saja seperti dulu!"


"Boleh. Mau lihat Safira yang tidur?"


Amee begitu antusias mengangguk. Dia melihat Aileen yang memperhatikan wajah Safira yang tertidur. Begitu menggemaskan dan mirip sekali dengan Randu ketika tidur. "Dia mirip Randu!" Amee tersenyum saat mendengar Aileen tertawa.


"Tentu. Kak Randu papanya asal Mbak tahu!"


"Aileen ...."


"Ya!"


"Mbak rindu kita tidur bareng lagi, dengar ceritamu sebelum akhirnya kamu tidur duluan!"


"Mbak ke sini, dong. Menginap di sini tidur bareng Safira juga!"


Amee hanya diam, memperhatikan Aileen yang tidak fokus kepadanya dan tidak lama panggilan terputus. "Apa yang terjadi?" gumam Amee tanpa berniat menghubungi Aileen.

__ADS_1


__ADS_2